Charles F. Richter

01 October 2010

Charles Francis Richter was born in Ohio in 1900. After his mother divorced his father, she moved the family to Los Angles in 1909. Aprecocious student, Richter entered the University of Southern California at sixteen and transferred to Stanford University a year later, majoring in physics. He graduated in 1920 and finished a doctorate in theoretical physics at the California Institute of Technology in 1928.

While Richter was a graduate student at Caltech, Noble laureate Robert A. Millikan lured him away from his original interest, astronomy, to become an assistant at the seismology laboratory. Richter realized that seismology was then a relatively new discipline and that he could help it mature. He stayed with it—and Caltech—for the rest of his university career, retiring as professor emeritus in 1970. In 1971 he opened a consulting firm—Lindvall, Richter and Associates—to assess the earthquake readiness of structures.

Richter published more than two hundred articles about earthquakes and earthquake engineering and two influential books, Elementary Seismology and Seismicity of the Earth (with Beno Gutenberg). These works, together with his teaching, trained a generation of earthquake researchers and gave them a basic tool, the Richter scale, to work with. He died in California in 1985.

:: Americaninventors ::
Continue Reading...

Penisilin: Pertolongan yang Mempengaruhi Dunia

23 September 2010

Pertolongan yang Mempengaruhi Dunia

Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengannya terperosok ke dalam lumpur hisap, semakin bergerak malah semakin terperosok ia ke dalamnya.

Pemuda yang melihat itu berusaha sekuat tenaga memberikan pertolongannya, dengan susah payah akhirnya pemuda yang terjatuh itu dapat terselamatkan. Pemuda yang menolong memapah pemuda yang terperosok ini ke rumahnya.

Ternyata rumah pemuda yang ditolong sangat bagus, besar dan mewah. Ayah pemuda ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang telah diberikan kepada anaknya, dan hendak memberikan uang... Pemuda yang menolong ini menolaknya dan berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain dalam kesusahan dan kesulitan... Sejak kejadian itu mereka menjalin persahabatan.

Si pemuda penolong adalah seorang yang miskin, sedangkan si pemuda yang ditolong adalah anak bangsawan yang kaya raya. Si pemuda miskin ini bercita-cita ingin menjadi dokter, namun terbentur biaya untuk melanjutkan pendidikannya. Tetapi ada seorang yang murah hati, yaitu Ayah dari bangsawan itu. Ia memberikan beasiswa hingga akhirnya si pemuda penolong dapat meraih gelar dokternya...

Tahukah saudara nama Pemuda miskin yang menjadi dokter ini...?

Ia adalah Alexander Fleming Si penemu penisilin...
Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu peperangan ia terluka parah, sehingga menyebabkan demam (febris) yang sangat tinggi... Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi serupa itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan Dr. Fleming dan kemudian mereka menyuntikkan penisillin yang merupakan obat temuan baru... Dan apa yang terjadi..?
Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan akhirnya si pemuda tadi sembuh.!!

Tahukah saudara siapa nama Pemuda yang sembuh itu..?

Dia adalah Winston Churchil, Perdana Menteri Inggris yang termahsur itu...
Dewasa ini berkat penemuan penisillin dunia kedokteran berkembang sangat pesat. Dan bahkan sudah ditemukan generasi-generasi terbaru turunan penisillin ini yang sangat banyak membantu umat manusia melawan infeksi kuman yang ganas.
Demikianlah sebuah pertolongan dan persahabatan yang ikhlas diberikan yang akhirnya dapat mempengaruhi wajah dunia...

:: tokoku99.info ::
Continue Reading...

Tiang Penyangga Sosrobahu

18 September 2010

Sekira 1980-an akhir koran-koran nasional ramai mengabarkan pembangunan jalan tol dari Cawang ke Tanjung Priok, yang memiliki panjang total sekurang-lebih 16,5 Km. Pembangunan jalan ini tak berlangsung mulus. Kendala utamanya ada di teknik konstruksi konvensional yang jika dipaksakan malah menambah macet arus lalu-lintas yang sibuk dan memiliki banyak persimpangan. Bayangkan saja, tiang horisontalnya saja yang hendak dibangun bisa mencapai ukuran 22 meter, nyaris sama lebarnya dengan jalan by pass itu sendiri. Tentunya hal ini bertentangan dengan tujuan dibuatkannya jalan tol yang memang diset untuk mengatasi kemacetan.

Alternatif lain yang diusulkan adalah memakai metode gantung, macam yang dilakukan di Singapura. Sayangnya apabila teknik ini yang dipakai, faktor biaya yang jauh lebih mahal yang menjadi kendalanya. Adalah Ir. Tjokorda Raka Sukawati yang berhasil memecahkan persoalan ini dengan menciptakan tiang pancang yang diberinya nama Sosrobahu. Ir. Tjokorda lahir di Ubud, Bali. Gelar insinyurnya didapatkan dari sekolah di Departemen Sipil di Institut Teknologi Bandung (ITB). Karirnya dimulai saat ia masuk di perusahaan PT Hutama Karya hingga ia menjabat menjadi direktur perusahaan tersebut.

Inspirasi pembuatan tiang pancang modelnya didapatkanya saat memperbaiki mobilnya sendiri. Kisah ini bermula di garasi mobilnya. Suatu hari Tjokorda hendak membetulkan mobilnya yang rusak—kebetulan garasi mobilnya berbentuk agak miring—dan pembantunya kemudian mengganjal ban belakang mobil. Rupanya cuma satu ban belakang yang diganjal dan rem tangannya pun lupa ditarik. Waktu Tjokorda memompa dongkrak hidrolik untuk mengangkat roda depan, tiba-tiba mobil menjadi berputar. Kejadian itu memantik ide di dalam kepalanya. Hari itu ia urung memperbaiki mobilnya.

Dari situ, selanjutnya ia memadukan hukum gesekan untuk memutar beban dengan hukum pascal untuk mengangkat beban. Lantas ia minta dibikinkan modelnya oleh seseorang dan… berhasil! Dilakukanlah pengujian dengan beban berbobot 85 ton hingga 180 ton. Berhasil lagi! Dia pun berhasil membuat alat putar silinder yang mengguncang dunia teknologi konstruksi.

Penemuannya ini langsung diterapkan pada proyek jalan layang yang sedang ditanganinya. Jadinya tiang penyangga jalan yang sudah kering dan dibangun sejajar ruas jalan lantas diputar 90 derajat melintang jalan. Caranya sepasang piringan baja berdiameter 80 sentimeter, dipasang di bawah tiang penyangga, usai tiang tersebut kering, di dalamnya dipompakan automatic transmission fluid (ATF) atau oli pelumas sebanyak 78, 05 kg/cm2. Dengan teknik ini tiang penyangga yang bobot kepalanya mencapai 480 ton dengan mudah bisa diputar.

Dan jalan layang tol Cawang-Tanjung Priok itu sebagai flyover pertama di dunia yang memakai teknik “pemutaran kepala tiang penyangga jalan terbang”. Berikutnya teknik ini diekspor ke negara-negara di Asia lainnya, seperti Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura.

:: Lilih Prilian Ari Pranowo, 30 Tokoh Penemu Indonesia, Yogyakarta: Narasi, 2009 ::
Continue Reading...

Kompor Pengering dan Antena Tenaga Surya

Waton tekun, mesti ketemu tujuane. Ora usah neko-neko!
(Asal tekun, pasti berhasil. Tidak usah berbuat yang aneh-aneh!)

Demikian Minto berpesan. Pesan itu tak asal-asalan diucapkannya. Lelaki yang bekerja menjadi guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Prambon I, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur ini sudah mendapat pengakuan dari berbagai kalangan perguruan tinggi. Termasuk penghargaan dari Direktorat Jenderasl Listrik dan Pengembangan Energi Departemen Pertambahan dan Energi. Dia sudah berkreasi dengan membuat alat dwi fungsi. Jadi kompor ok. Jadi antena parabola pun bisa.

Alat ini dibuat dalam dua tahapan, pertama ia membuat kompor pengering bertenaga matahari kemudian meneruskannya dengan menjadikannya berfungsi sebagai antena parabola. Awal tahun 1988, Minto yang tinggal di Desa Mruwak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun membuat kompor pengering hasil pertanian bertenaga surya.

Keinginan ini dipicu oleh kenyataan yang diketahuinya bahwa masyarakat p[edesaan yang hidup di kaki Gunung Wilis (Madiun). Sehari-harinya mereka menggantungkan hidupnya mencari kayu-kayu bakar untuk bahan memasak. Padahal hutan jati di wilayah tersebut semakin gundul, karena itu masyarakat harus berjalan kaki sejauh 3,5 hingga 8 kilometer. Tiga tahun sesudahnya, tahun 1991, keberhasilannya tersebut memicu semangatnya untuk berkreasi lagi. Kompor pengeringnya dikembangkan lagi –bisa dimanfaatkan—sebagai antenna parabola.

Kompor pengering milik Minto tersebut bisa berfungsi banyak, bisa mengeringkan hasil pertanian, perikanan (ikan asin dan sebagainya), krupuk, lempeng, emping. Prinsip kerjanya mengubah sinar matahari menjadi panas, yang didasarkan pada pantulan cahaya matahari oleh beberapa keping cermin datar. Keping-keping ini ditata pada kerangka reflector yang bentuknya menyerupai parabola. Bila reflector diarahkan tegak lurus searah datangnya sinar matahari dan semua pantulan akan menuju ke satu titik. Kumpulan sinar pantul ini akan menimbulkan panas amat tinggi. Udara panas tersebut dialirkan lewat rak-rak pengering. Hasil ujicoba alat ini diperoleh suhu panas pad mulut kolektor 57 derajat Celsius, pada rak pertama 51 derajat Celsius dan rak delapan 46 derajat Celsius.

Sementara prinsip kerja antena parabolanya adalah sebagai berikut: kompor pengering tersebut ditambahkan Low Noise Block (LNB), feed horn, receiver, kabel dan pesawat televise. Prinsipnya, reflector yang tegak lurus dengan arah datangnya gelombang elektromagnetik dari satelit akan memantulkan kembali semua gelombang itu menuju ke focus. Kumpulan gelombang tersebut ditangkap LNB yang berlaku sebagai penguat sinyal. Dari LNB ini diteruskan lagi ke receiver lewat kabel untuk dipilih gelombang mana yang diinginkan. Dari reicever dilanjutkan ke pesawat televisi.

Namun, meski ia sudah diakui dan menerima penghargaan sebagai seorang penemu, Minto tetap tak meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang guru. Dia tak ingin berpikir neko-neko karena pekerjaannya yang utama adalah guru. Ya, inilah yang bisa kita petik dari Minto, seorang guru sekaligus penemu kompor pengering hasil pertanian dan antena parabola.

:: Lilih Prilian Ari Pranowo, 30 Tokoh Penemu Indonesia, Yogyakarta: Narasi, 2009 ::

Continue Reading...

Klip Bantalan Kereta Api Dua Gigi

George Stephenson adalah bapak kereta api dunia yang berhasil menciptakan mesin uap baru bernama Locomotion pada 1821. Sementara Stevens adalah penemu bantalan pada rel kereta api pada 1831—sepuluh tahun sesudahnya. Dua nama orang Eropa tersebut memang sudah terkenal ke seantero jagat manusia. Nama mereka masih dikenang sebagai penemu di bidang transportasi, khususnya dunia perkereta-apian.

Tapi jika menyebut nama Budi Noviantoro, orang tentu segera mengernyitkan dahinya, bertanya-tanya. Padahal dia merupakan seorang penemu asal Indonesia di bidang perekeretapian, yakni klip bantalan kereta api dengan dua gigi. Budi Noviantoro lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 November 1960. Di lajur pendidikan ia mengantongi dua gelar S1; sarjana teknik sipil di Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan sarjana ekonomi di Universitas Islam Nusantara Bandung.

Novi, demikian ia akrab disapa, berhasil menemukan penambat rel (fastener) yang dikasih nama KA-Clip—dipatenkan atas nama PT KA dan diproduksi PT Pindad. Penambat rel ini lebih sesuai dengan karakteristik kereta api di Indonesia. Selama ini, ia melihat rel-rel kereta api Indonesia membutuhkan penambat khusus. Ambillah contoh untuk rel ukuran R33, penambat relnya tidak dapat memakai penambat bermerek Pandrol atau DE Clip karen longgar. Ditambah Pandrol atau DE Clip musti diimpor, minimal dirakit di tanah air dengan lisensi dan membayar royalti kepada pemilik paten.

Jika memakai KA-Clip yang sudah diuji bertahun-tahun di lapangan sebelum diakui dan mendapat paten, PT KA tidak perlu repot mengimpor, yang berarti sama halnya dengan menghemat bea impor. Klip rel kereta api temuan Novi hebatnya bisa digunakan di rel berukuran berapa pun—baik R33, R42 maupun R54.

Dan meski ia tak mematenkan temuanya—sebab sudah dipatenkan PJKA, ia tak merasa sedih. Alasannya sedari awal ia memang menyerahkan temuannya langsung ke PJKA untuk dimanfaatkan. Di samping itu pula, ia sepertinya tahu diri, sebab ia merasa tak bekerja sendiri. Ada PT Pindad yang memfasilitasinya mengolah penelitian, pengembangan, lantas memproduksi. Tapi apapun itu, namanya patut kita catatkan pada sejarah penemu Indonesia.

:: Lilih Prilian Ari Pranowo, 30 Tokoh Penemu Indonesia, Yogyakarta: Narasi, 2009 ::
Continue Reading...

Beton Polimer Ramah Lingkungan

Beton dikenal sebagai material bangunan paling populer yang tersusun dari komposisi utama batuan, air dan semen. Dikenal luas dan populer, karena bahan pembuatnya relatif mudah didapat secara lokal, harganya relatif murah, dan teknologi pembuatannya relatif mudah. Akan tetapi, belakangan ini beton yang kita kenal acap mendapatkan kritik, terlebih dari aktivis lingkungan hidup. Oleh karena itu, banyak para pakar mulai mencari solusi sebagai alternatif bahan-bahan campuran beton. Salah satunya adalah Djuanda Suraatmadja.

Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Ia adalah anak kedua dari 12 saudara. Gelar sarjana tekniknya didapatkan di Fakultas Teknik Sipil ITB (1960). Pada 1971 dan 1982 ia mengikuti pendidikan di The University of New South Wales, Australia, dan University California, Amerika Serikat, setelah sebelumnya di Purdue University selama dua tahun. Kariernya diawali sejak tahun 1960 sebagai asisten ahli. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (1977-1981) dan Kepala Program S2 STJR-ITB (1982-1992).

Ide awal pemikiran bahan polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja berawal dari ide mencari beton yang memiliki sifat lebih baik dari beton semen. Ketika membuka-buka literatur yang dipunyainya, diketahui bahwa polimer memiliki sifat seperti semen. Polimer adalah suatu zat kimia yang terdiri dari molekul-molekul yang besar, dengan karbon dan hidrogen sebagai molekul utamanya. Bahan ini berasal dari limbah plastik yang didaur ulang, kemudian dicampur dengan bahan kimia lainnya. Penggunaan bahan tersebut bertujuan memanfaatkan limbah plastik, di samping mencari alternatif pengganti semen.

Pada 1975, ia melakukan penelitian mengenai bahan polimer pengganti semen ini. Berkat ketekunan dan kegigihan, penelitian yang dilakukan dengan berbagai ujicoba di Laboratorium Struktur dan Bahan serta laboratorium lainnya di Institur Teknologi Bandung dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) akhirnya membuahkan hasil. Hasil penemuan tersebut sekaligus menarik perhatian ilmuwan dan para industriawan mengingat beberapa keistimewaan dan sekaligus kelebihan beton polimer dibanding beton semen.

Beton polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja memiliki sifat kedap air, tidak terpengaruh sinar ultra violet, tahan terhadap larutan agresif seperti bahan kimia serta kelebihan lainnya. Yang lebih istimewa lagi, beton polimer bisa mengeras di dalam air sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki bangunan-bangunan di dalam air. Satu-satunya kelemahan yang hingga kini belum teratasi adalah harga beton polimer masih belum bisa lebih rendah dibanding beton semen, kecuali untuk daerah Irian Jaya, di mana harga semen sangat mahal. Karena itu, beton polimer selama ini lebih banyak digunakan untuk rehabilitasi bangunan yang rusak.

Pada 2000, atas hasil karyanya ini Prof Ir H Djuanda Suraatmadja menerima penghargaan Anugerah Kalyanakretya pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional V yang dicanangkan Presiden Abdurrahman Wahid di Bandung. Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Karya penelitiannya yang umum telah diseminarkan dalam bentuk Standar Nasional yang bisa berguna untuk masyarakat luas. Yaitu dalam bentuk Peraturan Dinas No. 10 tentang Jalan Rel Indonesia, SNI Uji Tarik Langsung Material Beton tahun 1997, dan SNI Tata Cara Pemakaian Beton Polimer untuk Perbaikan dan Penguatan Struktur Beton tahun 1998.

:: Lilih Prilian Ari Pranowo, 30 Tokoh Penemu Indonesia, Yogyakarta: Narasi, 2010 ::
Continue Reading...