Tuesday, November 03, 2009
Apa yang Kau Lihat, Dengar, dan Rasakan!
Ketika hendak menulis acap kita bertanya, “Dari mana kita memulainya?”
Kebanyakan dari para pemula yang mulai debutnya di dunia tulis menulis, kadang kebingungan dengan hal ini. Tapi, tenang saja, kebingungan ini tak menjadi soal yang berarti jika kamu mengetahui solusinya.
Solusi dari pertanyaan di atas sebetulnya tak sulit. Mulai saja dari tempat pikiran kamu mengetahui sesuatu. Tak perlu teori njilimet, tak perlu pikiran yang mumet. Hajar dan tendang semua halangan menghadang.
Namun, ada yang patut disadari bahwa kita tak pernah bisa menulis tanpa membaca. Ibarat kata, kita tak mungkin bisa pup tanpa makan banyak. Apa yang mau dikeluarkan jika yang dimakan saja tidak ada? Kapan-kapan ini bakal kita bahas di posting-posting selanjutnya…
Kembali ke soal dari mana kita memulai menulis…
Telah disinggung-singgung di muka, mulailah menulis dari yang kamu ketahui. Memang cara ini cukup efektif dan ampuh. Banyak di antara pengarang-penulis, baik manca maupun dome, melakukan teknik ini. Sebut saja, untuk dome, Raditya Dika (www.radityadika.com), Gola Gong tak sedikit menggunakan teknik apa yang dilihatnya sebagai bahan tulisan. Ini berlaku untuk segala jenis tulisan.
Permasalahan detailnya akan dilanjutkan nanti setelah tulisan jadi. Setelah semua ide yang ingin kamu lontarkan keluar indah bersamaan dengan ketikan di tuts keyboard komputer kamu. Ok demikian dulu, nanti disambung lagi.
Apa kamu punya pertanyaan atau sanggahan soal postingan ini?
Kebanyakan dari para pemula yang mulai debutnya di dunia tulis menulis, kadang kebingungan dengan hal ini. Tapi, tenang saja, kebingungan ini tak menjadi soal yang berarti jika kamu mengetahui solusinya.
Solusi dari pertanyaan di atas sebetulnya tak sulit. Mulai saja dari tempat pikiran kamu mengetahui sesuatu. Tak perlu teori njilimet, tak perlu pikiran yang mumet. Hajar dan tendang semua halangan menghadang.
Namun, ada yang patut disadari bahwa kita tak pernah bisa menulis tanpa membaca. Ibarat kata, kita tak mungkin bisa pup tanpa makan banyak. Apa yang mau dikeluarkan jika yang dimakan saja tidak ada? Kapan-kapan ini bakal kita bahas di posting-posting selanjutnya…
Kembali ke soal dari mana kita memulai menulis…
Telah disinggung-singgung di muka, mulailah menulis dari yang kamu ketahui. Memang cara ini cukup efektif dan ampuh. Banyak di antara pengarang-penulis, baik manca maupun dome, melakukan teknik ini. Sebut saja, untuk dome, Raditya Dika (www.radityadika.com), Gola Gong tak sedikit menggunakan teknik apa yang dilihatnya sebagai bahan tulisan. Ini berlaku untuk segala jenis tulisan.
Permasalahan detailnya akan dilanjutkan nanti setelah tulisan jadi. Setelah semua ide yang ingin kamu lontarkan keluar indah bersamaan dengan ketikan di tuts keyboard komputer kamu. Ok demikian dulu, nanti disambung lagi.
Apa kamu punya pertanyaan atau sanggahan soal postingan ini?
Monday, August 04, 2008
Panjat Pinang
meski minggu kemaren nggak ikutan lomba panjat pinang di kampungku. aku ingin betul cerita-cerita dan membagi kepada dunia dan pada kalian semua. ini semua tentang kesenangan menulisku dan kebahagiaan saat melihatnya. seru sekali dengan kemeriahan dan keceriaan itu semua.
sekitar jam 4, sebangunnya aku dari tidur, wah aku langsung mandi. karena tentunya orang yang baru bangun tidur memiliki liur berlebih dan wajah yang tentu saja butek. nah selesai mandi dan bat-bet, aku segera keluar, di luar orang-orang sudah riuh meneriaki orang-orang yang memanjat. wah, sholatku jadi nggak konsen, gara2 pengen buru2 nonton. selesai solat aku langsung liat deh. tim I udah selesai. kini tim II lagi, pas mereka lagi naek eh kepeleset lagi gara2 olinya masih banyak. beruntung tim IV yang olinya udah kering, mereka beruntung bisa mendapatkan beberapa hadiah lebih banyak. sedangkan dua tim lain (I dan II) nggak dapet sama sekali. dan tim III cuma dapet sekali hadiah. eh gitu aja postinganku kali ini, besok kapan2 sambung lagi.
sekitar jam 4, sebangunnya aku dari tidur, wah aku langsung mandi. karena tentunya orang yang baru bangun tidur memiliki liur berlebih dan wajah yang tentu saja butek. nah selesai mandi dan bat-bet, aku segera keluar, di luar orang-orang sudah riuh meneriaki orang-orang yang memanjat. wah, sholatku jadi nggak konsen, gara2 pengen buru2 nonton. selesai solat aku langsung liat deh. tim I udah selesai. kini tim II lagi, pas mereka lagi naek eh kepeleset lagi gara2 olinya masih banyak. beruntung tim IV yang olinya udah kering, mereka beruntung bisa mendapatkan beberapa hadiah lebih banyak. sedangkan dua tim lain (I dan II) nggak dapet sama sekali. dan tim III cuma dapet sekali hadiah. eh gitu aja postinganku kali ini, besok kapan2 sambung lagi.
Thursday, July 31, 2008
CAPEDE
weah, berbulan bulan lamanya daku tidak updet ini posting blog, kayaknya berasa nggak enak hati juga meninggalkan blog yang terkapar tak berdaya di jagat maya. yah secara kalau semisalnya lagi browcing cing ketemu blog sendiri jadi nggak enak hati, kesannya mereka manggil manggil, "eh kesini kamu cumi, gua mau tanya sama elo, kenapa blog gua nggak lu isi isi. capek kan gua udah nungguin elo berbulan bulan." hah, sebodo dengan pikiran si blog yang ngabrak gua sakarepe dewe.
tapi yang jelas sekarang gua lagi sibuk. sibuk pool, sampe kadang kadang lupa siapa diri gua sendiri. kamsudnya? ya gini lo, pekerjaan kan sangat menyita waktu dan pikiran. sedangkan gua pulangnya malam, jadi nggak sempet ubek ubek warnet lagi dan telusuri laman laman tiap person. so jadi terbengkalailah. tapi sebenernya yang jadi alasan bukan itu, gua aja yang nggak bisa mengatur jadwal manggung, eh salah jadwal nulis gua. hah, bagaimana mungkin bisa menjadi seorang penulis kalau nulis aja nggak pernah. ibarat kata nih, menulis di dalam pikiran, emang ada yang bisa baca? hanya dukun cabul yang bisa membaca pikiran gua. hahaha...
keterusterangan ini jangan disalah artikan apa apa. aku kan hanya seorang blogger biasa. secara blogger juga manusia. jadi kenonaktifan gua di sini sebenernya bukan karena gua pengen berhenti dari dunia blogging atau berhenti dari dunia tulis menulis atau berhenti jadi penghuni cyber atau apalah terserah dah. gua cuma lagi mau memfokuskan niat awal gua. tapi lantaran banyak gangguan kayaknya jadi teramat sulit dah. secara proses kreatif kalau udah diemblem emblem sama yang namanya duit ah jadi agak sulit pitik. ah, udahlah. ini cuma konfirmasi dari gua aja tentang kemana diri gua selama ini. gua masih ada kok. masih di dunia ini. masih pengen menjelajah dunia maya. pengen bersenang-senang. pengen jalan jalan ke luar negeri. dan pengen merasakan yang namanya menikah (untuk yang satu ini entah kapan akan terealisir). salam tabik. jika kalian menemukan aku di suatu tempat. mungkin aku sedang merenung memikirkan hari hari yang telah berlalu, yang bosan menungguku untuk berlari. sekarang aku capede. mau tidur. xixixi. selamat malam semua. selamat malam bintang.
tapi yang jelas sekarang gua lagi sibuk. sibuk pool, sampe kadang kadang lupa siapa diri gua sendiri. kamsudnya? ya gini lo, pekerjaan kan sangat menyita waktu dan pikiran. sedangkan gua pulangnya malam, jadi nggak sempet ubek ubek warnet lagi dan telusuri laman laman tiap person. so jadi terbengkalailah. tapi sebenernya yang jadi alasan bukan itu, gua aja yang nggak bisa mengatur jadwal manggung, eh salah jadwal nulis gua. hah, bagaimana mungkin bisa menjadi seorang penulis kalau nulis aja nggak pernah. ibarat kata nih, menulis di dalam pikiran, emang ada yang bisa baca? hanya dukun cabul yang bisa membaca pikiran gua. hahaha...
keterusterangan ini jangan disalah artikan apa apa. aku kan hanya seorang blogger biasa. secara blogger juga manusia. jadi kenonaktifan gua di sini sebenernya bukan karena gua pengen berhenti dari dunia blogging atau berhenti dari dunia tulis menulis atau berhenti jadi penghuni cyber atau apalah terserah dah. gua cuma lagi mau memfokuskan niat awal gua. tapi lantaran banyak gangguan kayaknya jadi teramat sulit dah. secara proses kreatif kalau udah diemblem emblem sama yang namanya duit ah jadi agak sulit pitik. ah, udahlah. ini cuma konfirmasi dari gua aja tentang kemana diri gua selama ini. gua masih ada kok. masih di dunia ini. masih pengen menjelajah dunia maya. pengen bersenang-senang. pengen jalan jalan ke luar negeri. dan pengen merasakan yang namanya menikah (untuk yang satu ini entah kapan akan terealisir). salam tabik. jika kalian menemukan aku di suatu tempat. mungkin aku sedang merenung memikirkan hari hari yang telah berlalu, yang bosan menungguku untuk berlari. sekarang aku capede. mau tidur. xixixi. selamat malam semua. selamat malam bintang.
Tuesday, March 11, 2008
Mesake Banget Yah Mereka....
I hate this monday. Yeah, itu lontaran kata yang mau kuserapahkan pada senin pagi tertanggal 10-03-08 (waa...mirip kroniks yaaa). penyebab kemangkelan ini berawal dari tutupnya lantai empat gedung tinggi (tempat gw nyatronin koran2 tua). padahal sumprit, sehari sebelumnya gw udah menyemangatkan diri. hari senin esok gw harus mendapat lebih dari 25 kronikal. karena apa? gw udah ada garis kematian aka dedlain kronik yeh yeh, sampe dua minggu ke depan. pasca menyelesaikan kronik tahun keempat ini, gw bakalan kembali cabut ke yogya, kerja di patehan mengikuti ritme kerja 12 jam. yang walaupun waks (ekspresi terkejut gw).
oke kembali ke senin kelabu lagi. dengan semangat 45 gw cabut ke gedung tinggi, sebenernya bareng ma rahmat. dia ke BP karena ada sesi pemotretan buku2 bekas di sana. maka, gw kesana sendirian ke gedung tingginya. waktu itu gw juga gak sempet bawa hp, udah gak kepikiran, yang ada di otak gw cuma satu: BH-nya Bu Jamal (lho??)...eh salah...yang ada di otak gw cuma satu: dapat 25 lebih kronik. tak butuh lama waktu untuk sampe ke gedung tinggi itu.
seneng banget pas gw turun dari bis terus melangkahkan kaki2 gw menuju gedung tinggi. tapi semangat gw tiba2 down to earth, dari puncak kaki gunung himalaya ngedrop ke bawah palung lautan (wuih...dilebih2in banget niy :P), waktu lihat petrik (makluk berbentuk bintang laut yang selanjutnya disebut (co)-PET) berjalan gontai keluar dari gedung tinggi. lalu terlibatlah kita dalam satu adegan percakapan singkat.
"lho kenapa, (co)-PET?" tanya gw selagi (co)-PET berjalan ke arah gw.
"Lantai 4 tutup!" tukasnya.
"Lho? Bisa? ada apaan emang?"
"ada pembetulan." tukasnya sambil terus berjalan, "gw keluar dulu, mau ke bank, lo kalo mo ke atas duluan aja."
Yo wes, gw ke atas. tepat seperti kata (co)-PET, lantai 4 ternyata emang ada pembetulan, yang menurut rencana mereka dan tanpa pikir2 panjang dan tanpa pemberitahuan akan diadakan selama seminggu atawa lebih. mbuh ra doung.
mendengar penjelasan itu gw cabut balik. muangkel. juengkel banget. gontai pula gw berjalan keluar. yah seminggu? sementara gw balik ke yogya tanggal 25-an, sementara garis kematian udah dijatah sampe tanggal 20 maret ini. busyet. gak kepikir gimana menyelesaikannya.
hal ini diperparah dengan lamanya P2 yang datang menjemput gw. kurang lebih 45 menit gw disuruh nunggu sama mereka. gila. tambah bt deh gw. mana sebelumnya sarapannya kurang. ngelih banget dab. makanya gw berjanji pada diri gw pasca turun dari P2, gw akan beli coca-cola di Abbas Store depan kantor.
abis beli coca-cola agak lega sekaligus bingung juga, muski gimana ye? tapi sebodo ah, gw pikir nyantai ae. biar uenak gak bikin sakit. pas naek lewat tangga, tiba2 serombongan kawan2 juga lagi pas turun. mereka adalah mbak rhoma (ibu rumah tangga), gus muh (pengasuh pondok pesantren), dedi+arip (anak-anak panti asuhan). wah, kebetulan, secara ketemu mereka, info gw mengenai tutupnya lantai 4 gedung tinggi pasti sangat berharga. waktu berpapasan gw coba komunikasikan hal itu.
"kalian pada mau ke gedung tinggi ya? lantai berapa?" tanya gw.
mereka semua pada diem.
"lantai 4 gedung tinggi tutup lho."
mereka tetep diem. dan berjalan tanpa banyak percakapan. lho ono opo tho? pikirku. tapi gw tetep cool aja. yang penting info berharga udah gw sampaikan...biar mereka coba sendiri sana...hahaha.
belakangan gw baru tauk, kalo mereka semua itu lagi pada muangkel banget sama gw. lho? gara2nya buku yang kita pinjem di BP, atas nama gw belum diletakin jadi satu, padahal mau dibalikin. so mereka semua kebingungan waktu pagi2 nyariin buku itu. mereka nelpon2 gw, tapi karena gw gak bawa hp, gak ada yang angkat.. mereka telpon (co)-PET, sms Ridwan+Yusril (anak sma), tetep aja gak menemukan gw...hahaha, ternyata dibalik kesulitan gw ada kesulitan orang lain yang lebih besar ya...mesake banget ya mereka. dan lantaran hal ini gw didaprat, arif (anak panti asuhan) dan mbak rhoma (ibu rumah tangga)....hahaha.
oke kembali ke senin kelabu lagi. dengan semangat 45 gw cabut ke gedung tinggi, sebenernya bareng ma rahmat. dia ke BP karena ada sesi pemotretan buku2 bekas di sana. maka, gw kesana sendirian ke gedung tingginya. waktu itu gw juga gak sempet bawa hp, udah gak kepikiran, yang ada di otak gw cuma satu: BH-nya Bu Jamal (lho??)...eh salah...yang ada di otak gw cuma satu: dapat 25 lebih kronik. tak butuh lama waktu untuk sampe ke gedung tinggi itu.
seneng banget pas gw turun dari bis terus melangkahkan kaki2 gw menuju gedung tinggi. tapi semangat gw tiba2 down to earth, dari puncak kaki gunung himalaya ngedrop ke bawah palung lautan (wuih...dilebih2in banget niy :P), waktu lihat petrik (makluk berbentuk bintang laut yang selanjutnya disebut (co)-PET) berjalan gontai keluar dari gedung tinggi. lalu terlibatlah kita dalam satu adegan percakapan singkat.
"lho kenapa, (co)-PET?" tanya gw selagi (co)-PET berjalan ke arah gw.
"Lantai 4 tutup!" tukasnya.
"Lho? Bisa? ada apaan emang?"
"ada pembetulan." tukasnya sambil terus berjalan, "gw keluar dulu, mau ke bank, lo kalo mo ke atas duluan aja."
Yo wes, gw ke atas. tepat seperti kata (co)-PET, lantai 4 ternyata emang ada pembetulan, yang menurut rencana mereka dan tanpa pikir2 panjang dan tanpa pemberitahuan akan diadakan selama seminggu atawa lebih. mbuh ra doung.
mendengar penjelasan itu gw cabut balik. muangkel. juengkel banget. gontai pula gw berjalan keluar. yah seminggu? sementara gw balik ke yogya tanggal 25-an, sementara garis kematian udah dijatah sampe tanggal 20 maret ini. busyet. gak kepikir gimana menyelesaikannya.
hal ini diperparah dengan lamanya P2 yang datang menjemput gw. kurang lebih 45 menit gw disuruh nunggu sama mereka. gila. tambah bt deh gw. mana sebelumnya sarapannya kurang. ngelih banget dab. makanya gw berjanji pada diri gw pasca turun dari P2, gw akan beli coca-cola di Abbas Store depan kantor.
abis beli coca-cola agak lega sekaligus bingung juga, muski gimana ye? tapi sebodo ah, gw pikir nyantai ae. biar uenak gak bikin sakit. pas naek lewat tangga, tiba2 serombongan kawan2 juga lagi pas turun. mereka adalah mbak rhoma (ibu rumah tangga), gus muh (pengasuh pondok pesantren), dedi+arip (anak-anak panti asuhan). wah, kebetulan, secara ketemu mereka, info gw mengenai tutupnya lantai 4 gedung tinggi pasti sangat berharga. waktu berpapasan gw coba komunikasikan hal itu.
"kalian pada mau ke gedung tinggi ya? lantai berapa?" tanya gw.
mereka semua pada diem.
"lantai 4 gedung tinggi tutup lho."
mereka tetep diem. dan berjalan tanpa banyak percakapan. lho ono opo tho? pikirku. tapi gw tetep cool aja. yang penting info berharga udah gw sampaikan...biar mereka coba sendiri sana...hahaha.
belakangan gw baru tauk, kalo mereka semua itu lagi pada muangkel banget sama gw. lho? gara2nya buku yang kita pinjem di BP, atas nama gw belum diletakin jadi satu, padahal mau dibalikin. so mereka semua kebingungan waktu pagi2 nyariin buku itu. mereka nelpon2 gw, tapi karena gw gak bawa hp, gak ada yang angkat.. mereka telpon (co)-PET, sms Ridwan+Yusril (anak sma), tetep aja gak menemukan gw...hahaha, ternyata dibalik kesulitan gw ada kesulitan orang lain yang lebih besar ya...mesake banget ya mereka. dan lantaran hal ini gw didaprat, arif (anak panti asuhan) dan mbak rhoma (ibu rumah tangga)....hahaha.
Monday, February 25, 2008
Temenan Sama Preman
Jika ingat kejadian ini rasa-rasanya seluruh maluku akan menguat. Bagaimana tidak? kejadian ini terjadi lebih kurang sekira tahun 1997-an. Yup, tepat di saat krisis. Tepat pula di saat aku baru menyukai musik rock, khususnya alat bernama gitar itu. Tapi ini bukan soal kegemaranku pada gitar. Ini kasus waktu aku di kompas aka dipalakin sama tiga orang preman di pondok gede.
Hari itu, gw dan Yudis, karib waktu kecil dulu, pergi ke pondok gede. Beli dua hal: Gw beli adaptor seharga 20 ribu dan Yudis beli keset, eh kaset Metallica Unforgiven 2. Sebagai anak2 SMP yang sedang beranjak dewasa, kita make dandanan ya semirip anak2 pada masanyalah, kaosan dan celana pendek 3/4 sedengkul. Secara kita riang gembira naek CH (angkot warna merah). Tak butuh waktu lama kita untuk mendapatkan barang yang dimau.
Yudis, telah mendapatkan apa yang dicarinya. Tinggal gw nyari adaptor di pasar baru pondok gede. Ok, ini juga tak membutuhkan waktu lama. Hop, kita bersiap-siap untuk pulang.
Nah, berawal dari sini nightmare kita berdua dimulai. waktu keluar dari pasar itu, kita udah dikuntit tiga makluk. Mereka menasbihkan diri mereka preman. Kita berdua kagak sadar dengan apa yang terjadi. Mungkin pingsan waktu itu...hehehe (nggak canda ding). Hup, tangan gw tertangkap sama satu makluk itu. Waw, gw gemeter setengah mampus deh. Tapi Yudis selamat, ia berhasil melarikan diri. Eh, tunggu dulu, jangan seneng dulu, kawan si makluk ini yang berasal dari suku Ambon, ngikutin Yudis. Ia ditangkep juga. Hihihi...
Katanya Yudis, cari nangkepnya sederhana, "Eh, temen lo ketangkep ma temen gw tuh!" celetuk si makluk garang itu. Akhirnya demi kawannya, yaitu gw, dia merunutkan jalan2 nya sama si Ambon.
Kita ditanya-tanya di situ. Kalo mereka polisi, semantap menginterograsilah modelnya. "Kalian anak mana?" tanya mereka. Karena ingin boong dan dikirain mantrabs. Maka, kita jawab, "kita anak kampung di sekitar sono." omong gw mbela diri, sekiranya untuk menggertak mereka aja. Eh, tapi mereka langsung nyamber jawaban. "Kalian kenal siapa aja di sana?" tegas mereka. Kita berdua diem. Lalu si Yudis punya inisiatip njawab ngawur, kalo gw bukan di situ ding, gw rumahnya di sekitar situ. "
"Yah, udah lo kenal siapa aja? Gw kenal si anu," tanya mereka. Gw diem aja. Merasa nggak kenal siapa2 dan emang gw boong (Waa, diasaar gobloksa ni orang). Ya udah kita digiring di sana.
Diputer2 di Pasar Baru, Pondok Gede itu. Mereka berhenti di salah satu ruko yang kosong. Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi langsung ngangkat rolling door. Srekk, bunyinya. Sumpe gw ma Yudis udah gemeteran setengah mampus. Kita udah mikir, pasti digebukin di sini. Huhuhu. Gimana ya rasanya digebukin? Sakitkah, pikir gw. Tentu! Dasar modol luh. Eh, ternyata si jangkung ini, bukannya mau gebukin kita, tapi mau ngencing. Waks? Mata kita membelo, antara gw sama Yudis saling pandang. Tapi tetep gak bisa senyum apalagi ketawa.
Selepas dari sini, mereka menggiring kita lagi ke bibir sawah. Kita berdiri di deket apa ya istilahnya?...got irigasi. Di situ kita digojlok abis2an. Si Ambon yang merasa dirinya pimpinan angkat bicara. Sambil hadap2an sama gw dia bilang gini: "sini!" merampas seluruh belanjaan kita. Kaset plus adaptor. Yah...hopless banget waktu itu. "Lo tadi boongin gw kan?" tanyanya mantrabs, "sebagai perdamaiannya kalian mau?" Gw mengangguk. Ya...ya...ya.
"Sekarang lo harus minum air dari tempat kita ini sampai sana. Tapi jangan sampe ngalir lagi kesini!!!"
Glek. keringat dingin mengalir dari wajah kepanasan kita.
Mengangguk perlahan. "Sebagai perdamaiannya,lu sanggup gak?!"
Kita geleng2. Dan menyatakan ketidaksanggupan. Eh, tak dinyana, setelah mengatakan itu, dia malah melunak. Tersenyum penuh keanehan. Kita jadi bingung rupanya sama kelakuan mereka.
"Nih kita pulangin?" Masih dengan tampang tak percaya. "Sebenernya kita cuma mau iseng2 kenalan aja sama kalian."
Hah? Bengong. "Nih kita balikin semuanya". Hah, kenalan kek gini? Masih dengan tampang tak percaya. Secara sampai kini pun kenangan itu adalah sesuatu yang tak terlupakan. Kenangan kegoblok gw dan Yudis. Tapi Yudis ada dimana ya sekarang?
Hari itu, gw dan Yudis, karib waktu kecil dulu, pergi ke pondok gede. Beli dua hal: Gw beli adaptor seharga 20 ribu dan Yudis beli keset, eh kaset Metallica Unforgiven 2. Sebagai anak2 SMP yang sedang beranjak dewasa, kita make dandanan ya semirip anak2 pada masanyalah, kaosan dan celana pendek 3/4 sedengkul. Secara kita riang gembira naek CH (angkot warna merah). Tak butuh waktu lama kita untuk mendapatkan barang yang dimau.
Yudis, telah mendapatkan apa yang dicarinya. Tinggal gw nyari adaptor di pasar baru pondok gede. Ok, ini juga tak membutuhkan waktu lama. Hop, kita bersiap-siap untuk pulang.
Nah, berawal dari sini nightmare kita berdua dimulai. waktu keluar dari pasar itu, kita udah dikuntit tiga makluk. Mereka menasbihkan diri mereka preman. Kita berdua kagak sadar dengan apa yang terjadi. Mungkin pingsan waktu itu...hehehe (nggak canda ding). Hup, tangan gw tertangkap sama satu makluk itu. Waw, gw gemeter setengah mampus deh. Tapi Yudis selamat, ia berhasil melarikan diri. Eh, tunggu dulu, jangan seneng dulu, kawan si makluk ini yang berasal dari suku Ambon, ngikutin Yudis. Ia ditangkep juga. Hihihi...
Katanya Yudis, cari nangkepnya sederhana, "Eh, temen lo ketangkep ma temen gw tuh!" celetuk si makluk garang itu. Akhirnya demi kawannya, yaitu gw, dia merunutkan jalan2 nya sama si Ambon.
Kita ditanya-tanya di situ. Kalo mereka polisi, semantap menginterograsilah modelnya. "Kalian anak mana?" tanya mereka. Karena ingin boong dan dikirain mantrabs. Maka, kita jawab, "kita anak kampung di sekitar sono." omong gw mbela diri, sekiranya untuk menggertak mereka aja. Eh, tapi mereka langsung nyamber jawaban. "Kalian kenal siapa aja di sana?" tegas mereka. Kita berdua diem. Lalu si Yudis punya inisiatip njawab ngawur, kalo gw bukan di situ ding, gw rumahnya di sekitar situ. "
"Yah, udah lo kenal siapa aja? Gw kenal si anu," tanya mereka. Gw diem aja. Merasa nggak kenal siapa2 dan emang gw boong (Waa, diasaar gobloksa ni orang). Ya udah kita digiring di sana.
Diputer2 di Pasar Baru, Pondok Gede itu. Mereka berhenti di salah satu ruko yang kosong. Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi langsung ngangkat rolling door. Srekk, bunyinya. Sumpe gw ma Yudis udah gemeteran setengah mampus. Kita udah mikir, pasti digebukin di sini. Huhuhu. Gimana ya rasanya digebukin? Sakitkah, pikir gw. Tentu! Dasar modol luh. Eh, ternyata si jangkung ini, bukannya mau gebukin kita, tapi mau ngencing. Waks? Mata kita membelo, antara gw sama Yudis saling pandang. Tapi tetep gak bisa senyum apalagi ketawa.
Selepas dari sini, mereka menggiring kita lagi ke bibir sawah. Kita berdiri di deket apa ya istilahnya?...got irigasi. Di situ kita digojlok abis2an. Si Ambon yang merasa dirinya pimpinan angkat bicara. Sambil hadap2an sama gw dia bilang gini: "sini!" merampas seluruh belanjaan kita. Kaset plus adaptor. Yah...hopless banget waktu itu. "Lo tadi boongin gw kan?" tanyanya mantrabs, "sebagai perdamaiannya kalian mau?" Gw mengangguk. Ya...ya...ya.
"Sekarang lo harus minum air dari tempat kita ini sampai sana. Tapi jangan sampe ngalir lagi kesini!!!"
Glek. keringat dingin mengalir dari wajah kepanasan kita.
Mengangguk perlahan. "Sebagai perdamaiannya,lu sanggup gak?!"
Kita geleng2. Dan menyatakan ketidaksanggupan. Eh, tak dinyana, setelah mengatakan itu, dia malah melunak. Tersenyum penuh keanehan. Kita jadi bingung rupanya sama kelakuan mereka.
"Nih kita pulangin?" Masih dengan tampang tak percaya. "Sebenernya kita cuma mau iseng2 kenalan aja sama kalian."
Hah? Bengong. "Nih kita balikin semuanya". Hah, kenalan kek gini? Masih dengan tampang tak percaya. Secara sampai kini pun kenangan itu adalah sesuatu yang tak terlupakan. Kenangan kegoblok gw dan Yudis. Tapi Yudis ada dimana ya sekarang?
Monday, January 28, 2008
Backer Packer To Bogor
Back packer, barangkali itulah kalimat yang bisa kusematkan pada diri gue saat melancong ke kota kembang hari minggu, 27 Januari 2008. Hmmm, sehari sebelumnya, aku bersepakat bersama Petrik (seorang kawan gila dari selarong hehehe...nggak ding) mau jalan jalan ke Bogor, kota kembang, main ke kebun raya. Pikir gue saat itu cuma satu, gue akan nostalgia di tempat itu. Yups, tempat itu memiliki kenangan tersendiri di hati gue. Walau tak sedemikian dalemnya. Waktu SMP, kelas 1, kita-kita seangkatan study tour ke kebun raya. Yuk, karena disuruh guru-gurunya ya gue siy mau-mau aje. Belum pernah kesana juga siy.
Ok untuk kalian marilah kita mengenang tempat itu bersama gue dan seseorang itu. Hmmmph, kejadiannya siy udah sekitar 12 tahunan gitu deh. Dan emang udah agak-agak lupa, dan sayangnya gue gak punya sebuah foto pun untuk mengenangnya. Waktu smp dulu, pas kelas 1, gue sempat naksir, seorang cewek, namanya Riana Yun Setiarini. Orangnya pendek, bentuk badannya lumayanlah untuk anak smp, terus wajahnya manis, gaya bicaranya khas. Hehehe, sebagai anak kelas 1 yang baru mengenal kata: jatuh cintrong, tentulah hal ini cuma gue pendem aje. Tapi saat dia lewat, wuih kerasa deh senengnya, apalagi kalo dia bicara ke gue, lebih seneng lagi. Dan ketika kenaikan kelas, seluruh anak-anak kelas 1, pergi study tour ke kebun raya bogor. Wah, seneng bange bo', gue kan belum pernah kesana. Apalagi jalan-jalan ke bogor. Smp gue di seletepe 246 Lubang(nya) Buaya. Akh udah akh...
Yup, ketika jalan2 gitu, gue melihat dia itu bak bidadari yang turun dari khayangan. karena masih merasa sebagai anak SMP, gue tak berniat mendekatinya, lagian gue kurang berani menghadapi wanita (belum sepandir sekarang) hehehe. Yah, udah gitu aja...hahaha...kalian pasti kecewa kan cerita gue begitu aja?
Tapi yang menyebalkan dari jalan2 gue Bogor itu adalah yaitu sebuah hujan yang mengguyur dengan derasnya. Sial. Gue nggak berniat mandi ujan waktu perjalanan. Kagak bakalan enak. Tapi nasi dibuat secara sengaja menjadi bubur. Yo wes tetep aja gue keujanan, apalagi Petrik malah bilang gini: "kalo pengen nggak sakit waktu ujan, caranya kita harus gerak terus! Biar badan kita menghasilkan panas yang cukup."
Batin gue, "gundulmu kuwi." Gue bilang begitu saat gue lagi neduh diantara pepohonan yang gak rindang. Padahal disana kena hujan juga. Tapi karena Petrik memaksa, ya udah kita ujan2an. Dhemit. Ra kalap. Kita kebasahan waktu itu, klebus kuyup. Salah satu yang bikin menyedihkan adalah ketika hujan agak reda kita malah keliling kebun raya yang di bagian luarnya. Edan. Mungkin kalo gue bukan seorang backpaker, kagak bakalan mau dah. Udah gitu, gue sebel banget. Waktu mo lewat eh disana ada kuda, waktu mau lewat kuda itu nengok. Dan kenalah gue kuda iler kuda. Anjrotttt! Sial.
Itulah pengalaman gue menjadi seorang backpaker bersama kawan gila saya: Petrik. Wuakak. Tapi gue seneng cos dapet pengalaman baru.
Ok untuk kalian marilah kita mengenang tempat itu bersama gue dan seseorang itu. Hmmmph, kejadiannya siy udah sekitar 12 tahunan gitu deh. Dan emang udah agak-agak lupa, dan sayangnya gue gak punya sebuah foto pun untuk mengenangnya. Waktu smp dulu, pas kelas 1, gue sempat naksir, seorang cewek, namanya Riana Yun Setiarini. Orangnya pendek, bentuk badannya lumayanlah untuk anak smp, terus wajahnya manis, gaya bicaranya khas. Hehehe, sebagai anak kelas 1 yang baru mengenal kata: jatuh cintrong, tentulah hal ini cuma gue pendem aje. Tapi saat dia lewat, wuih kerasa deh senengnya, apalagi kalo dia bicara ke gue, lebih seneng lagi. Dan ketika kenaikan kelas, seluruh anak-anak kelas 1, pergi study tour ke kebun raya bogor. Wah, seneng bange bo', gue kan belum pernah kesana. Apalagi jalan-jalan ke bogor. Smp gue di seletepe 246 Lubang(nya) Buaya. Akh udah akh...
Yup, ketika jalan2 gitu, gue melihat dia itu bak bidadari yang turun dari khayangan. karena masih merasa sebagai anak SMP, gue tak berniat mendekatinya, lagian gue kurang berani menghadapi wanita (belum sepandir sekarang) hehehe. Yah, udah gitu aja...hahaha...kalian pasti kecewa kan cerita gue begitu aja?
Tapi yang menyebalkan dari jalan2 gue Bogor itu adalah yaitu sebuah hujan yang mengguyur dengan derasnya. Sial. Gue nggak berniat mandi ujan waktu perjalanan. Kagak bakalan enak. Tapi nasi dibuat secara sengaja menjadi bubur. Yo wes tetep aja gue keujanan, apalagi Petrik malah bilang gini: "kalo pengen nggak sakit waktu ujan, caranya kita harus gerak terus! Biar badan kita menghasilkan panas yang cukup."
Batin gue, "gundulmu kuwi." Gue bilang begitu saat gue lagi neduh diantara pepohonan yang gak rindang. Padahal disana kena hujan juga. Tapi karena Petrik memaksa, ya udah kita ujan2an. Dhemit. Ra kalap. Kita kebasahan waktu itu, klebus kuyup. Salah satu yang bikin menyedihkan adalah ketika hujan agak reda kita malah keliling kebun raya yang di bagian luarnya. Edan. Mungkin kalo gue bukan seorang backpaker, kagak bakalan mau dah. Udah gitu, gue sebel banget. Waktu mo lewat eh disana ada kuda, waktu mau lewat kuda itu nengok. Dan kenalah gue kuda iler kuda. Anjrotttt! Sial.
Itulah pengalaman gue menjadi seorang backpaker bersama kawan gila saya: Petrik. Wuakak. Tapi gue seneng cos dapet pengalaman baru.
Sunday, January 20, 2008
Kompas, korea, makanan, nyasar
Yup, sesuai judulnya, posting kalee ini berkisah mengenai makanan. Tepatnya, hari kamis lalu, gue beserta anak anak kronis, eh kronik pergi ke Kompas. Kata mbak Rhoma (mamih kita), Kompas lagi ngadain pameran kebudayaan Korea. Hah, sebenernya gw males ikutan. Apalagi duit gw udah cekak banget. Namun lantaran dibayarin gw jadi semangat lagi. Ok.
Pagi-pagi kita berangkat menuju gedung tinggi, bersama kawan kawan kronikus lainnya. Hmm, suasana pagi yang indah bener. Namun tak seindah perasaan ini (lupakan katakata ini). Kita berangkat udah dijemput sama P2, dari Juanda langsung ke gedung tinggi berlantai 8. Sampe jam 1-an. Mamih kita belum datang. Lalu, keleng (ini nama orang lho) pinjem film di gedung tinggi berlantai 8 itu, judule: Hiroshima. Yo wes ikutan keleng nonton film. Mpe jm 3-an film rampung. Filmnya bagus, tentang pemboman kota Hiroshima Jepang itu lho, tapi dari sudut pandang Amerika. Katanya Keleng, klo menurut sudut pandang Jepang, pada waktu penyerangan Jepang sudah tak memiliki kekuatan militer. Padahal versi Amerika, Jepang masih punya kekuatan militer. Tau deh mana yang bener. Opo yo tak pikir??
Lanjut, kita kemudian turun. Dan berangkatlah kita ke gedung Kompas di Pal Merah Selatan. Kita bertujuh. 4 cowok. 3 cewek. Cowok2 naek taksi. Cewek naik mobil yang gak ada AC-nya itu. Hiihiihii. Kita tinggalkan naek taksinya. Sekarang kita sampai di gedung Kompas dengan muter-muter dilama-lamain sama abang taksinya. Masak dari gedung tinggi berlantai 8 kita suruh bayar 40.000 rupee.
Dan sampai di gedung Kompas, kita kita yang cowok ini masih bingung. Karena mamih dan dua cewek kesasar, lantaran sopire kagak tau jalan Jakarta. Mpe di gedung Kompas pun kita masih celingak-celinguk, cari-cari mana tempat pameran festival kebudayaan Korea. Pertama, kita tanya masuk pak satpam yang baik hati. Dan dibilang suruh masuk aja nanya ma mbak resepsionis yang cantik rupawan (eh rupawan kan cowok ya), jadi kita ganti yang cantik rupawati. Eh mbak resepsionis yang cantik rupawati bilang bahwa kagak ada pameran festival kebudayaan korea. Ada juga di gedung depannya kompas, pembedahan buku kumpulan cerpen-cerpen korea dan di lantai 5 ada rapat. Wah, salah tempat. Nggak ah. Trus kita milih tunggu mamih. Ah, dasar bodoh. Ternyata kita malah disamperin sama pak satpam karena tunggu di luar. Mungkin dikira manusia laknat kalee yee. Hehehe....Tapi pikiran gw salah, pak satpam malah ngasih tau kalo gedungnya bukan disini, tapi di sebelah depan. Yee, udah salah duga...
Dan shit, sampe sana, kita udah ketinggalan acara. Padahal pas kita kita dateng. Para penari amoy amoy itu baru aja selesai. Dasar nasib!!! Tapi menurut gw sih, acaranya bagus banget. Nambah informasi gw untuk bisa nulis cerpen lagi. hehehe. Gw suka sama pak Maman yang bawain acara, konyol banget dia itu. Terus gw juga bisa lihat Hamsad Rangkuti, yang dulu semasa kuliah cerpen2nya cuma bisa gw nikmati lewat buku dan koran Kompas. Ternyata dia cadel, kek gw. Hahaha, nggak nyangka, ternyata dunia lebarnya cuma kek kancut emak gw yang udah melar (cos udah dipake selama 10 taon, mpe karetnya udah mentok melarnya) hehehe.
Nah, selesai acara seluruh peserta dikasih makanan korea. Wuih, gw seneng banget denger makanan korea. Belum tau makan cing. Asik nama makanannya gak tau, tapi kata pak Maman arti indonesianya: sego mbulet-bulet aka nasi campur. Horai. Akhirnya ngerasain nasi campur. Tapi begitu, cie gw makan pake sumpit (gaya) untung udah belajar, gw rasain. Aneh. Gw coba sayur yang lain. Hmmm, aneh juga. Nasinya juga aneh. Telornya, aneh. Kok aneh, semua. Soupnya gw rasain juga aneh. Gila aneh banget. Hanya Petrik aja yang bilang enak. Tunggul bilang soupnya enak. Keleng kagak gw tanyain. Weks.....jadi pengalaman pertama gw makan makanan korea, nggak enak, dasar lidah ndeso...heheheh....biarin!
Pagi-pagi kita berangkat menuju gedung tinggi, bersama kawan kawan kronikus lainnya. Hmm, suasana pagi yang indah bener. Namun tak seindah perasaan ini (lupakan katakata ini). Kita berangkat udah dijemput sama P2, dari Juanda langsung ke gedung tinggi berlantai 8. Sampe jam 1-an. Mamih kita belum datang. Lalu, keleng (ini nama orang lho) pinjem film di gedung tinggi berlantai 8 itu, judule: Hiroshima. Yo wes ikutan keleng nonton film. Mpe jm 3-an film rampung. Filmnya bagus, tentang pemboman kota Hiroshima Jepang itu lho, tapi dari sudut pandang Amerika. Katanya Keleng, klo menurut sudut pandang Jepang, pada waktu penyerangan Jepang sudah tak memiliki kekuatan militer. Padahal versi Amerika, Jepang masih punya kekuatan militer. Tau deh mana yang bener. Opo yo tak pikir??
Lanjut, kita kemudian turun. Dan berangkatlah kita ke gedung Kompas di Pal Merah Selatan. Kita bertujuh. 4 cowok. 3 cewek. Cowok2 naek taksi. Cewek naik mobil yang gak ada AC-nya itu. Hiihiihii. Kita tinggalkan naek taksinya. Sekarang kita sampai di gedung Kompas dengan muter-muter dilama-lamain sama abang taksinya. Masak dari gedung tinggi berlantai 8 kita suruh bayar 40.000 rupee.
Dan sampai di gedung Kompas, kita kita yang cowok ini masih bingung. Karena mamih dan dua cewek kesasar, lantaran sopire kagak tau jalan Jakarta. Mpe di gedung Kompas pun kita masih celingak-celinguk, cari-cari mana tempat pameran festival kebudayaan Korea. Pertama, kita tanya masuk pak satpam yang baik hati. Dan dibilang suruh masuk aja nanya ma mbak resepsionis yang cantik rupawan (eh rupawan kan cowok ya), jadi kita ganti yang cantik rupawati. Eh mbak resepsionis yang cantik rupawati bilang bahwa kagak ada pameran festival kebudayaan korea. Ada juga di gedung depannya kompas, pembedahan buku kumpulan cerpen-cerpen korea dan di lantai 5 ada rapat. Wah, salah tempat. Nggak ah. Trus kita milih tunggu mamih. Ah, dasar bodoh. Ternyata kita malah disamperin sama pak satpam karena tunggu di luar. Mungkin dikira manusia laknat kalee yee. Hehehe....Tapi pikiran gw salah, pak satpam malah ngasih tau kalo gedungnya bukan disini, tapi di sebelah depan. Yee, udah salah duga...
Dan shit, sampe sana, kita udah ketinggalan acara. Padahal pas kita kita dateng. Para penari amoy amoy itu baru aja selesai. Dasar nasib!!! Tapi menurut gw sih, acaranya bagus banget. Nambah informasi gw untuk bisa nulis cerpen lagi. hehehe. Gw suka sama pak Maman yang bawain acara, konyol banget dia itu. Terus gw juga bisa lihat Hamsad Rangkuti, yang dulu semasa kuliah cerpen2nya cuma bisa gw nikmati lewat buku dan koran Kompas. Ternyata dia cadel, kek gw. Hahaha, nggak nyangka, ternyata dunia lebarnya cuma kek kancut emak gw yang udah melar (cos udah dipake selama 10 taon, mpe karetnya udah mentok melarnya) hehehe.
Nah, selesai acara seluruh peserta dikasih makanan korea. Wuih, gw seneng banget denger makanan korea. Belum tau makan cing. Asik nama makanannya gak tau, tapi kata pak Maman arti indonesianya: sego mbulet-bulet aka nasi campur. Horai. Akhirnya ngerasain nasi campur. Tapi begitu, cie gw makan pake sumpit (gaya) untung udah belajar, gw rasain. Aneh. Gw coba sayur yang lain. Hmmm, aneh juga. Nasinya juga aneh. Telornya, aneh. Kok aneh, semua. Soupnya gw rasain juga aneh. Gila aneh banget. Hanya Petrik aja yang bilang enak. Tunggul bilang soupnya enak. Keleng kagak gw tanyain. Weks.....jadi pengalaman pertama gw makan makanan korea, nggak enak, dasar lidah ndeso...heheheh....biarin!
Subscribe to:
Posts (Atom)
RSS Feed (xml)
