HO HO HO

06 December 2010

print this page
send email
Hari sudah menjelang malam saat seorang bocah lelaki kecil masih terpekur sendirian di dalam kamarnya. Ini malam natal, seru banyak orang, termasuk kawan-kawan sebayanya. Ia sendiri tak tahu apa itu malam natal. Orang-orang bilang malam yang kudus, di mana seorang sinterklas akan datang yang mengabulkan doa dan keinginan anak-anak.

Ia tak pernah mengenal sinterklas si pembawa mainan. Yang dikenalnya adalah Mang Ujang, yang saban pagi sampai siang, saat sekolahnya tutup, menjajakan mainan-mainan yang terbuat dari plastik kepadanya dan kawan-kawannya satu sekolah. Yang mukanya belumlah tua, tak bisa dibilang muda. Ya... ya... ya... seperti itulah Mang Ujang.

Bocah itu kembali menekuri pikirannya yang masih menggayut. Barangkali sinterklas itu wajahnya mirip sama Mang Ujang si penjaja mainan. 'Toh, kedua-duanya memang membawa mainan untuk anak-anak kan?' batin si bocah. 'Kalau begitu semisal nanti sinterklas datang ke rumah, aku harus membayar mainannya dong?'

Lantas kaki-kakinya yang masih mungil itu melangkah ke celengan babinya yang terbuat dari genting. Dikocoknya celengan babi itu beberapa kali. Memeriksa apakah ada uang di dalam sana. Ternyata ia mendengar beberapa rincing bunyi duit logam. Sesaat kemudian bocah itu membanting celengannya. Brakk... berhamburanlah duit-duit logam yang telah dikumpulkannya dengan susah payah. Dihitungnya satu-per-satu duit logam miliknya. Hanya ada tiga ribu tiga ratus rupiah saja. Hmmh, apakah harga mainan yang dipintanya lebih mahal? Atau lebih murah?

Desis di bibirnya lirih terdengar, 'Sinterklas yang baik, tolong kabulkan. Aku hanya ingin mainan yang bentuknya serupa dengan ayah dan ibu. Itu saja. Apakah duit yang kupunya ini kurang? Atau cukup untuk membelinya?'

Jam menunjukkan pukul dua belas kurang sebelas menit. Bocah itu sudah berada di alam mimpinya. Menikmati kebersamaannya bersama ayah dan ibunya di alam mimpi. (lil)

0 komentar:

Post a Comment