Hantu Beduk Ashar

19 February 2009

Dua-tiga hari lalu, kantorku dihebohkan kasus munculnya putih-putih di tempat parkir. Empat orang melihatnya, Eti, Putri, Lia dan Aconk. Putih-putih yang dilihat keempat orang itu dianalisa sebagai hantu yang lewat tempo adzan asar tengah bertalu-talu. Padahal keempat-empat orang tadi itu tak melihat persis-persis. Yang menjadi tertuduh adalah aku. Hal ini diperkuat, menurut pengakuan Eti, yang melihatku berjalan ke wc (lewat parkiran).

Kisah ini disampaikan keesokan harinya, berarti satu-dua hari lalu, sama Yoga. Waktu itu ia cerita dengan mimik yang menyeramkan (ini memang sudah dari sononya) di lantai dua. Ada aku, Ratino, Iyem aka Deti, dan Trimbil. Mendengar cerita itu, hatiku langsung berdegub kencang. Waduh, ada setan! Tapi sesudah kuperhati-hatikan dengan seksama, sepertinya itu bukan cerita hantu deh.

"Itu aku, mas," tukasku.

Hebohlah mereka dalam derai tawa.

Kejadiannya yang sebetulnya begini. Sehari sebelum kisah ini beredar. Aku keluar lewat jendela. Kemudian aku pergi ke WC. Sesudahnya aku naik ke lantai dua. Abis waktu itu saya pusing dan ngantuk. Ketimbang tertidur aku naik dan ketawa-ketiwi sama tiga orang yang ada di sana, Iyem, Ratino, sama Trimbil. Turun dari sana aku lewat tempat yang sama. Dan memang tak ada yang mendengar suara langkahku, sebab aku tak memakai alas kaki.

Yang menjadi keheran-herananku, masa' aku diidentifikasi sebagai hantu. Padahal aku kan keren. Yah, setidak-tidaknya misteri tentang hantu beduk ashar sudah terkuak, dan tak ada yang mesti ditakutkan. Meski keempat orang itu belum mengetahuinya. Hahaha...
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Mikroorganisme Fuad Affandi

15 February 2009

JIKA Anda baru bangun tidur, jangan buru-buru menggosok gigi Anda, tapi segeralah berkumur-kumur. Jika sudah berkumur-kumur, jangan buru-buru membuangnya pula, tapi siramlah sejumput kotoran. Siapa tahu nanti bisa menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman Anda.

Pernyataan di atas bukan isapan jempol belaka, melainkan benar-benar nyata. Meskipun nampak absurd dan menjijikkan. Adalah Fuad Affandi yang menemukannya keajaiban tersebut, pupuk alami berbantu liur bacin manusia. Penemuan Fuad ini menarik. Pasalnya, Fuad sama sekali tak berlatarbelakang pendidikan perguruan tinggi, pun ia bukan seorang ahli bioteknologi. Ia hanya seorang kiai mengasuh sekira 300 santri. Kejelian menangkap kejadianlah yang memberinya inspirasi.

Begitu simpelnya ide ini hingga tak terpikirkan orang lain. Idenya terpantik, sewaktu Fuad berpikir cara untuk mempercepat pembusukan kotoran-kotoran hewan (sapi, ayam, kambing) yang akan dijadikannya pupuk kandang. Proses penghancuran dan pembusukan kotoran-kotoran hewan tadi, normalnya membutuhkan waktu dua hingga empat bulan. Lantas, bagaimana cara mempercepat pembusukannya?

Jawabannya ternyata ada di perut manusia. Bakteri penghancurnya itu lho yang ampuh percepat proses pembusukan makanan. Logika Fuad sederhana pula. "Buktinya, hari ini kita makan, besok keluar sudah busuk," tukas alumni Pesantren Lasem, Jawa Tengah ini.

Apa yang dikatakan Fuad bisa dibuktikan secara ilmiah. Menurut penelitian Laboratorium Mikrobiologi Universitas Padjajaran, Bandung, dalam air liur memang terdapat empat macam bakteri: Saccharomyces, Cellulomonas, Lactobacillus, dan Rhizobium. Bakteri-bakteri ini hidup di lambung manusia. Tak kurang akal, Fuad tahu cara mendapatkan bakteri ini. Kebiasaan makhluk renik itu, kalau tidak ada makanan masuk dalam waktu cukup lama, mereka akan naik menyantap sisa-sisa makanan yang berada di rongga mulut. Karena saat tidur tidak ada makanan yang masuk. Dalam keadaan inilah bakteri-bakteri tersebut berkumpul di mulut. Sudah tahu cara mendapatkannya, Fuad lantas memerintahkan santrinya yang berjumlah 300 orang untuk membuang cairan hasil kumur-kumur pertama sehabis bangun tidur ke dalam kaleng yang telah disediakan di depan penginapan santri.

Selanjutnya Mikroorganisme dalam air liur itu dibiakkan dengan tambahan molase (gula), dedak, dan pepaya ke dalamnya. Beberapa hari berikutnya, liur para santri tersebut berubah menjadi cairan kental berwarna keruh. Baunya pun berubah wangi. Tak lagi berbau “naga”, tapi berbau selaiknya cokelat. Dan jika sudah demikian itu artinya bakteri berbiak dengan subur. Fuad lantas menyiram cairan pekat (bakteri) tersebut ke kotoran ternak dan jerami yang sedang diperam. Hasilnya dahsyat. Tak perlu berlama-lama lagi—hanya dalam tiga hari—kotoran ternak itu hancur lebur dan membusuk. Dan jadilah pupuk kandang siap pakai. Penemuan Fuad ini punya nama, ialah Mikroorganisme Fermentasi Alami disingkat MFA—bisa diplesetkan pula menjadi Mikroorganisme Fuad Affandi. Khasiat MFA ada beberapa ragam, di antaranya: mempercepat ketersediaan nutrisi tanaman, mengikat pupuk dan unsur hara, serta mencegah erosi tanah.

Hebatnya, penemu yang tak mengeyam pendidikan tinggi ini tak berhenti berinovasi hanya sampai MFA. Usai menemukan MFA, berikutnya ia menciptakan tiga jenis pembasmi hama baru, yang dikasih nama Innabat (Insektisida Nabati), Ciknabat (Cikur Nabati), dan Sirnabat (Siki Sirsak Nabati).

Innabat merupakan insektisida yang dibuat dari kacang babi bercampur bawang putih, bawang merah, cabe rawit, dan temulawak. Cara membikinnya juga sederhana: Bahan-bahan tersebut digiling halus sampai menjadi satu, lantas dicampur dengan air tajin (air cucian beras). Campuran itu berikutnya didiamkan sekurangnya 14 hari, sebelum disemprotkan ke tanaman. Ramuan ini ampuh membasmi pelbagai jenis ulat, ngengat, dan lalat yang kerap menyerbu tanaman sayur-sayuran. Nomor dua adalah Ciknabat, yang dibuat dari cikur (kencur) dicampur bawang putih. Ciknabat ini ampuh sebagai fungisida (pembasmi jamur tanaman). Di samping ampuh pula sebagai insektisida. Sebab bau dari kencur dan bawang putih membikin hama sungkan mendekat, meskipun ramuan ini tidak membunuh hama pengganggu tersebut. Sedikit berbeda dengan dua ramuan sebelumnya yang lebih lunak adalah Sirnabat. Ramuan yang dibuat dari gilingan biji sirsak ini merupakan ramuan yang formulanya paling keras yang dibuat Fuad. Ramuan ini akan disemprotkan, jika hama sudah resisten terhadap Innabat maupun Ciknabat.

Ketimbang pupuk dan pestisida kimiawi, buatan Fuad punya beberapa keunggulan. Pertama, dari segi bea praktis lebih murah. Biaya untuk produksinya cuma sekisaran lima belas ribu perak. Untuk produksi tanaman buncis seluas 1 ha, petanis hanya cukup mengeluarkan biaya seratus ribu rupiah. Hasilnya toh tak kalah dengan pupuk kimia—bisa mencapai per hektar sekira 8 ton. Kedua, memakai pupuk dan pestisida alami tentu saja lebih sehat, sebab tak mencemar lingkungan maupun hasil produksinya. Ketiga, harga sayurannya lebih tinggi, karena sayuran terlihat lebih segar, bersih, dan bebas dari zat-zat kimiawi.

Hal ini tentu saja bukan tanpa kendala. Kesulitannya terletak pada mencari bahan bakunya. Contohnya, untuk membikin Innabat, sangat sulit mendapatkan kacang babi. Untuk membikin Sirnabat, biji sirsaknya tidak mudah pula diperoleh. Nah, penemuan ini membuka mata kita bahwa ada hal-hal berguna di sekitar kita, apabila kita jeli dan mau memahaminya. Sekarang tinggal kitanya.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Konstruksi Fondasi Cakar Ayam

Pantai Cilincing, Jakarta Utara, 1961, seorang pria piknik bersama keluarganya. Nama pria itu Sedijatmo, seorang insinyur dari teknik bangunan. Dia, tanpa sengaja, memandang ke sebatang pohon nyiur yang meliuk dan melambai-lambai diterpa angin. Walhasil, bersamaan dengan semua itu terinspirasilah ia.

“Mengapa nyiur mampu berdiri kokoh di tanah lunak, meski angin dan deburan ombak menerpa kencang? Padahal, tubuhnya yang tinggi menjulang hanya ditopang akar serabut yang menunjam ke bumi tak terlalu dalam.” Benak Direktur Dinas Perencanaan dan Pembangunan-Perusahaan Listrik Negara (PLN) dipenuhi pertanyaan-pertanyaan.

Datmo, begitu nama akrab insinyur tersebut, saat itu memang tengah memimpin proyek besar pembangunan tiang listrik tegangan tinggi di daerah Ancol—sebuah kawasan pantai bertanah rawa nan lembek. Lapisan tanah kerasnya di sana baru ada di kedalaman 25 meter.

Begitulah. Terinspirasi pohon nyiur itu, Datmo (waktu itu berusia 52 tahun) termotivasi membikin rancangan fondasi yang cocok diterapkan di tanah tak stabil, macam daerah rawa dan tanah lunak. Jadilah fondasi “yang memiliki akar serabut” pipa beton menyangga konstruksi tower listrik tegangan tinggi. Fondasi itu sendiri dinamainya: Fondasi Cakar Ayam, sebab bentuknya mirip cakar ayam. Secara fisik, bentuk fondasi gaya Sedijatmo ini mirip fondasi tiang pancang.

Sebuah pelat beton menjadi landasan berdirinya tower. Di bawah pelat setebal 10-12 sentimeter itu mencuat pipa-pipa beton berdiameter 50 sentimeter yang satu sama lain berjarak 1-1,5 meter. Kaki-kaki itu menggantung hanya 3,5 meter panjangnya. Hanya saja, pipa ini panjangnya tak seperti tiang pancang yang harus mencapai lapisan tanah keras.

Meski tak sampai mencengkeram tanah keras, kaki-kaki “cakar ayam” itu sudah cukup kuat sebagai stabilisator konstruksi yang sanggup menahan tekanan dari atas dan samping. Padahal dengan metode konvensional, harusnya tower tersebut dibangun dengan fondasi bertiang pancang panjang yang menancap dalam hingga ke lapisan tanah keras. Meski secara fisik mirip cara kerja fondasi konvensional, secara esensial Fondasi Cakar Ayam berbeda.Fondasi ini sangat mengandalkan tekanan pasif tanah dan gaya lateral yang diterima pelat. Itu sebabnya, kedalaman fondasi ini tidak perlu menembus tanah keras. Bandingkan dengan fondasi tiang pancang pada umumnya yang mengandalkan daya dukung tanah keras untuk kekuatannya. Dibandingkan dengan fondasi friction pile pun, Fondasi Cakar Ayam jauh lebih efisien, karena tak harus dilengkapi kaki-kaki panjang.

Sukses pemancangan Fondasi Cakar Ayam di Ancol itu, diikuti keberhasilan pemancangan tower-tower lainnya. Pemakaiannya meluas, tidak hanya terbatas pada konstruksi menara. Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Polonia Medan juga memanfaatkan kuatnya cengkeraman cakar-cakar beton temuan pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 24 Oktober 1909 ini. Hasil pengujian di Polonia menunjukkan bahwa Fondasi Cakar Ayam mampu mereduksi hingga 75% tekanan pada tanah di bawah landasan pacu. Konstruksi cakar ayam ini telah menunjukkan keandalannya, bahkan pasca diuji puluhan tahun.

Yang paling monumental ialah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Dari 1.800 hektar (18 km persegi) pengerasan lahan di sana, 120 hektar di antaranya memanfaatkan teknologi cakar ayam. Pemakaiannya mulai dari apron (tempat parkir pesawat terbang), taxi way, hingga landasan pacu di bandara yang tata bangunannya mendapat penghargaan arsitektur Lansekap Aga Khan pada 1995 itu.

Fondasi Cakar Ayam mencatat sejumlah kelebihan dibandingkan fondasi jenis lain. Karena fondasi ini letaknya tidak berada jauh dari permukaan tanah, pengerjaannya jauh lebih sederhana ketimbang jika harus memancang atau mengebor tanah.Biaya yang dihemat bisa sampai 30%, karena pengerjaannya lebih cepat dan material yang diperlukan lebih sedikit.

Fondasi Cakar Ayam temuan Sedijatmo mendapatkan paten dari pelbagai Negara, yaitu Indonesia, Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Belanda, Denmark dan Jerman. Sebagai sebuah teknik, Fondasi Cakar Ayam telah membuktikan mampu memberikan solusi di zamannya.

Namun, Sedijatmo tak hanya menemukan Fondasi Cakar Ayam, ayah lima anak ini juga pemegang paten pipa pesat dan penemu pompa air curug. Bahkan, pada 1971, saat usianya mencapai 62 tahun, alumnus Technische Hoge School (THS)—sekarang ITB—ini masih berkarya. Dengan memperkenalkan teknik “Bahari Ontoseno”, sebuah sistem pembuatan jembatan di sungai yang lebar macam do Kalimantan.

Karena karyanya, maka Sedijatmo memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Kelas I dari pemerintah Indonesia. Pun namanya sekarang diabadikan sebagai nama jalan tol di Bandara Soekarno-Hatta hingga kini.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Surat Kematian Seorang Penulis

13 February 2009

Nogotirto-Yogyakarta, 13 Februari 2009

Sudah sejak beberapa hari terakhir ini hujan selalu mengguyur bumi Jogja di waktu-waktu pagi. Tidak macam hari-hari biasanya—waktu hujan sudah terpola: pagi terang, siang atau sore hujan. Mungkin, ini sesuai dengan ramalan BMG, yang memperkirakan bahwa hujan akan mencapai titik tertingginya di dua bulan awal tahun ini—Januari-Februari. Meski aku sesungguhnya betul-betul kedinginan jika malam tiba, aku tetap berharap hujan turun setiap tahunnya. Hanya saja, jangan keseringan dan waktu-waktu pagi.

Hari ini saja, ketika aku berangkat di pagi hari, hujan sudah mengguyur kota ini dengan penuh semangat. Dan tentunya, sewaktu aku berangkat ke kantor, aku kuyup. Padahal, aku sudah diwanti-wanti bapakku supaya mengenakan mantol (jas hujan), karena awan di sebelah barat terlihat gelap—diperkirakan olehnya akan hujan. Namun, karena kebodohan tingkat tinggiku dan kemalasanku terhadap sesuatu yang ribet, aku mengacuhkannya dan berangkat tanpa mengenakan mantol itu—yang lalu kulipat dengan sangat tidak rapi. Aku bilang pada bapak, “Sepertinya hari tidak hujan.”

“Hujan gerimis,” kata ayahku.

“Yeah, nanti semisal hujan. Akan kukenakan di tengah jalan.” Dalam hati aku berkata, ‘Sungguh akan terlihat konyol apabila aku mengenakannya namun hari tak hujan.’

Sial bagiku. Ternyata, awalnya hujan memang hanya rintik-rintik saja, semakin ke barat—ke arah kantorku—rinai hujan semakin deras. Tapi hingga aku sampai ke kantor, aku tetap tak mengenakan mantolku.
***

Sebuah pertanyaan menggumul dalam benakku lagi. Untuk apa aku menulis? Atau jika menarik pertanyaan lebih luas lagi, untuk siapakah aku menulis?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan ini sebetulnya sudah kutemukan dalam sebuah buku yang kubeli kemarin pas pameran buku di Gedung Wanitatama. Pendapat-pendapat itu terhimpun dalam pidato para sastrawan dunia ketika mendapatkan hadiah mereka (Nobel), membikinku mengerti bahwa ada dua kepentingan bagi kita untuk menulis. Pertama, keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari tulisannya, dalam hal ini adalah uang. Kedua, keinginan untuk mendapatkan kepuasan dari tulisannya, dalam hal ini kepentingan pribadi yang bermain—tanpa harus peduli siapa yang akan membaca tulisannya. Hal yang terakhir tersebut sama dengan ketika kita menulis catatan-catatan harian kita sendiri.

Di antara kedua pendapat itu, aku tak memilih salah satunya. Aku berada di tengah-tengahnya. Aku ingin menulis secara mandiri, di samping aku tetap mendapatkan penghargaan berupa materi dari tulisan-tulisanku. Terus terang saja, idealis tak membuat kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lihat saja, Marx, yang hidup dalam kondisi papa sampai tiba matinya, ketika memperjuangkan idealisnya demi melawan para kapitalis dengan ide-ide revolusionernya tentang sosialisme dan komunisme. Urgh... idealisme yang rumit.

Beberapa ideku untuk menjual tema buku tersandung dengan sebuah pertanyaanku: apakah buku itu akan laku dengan tema yang seperti itu?

Pernyataan sekaligus pertanyaan tersebut membuatku secara moral lumpuh dalam menulis. Sehingga muncul keengganan untuk mencari sebuah tema dengan tema-tema spektakuler. Sebab, sayangnya, aku hanya sedikit tahu tentang kegilaan manusia dalam membelanjakan uangnya. Seperti Isaac Newton yang harus berkemas dari genjotan pasar saat mengetahui ia lebih memilih untuk mencari hukum gravitas daripada kegilaan konsumerisme manusia. Apalagi dalam masalah tulisan, sungguh-sungguh belum terkonsep otakku ini akan hal-hal semacam itu.

Seingatku Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan (menurutku ini seruan kepada para penulis--lebih khusus lagi penulis pemula), “Tulislah mengenai apapun. Tak usah pedulikan apakah tulisan itu akan diterbitkan penerbit atau tidak. Tulis saja, siapa tahu kelak akan berguna.”

Memang, aku sudah mengembangkan dalam proses-proses penulisan macam yang dibilang Pram. Walau konsep itu masih terbatas dalam catatan-catatanku saja. Namun mulai aku masuk ke kantor ini (3 Februari 2009), setelah komputerku yang keparat itu mati, aku jadi mandul karena aku tidak menulis setiap hari seperti yang kuingin lakukan dulu. Namun, mulai hari ini aku akan mengembalikan kebiasaanku yang sedikit memudar itu. Dan tiap hari menulis. Tapi di komputer kantor ini saja dulu.

Bagiku, menulis (apapun) adalah mengenai rasa manusia mengungkapkan pandangan-pandangannya lewat tulisan. Untuk mendapatkan itu, kita harus mendapatkan independensi tanpa tedensi apa-apa, sebab keinginan muluk yang dilibatkan dari tulisan hanya akan menjadi sebuah tendensi bodoh yang secara mental membuat kita tumpul akan keinginan-keinginan kita sendiri. Jika kita sebagai penulis menghilangkan semangat menulis, maka saat itulah kita sebagai penulis telah mati.

Bagaimana menurut kamu?


(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Kapal Ikan Bersirip

SEORANG sastrawan bisa menemukan inspirasi di manapun mereka berada. Waktu berjalan-jalan di taman bebungaan, ia terinspirasi oleh bunga-bunga sekitar. Ketika berada sepi memancing di kali, ia memikirkan ide yang banyak. Bahkan, ketika sedang berada di kakus, bisa mendadak mendapat inspirasi. Tapi tak hanya sastrawan yang bisa terinspirasi. Semua orang pun bisa.

Contohnya adalah Alex Kawilarang Warouw Masengi, seorang Dekan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratunlangi (Unsrat), Manado. Gara-gara terinspirasi ikan terbang, ia menciptakan teknologi kapal ikan bersirip (sudah dipatenkan di Jepang). Teknologi yang memungkinkan kapal ikan tidak mudah goyah saat diterjang gelombang besar dan stabilitas kapal bisa tercapai. Stabilitas kapal ialah kemampuan kapal untuk balik dalam posisinya yang semula seusai mengalami guncangan. Dan merupakan rangkaian kombinasi antara ukuran yang cocok dan pembagian berat muatan, yang memungkinkan kapal mengikuti ayunan angin dan gelombang, serta selalu dapat kembali tegak dan seimbang.

Ceritanya, sewaktu ia menciptakan teknologi ini, ia sedang mencermati ikan terbang antoni (torani)—mulai dari bentuk tubuh yang montok, sirip, kepala, serta pergelangan ekornya. Dia heran melihat ikan tersebut mampu melayang-layang di atas permukaan air laut. Tubuhnya terangkat lewat pergerakan sirip yang relatif panjang dan dorongan pergerakan tubuhnya sendiri. Ikan ini bisa terbang tinggi bagaikan pesawat udara yang melayang-layang rendah di atas permukaan laut.

"Bentuk tubuh dan sifat-sifat khas ikan antoni inilah yang saya terapkan menjadi desain badan kapal ikan, berikut pemasangan sirip pada bagian lambung kapal. Hasilnya, tingkat kestabilan kapal ikan relatif menjadi lebih tinggi ketimbang jenis kapal ikan lain," tukas pakar teknik perkapalan perikanan lulusan The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang, tahun 1993 ini.

Dari inspirasi inilah, Alex—demikian ia akrab disapa—melakukan sejumlah pengkajian dan uji coba. Hasilnya? Stabilitas kapal ikan bersirip, rata-rata melebihi kapal ikan biasa. Hasil ini bisa dibilang cukup menggembirakan. Sebab Alex sudah mengkaji risetnya ini lebih dari satu dasawarsa lamanya, yaitu enam belas tahun. Pengujian dilakuan di Laut Cina Timur, Teluk Ohmura Nagasaki, Perairan Jepang Timur, Teluk Manado, dan perairan di sekeliling Kota Bitung. Sementara, uji laboratorium telah dilakukannya, di beberapa laboratorium ternama, macam: Laboratorium Kapal Ikan di Fakultas Perikanan Hokkaido University, Japan Fisheries Engineering Laboratory, Faculty of Ship Building Soga University, Nagasaki.

Hasil pengujian stabilitas terhadap kapal ikan tipe sabani dari Okinawa menggunakan sirip dalam kondisi statis naik 17 persen. Adapun kala kapal berada dalam kondisi dinamis atau sedang bergerak, tingkat stabilitasnya malah semakin naik, yaitu 22 persen. Dengan melakukan metode yang sama, telah diujicobakan pula beberapa kapal ikan tipe pamo—biasa dipakai nelayan-nelayan di Sulawesi Utara—baik dalam ukuran nyata maupun dalam skala model. Dan hasilnya diperoleh stabilitas kapal pamo dalam kondisi statis meningkat 19 persen. Sedangkan dalam keadaan dinamis meningkat 28 persen. Dashyat.

Atas semua-mua pembuktian tersebut, temuan teknologi kapal ikan bersirip yang didesai berdasar bentuk tubuh ikan antoni, kini sudah dipatenkan atas nama Alex Masengi di Jepang.

Dan, secara rutin, Alex diminta menjadi pembicara dan dosen tamu pada pelbagai kampus di Jepang dan Perancis. Pun sebuah perusahaan galangan kapal di Jepang saat ini, sedang bersiap-siap memproduksi secara massal kapal-kapal ikan bersirip yang teknologinya ditemukan Alex tersebut.

Alex tak memiliki garis keturunan seorang pelaut ataupun nelayan. Bahkan, ia tak besar di lingkungan pesisir. Dia lahir dan besar dalam lingkungan petani di Desa Kinilou, Tomohon, tempat kelahirannya. Dia akrab dengan pertanian palawija, hortikultura, serta budidaya tambak air tawar. Hal ini mengingatkan kita pada sosok Marcopolo yang tak memiliki darah keturunan pelaut, tetapi tetap menjadi pengarung samudra ulung.

Kini, meski ahli kelautan ini mendapatkan rejekinya dari laut, namun Alex yang tetap mencintai alam pegunungan. Karena itu, ia menetap di kaki Gunung (api) Lokon, Kota Tomohon—tepatnya di Desa Kinilou. Rumahnya yang sederhana dikelilingi tambak dan telaga lengkap dengan budidaya ikan mas dan mujair. Pada bagian depan rumahnya terlihat beberapa rumpun pohon bambu yang turut menambah semarak lingkungan rumahnya. Bahkan, rumahnya kerap dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan dosen-dosen fakultas perikanan dan ilmu kelautan.

Alex bersekolah di Fakultas Perikanan Unsrat, setelah sempat bekerja di sebuah perusahaan ikan, dan lulus tahun 1984. Selulusnya dari sana, ia mengikuti program master di Faculty of Fisheries Nagasaki University pada 1990. Dan meraih gelar doktor di The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang, tahun 1993.

Selain tetap aktif di dunia pendidikan, pun Alex dikenal luas di Sulawesi Utara sebab kegiatannya di pelbagai organisasi pemuda. Saat ini ia tercatat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemuda GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa)—salah sebuah gereja terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Ia juga menjadi anggota tim akademisi muda Unsrat yang secara aktif menjelaskan posisi, visi, dan misi Unsrat ke depan.

ALEX sering menyampaikan makalah ilmiahnya di berbagai kampus ternama di Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Dan pernah menjadi konsultan teknik pada Reedbed Technology, Liverpool, Inggris. Di Jepang namanya tercatat sebagai anggota konsultan pembuatan kapal Nagasaki Dream, konsultan pembuatan kapal layar Michinoku-Indonesia.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Masuk Kerja Pertama

03 February 2009

Selepas sebulan penuh bergulat dengan gelisah, keringat, dan apak menapaki tangga lowongan kerja di suratkabar, akhirnya aku diterima kerja di penerbitan lagi. Hmm, bidang yang setahun belakangan ini kugeluti dan kunikmati.

Hari ini aku masuk pertama kalinya. Huh, menyenangkan? Iya juga. Cos, ternyata orang-orang yang tergabung di dalamnya lebih mudah akrab dan gampang menerima orang lain. Ups. Segitu dululah posting saya hari ini. Bye. (Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...