Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Kumpul Blogger

18 October 2009

Sudah lama sebetulnya saya mendengar tentang nama ini yang juga saya jadikan judul posting kali ini. KumpulBlogger.

Apa itu KumpulBlogger? Mulanya saya hanya lihat di blog-blog yang saya kunjungi. Namun, saya masih kosong, tidak tahu-menahu apa-apa, lantaran memang enggan bolak-balik ke warnet hanya untuk menongkrongi (baca: ngejogros) di depan layar monitor cuma ceklak-ceklik mengupdate pengetahuan saya soal hal beginian. Di samping mahal, waktu yang dibutuhkan untuk kebutuhan ini bisa dialihkan untuk lainnya. Tapi, nama itu tak hilang dari ingatan saya, selepas beberapa tahun.

Kini, saya mulai mencari-cari lagi sebenarnya apa itu KumpulBlogger. Dan inilah yang saya dapatkan. Dinukil dari situsnya langsung, tanpa saya hilangkan satu baris pun.

**

Apa itu KumpulBlogger.com?

Adalah Jaringan Blogger Indonesia untuk mendapatkan alternatif penghasilan tambahan, dengan cara menyediakan spot/ruangan pada blognya sebagai tempat menyampaikan pesan komersial dari Advertiser

Beriklan melalui Jaringan KumpulBlogger.com sama saja dengan beriklan melalui beberapa Blog.

**

Apa itu Pay Per Unique Click?

Pay Per Unique Click adalah metode pembayaran dimana advertiser hanya perlu membayar untuk setiap 1 Unik IP address yang melakukan klik pada materi iklan/promotional/publishing/advertising yang tersebar pada blog di jaringan KumpulBlogger.com, hal ini untuk menghindari click-fraud/click-abuse.

**

Siapa di belakang KumpulBlogger.com ?

KumpulBlogger.com dikelola oleh Kukuh TW, ini Website/blognya, ini emailnya, Facebooknya, Twitter-nya, ini kronologger-nya, Multiply-nya , Plurk-nya, Jaiku-nya, Friendster-nya, FriendFeed-nya, (add gw aja di layanan social media itu), design dibantu oleh Jauhari.

**

Penasaran dengan situs KumpulBlogger ini? Silakan langsung cabut untuk melihatnya lebih lanjut...
Continue Reading...

Pengalaman Mencari Uang (1)

14 October 2009

Dua hari lalu, waktu makan di salah satu warung makan di Krapyak, kami yang tiga orang bujang ini berbincang-bincang. Obrolan yang di-share-kan perihal bebek -meski cuma sekilas saja.

Kawanku memulai pembicaraan. "Bebek-bebek kamu gimana, Lih?"

"Ludes. Semua dijual," sahutku. Sementara kawanku yang bokongnya paling tebel diam saja, sepertinya asyik menghirup asap rokoknya.

"Hlo kenapa?" tanya kawanku itu.

"Ya tak apa-apa. Tak ada hasilnya."

"Maksudmu tak pernah nelor? Padahal dulu banyak tho?"

"Yuph. 50 ekor. Lumayan. Tapi yang nelor cuma 5-10 ekor saja. Tekor tho?"

"Waduh, kamu saja yang sudah berpengalaman tidak berhasil, apa lagi saya. saya baru ingin mulai je..."

Sedikit tertarik saya lontarkan pertanyaan padanya. Kulirik kawanku satunya masih asyik menghisap tembakaunya, entah memerhatikan atau tidak, peduli setan.

"Kamu mau ikutan juga?"

"Iya. Sampai bela-belain hutang sama mbakyuku."

"Ckckck... berapa duit mau keluar?"

"3 juta."

"Ckckck lagi ah..."

"Kenapa e? Jangan buat saya bingung nih."

"Nggak. Tapi hal yang perlu kamu perhatikan dalam bisnis bebek itu ada tiga hal."

"Apa?!"

"Pertama, sebisa mungkin jangan jadikan kegiatan itu yang utama, jadikan yang kedua saja (mirip lagunya mbak Astrid yang cantik itu). Kedua, jangan dijagain dulu, kamu harus siap tekor, kalau awal-awal sudah berharap, bakal rugi (pengalaman yang bicara gitu). Ketiga, dan ini yang paling penting, kamu kan nggak tahu seluk beluk bebek, jadi jangan minjem dulu modalnya, apalagi modalnya harus dikembaliin tiap bulan sebesar segitu. Ckckck... susah. Pengalaman itu yang menghentikanku piara bebek, karena duitnya kecil, tak sepadan. Mending cari duit dengan cara lain. Lagian rumahku rekat-rekat dengan tetangga, jadi bau bebek mengganggu banget."

Dia manggut-manggut, entah mengerti entah tidak, saya tak begitu urusan. Setelah dia bertanya satu pertanyaan lagi, tak bersahutan, tak ada apa-apa lagi. Kami lantas bubar jalan pulang ke rumah masing-masing.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Borobudur-Libur-Tidur

09 May 2009

Tiada menyangka bahwa kesibukanku mengurus FB, telah menguras sejumlah energiku untuk menulis di blog. Gila! Padahal isi daripada FB-ku cuma pesan-pesan dari kawan-kawan aneh. Ya, isinya cuma olok-olokan, khususnya dilemparkan kepadaku. Lebih-lebih si De Miel itu. Tapi tak apalah, membuat senang orang lain, tentu suatu kebahagiaan sendiri. Kan itu cuma olok-olokan... hehehe...

Hari ini libur. Niatnya semula ingin bertandang ke Borobudur. Melihat prosesi upacara Waisak yang konon banyak diikuti oleh para biksu seluruh dunia. Sayangnya nggak jadi... hiks... hiks... Lagian semisal aku ke sana, aku nggak punya kamera. Lantas ingin mengabadikan apa? Payah...

Sebetulnya keinginanku untuk datang ke sana ada niat lain. Semisal aku betulan jadi ke sana, aku sudah tahu kalau jalan menuju Borobudur ditutup, paling tidak ramai hingga penuh sesak. Nah, karena itu, aku hendak transit di salah dua rumah kawan. Dan di salah satu rumah kawanku itu, ada tersembunyi seorang bidadari cantik nan rupawati. Wah, pokoke bagus betul deh orangnya. Melihat dia tentu bakal terkesima. Tapi, sayangnya semua itu tidak jadi... Dan aku sekarang berada di rumah Yan, entah untuk melakukan kegiatan apaan. Selain membuat kostum buat Cosplay (ah, istilah apa lagi itu?)...

Ya sudah, aku cuma hendak mengatakan itu. Liburan, tak jadi ke Borobudur, tidur pun terganggu.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Masukan neh

20 April 2009

Seseorang, entah siapa, mengirim email padaku:

Kenapa ya, aku tak pernah bisa melihat karakter yang kuat dari seorang Lilih..
Semuanya tampak terlalu kabur...
terlalu lemah...

ada baiknya jujur pada diri sendiri...dan jangan mencoba mengikuti gaya orang
lain.. sip?


Salam,

-DK-


Subject yang ditulisnya bertajuk: Masukan neh.

Jujur aku kaget dengan kiriman email ini. Beragam pikiran berkecamuk, bertanya-tanya: siapa gerangan pengirim email itu. Tak ada nama, kecuali inisial saja. Pikir punya pikir, aku tak memiliki teman berinisial dua huruf itu. Cuma satu seseorang yang kuketahui memiliki inisial itu, yakni dosen aku: Dina Dwi Kurniarini. Tapi ngapain dia kirim aku email seperti itu? Lagipula, toh dia tak tahu emailku. Kawan semasa kuliah dulu juga tak ada yang berinisial itu. Aku betul-betul tak tahu siapa pengirim itu.

Lewat postingan ini, aku mengajak orang itu untuk jujur secara terbuka mengatakan siapa dia. Atau Anda takut mengatakan diri Anda di depan seluruh dunia? Aku sudah membalas email itu supaya dia mengaku, meski aku tak mempedulikan serangannya. Mungkin itu tanda cinta darinya ya? Hihihi... Tentunya saja akan sangat menarik, jika dia seorang perempuan, semisal sebaliknya, heaks, bukannya takut aku sungguh jijik.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Hitam+Putih=Abu-abu

14 April 2009

Ini hari aku pulang larut sekali, karena harus mengerjakan tugas dari adik bungsuku--yeah adikku memang cuma satu. Biasanya, kawan-kawan sudah pulang semuanya, ketika aku sendirian berada di kamar kerja, terkecuali tiga bandit yang memang jadi penunggu kantor: jenggun, jembil, sama miss rat. Tapi hingga beberapa hari ke depan, aku takkan bisa melihat tingkah polah jenggun sebab ia sedang mudik ke kampung halamannya. Soalnya keponakannya menikah. Eh, omong-omong soal jenggun, ternyata ia sudah punya cucu lho. Padahal ia baru berumur 23 tahun. Usut punya usut, ia anak ragil dari 15 bersaudara, di mana 2 atau 3 di antaranya meninggal, jadi tinggal 12 saja.

Lupakan soal jenggun tadi, aku tidak hendak menceritakan ia ini, pun aku juga takkan ingin menceritakan apa-apa sih sebetulnya. Hanya saja, tadi sore ketika aku hendak bermalam-malam ria, aku sempat mengobrol-ngobrol sama kawan-kawan desainer, namanya Ndestyan. Ia punya sejoli namanya Heng--mirip istilah komputer tho? Hehehe... Entah mengapa hari ini, dua bocah itu belum pulang, walau waktu sudah menunjukkan maghrib. Biasanya mereka sudah pulang kalau jam kantor sudah usai. Ah, tapi tak apa untuk kawan mengobrol.

Awalnya aku bertanya padanya, apakah ia mempunyai manga One Piece--salah satu manga Jepang yang kusuka. Ia menjawab punya. Bahkan, ia mengatakan bahwa ia lebih menyukai manga One Piece ketimbang Naruto, sementara aku menyukai kedua-duanya. Itu awalnya, namun obrolan itu semakin seru. Maklum aku tahu ia pecinta Jepang, dan ia pun punya pacar yang mendukung hobinya itu. Pasalnya, pacarnya besar di Jepang. Sementara aku hanya sedikit tahu mengenai Jepang dan kisah sukses manga. Kalau obrolan sudah ditarik ke tema itu, aku memang yakin bahwa orang yang agak pendiam itu akhirnya akan terpancing juga untuk angkat bicara. Hipotesaku terbukti betul. Kami berdua terlibat obrolan sedikit seru.

Aku takkan mengisahkan secara mendetail apa yang kami diskusi karena terlalu makan space dan memakan waktu pula untuk penulisannya dan tentunya akan membosankan. Inti dari pembicaraan kami adalah tentang mengapa tradisi kartun di Indonesia kerap kali diidentikkan dengan kanak-kanak. Maksudku, apa-apa yang berbau kartun bisa dijamin dilekatkan sama jiwanya anak-anak. Dan itu betulan terjadi di sini. Padahal di Jepang sendiri, kartun tidak diidentikkan dengan kanak-kanak, tetap ada pembagian genre usia. Yah, kita bisalah mengatakan bahwa Doraemon, Chibi Marukochan diperuntukkan untuk konsumsi anak-anak, tetapi jika kita membicarakan Final Fantasy? Kamen Raider? Death Note? Belum tentu kan?

Ndes bilang padaku, mengapa tradisi di Indonesia tidak seperti di Jepang. Jawabnya adalah karena di Indonesia budaya kita sering kali berpikir negatif dulu ketimbang positifnya. Hem, ada menggaruk-garuk janggutku. Betul juga apa yang dikatakan Ndes. Coba deh ambil contoh, pernahkah kita melihat seseorang melakukan yang dianggap bukan menjadi kebiasaan kebanyakan orang maka orang itu dianggap salah. Ketinggalan zaman, meski yang terjadi bukan seperti itu.

Beberapa orang di sini, untuk tidak mengatakan lebih dari separuh, kerap berpikir biasa, bukan luar biasa. Padahal untuk bisa maju kita perlu banyak-banyak berpikir positif, kata para motivator nasional itu. Pernah, dulu tetanggaku menyarankan padaku bahwa lebih baik aku kursus kapal pesiar saja, biar nanti bisa kerja di kapal pesiar dan menghasilkan banyak uang. Lumayan sebulan bisa mendapatkan delapan hingga sepuluh juta--tergantung prestasi. Sempat juga tergiur karena hasil yang didapat cepat. Tidak membuang-buang tenaga. Tetapi, ketika diri ini tersadar, panggilan jiwa tidak mengarahkan ke sana. Keinginan untuk mencari uang haruslah diimbangi dengan minat dan bakat, jangan hanya diarahkan ke arah-arah yang material. Hanya saja tak perlulah membantah tetanggaku yang sudah menyarankanku. Cukup berkata iya, dan ia akan berhenti bicara.

Kembali lagi ke Ndes kawanku yang agak ke-Jepang-jepang-an itu tadi. Ia bilang kita kerap negatif menilai sesuatu padahal kita tidak tahu bahwa sesuatu yang kita cap negatif itu tentu berguna bagi orang lain dan merupakan tambang emasnya. Masing-masing dari kita memang memiliki tambang emas sendiri-sendiri kan? Dan tidak akan pernah tertukar. Itu yang dijanjikan Tuhan. Nah, jika tetanggaku itu sempat berpikir negatif padaku soal nasib kelak yang akan terjadi padaku, pada keluargaku, biarkan saja. Tapi aku tidak harus ikut-ikutan mengecap berpikir negatif tentang pekerjaanku, tentang apa yang kusukai, tentang apa yang kuminati. Seperti aku tidak boleh mengecap buruk soal Ndesty dan Heng soal kecintaannya sama Jepang-jepang-an. Toh itu hak mereka. Mungkin juga panggilan jiwanya.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)

Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang, yang jiwaku sedang beralih ke sana: walau kau bersikap buruk padaku. Mudah-mudahan aku tidak berpikir negatif tentangmu. Karena aku menyadari bahwa kita semua memiliki alasan masing-masing dan menginginkan segala sesuatunya lebih baik.
Continue Reading...

Buku, Buat Apa?

18 March 2009

Bagi para pecinta buku dan dunia tulis-menulis, pernahkah kalian ditanya seperti ini: "Aku masih bingung, buku itu sebetulnya buat apa sih?"

Itu ditanya sama temanku, yah kenalanlah--karena tak pernah benar-benar mengenalnya, waktu kuliah dulu. Aku mengernyitkan dahiku, mikir. Masak sih lelaki tinggi yang berdiri di depanku itu tak mengerti. Dia seorang mahasiswa, sama seperti diriku, harusnya mengerti gunanya buku itu buat apa. Yang mana dalam hati langsung kujawab, tentu saja untuk dibaca dan menambah tingkatan ilmu kita bodoh! Hingga kini cerita itu masih kuingat selalu. Dan tentunya, membikin aku penasaran juga. Apa alasan kawanku bertanya seperti itu? Ditinjau dari sisi akademis seharusnya dia tahu, bahkan fakultasnya bukan ilmu pasti (baca: MIPA) atau ilmu ukur (baca: Teknik), tetapi fakultas sosial. Apa dia tak pernah didorong-dorong dosennya untuk terus membaca ya? Pikiranku terus berkecamuk. Aneh saja.

***

Tiga tahun kemudian, aku menuliskan judul yang hampir mirip dengan pertanyaan kawanku. Ini semua bermula dari kemuakanku terhadap yang namanya tulisan. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku tak bisa menikmati apa yang namanya tulisan atau buku. Bukan apa-apa. Tuntutan kerja di bidang penerbitan membuatku bingung memilah. Bagi seorang akademi atau pecinta buku sekalipun, buku adalah jendela dunia. Bagi penerbitan, buku adalah sumber uang. Dashyat. Perbedaan keduanya membuat jurang pemisah yang sangat dalam.

Belum berselang seminggu aku turut dalam pameran. Di sana kutemukan banyak sekali buku-buku bertebaran. Tetapi di sisi lain aku juga menemukan fakta bahwa persaingan sangat keras di sana. Aroma "bunuh-bunuhan" menguar di udara, ketika aku memasuki pintu hall c di JEC. Dan bukannya keinginan untuk mengetahui rahasia dunia lagi, saat aku berada di dalamnya. Apalagi sekarang ini aku mengetahui bagaimana tulisan direduksi sedemikian rupa untuk memenangkan persaingan antar penerbit. Pertanyaan pertamanya: "Hari ini dapat berapa?"

Kenyataan seperti ini lantas membuatku kembali mengingat kawanku yang telah kuceritakan di atas. Sekarang giliran aku yang bertanya: "Buku, buat apa?"
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Standar itu Beda-beda

26 February 2009

Mengenai judul di atas, saya sedikit mau bertutur kisah tentang sebuah pengalaman. Medio akhir 2007-awal 2008, saya tengah berada di Jakarta. Di sana saya tengah disibukkan aktivitas meriset sekalian mencari uang pula. Saya tak sendiri, beberapa orang kawan turut ambil bagian dalam proyek ini. Apa yang kami riset? Kronik kebangkitan Indonesia 1908-2008, di mana buku tersebut menulis hari per hari tentang peristiwa yang terjadi di Indonesia sekurun waktu 100 tahun (sudah disebutkan bentangan tahunnya), yang kalau ditulis sekarang ini sudah jadi sejarah.

Proses penulisan tersebut cukup merepotkan dan membingungkan. Pertama, rentang waktu yang sedemikian panjang membikin kami sedikit kerepotan dengan alih bahasa. Ingat waktu dulu (sekira awal abad 20-an) Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) belum memiliki bahasa nasional macam saat ini. Bahasa yang lazim digunakan adalah bahasa melayu bercampur bahasa daerah masing-masing, di samping banyak pula yang memakai Jawa dan Belanda. Kedua, untuk menuliskan semua-mua itu, kami harus stay di perpustakaan nasional. Sebab korannya sudah tak bisa dibawa pulang. Kertas-kertas sudah tua, sudah bapuk. Di samping ada yang sudah dimikrofilm. Barangkali semisal tak memakai tulis tangan (maksudnya pakai laptop) kerja akan menjadi lebih cepat. Tetapi kami tak memiliki, kecuali satu orang. Ketiga, suhu di perpustakaan nasional membuatku masuk angin, maklum orang desa, tak biasa menggunakan ac. Itu di lantai empat.

Suatu waktu, kawan-kawanku ada main ke lantai teratas, lantai delapan. Mereka-mereka yang ke sana bilang bahwa di lantai delapan koran-korannya tak dimikrofilm, tetapi masih utuh-tuh berbentuk fisik. Dan mereka banyak mendapatkan sumber di sana.

Sesampainya di sana, aku malah tambah pusing. Kenapa? Masalah di lantai empat tak terselesaikan kini muncul lagi masalah baru. Kalian tahu, koran-koran tersebut dijilid rapi dan bentuknya gede. Coba kalau lebih dari satu jilid, bisa bertumpuk-tumpuk kan? Aku berpikir, jika ditulis tangan sama halnya dengan yang ada dimikrofilm, ditambah mata pakai mencari-cari di mana peristiwa yang menarik. Capek. Tak efektif. Hah, aku mengelus dada. Sebelum akhirnya terpantik ide: kenapa tak dipotret saja?

Keesokan harinya aku bawa foto untuk jeprat-jepret. Sesudah kutandai peristiwa-peristiwa yang hendak kufoto, tibalah waktunya bagi fotograper dadakan ini untuk beraksi. Cepret... cepret... jadilah foto. Bagus-bagus.

Tiba-tiba seorang petugas menghampiri, dia bertanya, “Mas moto ya?”

“Iya,” jawabku.

“Nanti dikenai uang charger ya.”

“Beres pak. Berapa ya pak?”

“Seikhlasnya sampeyan saja.”

“Oh…” mulutku membentuk huruf O besar.

Sesudah moto, aku hendak membayarkan bill-nya. Aku dioper ke petugas yang lainnya. “Berapa pak?”

“Lho tadi moto berapa ya?”

“Kata bapak yang sebelumnya seikhlasnya saya.”

“Oh ya sudah…”

Kukeluarkanlah tiga lembar uang seribuan. Raut wajahnya agak menggambarkan keanehan. Dan tahu apa yang terjadi keesokan harinya? Koran yang hendak aku foto-foto lagi disembunyikan sama petugas yang kesal sama saya. Begitu ditanyakan mereka mencebikku. Aku segera melaporkan ke pengasuhku, dan disediakanlah tiga lembar uang sepuluh ribuan yang dimasukkan ke dalam amplop untuk diberikan kepada mereka. Hasilnya? Mereka segera tersenyum-senyum manis padaku, yang berarti mereka kembali senang padaku.

* * *

Dari pengalamanku ini aku kemudian belajar bahwa menulis pun membutuhkan uang. Uang digunakan untuk biaya ini-itu. Tapi ingat jangan jadikan uang sebagai motivasi utama. Sebab bisa mati kreativitas juga kita ditekan uang. Yang penting bebas. Ketika kawan-kawan lainnya kuceritakan mengenai masalah ini, sewaktu ada pelatihan menulis esai, semua tertawa terbahak-bahak. Menertawai kegoblokan saya. Mudah-mudahan takkan terulang.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Kekuatan Menyelesaikan

23 February 2009

Suatu senja di angkringan Patehan Wetan, Alun-alun Selatan, Yogyakarta, tahun 2008, dua orang pemuda sedang mendiskusikan dunia tulis-menulis dan perbukuan seraya menikmati camilan kering dan segelas teh manis. Salah seorang dari pemuda itu adalah aku, dan seorang yang lain adalah kawanku, Ahmed namanya.

Kami memperbincangkan karir kami yang kian terpuruk dari hari ke hari. Maklum kondisi kantor sedang mengalami titi masa terberat soal keuangan. Selain soal nasib kami kelak yang hendak melangkah ke mana, jikalau kantor memang benar-benar gulung tikar.

“Aku tak punya impian muluk-muluk. Selepas dari sini aku bakal tetap menulis untuk tetap bertahan hidup. Yeah, kalau tak pindah ke lain penerbit. Aku hendak mengirimkan cerpen-cerpenku ke koran-koranlah,” tukasku pada Ahmed, “Tapi ada satu kendala yang selama ini menderaku. Aku belum bisa menulis dengan baik. Bagaimana menurutmu?”

Ahmed memandangiku sambil tetap mengunyah camilannya. Crauk... Crauk... Mulutnya penuh makanan. “Kalau kowe mau bisa nulis cerpen yang baik, cobalah menyalin cerpen. Betul-betul menyalin lho, bukannya menulis ulang. Ini bukan untuk menduplikasi, tetapi untuk mendapatkan inspirasi dan mengadaptasi cara kerja yang dibutuhkan seorang penulis atau pengarang.”

“Menyalin?” tanyaku.

“Yeap.” Jawabnya mantap. Ahmed kemudian bercerita bahwa Si Mbah—dedengkot yang kami kenal dalam urusan dunia sastra—melakukan metode ini. Mereka berdua—Ahmed dan Si Mbah—belajar bersama-sama sebagai pemula pada waktu yang hampir bersamaan. Tetapi yang melesat lebih dulu dalam jagat persastraan Indonesia adalah Si Mbah. Maksudnya ia lebih dulu mencatatkan namanya dengan acap dimuat di koran-koran, baik lokal maupun nasional.

“Kok bisa?” tanyaku penuh kebingungan. Sementara aku mengetahui bahwa Ahmed, kawanku, baru sampai pada tahap sebagai seorang penulis cerpen diari. Menulis cerpen untuk disimpan sendiri. Belum dipublikasikan (setahuku).

“Kalau saja kowe tahu kegilaan Si Mbah, tentu kowe takkan keheranan seperti ini. Bayangkan tiap hari dia menyalin cerpen-cerpen terkenal. Bagai orang kesurupan ia menyalin. Jika tak ada komputer, maka ia akan menyalin dengan tulis tangan.”

Aku terdiam. Aku belum sampai pada tahap kegilaan menulis seperti itu. Menulis tangan tentu akan melelahkan sekali, aku tahu itu, sebab waktu sekolah dulu kerjaku cuma mencatat apa yang diterangkan bapak-ibu guru atau apa-apa yang ditulis kawanku di papan tulis. Itu pun diambil dari diktat bapak-ibu guru. Yeah, aku memang bodoh, tapi tetap cinta jazz. “Menulis butuh energi ekstra, Lih. Yah, kekuatan untuk menyelesaikannya itu lho. Pada proses awal menulis kita merasa bersemangat, tetapi ketika tulisan sudah mencapai tengah-tengah, kita merasa enggan untuk melanjutkan. Alasannya berjuta-juta. Malas, capek, sakit, bingung, kekurangan bahan, menunggu inspirasi selanjutnya, sibuk ini-itu. Padahal nulis ya nulis. Sekali jalan rampungkan! Tak usah peduli ada apa. Geledek menyambar, tetangga teriak-teriak, adik menangis, atau ingin meringis. Tak usah peduli hasilnya bagus atau jelek.”

Aku mengernyitkan dahiku. Betullah yang dikatakannya. Kita ini banyak alasannya.

“Menulis itu merupakan salah satu upaya manusia untuk melawan rasa malasnya. Selain untuk melawan lupa. Dan demi sesuap nasi dan segenggam permata tentunya. Hehehe...” Dan ia menggramus camilannya lagi lebih banyak. Sementara aku meneguk teh manis yang sudah mulai hilang kehangatannya.

Hingga kini, setelah berbulan-bulan berlalu, kerap kali aku teringat kisah ini untuk memotivasiku tak berhenti menulis. Yah, kekuatan untuk menyelesaikan. Dan ini berlaku untuk kerja-kerja apapun. Jika tidak memiliki kekuatan ini lebih baik segera cari pandangan baru guna pindah ke tempat lain, kerja lain yang bisa dirampungkan. Dan dalam hal ini aku akan tetap mencoba bersetia pada kerja kepenulisan, yang mana kekuatan itu tentu harus kudapatkan dengan berpayah-payah tentu.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Hantu Beduk Ashar

19 February 2009

Dua-tiga hari lalu, kantorku dihebohkan kasus munculnya putih-putih di tempat parkir. Empat orang melihatnya, Eti, Putri, Lia dan Aconk. Putih-putih yang dilihat keempat orang itu dianalisa sebagai hantu yang lewat tempo adzan asar tengah bertalu-talu. Padahal keempat-empat orang tadi itu tak melihat persis-persis. Yang menjadi tertuduh adalah aku. Hal ini diperkuat, menurut pengakuan Eti, yang melihatku berjalan ke wc (lewat parkiran).

Kisah ini disampaikan keesokan harinya, berarti satu-dua hari lalu, sama Yoga. Waktu itu ia cerita dengan mimik yang menyeramkan (ini memang sudah dari sononya) di lantai dua. Ada aku, Ratino, Iyem aka Deti, dan Trimbil. Mendengar cerita itu, hatiku langsung berdegub kencang. Waduh, ada setan! Tapi sesudah kuperhati-hatikan dengan seksama, sepertinya itu bukan cerita hantu deh.

"Itu aku, mas," tukasku.

Hebohlah mereka dalam derai tawa.

Kejadiannya yang sebetulnya begini. Sehari sebelum kisah ini beredar. Aku keluar lewat jendela. Kemudian aku pergi ke WC. Sesudahnya aku naik ke lantai dua. Abis waktu itu saya pusing dan ngantuk. Ketimbang tertidur aku naik dan ketawa-ketiwi sama tiga orang yang ada di sana, Iyem, Ratino, sama Trimbil. Turun dari sana aku lewat tempat yang sama. Dan memang tak ada yang mendengar suara langkahku, sebab aku tak memakai alas kaki.

Yang menjadi keheran-herananku, masa' aku diidentifikasi sebagai hantu. Padahal aku kan keren. Yah, setidak-tidaknya misteri tentang hantu beduk ashar sudah terkuak, dan tak ada yang mesti ditakutkan. Meski keempat orang itu belum mengetahuinya. Hahaha...
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Surat Kematian Seorang Penulis

13 February 2009

Nogotirto-Yogyakarta, 13 Februari 2009

Sudah sejak beberapa hari terakhir ini hujan selalu mengguyur bumi Jogja di waktu-waktu pagi. Tidak macam hari-hari biasanya—waktu hujan sudah terpola: pagi terang, siang atau sore hujan. Mungkin, ini sesuai dengan ramalan BMG, yang memperkirakan bahwa hujan akan mencapai titik tertingginya di dua bulan awal tahun ini—Januari-Februari. Meski aku sesungguhnya betul-betul kedinginan jika malam tiba, aku tetap berharap hujan turun setiap tahunnya. Hanya saja, jangan keseringan dan waktu-waktu pagi.

Hari ini saja, ketika aku berangkat di pagi hari, hujan sudah mengguyur kota ini dengan penuh semangat. Dan tentunya, sewaktu aku berangkat ke kantor, aku kuyup. Padahal, aku sudah diwanti-wanti bapakku supaya mengenakan mantol (jas hujan), karena awan di sebelah barat terlihat gelap—diperkirakan olehnya akan hujan. Namun, karena kebodohan tingkat tinggiku dan kemalasanku terhadap sesuatu yang ribet, aku mengacuhkannya dan berangkat tanpa mengenakan mantol itu—yang lalu kulipat dengan sangat tidak rapi. Aku bilang pada bapak, “Sepertinya hari tidak hujan.”

“Hujan gerimis,” kata ayahku.

“Yeah, nanti semisal hujan. Akan kukenakan di tengah jalan.” Dalam hati aku berkata, ‘Sungguh akan terlihat konyol apabila aku mengenakannya namun hari tak hujan.’

Sial bagiku. Ternyata, awalnya hujan memang hanya rintik-rintik saja, semakin ke barat—ke arah kantorku—rinai hujan semakin deras. Tapi hingga aku sampai ke kantor, aku tetap tak mengenakan mantolku.
***

Sebuah pertanyaan menggumul dalam benakku lagi. Untuk apa aku menulis? Atau jika menarik pertanyaan lebih luas lagi, untuk siapakah aku menulis?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan ini sebetulnya sudah kutemukan dalam sebuah buku yang kubeli kemarin pas pameran buku di Gedung Wanitatama. Pendapat-pendapat itu terhimpun dalam pidato para sastrawan dunia ketika mendapatkan hadiah mereka (Nobel), membikinku mengerti bahwa ada dua kepentingan bagi kita untuk menulis. Pertama, keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari tulisannya, dalam hal ini adalah uang. Kedua, keinginan untuk mendapatkan kepuasan dari tulisannya, dalam hal ini kepentingan pribadi yang bermain—tanpa harus peduli siapa yang akan membaca tulisannya. Hal yang terakhir tersebut sama dengan ketika kita menulis catatan-catatan harian kita sendiri.

Di antara kedua pendapat itu, aku tak memilih salah satunya. Aku berada di tengah-tengahnya. Aku ingin menulis secara mandiri, di samping aku tetap mendapatkan penghargaan berupa materi dari tulisan-tulisanku. Terus terang saja, idealis tak membuat kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lihat saja, Marx, yang hidup dalam kondisi papa sampai tiba matinya, ketika memperjuangkan idealisnya demi melawan para kapitalis dengan ide-ide revolusionernya tentang sosialisme dan komunisme. Urgh... idealisme yang rumit.

Beberapa ideku untuk menjual tema buku tersandung dengan sebuah pertanyaanku: apakah buku itu akan laku dengan tema yang seperti itu?

Pernyataan sekaligus pertanyaan tersebut membuatku secara moral lumpuh dalam menulis. Sehingga muncul keengganan untuk mencari sebuah tema dengan tema-tema spektakuler. Sebab, sayangnya, aku hanya sedikit tahu tentang kegilaan manusia dalam membelanjakan uangnya. Seperti Isaac Newton yang harus berkemas dari genjotan pasar saat mengetahui ia lebih memilih untuk mencari hukum gravitas daripada kegilaan konsumerisme manusia. Apalagi dalam masalah tulisan, sungguh-sungguh belum terkonsep otakku ini akan hal-hal semacam itu.

Seingatku Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan (menurutku ini seruan kepada para penulis--lebih khusus lagi penulis pemula), “Tulislah mengenai apapun. Tak usah pedulikan apakah tulisan itu akan diterbitkan penerbit atau tidak. Tulis saja, siapa tahu kelak akan berguna.”

Memang, aku sudah mengembangkan dalam proses-proses penulisan macam yang dibilang Pram. Walau konsep itu masih terbatas dalam catatan-catatanku saja. Namun mulai aku masuk ke kantor ini (3 Februari 2009), setelah komputerku yang keparat itu mati, aku jadi mandul karena aku tidak menulis setiap hari seperti yang kuingin lakukan dulu. Namun, mulai hari ini aku akan mengembalikan kebiasaanku yang sedikit memudar itu. Dan tiap hari menulis. Tapi di komputer kantor ini saja dulu.

Bagiku, menulis (apapun) adalah mengenai rasa manusia mengungkapkan pandangan-pandangannya lewat tulisan. Untuk mendapatkan itu, kita harus mendapatkan independensi tanpa tedensi apa-apa, sebab keinginan muluk yang dilibatkan dari tulisan hanya akan menjadi sebuah tendensi bodoh yang secara mental membuat kita tumpul akan keinginan-keinginan kita sendiri. Jika kita sebagai penulis menghilangkan semangat menulis, maka saat itulah kita sebagai penulis telah mati.

Bagaimana menurut kamu?


(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Masuk Kerja Pertama

03 February 2009

Selepas sebulan penuh bergulat dengan gelisah, keringat, dan apak menapaki tangga lowongan kerja di suratkabar, akhirnya aku diterima kerja di penerbitan lagi. Hmm, bidang yang setahun belakangan ini kugeluti dan kunikmati.

Hari ini aku masuk pertama kalinya. Huh, menyenangkan? Iya juga. Cos, ternyata orang-orang yang tergabung di dalamnya lebih mudah akrab dan gampang menerima orang lain. Ups. Segitu dululah posting saya hari ini. Bye. (Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Adakah Aturan dalam Menulis?

25 January 2009

Dalam sebuah postingan milik cokikawasprimonta disebutkan 20 aturan menulis dari Erica Jong. Lebih baik saya sebutkan semua-muanya secara keseluruhan supaya lebih real. 20 aturan tersebut antara lain: Punya Keyakinan – Bukan Sinisme, Berani Bermimpi, Lepaskan Pikiranmu, Menulis Untuk Kesenangan, Cari Pembaca Membalik Halaman, Lupakan Politik, Lupakan Intelektualitas, Lupakan Ego, Jadi Seorang Pemula, Terima Perubahan, Jangan Mengira Pikiranmu Butuh Perubahan, Jangan Harapkan Kepuasan dari Pernyataan Puas (orangtua, politisi, sekolah, teman, dll), Gunakan segalanya, Ingat bahwa menulis itu adalah sikap kepahlawanan, Lupakan kritik, Ungkapkan kebenaran, Tetap Membumi, Menulis untuk anak-anak, Ingat untuk tetap liar, Tidak ada aturan.

Dari 20 aturan itu, yang paling menarik mata saya adalah aturan Tidak Ada Aturan. Kenapa? Bukankah Erica Jong telah menetapkan 20 aturan menulis, tetapi 20 aturan itu malah dibantah sendiri pada poin 20. Saya jadi menyimpulkan bahwa menulis tidak perlu memiliki aturan. Tetapi, menurut saya, sebelum mencapai pada tahap tidak memiliki aturan seorang penulis harus mengetahui prinsip-prinsip dasar, iatu bisa membaca dan menulis. Menurut kamu?
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Hari Depan, dan Kebingungan Hari Ini

22 January 2009

SEORANG sahabat sedang bergembira. Dia sedang kedatangan seseorang yang paling dinantikannya sejak setahun dia kuliah di Jogja. Siapa lagi kalau tak pacarnya. Yeap, ini hari pacarnya dia datang. Dia sumringah betul. Bangun saja dibelain pagi-pagi. Dan kebiasaan buruknya, yang suka tak mandi berhari-hari pun mendadak lenyap.

Teman-teman tertawa-tawa melihat tingkahnya yang lucu. Padahal biasanya, tak ada yang memperhatikan tingkahnya. Tapi, karena ada wanitanya saja, teman-teman menggarapnya. Busyet. Mengapa sampai terjadi perubahan sikap antara teman saya yang biasanya dan teman saya sewaktu ada pacarnya sekarang. Saking mengiang-ngiang di benak, saya tulis saja waktu saya ke warnet.

Teman saya yang beda prodi, tapi masih satu jurusan sama saya juga begitu. Sebelum punya pacar dia malah hendak meniatkan diri untuk mati muda. Sekarang pasca punya pacar? Niat itu berontak dan dia tak ingin mati muda lagi. Begitu besarkah kekuatan cinta? Atau sebegitu hebatkah para wanita? Hingga Adam tak berdaya di hadapannya. Lalu siapa yang tiba-tiba menangis paling keras sewaktu ditinggal minggat? Entahlah.

Halah... posting ini semacam melonggarkan kekakuan kepalaku. Bosan karena tak ada kerjaan meski banyak. Membunuh waktu luang sajalah. Trims atas perhatiannya.
Continue Reading...

Pilih Mana?

21 January 2009

SEORANG lelaki kebingungan. Di tangan kanannya tergenggam selembar uang seratus ribuan berwarna merah. Ia tengah menimang-nimang hendak diapakan duit itu. "Seumur-umur belum pernah aku memegang uang sebanyak ini. Pool mentok lima puluh ribuan. Itu pun sekali saja," katanya membatin.

Hati kecilnya ingin membelanjakan habis uang itu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. "Ah, kuhabiskan saja uang ini."

Sementara hati kecil lainnya mengatakan sebaliknya. "Jangan! Kau takkan pernah tahu kapan akan mendapatkan uang sebegini besar lagi."

Makanya ia bimbang. Toh, dengan membelanjakan semua-mua uangnya dalam satu waktu, ia takkan memiliki uang lagi di masa depan. "Ah, uang kan bisa dicari," begitu ia teringat kata-kata temannya.

Tolong buat teman-teman, bantuin dia dong, sebab si lelaki ini sedang kebingungan sangat.
Continue Reading...

Manusia Kamar Tetap Cinta Cawat dan BH

17 January 2009

MESKI saya lebih suka menyendiri di kamar yang dingin nan sepi, namun sebagai makhluk sosial, nampaknya saya tak bisa melepaskan diri saya dari kehidupan sosial. Apalagi, bagi saya yang masih demikian muda begini, dunia sekitar yang berwarna-warni terlalu indah untuk dibekap dalam kamar yang hanya dipenuhi warna-warna monochorme. Apalagi saya juga masih boleh bermain-main mata sama 1000 gadis manapun atau sedikit nakal memegang-megangi "susu" gadis muda yang menjulang meninju langit di bar di kota kami. Hal-hal semacam ini demikian sayang untuk dilewatkan.

Bolehlah kita sebagai lelaki menjauh sebentar, tapi "antena" kita yang satu itu, apakah sabar menanti? Ah, saya tak jamin pasti. Toh, saya lelaki, jadi tahu apa yang ada di benak lelaki. Hahaha... Cawat dan BH saja pikirannya.

Tak peduli dari kegelapan atau cahaya manapun datangnya. Selama ia manusia berjenis kelamin lelaki, pastilah begitu. Terkecuali ia impoten. Saya kenal lelaki, dia pernah menjadi kakak tingkat saya waktu kuliah. Sejak kuliah dia sudah aktif dalam dunia kepenulisan dan baca-membaca. Namanya, terus-terang, tak berani saya sebut-sebut. Terlalu lancang. Dia terlalu agung untuk didekati. Pada akhirnya, saya pernah menjadi rekan sekerjanya, mesti posisi saya dan dia tidak sama. Karena proses penyeretan (KKN)-nya saya menjadi anak buah bosnya, sangat jauh. Gampangnya begini, dia direkrut langsung oleh bos. Sementara saya diajak teman saya yang direkrut oleh rekannya kakak tingkat saya yang namanya tak berani saya sebut-sebut baru kemudian bos.

Kantor kami waktu itu ada di Jakarta Pusat. Carilah sendiri kalau kau sempat mampir-mampir di seputaran monas. Jika kau beruntung, mau bertanya-tanya pada orang sekitar atau pohon yang bergoyang, kau akan ditunjukkan di mana letak kantorku itu. Akan kusarankan kepada kau jangan mencarinya, sebab meski dibilang kantor, kehidupan di dalamnya tidak sehat. Aku sendiri yang mengalaminya. Bangun-Ngantor-Tidur-Nonton Tipi-Tidur-Bangun-dst, itu jadi upacara rutin. Di sana kau bakal serasa mati! Tak pernah tahu kehidupan luar.

Hal yang harus kuakui dari teman yang namanya tak berani kusebut-sebut ini, dia seorang yang tangguh. Penulis esei yang baik sekaligus pendebat handal. Dulu aku tak pernah tahu bagaimana dia hidup. Setelah menjadi rekan kantornya (dalam hubungan yang aneh) itu aku baru tahu bagaimana kehidupannya. Seperti tadi sudah kubilang (upacara rutinnya) dia hidup seperti itu. Seperti kelelawar yang hidup di malam hari, tidur sesiang mungkin, tubuh kurusnya dibiarkannya tak pernah merasakan sejuk air mandi. Alhasil, kakak tingkat saya yang tidak boleh saya sebut-sebut namanya ini jadi manusia bau, baik badannya maupun bajunya. Bagaimana tidak? Dia takkan pernah mencuci baju sebelum seminggu (atau lebih) dipakainya dalam keadaan tak pernah lepas dari badannya. Kaget? Aku sudah terbiasa dengan itu, meski tetap menutup rapat-rapat hidungku, ketika duduk di dekatnya.

Entah gara-gara insomnianya atau kesukaannya tidak mandi itu yang membuahkan sarang penyakit di dalam tubuhnya, aku tak tahu. Yang jelas begitu. Dia juga jarang keluar. Sekalinya keluar, itupun tengah malam dan ke pelabuhan pula. Suatu hari, sebelum pulang ke daerah asalnya Cirebon, aku pernah diajaknya ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Kaget aku ketika dia berbicara kepadaku, padahal sebelumnya tak pernah berbicara apapun kepadaku, selain hal-hal yang penting saja. Tapi dengan tegas kutolak ajakannya. Siapa yang mau bersanding dengan orang bau? Tak ada kan? Walaupun berangkatnya naik taksi dan dibayarin dia.

Meski suka menyendiri dan tak pernah menjalin hubungan yang akrab dengan orang alias membangun dinding tinggi untuk dirinya sendiri, tak sekalipun dia pernah mengganggu-ganggu aku. Dan itu yang membuat aku sedikit kagum dengan kemampuannya. Yeah dibalik kekurangan masih tersimpan benih kelebihan kan? Manfaatkan itu untuk kau sendiri.

Lalu bagaimana dia, kakak tingkat saya yang namanya tak bisa kusebutkan itu, melepaskan luapan cairan di tubuhnya? Usut diusut, kuketahui tempatnya membuang hajat, ada di Penjaringan, Jakarta Utara. Sial, di tempat ini pula aku pernah diajak ngamar seorang pelacur tua yang nafasnya sudah terburu dikejar kematian (Ups, ketahuan aku pernah dolan ke tempat ini... xixixi). yk, 160109

(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Di Persimpangan, Siapkan Bekal, Jalan Terus

14 January 2009

Jika sekarang Palestina-Israel sedang sibuk meramaikan tahun baru 2009 dengan perang, maka izinkan saya meramaikannya dengan postingan. Bukan tentang peperangan itu memang. Hal yang ingin saya sampaikan dalam postingan ini cuma tentang saya, saya, saya dan saya lagi. Sedikit agak narsis memang. Tak apalah.

Soalnya akhir-akhir ini keinginan saya untuk terus eksis di dunia tulis makin menggebu. Seorang kawan yang sudah hidup berbahagia di pulau seberang mengsms saya. Dia mengatakan kalau saya bisa hidup dari tulisan, seperti yang pernah dilakoni suaminya sekarang selama setahun tinggal di Jogja dulu. Sms dia segera kujawab dengan sms pula. Saya mengerti, ini sedang mengupayakan. Saran dia, saya disuruhnya menulis cerpen. Padahal pengalaman menulis cerpen saya buruk. Saya memang menulis cerpen, meski belum cukup bagus untuk menembus media. Itu sudah kulakukan sejak 2002 lalu.

Ada satu cerita menarik. Ceritanya, akhir tahun 2004-an, saya pernah mengirim cerpen berjudul Senja yang Sudah Mati. Saya pikir cerpen itu tidak dimuat dan gara-gara pikiran negatif saya itu, saya memang tak pernah lagi memeriksanya. Hingga dua tahun kemudian, diakhir 2007, kutemukan cerpen itu ternyata dimuat. Wah hati senang karena (kebetulan) tak punya uang. Meskipun tak pernah kudapatkan honornya yang cuma 50 ribu itu. Yang bikin saya bertanya-tanya adalah kenapa pihak redaksinya itu tak pernah telepon saya? Karena sudah berlalu, saya tak lagi mau mengurusi. Malas saja rasanya.

Kembali ke soal yang paling atas tadi. Sebetulnya saya juga sudah menjadi pengisi di rubrik Edukasinema majalah Jogjaeducation (klik di sini untuk tulisan sudah dimuat). Di samping menyambi-nyambi jadi reporter untuk artikel Almanak Pengetahuan. Sayangnya perkembangan yang demikian lamban begini menyulitkan saya untuk hidup lebih "sehat". Yeap apa yang paling dibutuhkan penulis? Buku kan... Sementara honor dari kedua tempat itu tidak mencukupi untuk beli buku. Hahaha...

Namun saya cukup bahagia dengan kehidupan saya yang masih kurang "sehat" ini. Pikir saya yang penting saya jalan. Sirkulasi bisa berputar tetap. Apa besok saya bisa hidup lebih bagus ketimbang ini, saya nggak tahu. Toh, bukan saya menetapkan jalan. Saya hanya bisa menjalankannya.

Thanks buat orang-orang yang membantu saya dalam proses ini. Maap kalian tak bisa kusebut satu persatu. (Wah, rasanya seperti mendapat Academy Award saja).

(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Sakit

10 November 2008

Ingatlah sehat sebelum sakit.

Kata-kata di atas memang sebuah nasehat Nabi Muhammad SAW berabad lampau. Ditujukan kepada kaum muslimin seluruh dunia. Kali menulis tulisan ini, aku sakit. Memang cuma “agak” masuk angin. Tapi rasanya mbliyeng-mbliyeng betul? Tak berlebihan jika kusebut rasa “agak” sakit itu terasa hingga kesekujur tubuh.

Belakangan bulan ini, hidup saya seolah berada dalam bayangan. Waktu melek saya dimulai dari jam 7, terus bertahan hingga malam sudah melarut di jam 12. Itu pun kadang masih saya jejali membaca atau nonton tv sampai jam 1 pagi. Begitulah saya berutinitas. Suatu rutinitas yang buruk.

Beberapa pakar ahli membagi waktu sehari dalam tiga bagian: tiap delapan jam. Delapan jam kerja. Delapan jam istirahat. Delapan jam tidur. Meski tahu pembagiannya, sumpah mampus sulit bagiku mengikuti formulasi tersebut. Berulangkali kucoba berusaha menetapkan segala sesuatu bersesuaian dengan jadwal. Sebanyak usaha yang kucoba terapkan itu pula aku gagal.

Aku pun memaklumkan sebuah pledoi atas segala aktivitas burukku. Perlahan-lahan sebuah daftar cita-cita yang ingin saya raih tergambar di dalam benak yang mulai kusut dengan pelbagai masalah. Sebuah kilauan keinginan ragawi yang tentunya didamba setiap makhluk bernama manusia.

Konsekuensi dari kebiasaan hidupku? Tubuh lemes. Susah makan. Mata cekung. Kerempeng. Dan yang paling fatal dari semua itu adalah sakit. Sakit berkebalikan dengan sehat. Sakit mengganggu aktivitas. Sakit? Yah tidak enaklah. Mau apa-apa serba salah. Mau gerak tak bisa. Mau diam membosankan. Yap. Didera rasa sakit merupakan hal yang paling tidak mengenakkan.

Dan kalau tubuh sudah stagnan, ingatlah memori ini betapa berasa indahnya sehat itu. Ingat hal-hal lalu yang bisa dilakukan ketika masih sehat. Jalan-jalan. Dan kalau tubuh sudah berdiam di ranjang bersama penyakit, apa yang bisa dilakukan? Lalu sebungkal pertanyaan menari di dalam pikiran, apa yang saya cari selama ini? Sebuah jawaban yang mungkin bisa dijawab (bisa pula tak terjawab) olehku, oleh kamu, atau orang-orang saat ini sedang sakit atau terkapar tanpa daya. Khususnya untuk orang-orang yang terlalu giat bekerja sehingga lupa segala sesuatu. Seperti saya ini.

Beruntung sebelum terkapar saya sudah tersadar. (Lilih Prilian Ari Pranowo. 2008)
Continue Reading...