Tiang Penyangga Sosrobahu

01 March 2009

Sekira 1980-an akhir koran-koran nasional ramai mengabarkan pembangunan jalan tol dari Cawang ke Tanjung Priok, yang memiliki panjang total sekurang-lebih 16,5 Km. Pembangunan jalan ini tak berlangsung mulus. Kendala utamanya ada di teknik konstruksi konvensional yang jika dipaksakan malah menambah macet arus lalu-lintas yang sibuk dan memiliki banyak persimpangan. Bayangkan saja, tiang horisontalnya saja yang hendak dibangun bisa mencapai ukuran 22 meter, nyaris sama lebarnya dengan jalan by pass itu sendiri. Tentunya hal ini bertentangan dengan tujuan dibuatkannya jalan tol yang memang diset untuk mengatasi kemacetan.

Alternatif lain yang diusulkan adalah memakai metode gantung, macam yang dilakukan di Singapura. Sayangnya apabila teknik ini yang dipakai, faktor biaya yang jauh lebih mahal yang menjadi kendalanya. Adalah Ir. Tjokorda Raka Sukawati yang berhasil memecahkan persoalan ini dengan menciptakan tiang pancang yang diberinya nama Sosrobahu. Ir. Tjokorda lahir di Ubud, Bali. Gelar insinyurnya didapatkan dari sekolah di Departemen Sipil di Institut Teknologi Bandung (ITB). Karirnya dimulai saat ia masuk di perusahaan PT Hutama Karya hingga ia menjabat menjadi direktur perusahaan tersebut.

Inspirasi pembuatan tiang pancang modelnya didapatkanya saat memperbaiki mobilnya sendiri. Kisah ini bermula di garasi mobilnya. Suatu hari Tjokorda hendak membetulkan mobilnya yang rusak—kebetulan garasi mobilnya berbentuk agak miring—dan pembantunya kemudian mengganjal ban belakang mobil. Rupanya cuma satu ban belakang yang diganjal dan rem tangannya pun lupa ditarik. Waktu Tjokorda memompa dongkrak hidrolik untuk mengangkat roda depan, tiba-tiba mobil menjadi berputar. Kejadian itu memantik ide di dalam kepalanya. Hari itu ia urung memperbaiki mobilnya.

Dari situ, selanjutnya ia memadukan hukum gesekan untuk memutar beban dengan hukum pascal untuk mengangkat beban. Lantas ia minta dibikinkan modelnya oleh seseorang dan… berhasil! Dilakukanlah pengujian dengan beban berbobot 85 ton hingga 180 ton. Berhasil lagi! Dia pun berhasil membuat alat putar silinder yang mengguncang dunia teknologi konstruksi.

Penemuannya ini langsung diterapkan pada proyek jalan layang yang sedang ditanganinya. Jadinya tiang penyangga jalan yang sudah kering dan dibangun sejajar ruas jalan lantas diputar 90 derajat melintang jalan. Caranya sepasang piringan baja berdiameter 80 sentimeter, dipasang di bawah tiang penyangga, usai tiang tersebut kering, di dalamnya dipompakan automatic transmission fluid (ATF) atau oli pelumas sebanyak 78, 05 kg/cm2. Dengan teknik ini tiang penyangga yang bobot kepalanya mencapai 480 ton dengan mudah bisa diputar.

Dan jalan layang tol Cawang-Tanjung Priok itu sebagai flyover pertama di dunia yang memakai teknik “pemutaran kepala tiang penyangga jalan terbang”. Berikutnya teknik ini diekspor ke negara-negara di Asia lainnya, seperti Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Standar itu Beda-beda

26 February 2009

Mengenai judul di atas, saya sedikit mau bertutur kisah tentang sebuah pengalaman. Medio akhir 2007-awal 2008, saya tengah berada di Jakarta. Di sana saya tengah disibukkan aktivitas meriset sekalian mencari uang pula. Saya tak sendiri, beberapa orang kawan turut ambil bagian dalam proyek ini. Apa yang kami riset? Kronik kebangkitan Indonesia 1908-2008, di mana buku tersebut menulis hari per hari tentang peristiwa yang terjadi di Indonesia sekurun waktu 100 tahun (sudah disebutkan bentangan tahunnya), yang kalau ditulis sekarang ini sudah jadi sejarah.

Proses penulisan tersebut cukup merepotkan dan membingungkan. Pertama, rentang waktu yang sedemikian panjang membikin kami sedikit kerepotan dengan alih bahasa. Ingat waktu dulu (sekira awal abad 20-an) Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) belum memiliki bahasa nasional macam saat ini. Bahasa yang lazim digunakan adalah bahasa melayu bercampur bahasa daerah masing-masing, di samping banyak pula yang memakai Jawa dan Belanda. Kedua, untuk menuliskan semua-mua itu, kami harus stay di perpustakaan nasional. Sebab korannya sudah tak bisa dibawa pulang. Kertas-kertas sudah tua, sudah bapuk. Di samping ada yang sudah dimikrofilm. Barangkali semisal tak memakai tulis tangan (maksudnya pakai laptop) kerja akan menjadi lebih cepat. Tetapi kami tak memiliki, kecuali satu orang. Ketiga, suhu di perpustakaan nasional membuatku masuk angin, maklum orang desa, tak biasa menggunakan ac. Itu di lantai empat.

Suatu waktu, kawan-kawanku ada main ke lantai teratas, lantai delapan. Mereka-mereka yang ke sana bilang bahwa di lantai delapan koran-korannya tak dimikrofilm, tetapi masih utuh-tuh berbentuk fisik. Dan mereka banyak mendapatkan sumber di sana.

Sesampainya di sana, aku malah tambah pusing. Kenapa? Masalah di lantai empat tak terselesaikan kini muncul lagi masalah baru. Kalian tahu, koran-koran tersebut dijilid rapi dan bentuknya gede. Coba kalau lebih dari satu jilid, bisa bertumpuk-tumpuk kan? Aku berpikir, jika ditulis tangan sama halnya dengan yang ada dimikrofilm, ditambah mata pakai mencari-cari di mana peristiwa yang menarik. Capek. Tak efektif. Hah, aku mengelus dada. Sebelum akhirnya terpantik ide: kenapa tak dipotret saja?

Keesokan harinya aku bawa foto untuk jeprat-jepret. Sesudah kutandai peristiwa-peristiwa yang hendak kufoto, tibalah waktunya bagi fotograper dadakan ini untuk beraksi. Cepret... cepret... jadilah foto. Bagus-bagus.

Tiba-tiba seorang petugas menghampiri, dia bertanya, “Mas moto ya?”

“Iya,” jawabku.

“Nanti dikenai uang charger ya.”

“Beres pak. Berapa ya pak?”

“Seikhlasnya sampeyan saja.”

“Oh…” mulutku membentuk huruf O besar.

Sesudah moto, aku hendak membayarkan bill-nya. Aku dioper ke petugas yang lainnya. “Berapa pak?”

“Lho tadi moto berapa ya?”

“Kata bapak yang sebelumnya seikhlasnya saya.”

“Oh ya sudah…”

Kukeluarkanlah tiga lembar uang seribuan. Raut wajahnya agak menggambarkan keanehan. Dan tahu apa yang terjadi keesokan harinya? Koran yang hendak aku foto-foto lagi disembunyikan sama petugas yang kesal sama saya. Begitu ditanyakan mereka mencebikku. Aku segera melaporkan ke pengasuhku, dan disediakanlah tiga lembar uang sepuluh ribuan yang dimasukkan ke dalam amplop untuk diberikan kepada mereka. Hasilnya? Mereka segera tersenyum-senyum manis padaku, yang berarti mereka kembali senang padaku.

* * *

Dari pengalamanku ini aku kemudian belajar bahwa menulis pun membutuhkan uang. Uang digunakan untuk biaya ini-itu. Tapi ingat jangan jadikan uang sebagai motivasi utama. Sebab bisa mati kreativitas juga kita ditekan uang. Yang penting bebas. Ketika kawan-kawan lainnya kuceritakan mengenai masalah ini, sewaktu ada pelatihan menulis esai, semua tertawa terbahak-bahak. Menertawai kegoblokan saya. Mudah-mudahan takkan terulang.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Kekuatan Menyelesaikan

23 February 2009

Suatu senja di angkringan Patehan Wetan, Alun-alun Selatan, Yogyakarta, tahun 2008, dua orang pemuda sedang mendiskusikan dunia tulis-menulis dan perbukuan seraya menikmati camilan kering dan segelas teh manis. Salah seorang dari pemuda itu adalah aku, dan seorang yang lain adalah kawanku, Ahmed namanya.

Kami memperbincangkan karir kami yang kian terpuruk dari hari ke hari. Maklum kondisi kantor sedang mengalami titi masa terberat soal keuangan. Selain soal nasib kami kelak yang hendak melangkah ke mana, jikalau kantor memang benar-benar gulung tikar.

“Aku tak punya impian muluk-muluk. Selepas dari sini aku bakal tetap menulis untuk tetap bertahan hidup. Yeah, kalau tak pindah ke lain penerbit. Aku hendak mengirimkan cerpen-cerpenku ke koran-koranlah,” tukasku pada Ahmed, “Tapi ada satu kendala yang selama ini menderaku. Aku belum bisa menulis dengan baik. Bagaimana menurutmu?”

Ahmed memandangiku sambil tetap mengunyah camilannya. Crauk... Crauk... Mulutnya penuh makanan. “Kalau kowe mau bisa nulis cerpen yang baik, cobalah menyalin cerpen. Betul-betul menyalin lho, bukannya menulis ulang. Ini bukan untuk menduplikasi, tetapi untuk mendapatkan inspirasi dan mengadaptasi cara kerja yang dibutuhkan seorang penulis atau pengarang.”

“Menyalin?” tanyaku.

“Yeap.” Jawabnya mantap. Ahmed kemudian bercerita bahwa Si Mbah—dedengkot yang kami kenal dalam urusan dunia sastra—melakukan metode ini. Mereka berdua—Ahmed dan Si Mbah—belajar bersama-sama sebagai pemula pada waktu yang hampir bersamaan. Tetapi yang melesat lebih dulu dalam jagat persastraan Indonesia adalah Si Mbah. Maksudnya ia lebih dulu mencatatkan namanya dengan acap dimuat di koran-koran, baik lokal maupun nasional.

“Kok bisa?” tanyaku penuh kebingungan. Sementara aku mengetahui bahwa Ahmed, kawanku, baru sampai pada tahap sebagai seorang penulis cerpen diari. Menulis cerpen untuk disimpan sendiri. Belum dipublikasikan (setahuku).

“Kalau saja kowe tahu kegilaan Si Mbah, tentu kowe takkan keheranan seperti ini. Bayangkan tiap hari dia menyalin cerpen-cerpen terkenal. Bagai orang kesurupan ia menyalin. Jika tak ada komputer, maka ia akan menyalin dengan tulis tangan.”

Aku terdiam. Aku belum sampai pada tahap kegilaan menulis seperti itu. Menulis tangan tentu akan melelahkan sekali, aku tahu itu, sebab waktu sekolah dulu kerjaku cuma mencatat apa yang diterangkan bapak-ibu guru atau apa-apa yang ditulis kawanku di papan tulis. Itu pun diambil dari diktat bapak-ibu guru. Yeah, aku memang bodoh, tapi tetap cinta jazz. “Menulis butuh energi ekstra, Lih. Yah, kekuatan untuk menyelesaikannya itu lho. Pada proses awal menulis kita merasa bersemangat, tetapi ketika tulisan sudah mencapai tengah-tengah, kita merasa enggan untuk melanjutkan. Alasannya berjuta-juta. Malas, capek, sakit, bingung, kekurangan bahan, menunggu inspirasi selanjutnya, sibuk ini-itu. Padahal nulis ya nulis. Sekali jalan rampungkan! Tak usah peduli ada apa. Geledek menyambar, tetangga teriak-teriak, adik menangis, atau ingin meringis. Tak usah peduli hasilnya bagus atau jelek.”

Aku mengernyitkan dahiku. Betullah yang dikatakannya. Kita ini banyak alasannya.

“Menulis itu merupakan salah satu upaya manusia untuk melawan rasa malasnya. Selain untuk melawan lupa. Dan demi sesuap nasi dan segenggam permata tentunya. Hehehe...” Dan ia menggramus camilannya lagi lebih banyak. Sementara aku meneguk teh manis yang sudah mulai hilang kehangatannya.

Hingga kini, setelah berbulan-bulan berlalu, kerap kali aku teringat kisah ini untuk memotivasiku tak berhenti menulis. Yah, kekuatan untuk menyelesaikan. Dan ini berlaku untuk kerja-kerja apapun. Jika tidak memiliki kekuatan ini lebih baik segera cari pandangan baru guna pindah ke tempat lain, kerja lain yang bisa dirampungkan. Dan dalam hal ini aku akan tetap mencoba bersetia pada kerja kepenulisan, yang mana kekuatan itu tentu harus kudapatkan dengan berpayah-payah tentu.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Minyak Jarak Murni

Lahir dan besar di pedalaman Sumatera membuat lelaki ini mendendam. Hingga umurnya mencapai angka 14 tahun—sebelum meneruskan pendidikan SMA di Bandung (1970)—ia dan saudara-saudaranya diharuskan mencari kayu guna keperluan bahan bakar ibunya memasak. Dan dendam ini berbuah manis ketika tiba saatnya untuk dipetik. Sebab dari hasil dendam-mendendamnya pada masa lalu ini, ia berhasil menciptakan bahan bakar dari minyak jarak murni.

Bukti nyatanya terjadi di tahun 2006 di Jakarta. Waktu itu untuk kali pertamanya dilakukan uji coba minyak jarak murni sebagai bahan bakar mobil diesel. Dalam uji coba ini digunakan tiga mobil Mitsubishi Strada Double Cab, yang menempuh jarak Jakarta-Bandung (sekira 325 km). Dan uji coba itu pun berlangsung mulus tanpa hambatan.

Pemanfaatan jarak untuk keperluan manusia memang bukan barang baru. Medio 1942-1945, Pemerintahan Militer Jepang memaksa penduduk untuk menanam jarak guna diambil minyaknya. Akan tetapi pemanfaatan minyak jarak di masa itu hanya terbatas pada pelumas senjata saja. Ini jelas teknologi tepat guna sekaligus alternatif. Apalagi di masa-masa sekarang ini, di mana harga BBM naik-naik terus, meski di masa pemerintahan SBY diturunkan hingga tiga kali.

Tetapi siapakah penemunya? Seperti yang sudah disebutkan di atas, dia adalah seorang lelaki, putra Sumatera. Namanya Robert Manurung. Lahir di Onan Ganjang, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Pria ini tetap konsisten meneliti pirolisa biomassa—usaha mencairkan bahan bakar padat (biomassa) secara termal untuk menghasilkan bahan bakar cair, gas yang bisa terbakar, dan padatan berupa arang—seperti cahaya terang di ujung terowongan.

Ketekunannya berangkat dari pemikiran bagaimana membuat potensi alam Indonesia menjadi berkah yang berguna untuk masyarakatnya. Penelitiannya pada jarak pagar (Jatropha curcas L) memperlihatkan secara teknologi sederhana dan ekonomis memungkinkan mengutip minyak jarak untuk menggantikan solar.

Penelitian minyak jaraknya sudah dilakukan sejak 1997, berbarengan dengan rekan-rekannya di ITB (Institut Teknologi Bandung) dengan fokus ekstraksi minyak kelapa dan jarak. Setahun berselang, pada 1998—ketika Krisis Moneter melanda Indonesia—hasil rancangan ekstraksi itu sempat dipamerkan di Istana Kepresidenan di Jakarta Pusat.

Menyelam sekaligus minum air, itulah gambaran yang tepat dalam menggambarkan perjuangannya. Di samping menyelesaikan tiga jenjang pendidikannya S1 di Teknik Kimia ITB, S2 di Technology Asian Institute of Technology (Bangkok) dan S3 di Rijksuniversiteit Groningen (RuG, Belanda), Manurung juga mendalami struktur pelbagai minyak tumbuhan demi kesempurnaan temuan sebelumnya. Sayangnya, dia gagal mendapat dana Riset Unggulan Terpadu sebab dianggap tidak relevan. Justru RuG dari Belanda yang tertarik membiayainya.

Lantas mengapa jarak yang dipilih? Sebab jarak bisa tumbuh di tanah tandus. Hal ini sudah dibuktikannya, saat melakukan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, serta sejumlah pesantren di Jawa Barat. Hasil kerja sama ini memperlihatkan produktivitas buah hingga 30 kg per pohon per tahun sehingga keekonomisan mampu dicapai pula.

Selain itu, tanaman ini punya beberapa kelebihan. Di samping buahnya dapat menghasilkan minyak murni yang bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan, ampasnya bisa dimanfaatkan pula menjadi pupuk. Apabila dibanding-bandingkan presentasenya mencapai 40 persen untuk minyak, 60 persen untuk pupuk.

Nah, ternyata ada dendam yang positif juga. Dan jika disama-samakan dengan bohong putih dan bohong hitam, maka dendam yang satu ini digolongkan ke dalam dendam putih. Anda ingin menirunya? Silakan mendendam.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Konstruksi Fondasi Sarang Laba-laba

20 February 2009

Mendengar kata laba-laba, apa yang langsung terbayang di dalam kepala kita? Kebanyakan dari orang mengalihkan pikirannya menuju pelbagai hal yang memang terkenal. Spiderman. Pahlawan super pembela kebenaran, pembasmi kejahatan. Tarantula. Hewan mematikan dari Amerika dan Australia. Atau sarang laba-laba yang lemah dan mudah rusak itu. Memang semua bayangan itu tentu saja tak salah. Sebab, pikiran kita sudah familier dengan informasi semacam ini, sehingga ketika kata laba-laba disebutkan, segera saja pikiran kita melayang ke sana.

Tapi ini bukan bukan soal laba-laba dalam kapasitasnya sebagai binatang. Ini soal konstruksi fondasi laba-laba yang ditemukan oleh duo orang Indonesia tahun 1976 silam. Adalah dua orang Indonesia, Ir. Sutjipto dan Ir. Ryantori, yang menemukannya. Temuan ini berangkat dari sebuah penelitian sebagai solusi terhadap dilema yang selalu muncul, sewaktu merencanakan gedung berketinggian tanggung yang butuh fondasi dangkal—macam gedung berlantai satu sampai delapan.

Tersendatnya pembangunan sebuah gedung merupakan salah satu contoh masalah yang muncul dalam dunia konstruksi. Contoh lainnya ialah timbulnya dilema waktu merencanakan konstruksi yang dihadapkan pada keadaan tinggi atau berat gedung tanggung, daya dukung tanah permukaan rendah atau letak tanah keras cukup dalam. Diberi nama konstruksi sarang laba-laba atau disingkat KSLL karena bentuknya yang mirip sarang laba-laba. Sistem fondasi sarang laba-laba hasil karya bangsa Indonesia asli itu, tak hanya menjawab kebutuhan dunia teknologi konstruksi, dari sistem fondasi yang dari sisi ekonomis (segi biaya) murah. Dalam perhitungan, biaya bisa dihemat hingga 50 persen.

Dari sisi kecepatan waktu, sistem KSLL ini sangat efisien, sebab menerapkan prinsip ban berjalan sehingga pengerjaannya pun lebih cepat ketimbang sistem konstruksi lain. Selain itu sistem KSLL mempunyai multi guna.

Melalui berbagai studi dan diskusi, KSLL terus dikaji. Dari sebuah lokakarya di kota Bandung, Jawa Barat, mengukuhkan bahwa fondasi sarang laba-laba sebagai salah satu alternatif solusi fondasi, dapat dipertanggung jawabkan dan layak dikembangkan. Kini, lisensi untuk pemasaran sistem fondasi KSLL ini dipegang oleh PT. Katama Suryabumi.
Dari 1000 lebih bangunan yang menggunakan sistem KSLL ini, hingga saat ini belum terdapat bangunan yang mengalami keretakan berarti. Ini berarti KSLL memberikan stabilitas yang tinggi, meski terjadi guncangan. Risiko penurunan yang tidak merata, dapat dieliminasi sampai mendekati angka 0. Sistem ini mampu membuat tanah menjadi bagian dari struktur fondasi.

Sang penemu teknik fondasi sarang laba-laba ini, yaitu Ir. Sutjipto, berikut-berikutnya justru lebih populer sebagai politisi daripada populer di bidang konstruksi keahliannya. Pilihannya dalam berpolitik, telah mengantarkan lulusan Insitut Teknologi Surabaya (ITS) yang kemudian menemukan teknik fondasi sarang laba-laba, ini menjadi seorang politisi kaliber nasional. Ahli konstruksi yang temuannya antara lain dipakai di Bandara Hang Nadim, Batam, ini akhirnya lebih mengalir bicara politik ketimbang bidang konstruksi yang juga digelutinya.

Memang, kehidupan politik bisa jadi berawal dari keaktifannya berorganisasi sejak di SMA tahun 1964 yang terus berlanjut sampai ia kuliah di ITS Surabaya. Pada 1986, Sutjipto mulai terjun aktif di Partai Politik sampai mengantarkan pria kelahiran Trenggalek menduduki jabatan sekretaris jendral partai dan kemudian juga pernah dipilih sebagai Wakil Ketua MPR RI.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Satelit Garuda-1

Februari 2000, sebuah satelit anyar diluncurkan, menempati lintasan imajiner yang terletak 36.000 km di atas permukaan bumi. Nama satelit itu adalah satelit Garuda-1. Membikin suprise di dunia pertelekomunikasian, tak saja di Indonesia namun di dunia, yang terlonjak dan kontan menciut nyalinya.

Terang saja dunia tercengang dengan kemampuan Indonesia ini. Sewaktu itu—dapat dikatakan—seluruh satelit telekomunikasi dunia diluncurkan pada orbit rendah (600-1.000 km) dan menengah (7.000 – 10.000 km). Satelit-satelit ini punya kelemahan. Pertama, daya jangkaunya yang terbatas. Padahal untuk bisa meliput sebelah belahan dunia membutuhkan sekira 60 satelit rendah atau 12 satelit berorbit menengah.

Di samping itu, ada kelemahan lainnya, yaitu pengoperasian sistem telekomunikasi satelit pada telepon bergerak kala itu pesawatnya tidak praktis. Bayangkan perangkat telepon bergerak yang digunakan berkomunikasi via satelit punya ukuran hampir sebesar kopor buat traveling. Pengoperasiannya juga memerlukan stasiun bumi, berupa antena parabola berdiameter satu meter.

Demikian pelepasan satelit Garuda-1 ke atas langit jelas menambah gengsi politik dan ekonomi. Di samping sistem FSS (Palapa dan Telkom), Indonesia menjadi salah satu negara pengguna dan pemilik satelit terbesar di kawasan Asia.

Penggagasnya? Jangan heran kalau disebutkan, dia tak lain tak bukan adalah putra Indonesia sendiri. Dia mempunyai nama Adi Rahman Adiwoso. Berbekal keahliannya di bidang telekomunikasi satelit, dia menghasilkan teknologi sekaligus produk baru yang belum ada di pasaran dunia. Teknologi ini memungkinkan komunikasi via handphone mampu dilakukan di mana saja. Meski jaringan kabel belum menjangkau dan telepon seluler konvensional kehilangan sinyal, sistem telekomunikasi temuannya akan tetap “on”.

Inovasi yang dibikin Adi tak cuma memperluas cakupan satelit melainkan memperkecil dimensi pesawat telepon bergerak berbasis satelit ini pula. Daya pancar yang dipunyai Garuda-1 bisa mencapai sebesar 10 kw, karenanya sinyal Garuda-1 dapat diterima dengan handphone yang sekaligus merupakan stasiun bumi. “Inilah stasiun bumi terkecil dan termurah yang pernah dibuat manusia”, tukas Adi sambil menunjukkan telepon genggam Ericsson R190. Jaringan telepon satelit yang menginduk ke Garuda-1 itu selanjutnya dikemas dengan brandmerk Byru.
Kinerja telepon ini sangat bergantung pada Garuda-1, yang pengendali pengontrol satelit ada di Pulau Batam. Di situ juga dibangun pusat kendali jaringan (Network Control Center—NCC), yakni pengatur arus percakapan dengan panel pengaturnya.

Gagasan Adi itu tak diwujudkan sendirian. Manusia memang tak bisa kerja sendirian, butuh orang lain untuk membantunya berhasil. Maka ia menjalin kerja sama dengan beberapa pihak. Sebut saja misalnya, ia membikin satelitnya di Hughes Aircraft—tempat ia pernah makaryo), Amerika Serikat dan R190-nya dipesan ke pabrik handphone kenamaan, Ericsson, Swedia. Toh demikian, blue print-nya tetap dibikin sendiri oleh Adi maupun timnya di PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), yang didirikan Adi dan Iskandar Alisjahbana (guru besar dan mantan rektor ITB) pada 1991. Lahirlah Byru dan Pasti–merek dagang sistem telepon satelit buatan PSN.
Bersama perangkat telekomunikasi PSN ini, Byru, Pasti (Pasang Telepon Sendiri) dan jasa internet Bina (Balai Informasi Nusantara), penduduk daerah yang belum terjangkau jaringan telepon kabel dan nirkabel tetap bisa bertelepon-ria dan seluncur di dunia maya. Pada akhir 2003, PSM mengklaim sudah membebaskan 2.975 desa di 40 kabupaten di Indonesia dari isolasi telekomunikasi dengan perangkatnya yang berbasis satelit.

“Selama di atas kepala terlihat langit, komunikasi lewat telepon genggam bisa dilakukan,” kata Adi—Chief Executive Officer & President Director PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN), yang juga menduduki jabatan yang sama di Asia Cellular Satelite (ACeS).
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...