Jual Krisan Lebih Untung

20 October 2010

Ketimbang padi budidaya krisan jauh lebih menguntungkan. Alasan ekonomis itulah yang mengiming-imingi benak petani muda di Desa Hargobinangun, Pakem, Yogyakarta. Bayangkan, dari hitung-hitungan ekonomis di lahan seluas 200 m2, budidaya padi cuma meraup untung sekira 300 ribu rupiah per musim tanam. Sementara budidaya krisan mampu meraup sepuluh kali lipat lebih banyak. Ini jelas menggiurkan.

Tahun 2005 merupakan tahun hoki bagi para petani muda itu. Karena tahun itu tepat paguyuban mereka yang bernama Klantum (Kelompok Tani Udi Makmur) berdiri. Tepat pula mereka didatangi BPTP Yogyakarta dan Balai Benih Bogor untuk diajak kerjasama uji inisiasi bunga krisan di DIY. Bagi para petani Klantum kedua momen ini tak dianggap biasa. Momen tersebut ditangkap sebagai peluang para petani Klantum agar taraf hidup mereka membaik.

Ada gawe begini, Dra. Tuty Arisuryanti, M. Sc. dimintai tolong. Diminta petani, Tuty menyanggupi. Lagipula Tuty sudah lama akrab dengan dunia riset. Naluri serta instingnya tentu peka terhadap hal-hal berbau teliti-meneliti. Apalagi wilayah uji inisiasi masih desa tempatnya tinggal. Di samping secara tradisi akademisi, dia merupakan bagian dari Civitas Akademi Fakultas Biologi UGM (Universtitas Gajah Mada). Tapi di luar semua itu, alasan dia mau melakukan riset ini, karena merasa punya tanggungjawab sebagai akademisi untuk menyebar-nyebar ilmunya.

Jadilah diutak-atiknya bunga krisan itu. Hasil risetnya dia kasih titel, ”Aplikasi Teknik Poliploidisasi dalam Peningkatan Kualitas Bunga Krisan Produksi Kelompok Tani Udi Makmur (Klantum), Dusun Wonokerso, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, DIY.” Tuty tidak sendiri menggarapnya. Dua dosen, Dr. Diah Rachmawati, M. Si. dan Dr. Budi Setiadi Daryono, M. Agr. Sc., ditambah lima mahasiswa diajak bekerja bersama-sama. Di tahun yang sama terbentuklah tim ilmuwan krisan dari Fakultas Biologi UGM.

Menurut kacamata tim, bunga krisan yang ada selama ini masih rata-rata. Artinya, mahkota, buah, biji, daun, dan batang bentuknya belum cukup optimal seperti harapan. Di pasaran, bentuk seperti itu jelas kurang memenuhi selera pasar. Makanya utak-atik ini bertujuan meningkatkan kualitas bibit krisan indukan. Teknik utak-atik ini sendiri namanya poliploidisasi. Penerapannya relatif gampang karena banyak dimanfaatkan di pertanian.

Istilah teknik poliploidisasi adalah suatu metode untuk menghasilkan sel poliploid. Di mana perubahan jumlah kelipatan kromosom dasar yang diakibatkan kelainan pada saat pembelahan sel. Sebuah sel disebut sel poliploid apabila memiliki jumlah kromosom melebihi diploid (2n).

Poliploid didapat melalui pemberian kolkisin, yang berpengaruh menghentikan aktivitas benang-benang pengikat kromosom (spindel) sehingga kromosom yang telah membelah tidak memisahkan diri dalam anaphase, baik pada pembelahan sel tumbuhan maupun hewan. Dengan terhentinya proses pemisahan dalam metaphase mengakibatkan jumlah kromosom dalam suatu sel meningkat, yang hampir selalu diiringi pertambahan ukuran jaringan dan organ tertentu, misal stomata, polen, dan biji.

Cara pemberian kolkisin pada krisan mudah saja. Kolkisin sebesar antara 0,01-1,00% dipakai buat merendam bibit krisan indukan selama 6-72 jam. Menurut hasil riset, perlakuan kolkisin dalam waktu yang makin lama makin menghasilkan pertambahan genom dengan deret ukur lebih dari 2n yaitu 4n, 8n, 16n, dst. Karenanya krisan yang awalnya biasa-biasa saja berubah karakter fenotip diameter bunga, tinggi tanaman, diameter batang, panjang dan lebar daun ke-5 dan ke-10 dari pangkal bunga.

Pun demikian, keberhasilan ini mengalami kendala. Saat ini kolkisin diambil dari umbi tanaman kolkisin autonale yang asalnya dari negara subtropis. Dengan kata lain impor. Dan barang impor sudah tentu mahal. Beruntung, UGM punya stok mahasiswa dengan kemampuan di atas rata-rata. Hatta, dikembangkanlah zat alternatif pengganti kolkisin dari kembang tapak dara. Dan itu pun berhasil. Bahkan hendak dibuatkan patennya.

Atas bantuan dari BPTP DIY dan BALITHI Cianjur, berupa rumah plastik uv seluas 240 m2, penanaman uji coba 4000 krisan dilakukan pada Mei 2005, dipanen 90 ikat (900 batang) krisan selama musim tanam (3 bulan). Seiring perkembangan waktu, budidaya krisan semakin berkembang. Hingga laporan risetnya ditulis tahun 2008, budidaya krisan di Desa Hargobinangun telah mencapai luasan lahan sebesar 2800 m2 dengan kapasitas tanam sekira 150000 batang per musim tanam. Apabila dibanding-bandingkan dengan awal dulu, dalam jangka waktu 2,5 tahun, kapasitas produksi telah naik menjadi 37 kali lipat (3700%). Luar biasa!

Meski sudah tidak lagi fokus di tanaman dan beralih ke ikan, tetapi Tuty bersama timnya yang dipegang Budi Setiadi Daryono, hendak mengembangkan krisan untuk nilai ekonomis lain. Misal, krisan spa dan krisan teh.
Continue Reading...

Daun Ajaib Penyambung Nyawa

Belum ada literatur yang bisa menjelaskan mengapa tanaman bernama Latin Gynura Procumbens (Lour) Merr ini disebut Sambung Nyawa. Mungkin karena manfaatnya dalam meredam beragam penyakit, sehingga bisa membuat umur panjang. Yang pasti, sampai sekarang tanaman yang punya nama lokal Ngokilo ini terus dimanfaatkan sebagai pereda beragam penyakit. Pun industri nasional telah lama meliriknya untuk dijadikan ekstrak atau bahan dasar beragam ramuan dalam kemasan.

Kenyataan ini sebenarnya bermula dari pengakuan yang banyak beredar di tengah masyarakat. Sudah sejak zaman dulu orang memanfaatkan Sambung Nyawa untuk beragam penyakit, dari maag, kolesterol tinggi, hipertensi, hingga kanker. Untuk mengkonsumsinya tak dibutuhkan kerepotan. Tinggal dicuci bersih-bersih, lantas langsung dilalap bisa, dicocol sambal pun boleh. Jika ingin variasi rasa, bisa juga dijus, ditumis, atau dikukus.

Berbagai pengakuan yang muncul di tengah masyarakat akan khasiat Sambung Nyawa, kemudian menantang kalangan ilmuwan maupun akademisi untuk membuktikan fakta secara ilmiah. Salah satunya Dr. drg. Dewi Agustina M.D.Sc. Periset yang berasal dari lingkungan Universitas Gajah Mada, Fakultas Kedokteran Gigi itu mempunyai kertas kerja bertajuk, ”Efek Antikarsinogenesis Ekstrak Etanolik Daun Gynura Procumbens (Lour) Merr pada Mukosa Lidah Tikus Sprague Dawley yang Diinduksi 4 Nitroquinoline 1-Oxide”.

Sebetulnya, Dewi bukan yang pertama kalinya meneliti. Di Indonesia, penelitian tentang khasiat daun Sambung Nyawa sudah banyak dilakukan para ahli Indonesia, bahkan negara lain, macam Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan. Hanya saja fokus yang diteliti Dewi ialah pengaruh ekstrak daun Sambung Nyawa untuk menghambat laju kanker mulut. Dan bukan yang lain-lain.

Penelitian Dewi dilakukan pada 92 tikus jantan dewasa umur 3 minggu, yang dibaginya ke dalam 11 kelompok. Kelompok I, IV, dan VII sebagai kontrol positif 4NQO; kelompok II, V, VIII untuk melihat efek preventif ekstrak etanolik daun Gynura Procumbens; kelompok III, VI, IX untuk melihat efek profilaksisnya; dan kelompok X, XI sebagai kontrol positif ekstrak etanolik daun Gynura Procumbens dan kontrol negatif.

Demi mengaktivasi sel-sel kanker, Dewi membuat rekayasa karsinogenesis pada tikus-tikus percobaan. Untuk mempermudah istilah, kita sebut karsinogenesis ialah suatu agen. Di mana agen ini mampu mengubah genetik sel. Bentuknya biasa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyiaran) atau sinar matahari. Perekayasaan model begini umum terjadi dalam setiap penelitian yang ada kelinci percobaannya. Caranya, lidah tikus-tikus putih diolesi semacam obat karsinogenesis tadi. Nama kimia obat itu 4 Nitroquinoline 1 Oxide, disingkat 4NQO. Apabila dilakukan berulang-ulang akan muncul lesi DNA yang berupa mutasi gen H-ras. Berikutnya yang terjadi, sel-sel normal akan berubah menjadi reaktif.

Nah, lantaran sudah reaktif, terjadi penghambatan apoptosis dan diferensial sel. Ketika keduanya dihambat, terjadi apa yang biasa dinamai dalam dunia medis, proses proliferasi sel yang berlebihan. Fenomena tersebut dapat disebabkan aktivisasi onkogen maupun inaktivasi gen supresor tumor, di antaranya disebut gen supresor tumor p53—sebuah gen supresor tumor yang diidentifikasikan banyak menjangkiti manusia. Pada tahap ini sel sudah terinfeksi kanker, biasa pula disebut tahap inisiasi. Suatu tahap perubahan dalam bahan genetik sel yang bisa memancing sel menjadi ganas.

Selama 36 minggu Dewi menunggui risetnya dengan tekun. Tiap hari, dia harus mengecek perkembangan tikus-tikusnya, yang ditaruhnya di Fakultas Farmasi dan dirawat dengan bantuan seorang asisten. Hasilnya? Ketekunan selama 36 minggu, bolehlah berbuah menggembirakan. Dia berkesimpulan bahwa ekstrak daun Sambung Nyawa dapat menghambat kanker mulut di fase inisiasi, baik bersifat preventif maupun prolaksis, dengan menginduksi ekspresi P21WAFI melalui jalur yang tergantung wt P53.

Hal dimungkinkan terjadi, karena daun Sambung Nyawa mempunyai senyawa flavonoid yang mempunyai sifat antioksidan. Jelasnya senyawa tersebut merupakan metabolite scavenger dan penekan ekspresi onkogen seperti H-ras dan di sisi lain dapat memacu ekspresi wt P53.

Sayangnya, jika kanker sudah berada di tahap promosi (sel kanker yang sudah berubah ganas) dengan penginduksian 4NQO 16 atau 24 minggu, sentuhan ekstrak daun Sambung Nyawa tidak akan berarti apa-apa alias tidak bakal efektif. Kemungkinannya disebabkan akumulasi kerusakan DNA yang terjadi terlampau kompleks dan radikal bebas lebih banyak. Akhirnya, kemampuan flavonoid me-metabolite scavenger sudah over load.

Kesimpulan memang sudah diambil, tetapi penelitian ini belum mencapai titik akhir. Dewi menandaskan, dibutuhkan pengembangan lebih lanjut untuk menguatkan dan mendukung kesimpulan penelitian ini.
Continue Reading...

Peran Optimasi Air Irigasi

Indonesia terancam mengalami krisis pangan? Gejala ini setidaknya sudah dirasakan sejak tahun 2004 karena multi faktor. Menyempitnya lahan pertanian akibat alih fungsi untuk perumahan, atau tempat usaha adalah salah satu penyebab. Di samping kurangnya perhatian pemerintah dalam menangani sektor irigasi dan waduk.

Banyaknya kerusakan saluran irigasi mengindikasikan gejala krisis pangan akan meningkat di tahun-tahun mendatang, jika pemerintah tidak cepat menangani permasalahan ini. Dibandingkan negara berkembang di Asia, sektor irigasi pengairan di Indonesia memang menempati peringkat di bawah Thailand. Dan sebagai negara agraris, Indonesia mutlak membutuhkan irigasi untuk menunjang—tidak saja—sektor pertanian, tetapi juga sektor kesehatan, pariwisata, industri, dll.

Kekontrasan sangat terlihat nyata, ketika membandingkan sektor irigasi dengan sektor lainnya. Taruhlah, PLTA—yang sama-sama memakai air sebagai bahan utamanya. Di satu sisi, PLTA, tanpa mengonsumsi air, mendapatkan income lebih besar ketimbang irigasi. Di sisi lain, irigasi mendapatkan income nol besar, terkecuali iuran dari petani untuk membantu biaya operasional. Padahal mengoptimasi keduanya agar bisa harmonis sangat sulit.

Ini jelas ketimpangan. Akan tetapi, jika hitung-hitungan ekonomis dijadikan dasar acuan, bisa kacau. Artinya, sektor pangan Indonesia bisa hancur. Pengorbanan tentu harus dilakukan agar topangan semua pihak bisa tetap berjalan, maka itulah peran optimasi irigasi ini ada. Walaupun begitu, pendeknya data dan laporan yang buruk yang dimiliki Dinas Irigasi dan Air Indonesia membuat kendala tersendiri.

Namanya Rachmad Jayadi. Dosen sekaligus peneliti Fakultas Teknik Sipil Universitas Gajah Mada yang lahir di Surakarta, 24 Desember 1962. Pada 2008, dia pernah melakukan penelitian optimasi irigasi dengan contoh kasus Waduk Sermo. Penelitian yang diberi judul ”Kaji Ulang Rule Curve Waduk Sermo untuk Optimasi Pemanfaatan Air Irigasi”, bertujuan mendapatkan Rule Curve dan Operating Rule Waduk Sermo berdasarkan hasil analisis ketersediaan air dan pola kebutuhan air irigasi.

Penelitian ini bukan yang pertama kalinya dilakukan. Beberapa peneliti lain juga pernah menerapkan teorinya di Waduk Sermo ini. Pembedanya, kaji ulang yang dilakukan Rachmad menggunakan model simulasi dan algoritma optimasi. Lagipula tiap-tiap waduk memiliki karakteristik sendiri terkait kondisi geografisnya. Pada penelitian terakhir telah dilakukan pembuatan perangkat lunak operasi Waduk Sermo berdasarkan Rule Curve lama dan analisis kapasitas suplai menggunakan metode neraca air global dan simulasi hitungan reliabilitas operasi waduk oleh CV. Erlangga Pura tahun 2005.

Dan pada penelitian ini prosedur pemutakhiran Rule Curve akan dilakukan dengan pendekatan simultan model simulasi dan optimasi dengan harapan hasilnya akan lebih teliti dan sesuai dengan karakteristik perubahan ketersediaan dan pola kebutuhan air.

Hasil penelitian ini memberikan kesimpulan umum dua hal penting tentang potensi pemanfaatan air Waduk Sermo. Pertama adalah bahwa kapasitas pemenuhan air irigasi tidak cukup untuk memberikan suplesi air pada seluruh areal tanam, yaitu hanya sekitar 53%. Hal penting kedua adalah masih dimungkinkannya upaya pemutakhiran Rule Curve operasi Waduk Sermo untuk pengaturan air irigasi dengan indikator nilai rerata faktor k, yaitu rasio antara release nyata terhadap kebutuhan air.
Continue Reading...

Mimpi Sang Alkemi

Mengubah kayu menjadi roti. Mengubah arang menjadi intan. Mengubah air menjadi hidrogen. Bisa jadi tak lagi menjadi hal mustahil dan sihir. Dunia sains, lebih tepatnya, dunia kimia manusia sedang berupaya menggapainya. Istilah bahasa Indonesianya teknologi penggapaian ini disebut nanoteknologi.

Nanoteknologi adalah sebuah perekayasaan material dalam ukuran nano. Nano yang dimaksud di sini berukuran dari satu hingga seratus nanometer. Materi—pada ukuran tersebut—memiliki fenomena dan sifat yang khas, yang berbeda dengan sifat dalam ukuran yang istilahnya material (balk). Intinya, nanoteknologi merupakan suatu pengkajian atau pengeksploitasian terhadap material dengan ukuran nano.

Teknologi ini penerapannya bisa dilakukan di pelbagai bidang. Peran teknologi nano dalam pengembangan IT sudah tak diragukan lagi. Bertambahnya kecepatan komputer, meningkatnya kapasitas hardisk dan memori, semakin kecil dan bertambahnya fungsi telepon genggam, merupakan contoh-contoh kongkret produk teknologi nano di bidang IT. Teknologi mini ini punya slogan: small, high efisient, green.

Di Indonesia perkembangan teknologi nano cukup menggembirakan. Setidak-tidaknya, menurut Nurul Taufiq Rochman, jika dihitung-hitung dengan jari Indonesia memiliki doktor nano sebanyak lebih dari seratus orang. Salah seorang yang patut dicatat dalam sejarah per-nano-an Indonesia ialah Yateman Ariyanto. Dosen sekalian ilmuwan kimia dari Fakultas MIPA Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini mempunyai sebuah penelitian tentang nanoteknologi.

Perekayasaan Clay

Yateman mengarahkan penelitiannya ke perekayasaan clay. Alasannya metode nanoteknologi yang cocok diterapkan di Indonesia adalah metode assembling. Karena Indonesia memiliki kekayaan SDA mineral dan hayati dalam jumlah yang cukup besar. Senyawa-senyawa dari SDA mineral dan hayati (clay alam) ini sudah secara alamiah sudah dalam keadaan berpori.

Pori tersebut disebut lubang dan lubang-lubang ini bisa dimanfaatkan sebagai wadah untuk mencetak senyawa tertentu, yang dimasuki logam tertentu (logamnya disebut katalis). Perekayasaan dalam riset Yateman adalah bagaimana mengoptimasi pori di dalam clay agar bisa diperbesar. Pori di dalam clay alam ukurannya sebesar 30-60 square meter kuadrat per gram.

Clay alam itu memiliki sifat sweling. Jadi layernya bisa diubah-ubah, clay tersebut bisa diubah-ubah kemudian diberi pilar. Sehingga lubangnya membesar dan juga ada pilarnya. Dengan suatu proses, clay itu bisa dibesarkan, yang semula-mula hanya 30-70 bisa dibesarkan hingga 300. Bahkan terakhir sampai 600 skuare meter kuadrat per gram. Namanya Heksagonal Mesotols Clay (HMC), yang porositasnya 600-700 sebesar square meter kuadrat per gram, jadi naik 10-20% dari ukuran mula-mula. Gunanya?
Salah satu adalah untuk menyaring. Jadi akhirnya HMC bisa digunakan sebagai penyaring molekul-molekul besar terlarut. Jadi ini istilahnya dalam molukuler dalam ukuran besar. Nah, lantas kalau lubang di pori-pori tadi diisi titanium bisa digunakan untuk menghilangkan zat warna dengan bantuan sinar matahari. Sebagai fotokatalis.

Fenomena ini, fenomena hilangnya warna ini, itu sebetulnya merupakan dasar ide mengubah air menjadi gas hidrogen (H2). Sehingga mimpinya itu air menjadi H2 dan H2 menjadi sumber energi dengan memanfaatkan sinar matahari. Entah, kapan bisa terwujud, karena banyak kendala dalam perkembangan teknologi ini lebih lanjut di Indonesia.

Nanoteknologi bisa dibagi-bagi dalam empat generasi. Generasi pertama, menurut Nurul, pembuatan nanopartikel. Tak perlu teknologi tinggi untuk membuatnya. Misalkan, nanopartikel ditaburkan ke dalam kandungan kosmetik, macam bedak pelindung kulit dari sinar matahari (UV) atau minuman suplemen yang diberi partikel nano sehingga kandungannya lebih baik. Generasi kedua, meningkat pada teknologi assembling dari partikel nano. Misal, pembuatan layar monitor, menjadikannya lebih terang. Pembuatan chip komputer, atau memori handphone dengan ukuran ringan berkapasitas tinggi.

Generasi ketiga, meningkat lagi dan membutuhkan material nano dengan presisi yang sangat tinggi. Contohnya, membikin suatu sistem yang diinjeksikan ke tubuh manusia untuk membunuh sel kanker. Sementara generasi keempat masih berupa impian adalah rekayasa molekul (nanomolekuler), di mana mesin nano bakal mampu mengubah-ubah benda, termasuk membuat kayu menjadi roti atau arang menjadi intan. Bahkan, sudah ada khayalan mesin pembuat semua jenis barang. Termasuk "khayalan gila" menciptakan manusia sungguhan.

Yah, teknologi ini serupa legenda Alchemist yang mampu mengubah bentuk benda-benda tak berharga yang disentuh menjadi emas. Hanya saja masih berwujud impian. Aplikasi nanoteknologi tentu akan membikin revolusi baru dalam dunia industri. Karena itu, kita tunggu saja mimpi sang alkemi terwujud.
Continue Reading...

Mainan Bertenaga Jeruk

18 October 2010

Berkat jeruk lemon, kontingen Spektronics menggondol gelar juara ketiga dalam Chemical Engineering Car Competition di Taiwan, 4 Oktober 2010. Tim yang beranggotakan empat mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, itu - Hardiyanto Dwi Ratno Wijaya, Donnyanto, Yeremia Yehuda Lepar, dan Rizka Nursyamsiah Ratfiandini - berhasil mengubah sari buah menjadi sumber energi mobil mainan kreasi mereka.
Hardiyanto mengatakan energi berasal dari kandungan asam yang diubah melalui reaksi eletrokimia. Sari lemon dicampur dengan tembaga sulfat (CuSO4) dan larutan primer ZnSO4. Yang jadi masalah, air jeruk hanya menghasilkan 0,69 mikroampere atau seperseribu baterai berkekuatan 1,5 volt.
Melalui serangkaian percobaan, Spektronics akhirnya menemukan bahan baru yang mendongkrak tingkat energi sari jeruk hingga seribu kali. Alhasil, air perasan empat jeruk yang dicampur dengan larutan tadi menghasilkan energi 3 volt 3 ampere, setera dengan dua baterai. Namun mereka menyembunyikan formula dan komposisinya. "Bahannya sangat alami, bisa dikonsumsi manusia," kata Hardiyanto.
Larutan 200 mililiter ini lalu dimasukkan ke 12 tabung bekas rol film. Cairan ini dialirkan ke bejana dengan ukuran serupa yang disebut stoping mechanism. Dalam wadah ini terdapat alumunium elektroda yang menghasilkan aliran positif dan negatif. Dengan kabel, listrik dikirim ke dinamo untuk menggerakkan roda ketika mainan dihidupkan.
Menurut Hardiyanto, energi 12 tabung itu mampu menjalankan mainan berdimensi 30 x 40 x 18 sentimeter tersebut sekitar satu jam, tergantung tingkat kesulitan medan. Kecepatan mobil-mobilan yang juga meraih The Best Design Modeling dalam perlombaan yang sama itu mencapai 16 meter per menit. Keberhasilan ini membuat Spektronics mengantongi tiket untuk mengikuti kejuaraan serupa di Malaysia pada April tahun depan.

Alur Baterai "Rasa Lemon":
  • Campurkan perasan air jeruk lemon dengan tembaga sulfat dan larutan primer ZnSO4 serta bahan aditif.
  • Masukkan ke 12 tabung plastik.
  • Hubungkan dengan tabung stopping mechanism.
  • Dengan kabel, hubungkan ke dinamo.
  • Nyalakan.
:: Tempo, 24 Oktober 2010 atau klik di sini untuk melihat online ::
Continue Reading...

Charles F. Richter

01 October 2010

Charles Francis Richter was born in Ohio in 1900. After his mother divorced his father, she moved the family to Los Angles in 1909. Aprecocious student, Richter entered the University of Southern California at sixteen and transferred to Stanford University a year later, majoring in physics. He graduated in 1920 and finished a doctorate in theoretical physics at the California Institute of Technology in 1928.

While Richter was a graduate student at Caltech, Noble laureate Robert A. Millikan lured him away from his original interest, astronomy, to become an assistant at the seismology laboratory. Richter realized that seismology was then a relatively new discipline and that he could help it mature. He stayed with it—and Caltech—for the rest of his university career, retiring as professor emeritus in 1970. In 1971 he opened a consulting firm—Lindvall, Richter and Associates—to assess the earthquake readiness of structures.

Richter published more than two hundred articles about earthquakes and earthquake engineering and two influential books, Elementary Seismology and Seismicity of the Earth (with Beno Gutenberg). These works, together with his teaching, trained a generation of earthquake researchers and gave them a basic tool, the Richter scale, to work with. He died in California in 1985.

:: Americaninventors ::
Continue Reading...