See Kalian Semua di Jakarta

27 October 2007

Jam tujuh besok, gw akan berangkat bersama enam kawan lainnya go to Jakarta (cailah, nampaknya senang nian gw ke Jakarta yah?). Keberangkatan gw plus anak2 kali ini karna ada kerjaan gede dalam menuliskan sejarah bangsa ini (alaaaaah...sok). Yo geto aje...kelak kalo bukunye t'lah tercetak, akan gw kabari kalian semua penggemar noel blog (hoek-hoek-syor-mo-muntah).

Oiya, sebenernya ada cerita lucu yang pengen gw cerita ma lu2 pada, yah tentang CD
Continue Reading...

Abdurrachman Baswedan

24 October 2007

Khazanah pers sejarah Indonesia telah mencatatnya sebagai salah seorang yang memiliki peran di kancah percaturan pers Indonesia dalam zaman pergerakan dan masa setelah Indonesia merdeka. Orang tersebut adalah Adurrahman Baswedan. Seorang pria kelahiran Bangil, Jawa Timur, 18 September 1908. Baswedan mempunyai darah keturunan Arab. Karakternya khas; sebagai manusia yang dilahirkan zaman pergerakan, dia cepat panas dan penuh vitalitas. Pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah, Ampel, Surabaya dan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta namun tidak rampung, tahun 1971.

Baswedan merupakan seorang jurnalis terkemuka dalam memainkan peranannya dalam mengusung tema persamaan antara orang-orang peranakan Arab dan orang-orang pribumi dalam masyarakat Indonesia yang luas. Pandangannya luas sebagai seorang jurnalis maupun politikus yang memainkan peranan di zaman pergerakan. Baswedan merupakan sosok unik yang pernah ada dalam sejarah Indonesia yang muncul diantara masalah masyarakat keturunan Arab.

g...Baswedan's life and career form a unique entry in the history of the problems that the Hadhrami community has experienced, both in the Dutch East Indies and in Indonesia.”
Sejak berusia 17 tahun, pada tahun 1925, Baswedan masuk Islam sebagai mubaligh Muhammdiyah, menyebarkan luaskan ajaran ke-Muhammadiyah-an serta ke-Islam-an Pula mencatatkan dirinya sebagai anggota Jong Islamieten Bond, sebuah organisasi pemuda Islam Indonesia terpelajar. Salah satu peran yang diakui memiliki pengaruh dalam arah perubahan sejarah bangsa Indonesia adalah ketika A.R Baswedan ini mendirikan PAI (Partai Arab Indonesia) di tahun 1934. Partai PAI ini secara tegas memberikan ajaran bagi para anggotanya bahwa Indonesia adalah tanah tumpah darah.

Sebagai seorang pendobrak pada masanya, Baswedan menyadari penyebaran gagasan yang efektif dapat dilakukan melalui surat kabar, baik majalah maupun koran. Intinya melalui tulisan. Karena itu pulalah, pada tahun 1932, Baswedan masuk salah satu jajaran anggota redaksi harian Tionghoa-Melayu di Surabaya, yaitu Sin Tit Po. Pimpinan Sin Tit Po bernama Liem Koen Hian, seorang peranakan Tionghoa yang sepaham dengan jalan pikirnya. Yaitu bahwa tempat kaum peranakan bukanlah di negeri leluhur sana, melainkan di Indonesia ini.

Antara rentang waktu 1932-1934, Baswedan beberapa kali keluar-masuk dunia redaktur surat kabar. Setelah keluar dari Sin Tit Po karena sudah tidak ada lagi kecocokan paham. Bersama Tjoe Tjie Liang dan Sjahranmual, Baswedan masuk ke harian Soeara Oemoem milik PBI (Persatuan Bangsa Indonesia, yang didirikan dr. Soetoemo) di Bubutan Surabaya. Para anggota yang baru bergabung di Soeara Oemoem tersebut dimanfaatkan untuk menulis mengenai nasionalisme yang dicita-citakan PBI. Cita-cita nasionalisme PBI itu sama dengan jalan pikiran Baswedan dan Liem Koen Hian; yakni kerjasama antar sesama bangsa Indonesia tanpa mempedulikan keturunan dan agama.

Selepas dari Soeara Oemoem, karena masalah kesehatan Baswedan hijrah ke Kudus, kemudian setelah sembuh pergi kembali ke Semarang. Sesampainya di sana, dia terjun kembali dalam dunia jurnalistik di surat kabar Matahari, sebuah harian yang isinya mendukung pergerakan nasionalisme dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Harian Matahari ini juga dipimpin oleh seorang peranakan Tionghoa bernama Kwee Hien Tjiat.

Semenjak muda Baswedan sudah memiliki keyakinan dan pendirian, bahwa tempatnya bukan dimana-mana kecuali di bumi Indonesia ini. Dan dia merasa Indonesia tempat dia dilahirkan; tempat dia hidup, dan Indonesia pula tempatnya berpulang. Oleh sebab itu, semangat hidupnya selalu diarahkan kepada perjuangan nasionalisme Indonesia.

Tanggal 1 Agustus 1934, harian Matahari Semarang memuat tulisan Baswedan tentang nasionalisme orang-orang peranakan Arab. Ia mengimbau orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli. ''Di mana saya lahir, di situlah tanah airku,'' kata lelaki itu. Abdur Rachman Baswedan memang peranakan Arab, walau lidahnya pekat Jawa, bila berbicara. Dalam artikel itu terpampang foto Baswedan mengenakan blangkon. Karena ulahnya itu, orang-orang Arab─ketika itu terjadi pertikaian antara kelompok Al Irsyad dan Rabitah Alawiyah─berang padanya.

Pada Oktober 1934, setelah pemuatan artikel yang menghebohkan itu, ia mengumpulkan para peranakan Arab di Semarang. Lalu berdirilah Partai Arab Indonesia (PAI), dan Baswedan diangkat sebagai ketua. Sejak itu ia tampil sebagai tokoh politik. Harian Matahari pun ditinggalkannya. Padahal, ia mendapat gaji 120 gulden di sana, setara dengan 24 kuintal beras waktu itu. ''Demi perjuangan,'' katanya. Sebagai ketua PAI, Baswedan pindah ke Jakarta dan menerbitkan majalah Sadar. Majalah Sadar menanamkan pemahaman rasa kebangsaan di kalangan kaum peranakan Arab.

Sadar mampu bertahan hampir satu dekade kemudian ketika Jepang mendirikan pemerintahan militernya di Indonesia. Sama halnya dengan nasib surat kabar-surat kabar lainnya, Sadar menjadi korban pembredelan pemerintah militer Jepang. Selama masa pendudukan Jepang, pada awalnya Baswedan masih aktif menulis di koran Pemandangan sebelum akhirnya berganti nama menjadi Pembangun, yang pada akhirnya terpaksa bergabung dengan Asia Raya. Pada masa itu organisasi yang ada hanyalah Jawa Hookokai, Himpunan Kebaktian Rakyat seluh Jawa, dan Baswedan diangkat oleh Jepang sebagai anggota. Sesaat sebelum mundurnya Jepang di tanah air akibat serangan sekutu di Hiroshima dan Nagasaki, Baswedan diangkat menjadi anggota Chuoo-Sangi-Kai, semacam dewan penasehat yang anggota-anggotanya diangkat oleh penguasa dan dipilih oleh Syuu-Sangi-Kai, yaitu dewan karesidenan.

Tahun 1945 kemerdekaan Indonesia di kumandangankan, Baswedan mendapat tempat sebagai ketua pusat KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Karena masyarakat telah melihat sumbangsih yang diberikannya ketika masih dalam alam penjajahan. Anggota KNIP ini pada mulanya berjumlah 45 orang, sampai akhirnya anggota KNIP Pusat tadi menjadi Parlemen. Baru setahun Indonesia merdeka, pada tahun 1946, Baswedan ditunjuk sebagai sebagai Menteri Muda Penerangan. Jabatan tersebut masuk dalam jajaran kabinet Syahrir ke-3 dari partai Masyumi. Namun belum sempat melakukan apa-apa, kabinet Syahrir telah bubar.

Sekalipun demikian, Baswedan kembali diangkat sebagai anggota misi diplomatik RI ke Timur Tengah tahun 1947. Misi ini untuk menggalang konsolidasi dan mengadakan hubungan diplomatik dengan negara-negara Timur Tengah. Sebagai anggota misi ini di bawah pimpinan Haji Agus Salim, dia berhasil menerobos blokkade pertahanan udara Belanda. Dengan hubungan yang berhasil terjalin, maka negara-negara di Timur Tengah mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Sebelum turun dari kancah perpolitikan di tahun 1955, Baswedan pernah menyandang dua jabatan yaitu sebagai anggota Parlemen dan anggota Konstituante.

Seusai tahun 1950, dia aktif mengemudikan majalah Nusaputra. Dan bersama seorang kawannya, Natsir, aktif mengelola mingguan Hikmah di Jakarta sekaligus juga menjadi kontributor tulisan di pelbagai mass media. Meskipun telah turun dari arena perpolitikan tetapi jiwanya sebagai seorang jurnalistik tidaklah surut. Seterusnya oleh redaksi Mertju Suar di Yogyakarta, dia diminta menjadi penasehat dan pembantu redaksi. Di samping tetap menjabat sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamyah Indonesia Wilayah Yogyakarta.

Tidak sempat merampungkan autobiografinya, Abdur Rahman Baswedan meninggal dunia, dalam usia 78 tahun, pada Maret 1986. Di rumahnya di Jalan Taman Yuwono 19, Yogyakarta.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Si Kancil Kecil, Adam Malik

Adalah Adam Malik, seorang laki-laki dari Pemantang Siantar, Medan, Sumatra Utara yang lahir 22 Juli 1917. Sekitar tahun 1910-an merupakan dekade pertama pergerakan kebangsaan dalam arti yang sesungguhnya. Pada dekade ini muncul beberapa organisasi pergerakan yang memberikan dasar-dasar bagi pola-pola dan arus aliran pergerakan dua dekade berikutnya.

Terbentuknya Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam, pendirian Boedi Oetoemo tahun 1908, serta IP (Indsische Partij) menguatkan indikasi tersebut. Di tengah-tengah suasana masa pergerakan inilah Adam Malik lahir ke dunia ini. Dan secara tidak langsung, mempengaruhi terbentuknya karakter Adam Malik yang memiliki watak keras dan cita-cita yang tinggi untuk menggapai impian.

Adam Malik memiliki ibu bernama Salamah Lubis dan ayah bernama Abdul Malik Batubara. Pada waktu itu, sebagai kaum pedagang orang tuanya tergolong orang kaya, sehingga dapat menyekolahkan Adam Malik di HIS (Hollandsch Inlandsche School). HIS merupakan sekolah rendahan Belanda Bumiputera di zaman Belanda, di mana diajarkan bahasa Belanda sejak kelas satu sampai kelas terakhir, kelas tujuh. Namun hanya sampai kelas lima saja, Adam Malik bersekolah HIS.

Walaupun Adam Malik tidak bersekolah lagi, setiap hari ia membantu ayahnya di toko. Selain pendidikan formal yang hanya sampai kelas lima, Adam Malik pernah masuk pesantren di Parabek, Bukittinggi. Masa kecilnya itu dihabiskannya dengan perbenturan langsung atas kehidupan keluarganya yang berkecukupan dengan kenyataan hidup kaum buruh perkebunan karet Pemantang Siantar. Sekitar tahun 1930-an, Sumatra dibanjiri oleh para buruh kontrak perkebunan karet. Saat itu, Abdul Malik memasok barangnya ke daerah perkebunan karet tersebut. Karena ketika gajian para buruh perkebunan tiba, mereka akan menghabiskannya untuk membeli keperluan. Saat itu Adam Malik turut serta bersama ayahnya. Persentuhan inilah yang membawa arti tersendiri dalam hati Adam Malik.

Adam Malik melihat kenyataan bahwa para buruh tersebut, meskipun menerima gaji, mendapatkan tekanan batin dan menderita fisiknya. Hal tersebut mengingatkannya pada ajarannya Haji Mucthar Lutfi dari PERMI (Pergerakan Muslim Indonesia) dan Rasuna Said (seorang tokoh pers Indonesia), pada waktu mengaji di Parabek dulu. Bahwa penindasan sesama manusia itu tidak dibenarkan oleh Tuhan dan ini mesti ditentang dan dihapuskan. Dalam proses sosialisasi politiknya, realitas kemiskinan ribuan kuli kontrak di Sumatra Timur, menggodanya untuk mempertanyakan mengapa ada hal seperti itu. Hal itu membawanya pada satu kata: penjajahan. Dengan demikian kata “penjajahan” (sebagai suatu konsep politik), segera masuk ke dalam pikirannya mendorongnya untuk lebih memahami maknanya dan akhirnya mendorongnya mengambil keputusan untuk terjun ke dunia politik.

Dalam jiwa muda Adam Malik, ia sudah terpikat beberapa ajaran dari tokoh favoritnya yaitu Ibrahim Gelar Sutan Malaka atau yang lebih dikenal dengan: Tan Malaka. Filsafat yang terkenal dari Tan Malaka adalah Materialisme-Dialektika. Tahun 1924, Tan Malaka (salah satu tokoh pergerakan yang ternama) membuat sebuah buku yang berjudul “Menuju Republik Indonesia”. Segera buku tersebut menjadi referensi kaum pergerakan di Indonesia. Tan Malaka memiliki arti tersendiri di mata Adam Malik dan kawan-kawan. Hal ini terbukti dengan dilahapnya bahan-bahan yang berasal dari PARI, yang dibentuk oleh Tan Malaka di Bangkok dengan tujuan membentuk Negara Indonesia Merdeka. PARI kemudian menjadi Proletaris Asia Republik Internasionale.

Setelah tahun 1927 membentuk PNI, tanggal Desember 1929, Sukarno dan tujuh pemimpin PNI lainnya dipenjarakan; September 1930 mereka diadili karena:
cikut serta dalam organisasi yang tujuannya melakukan kejahatan dan juga…dengan sengaja menyatakan diri mereka dalam kata-kata yang menganjurkan pengacauan ketertiban umum dan menumbangkan kekuasaan Hindia Belanda.

Hukuman yang dijatuhkan kepada mreka antara satu dan tiga tahun; Sukarno dihukum tiga tahun. PNI dinyatakan terlarang. Akan tetapi, ke depannya hukuman Sukarno dikurangi, pada tahun 1931, Sukarno dibebaskan dari penjara dan masuk kancah arena perpolitikan lagi. Partindo didirikan untuk menggantikan PNI yang telah dinyatakan terlarang. Dan pertengahan tahun 1933, Partindo telah mencapai jumlah 50 cabang dan 20.000 anggota.

Tahun 1931, sidang Dewan Rakyat (Volksraad) telah mengancam gerakan kebangsaan secara umum, sehingga akan menggunakan tangan besi dalam menghadapinya. Dua tahun kemudian, tanggal 1 Agustus 1933, dikeluarkanlah undang-undang yang kerap kali disebut Vergader Verbod. Pada intinya undang-undang tersebut isinya melarang para anggota masyarakat dalam bentuk apapun mengadakan musyawarah, rapat, diskusi secara terbuka tanpa izin dari pemeritah Hindia Belanda. Atas dasar itulah, tahun 1934, Adam Malik ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara selama dua bulan. Dalam suatu rapat di rumah Soetan Pangoerabaan Pane (ayah Sanusi Pane), yang dihadiri oleh tujuh orang undangan. Karena waktu itu Adam Malik menjabat ketua Partindo cabang Pemantang Siantar. Hal tersebut bisa dikatakan bahwa Adam Malik merupakan salah satu ancaman berbahaya bagi pemerintahan HindiaBelanda.

Sekeluarnya Adam Malik dari penjara, pada tahun itu juga, ia ke Jakarta. Di Jakarta, Adam Malik tinggal di bagian kota, yaitu di Buitentijgerstraar, tempat seorang kenalan yang juga pengikut Tan Malaka. Namanya Jahja Nasution yang mempunyai kantor Tata Usaha, yang pada akhirnya dibuang ke Boven Digul. Sekitar tahun 1936-an, pemerintah Hindia Belanda mengadakan penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang dianggap aktif dalam organisasi PARI dan para pengikut Tan Malaka. Kembali Adam Malik terciduk dan merasakan pengabnya udara penjara, yang berada di Gang Tengah Salemba. Di sini Adam Malik bertemu seorang kawan yang kelak bersama-sama dua orang lainnya mendirikan Antara, bernama Pandoe Kartawigoena. Pandoe merupakan anggota Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia (Pepri). Di tengah kegamangan suasana penjara dan persahabatannya dengan Pandoe, Adam Malik merencanakan membangun jaringan komunikasi yang dapat mencakup masyarakat luas.

Selepas keluarnya dari penjara, Adam Malik dan Pandoe Kartawigoena mulai mewujudkan idenya. Ditemuilah Djohan Sjahruzah, seorang mahasiswa hukum. Pertemuan ini membawa mereka mengadakan rapat di rumah Haji Agus Salim, di sanalah rencana tadi dimatangkan. Tepat tanggal 13 Desember 1937, Adam Malik, Soemanang, A.M Sipahoetar dan Pandoe Kartawigoena memproklamirkan berdirinya Antara. Nama Antara diambil dari salah satu surat kabar di Bogor, yaitu: Perantaraan. Meskipun, waktu pengambilan keputusan tersebut Adam Malik tidak hadir, dia tetap ditunjuk sebagai ketua. Antara berkantor di Buitentijgerstraar (yang kini menjadi jalan Pinangsia) No. 30 Jakarta Kota.
Sebelum kedatangan Jepang, tahun 1940-1941, Adam Malik aktif menjadi anggota dewan Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Ketika Jepang datang dan mendirikan pemerintahan militernya di Indonesia, Jepang membredel seluruh kantor radio yang ada di Indonesia. Satu-satunya yang diijinkan kantor radio yang bernama Domei, yang merupakan peleburan Antara. Ditunjuk untuk menjabat pemimpin utamanya adalah Adam Malik. Peran Adam Malik di dalam Domei adalah dalam pencaharian berita tentang situasi dan kondisi arah dari jalannya peperangan di Laut Pasifik dan bahan yang penting untuk diteruskan pejuang bangsa secara sembunyi-sembunyi.

Di zaman Jepang, Adam Malik aktif bergerilya dalam gerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Menjelang 17 Agustus 1945, bersama Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, pernah melarikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Demi mendukung kepemimpinan Soekarno-Hatta, ia menggerakkan rakyat berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta. Mewakili kelompok pemuda, Adam Malik sebagai pimpinan Komite Van Aksi, terpilih sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1947) yang bertugas menyiapkan susunan pemerintahan. Selain itu, Adam Malik adalah pendiri dan anggota Partai Rakyat, pendiri Partai Murba, dan anggota parlemen.

Akhir tahun lima puluhan, atas penunjukan Soekarno, Adam Malik masuk ke pemerintahan menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Uni Soviet dan Polandia. Karena kemampuan diplomasinya, Adam Malik kemudian menjadi ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia-Belanda, untuk penyerahan Irian Barat di tahun 1962. Selesai perjuangan Irian Barat (Irian Jaya), Adam Malik memegang jabatan Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin (1965). Pada masa semakin menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia, Adam bersama Roeslan Abdulgani dan Jenderal Nasution dianggap sebagai musuh PKI dan dicap sebagai trio sayap kanan yang kontra-revolusi.

Bulan Mei 1950, Adam Malik dan Mochtar Lubis berangkat ke berbagai negara di Asia Tenggara, antara lain: Singapura, Malaya, Burma, Hongkong dan Philipina selama satu bulan. Perjalanan itu merupakan penjajagan, sebab tidak tiap Negara mempunyai kantor beritanya sendiri. Bulan Agustus 1951, usaha itu diteruskan oleh Adam Malik sediri beberapa waktu kemudian. Tujuan utamanya ialah Eropa. Maksud perjalanan: mengadakan hubungan dengan kantor-kantor berita di luar negeri dan dengan pers umumnya. Sejak tanggal 13 Desember 1962, status Antara sebagai lembaga langsung berada di bawah presiden diatur dengan SK presiden No. 37 tahun 1962; terhitung sejak 15 Oktober 1962 namanya menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara. Sejak 13 Desember 1962, dengan SK presiden No. 375 tahun 1962, Persbiro Indonesia (PIA) dilebur ke dalam Antara.

Sewaktu Antara dikuasai kaum Komunis, Adam Malik dikucilkan, tetapi sejarah mencatat bahwa akhirnya dia tetap diakui sebgai salah seorang sesepuh Antara. Sewaktu merayakan hari ulang tahunnya yang ke-41, pelbagai upacara peringatan diadakan di ruang pertemuan kantor wakil presiden. Di tahun 1970-an, Adam Malik sempat menjabat sebagai Ketua MPR/DPR 1977-1978 dan Wakil Presiden RI (23 Maret 1978-1983). Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negaranya, H.Adam Malik meninggal di Bandung pada 5 September 1984 karena kanker lever. Kemudian, isteri dan anak-anaknya mengabadikan namanya dengan mendirikan Museum Adam Malik. Pemerintah juga memberikan berbagai tanda kehormatan.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Noel Akhirnya Dapet Kerjaan...

Sms dari seorang kawan masuk jam 5 subuh pada akhir minggu bulan puasa dulu. Isinya nawarin kerjaan, bahwa ada lowongan kerja di Index Press. Wah, kebetulan karena waktu itu nganggur, gw langsung bilang iyah aja: gw setuju. Waktu itu gw tak s4 mikir, ternyata kerjaannya di Jakarte. 

Dua minggu kemudian gw dihubungi, kata salah seorang kawan gw yang berjuluk: Bulus, gw disuruh buat surat lamaran dan hasil studi gw yang guoblok a.k.a skripsi sotoi (yang mampu gw rampungkan dulu itu loh). Oks, gw buat lamaran, tapi yang jadi masalah skripsinya. Gw tak nyetak skripsi gw dalam bentuk fisik, tapi tak apa gw langsung cetak, meskipun biayanya mpe gocap ribu. Jabanin. Selesai. Semua persiapan telah dilakukan. Sabtu lalu, di sms, kalo akan ada ujian saring. 
Oks, gw ngumpul bersama beberapa kawan yang juga berniat kerja di sana.

Langsung diadakan ujian, sama siapa lagi selain sama Gus Moh (penulis yang nulis apa gitu, lupa gw judule). Gw disuruh bikin semacam esai (ini hasilnya), sebanyak dua BH (BH yg ini emg hrs ditulis gd hehehe...). Yang bikin gondok, gw dan kawan yang ikut tes ini adalah tidak diperiksanya hasil skripsi atau tulisan yg dibutuhkan. 
Ahhhh...sebel. Ilang deh gocap ribu gw (tapi tak apa2 denk, karena akhirnya gw diterima kok). Dan kerjaan ini akan membawa gw ke Jakarta Pusat, sekitaran jalan veteran deket istiqlal, hari minggu besok berangkatnya.

Oks, guys, para pecinta blog noel...see u on Jakarta
Continue Reading...

Makin Kurang Kerjaan

18 October 2007

Hari2 terakhir ini, gue semakin kurang kerjaan. Sebetulnya bukan apa2, kecuali saat ini gue dalam keadaan bingung nan linglung. Dalam kepala gue banyak banget ide bertebaran melintas, s4 ide itu tersebut tertangkap dan s4 pula gue mengabadikannya dalam kertas alias ditulis. Tapi bagi gue yang calon (TETEP BACA: CALON) penulis ini adalah hal terpatut2 disayangkan apabila ide tersebut hanya berserakan begitu saja.

Simpel aja: Alasan dari itu semua merupakan rentetan peristiwa di taon 2005, dimana waktu itu komputer gue rusak, dan pada akhirnya terjual. Dimulai dari RAM, Monitor, dan karna udah semakin BT gue langsung jual CPU-nya sekalian. Hasilnya, bisa diliat sendiri...tulisan gue bener2 jadi spam. Ini baru gue sadari belakangan hari ini, dimana kebutuhan (baca: hasrat) gue akan menulis semakin gede. Sekarang gue hanya bisa mengandalkan tulisan zaman butut yaitu menulis memakai pulpen, pencil atawa spidol yang bikin tangan jadi pegel2. Belum lagi ngeditnya...hah, semakin sutris gue.

Imbas baliknya yang lebih parah, karna gue termasuk blogger mania, gue jadi bingung gimana cara untuk mengoptimalisasi blog gue. Apalagi niye gue lagi getol2nya ikutan salah satu program penggalangan dana bay internet...yup tebakan kalian bener, Google Adsense. Ini penghambat kemajuan gue, nah salah satu kritik, opini, pendapat, tanggapan, saran, dan informasi kenapa gue belum dapat mencairkan cek-nya google adalah karna gue nggak punya komputer...hehehe...tak berhubungan kan?

Hah, kapan ya punya komputer lagi?

Tertarik ikutan program penggalangan dana bay internet google adsense? Harus punya komputer dulu, ini syarat pertama.

Menurut kalian?

Continue Reading...

MET BODO

11 October 2007

Arti kata Bodo dalam basa Jawa sama dengan Lebaran. Yah udah gituh ajah. Met lebaran temen2...

Ps. Postingannya kek orang tidur ajah ya...hehehehe
Continue Reading...