SOLEMAN (SODARAKU LEMAH MENTAL)

19 November 2007

Gw dapet kronik...

19 November 2007
Seorang lemah mental, tiba-tiba masuk ke kamar bawah, dia telpon dengan lemah mentalnya. Coba saja, perhatikan mukenye mirip, wong gilo...
Berikut biodata yang berhasil gw rangkum:
Nama: Raditjava a.k.a pria lemah mental
Umur: mbuh yoo
Penyakit: Epilepsi, bakteri, virus, lemah syahwat
Kelakuan aneh baru2 ini: Dia ketahuan lagi berada di Pendjaringan
(19 November 2007)
Continue Reading...

Oh, Cerpen Gue...

15 November 2007

Dasar Setan kronik ... hari ini, gw baru tauk kalo cerpen gw dimuat di Sripo. Dasar bebal. Kenapa gw bodoh banget baru tahu sekarang. Dan itu tahunya juga lewat searching di internet...Ah, bodoh. Kalian tauk berapa lama itu tulisan sudah terpampang di Sripo, 2 taon bo....gila 2 taon...gw gak tauk, tulisan gw sendiri masuk koran. Dan kemana aja gw selama 2 taon berinternet ria itu, ah dasar bodoh...sambil merutuki diri gw yang kampret ini...
Mo liat tulisan gw liat? Kampret!!!
Continue Reading...

Kegilaan Sudah Melanda

08 November 2007

Pernah nonton The Survival gak? Bagi yang gak tahu, itu serial TV (pernah ditayangin Indosiar) tentang bertahan hidup di dalam hutan dengan memakan apa saja. Dan ada aturan mainnya. Yup, permainan itu didasari pada kekuatan manusia dalam mempertahankan hidupnya. Aturan mainnya simpel, komunikasi dibuat searah, dari luar ke dalam, tidak sebaliknya. Termasuk ada games2nya. Itu harus dijalani sekitar 12 minggu ato berapa minggu gituh (lupa gw krn udah lama pula nontonnya). Dalam masa2 bertahan secara otomatis, semuanya menjadi gila, dan segala sifat manusia mulai tampak. Ada suka bohong, ada suka muka tebal.

Nah, kesamaan terjadi di sini juga. Memang belum separah The Survival, tapi gejalanya mulai tampak. Maksudnya anak2 yang kerja disini jadi gila semua. Tisa sekarang malah suka bikin baju, Devi mulai suka ketawa-ketiwi sendiri, Rahmat pernah mabok (puseng kamsudnya), gw sendiri juga mulai agak2 bosen sama nuansa dan merindukan si someone...Barangkali kita semua rindu akan Yogya (Gitu sebut Kla Project). Tapi project masih lama, mungkin sampe mei, nah makanya kita bisa muntah2 koran disini. Barangkali disabar2 dulu yeuh....

Kegilaan gw yang laennya sekarang ini kalo sedang chatting (krn bisa gratisan internet 24 jam). Yah kepuasan ngejaili orang. Sering banget gw nyamar jadi cewek, dengan id tutt...(maaf tidak bisa disebutkan disini), dan ternyata weleh weleh, laku keras bak kacang goreng dibandingkan daripada gw jadi cowok...hehehe. Pernah ya kemaren itu, ada anak Yogya yang gw suruh maen ke kosnya si temennya Devi, tauk deh dia kesana atawa enggak.
Oia, kaum unggas (julukan yang diberikan sama anak2 sableng sejarah 02 sama gw) telah memiliki trah, bernama Kuthuk a.k.a anak pitik a.k.a anak ayam a.k.a Tisa. Gw gak bilang apa2 lho, dia sendiri yang menasbihkan dirinya untuk mengikuti trah unggas. O salah, ini konfirmasi dari orangnya langsung, dia bilang yang menasbihkan dirinya itu Devi, si cewek riang2 sendiri (udah gila).

Hahaha...dasar sableng..
Tunggu kegilaan gw selanjutnya

Ini salah satu foto gue di Eropa kemaren...huahuak, ngarep
Continue Reading...

Wisata Kuliner (Makan Sate Kambing Uenak)

04 November 2007

Malam Minggu Lalu, Gw Hengking, Heking Sama S’orang Klowor Dan Renges. Yah, itung2 cari refres setelah bekerja selama seminggu full tak berhenti dan penuh kebingungan menggarap kronik sejarah selama dua tahun…ssst gw baru dapet kira-kira 100 harian dah (mungkin kalo bener itungnya).

Sebelum malam minggu kemaren juga gw pernah heking ke Plasa Semanggi diajak pak Indra, katanya ada pameran Coklat, bareng pula bersama KLOWOR, Kecel, dan Patrick (baca: Patron). Tapi lantaran salah gedung, padahal gedung yang untuk pameran coklat ada di seberang jalannya, terpaksanya kita cuman nongkrong di P.S. di t4 tukang ngupi…dan berpesanlah kita kesana, makan dunut dan kupi. Eh, gw malah mabok kupi dan sempat gak bisa tidur sampe besok paginya, dan terpaksa ketika cari bahan sambil angop2 kek sapi. Kepala mumet. Tak ada energi. Jadinya yeuh cuman sedikit yang bisa didapat sumber2nya.

Oia lanjut ke cerita malam minggu tadi. Gw tak tahu mau dibawa kemana itu jalan2? Dalam pikiran gw berkecamuk, ah paling jalan2 seperti kemaren sama pak Indra itu, maka ikutlah gw tanpa banyak bertanya kiri-kanan-ngetan-ngulon-ngalor-ngidul-atas-bawah-depan-belakang (banyak banget yah…hehehehe).

Lagian, katanya Klowor, “udah ikut aja naik taksi kok, lagian Renges yang bayarin…”

Yeup, gw bawa sepatu rapi. Gak liat jam udah pukul 11 malem. Kita lalu jalan ke Djuanda, menunggu taksi, jalanan pun sudah tampak sepi. Lengkang udah dingin menusuk, gw cuman pake kaos doank. Tak berapa lama kemudian, sebuah taksi menjemput. Dan menumpanglah kita, karena gw tak apal jalan, gw gak bisa detail ceritaiinya. Singkat cerita, kita udah kawasan Kota Lama, itupun kata Klowor, yang sempat kek guide, berkisah sedikit ke gw. Masih muter2 sedikit lagi. Dan yeup, kita berhenti udah sampe, kata Renges. Kita turun.

Hah, akhirnya.

Tapi kemudian gw bingung. Mo kemana ini yak? Kok tempatnya bukan tempat yang banyak molnya, atau tempat yang banyak makanannya?

Gw nanya Renges: “mo kemana sih kita?”

Renges: “ke t4 ben cepet gede (ke t4 biar cepet besar)”

Duh, batin gw, apaan tuh? (belagak bego). Belakangan gw tahu, kalo di deket situ ternyata tempat lokalisasi. Busyettt dah!!! Tak nyangka, pengalaman back to Jakarta, bisa sampe ke lokalisasi. Sayangnya, tempat itu baru aja kebakaran, masih ada bau gosong2nya. Dan tiang listriknya masih dibenerin. Tapi yang namanya orang udah ngebet, mo diapain lagi, tetep aja cari selah biar bisa sampai ke tujuan. Di sebelah sananya lagi masih ada rumah2 riyoet yang tak kebakar. Jadi tetep kesana. Asli. Sumpe, gw gemeteran, seumur-umur baru ini kali gw masuk daerah lokalisasi. Ah, tidak!!! Nama t4 itu, kata Renges, Gedoeng Panjang. Klasik kan?

Dicolek2…eih…diitung2…1-2-3, kek barisan…dan disamperin sama nenek….hahahaha. Ceritanya kita sumpek banget waktu itu, makanya kongkow direl. Tak jauh dari situ, ada dua nenek yang belum laku nyamperin kita. Dan ngobrol.

Salah seorangnya nunjuk2. “Udah bang, gampang aja, dia (nunjuk Klowor), biar maen sama dia (nunjuk temennya), biar kita maen bertiga (nunjuk gw dan Renges & menunjukkan dirinya sendiri). Udah pada dapet gaji kan?”

Hah, busyettttt… diassar Kelelawar. Batin gw misuh2 isinya. #$%@&*(v)!

Tapi kita langsung minggat dari itu nenek2. Kabur. Gila apa?! Maen sama nenek2, denger napasnya aja udah kek kebo, GROOKKKK…setan alas.

Disana gw kapok, dan cuman s4 makan sate kambing 34 rb berdua sama Klowor. Abis itu gw cabut. Takut gw. Hihihi…

Continue Reading...

See Kalian Semua di Jakarta

27 October 2007

Jam tujuh besok, gw akan berangkat bersama enam kawan lainnya go to Jakarta (cailah, nampaknya senang nian gw ke Jakarta yah?). Keberangkatan gw plus anak2 kali ini karna ada kerjaan gede dalam menuliskan sejarah bangsa ini (alaaaaah...sok). Yo geto aje...kelak kalo bukunye t'lah tercetak, akan gw kabari kalian semua penggemar noel blog (hoek-hoek-syor-mo-muntah).

Oiya, sebenernya ada cerita lucu yang pengen gw cerita ma lu2 pada, yah tentang CD
Continue Reading...

Abdurrachman Baswedan

24 October 2007

Khazanah pers sejarah Indonesia telah mencatatnya sebagai salah seorang yang memiliki peran di kancah percaturan pers Indonesia dalam zaman pergerakan dan masa setelah Indonesia merdeka. Orang tersebut adalah Adurrahman Baswedan. Seorang pria kelahiran Bangil, Jawa Timur, 18 September 1908. Baswedan mempunyai darah keturunan Arab. Karakternya khas; sebagai manusia yang dilahirkan zaman pergerakan, dia cepat panas dan penuh vitalitas. Pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah, Ampel, Surabaya dan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta namun tidak rampung, tahun 1971.

Baswedan merupakan seorang jurnalis terkemuka dalam memainkan peranannya dalam mengusung tema persamaan antara orang-orang peranakan Arab dan orang-orang pribumi dalam masyarakat Indonesia yang luas. Pandangannya luas sebagai seorang jurnalis maupun politikus yang memainkan peranan di zaman pergerakan. Baswedan merupakan sosok unik yang pernah ada dalam sejarah Indonesia yang muncul diantara masalah masyarakat keturunan Arab.

g...Baswedan's life and career form a unique entry in the history of the problems that the Hadhrami community has experienced, both in the Dutch East Indies and in Indonesia.”
Sejak berusia 17 tahun, pada tahun 1925, Baswedan masuk Islam sebagai mubaligh Muhammdiyah, menyebarkan luaskan ajaran ke-Muhammadiyah-an serta ke-Islam-an Pula mencatatkan dirinya sebagai anggota Jong Islamieten Bond, sebuah organisasi pemuda Islam Indonesia terpelajar. Salah satu peran yang diakui memiliki pengaruh dalam arah perubahan sejarah bangsa Indonesia adalah ketika A.R Baswedan ini mendirikan PAI (Partai Arab Indonesia) di tahun 1934. Partai PAI ini secara tegas memberikan ajaran bagi para anggotanya bahwa Indonesia adalah tanah tumpah darah.

Sebagai seorang pendobrak pada masanya, Baswedan menyadari penyebaran gagasan yang efektif dapat dilakukan melalui surat kabar, baik majalah maupun koran. Intinya melalui tulisan. Karena itu pulalah, pada tahun 1932, Baswedan masuk salah satu jajaran anggota redaksi harian Tionghoa-Melayu di Surabaya, yaitu Sin Tit Po. Pimpinan Sin Tit Po bernama Liem Koen Hian, seorang peranakan Tionghoa yang sepaham dengan jalan pikirnya. Yaitu bahwa tempat kaum peranakan bukanlah di negeri leluhur sana, melainkan di Indonesia ini.

Antara rentang waktu 1932-1934, Baswedan beberapa kali keluar-masuk dunia redaktur surat kabar. Setelah keluar dari Sin Tit Po karena sudah tidak ada lagi kecocokan paham. Bersama Tjoe Tjie Liang dan Sjahranmual, Baswedan masuk ke harian Soeara Oemoem milik PBI (Persatuan Bangsa Indonesia, yang didirikan dr. Soetoemo) di Bubutan Surabaya. Para anggota yang baru bergabung di Soeara Oemoem tersebut dimanfaatkan untuk menulis mengenai nasionalisme yang dicita-citakan PBI. Cita-cita nasionalisme PBI itu sama dengan jalan pikiran Baswedan dan Liem Koen Hian; yakni kerjasama antar sesama bangsa Indonesia tanpa mempedulikan keturunan dan agama.

Selepas dari Soeara Oemoem, karena masalah kesehatan Baswedan hijrah ke Kudus, kemudian setelah sembuh pergi kembali ke Semarang. Sesampainya di sana, dia terjun kembali dalam dunia jurnalistik di surat kabar Matahari, sebuah harian yang isinya mendukung pergerakan nasionalisme dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Harian Matahari ini juga dipimpin oleh seorang peranakan Tionghoa bernama Kwee Hien Tjiat.

Semenjak muda Baswedan sudah memiliki keyakinan dan pendirian, bahwa tempatnya bukan dimana-mana kecuali di bumi Indonesia ini. Dan dia merasa Indonesia tempat dia dilahirkan; tempat dia hidup, dan Indonesia pula tempatnya berpulang. Oleh sebab itu, semangat hidupnya selalu diarahkan kepada perjuangan nasionalisme Indonesia.

Tanggal 1 Agustus 1934, harian Matahari Semarang memuat tulisan Baswedan tentang nasionalisme orang-orang peranakan Arab. Ia mengimbau orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli. ''Di mana saya lahir, di situlah tanah airku,'' kata lelaki itu. Abdur Rachman Baswedan memang peranakan Arab, walau lidahnya pekat Jawa, bila berbicara. Dalam artikel itu terpampang foto Baswedan mengenakan blangkon. Karena ulahnya itu, orang-orang Arab─ketika itu terjadi pertikaian antara kelompok Al Irsyad dan Rabitah Alawiyah─berang padanya.

Pada Oktober 1934, setelah pemuatan artikel yang menghebohkan itu, ia mengumpulkan para peranakan Arab di Semarang. Lalu berdirilah Partai Arab Indonesia (PAI), dan Baswedan diangkat sebagai ketua. Sejak itu ia tampil sebagai tokoh politik. Harian Matahari pun ditinggalkannya. Padahal, ia mendapat gaji 120 gulden di sana, setara dengan 24 kuintal beras waktu itu. ''Demi perjuangan,'' katanya. Sebagai ketua PAI, Baswedan pindah ke Jakarta dan menerbitkan majalah Sadar. Majalah Sadar menanamkan pemahaman rasa kebangsaan di kalangan kaum peranakan Arab.

Sadar mampu bertahan hampir satu dekade kemudian ketika Jepang mendirikan pemerintahan militernya di Indonesia. Sama halnya dengan nasib surat kabar-surat kabar lainnya, Sadar menjadi korban pembredelan pemerintah militer Jepang. Selama masa pendudukan Jepang, pada awalnya Baswedan masih aktif menulis di koran Pemandangan sebelum akhirnya berganti nama menjadi Pembangun, yang pada akhirnya terpaksa bergabung dengan Asia Raya. Pada masa itu organisasi yang ada hanyalah Jawa Hookokai, Himpunan Kebaktian Rakyat seluh Jawa, dan Baswedan diangkat oleh Jepang sebagai anggota. Sesaat sebelum mundurnya Jepang di tanah air akibat serangan sekutu di Hiroshima dan Nagasaki, Baswedan diangkat menjadi anggota Chuoo-Sangi-Kai, semacam dewan penasehat yang anggota-anggotanya diangkat oleh penguasa dan dipilih oleh Syuu-Sangi-Kai, yaitu dewan karesidenan.

Tahun 1945 kemerdekaan Indonesia di kumandangankan, Baswedan mendapat tempat sebagai ketua pusat KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Karena masyarakat telah melihat sumbangsih yang diberikannya ketika masih dalam alam penjajahan. Anggota KNIP ini pada mulanya berjumlah 45 orang, sampai akhirnya anggota KNIP Pusat tadi menjadi Parlemen. Baru setahun Indonesia merdeka, pada tahun 1946, Baswedan ditunjuk sebagai sebagai Menteri Muda Penerangan. Jabatan tersebut masuk dalam jajaran kabinet Syahrir ke-3 dari partai Masyumi. Namun belum sempat melakukan apa-apa, kabinet Syahrir telah bubar.

Sekalipun demikian, Baswedan kembali diangkat sebagai anggota misi diplomatik RI ke Timur Tengah tahun 1947. Misi ini untuk menggalang konsolidasi dan mengadakan hubungan diplomatik dengan negara-negara Timur Tengah. Sebagai anggota misi ini di bawah pimpinan Haji Agus Salim, dia berhasil menerobos blokkade pertahanan udara Belanda. Dengan hubungan yang berhasil terjalin, maka negara-negara di Timur Tengah mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Sebelum turun dari kancah perpolitikan di tahun 1955, Baswedan pernah menyandang dua jabatan yaitu sebagai anggota Parlemen dan anggota Konstituante.

Seusai tahun 1950, dia aktif mengemudikan majalah Nusaputra. Dan bersama seorang kawannya, Natsir, aktif mengelola mingguan Hikmah di Jakarta sekaligus juga menjadi kontributor tulisan di pelbagai mass media. Meskipun telah turun dari arena perpolitikan tetapi jiwanya sebagai seorang jurnalistik tidaklah surut. Seterusnya oleh redaksi Mertju Suar di Yogyakarta, dia diminta menjadi penasehat dan pembantu redaksi. Di samping tetap menjabat sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamyah Indonesia Wilayah Yogyakarta.

Tidak sempat merampungkan autobiografinya, Abdur Rahman Baswedan meninggal dunia, dalam usia 78 tahun, pada Maret 1986. Di rumahnya di Jalan Taman Yuwono 19, Yogyakarta.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...