Harmoni

09 August 2010

Aku terdiam ketika menatap layar monitor. Semuanya terasa hampa, kaku, kelu. Jari jemariku tak bisa lincah selincah omongan otak yang ada di dalam kepala. Gagap dalam kata. Rasanya ingin mengetuk kepala dengan palu, biar pecah, biar berurai semua kata.

***

Kulihat bintang di langit, bersinar. Langit hitam kelam. Angin sepoi bertiup semilir, meniupkan rasa dingin ke dalam sumsum tulangku. Kehidupan terus berjalan, tak pernah berhenti mengalir, menggayutkan pikiranku—di mana ia pergi mengembara ke mana suka, cepat-cepat, sekilas-sekilas, seperti potongan-potongan frame dalam film.

Dari jendela rumahku yang berada di tepi jalan, kuperhatikan mobil-mobil lalu lalang, motor-motor ngebut dengan gas-gas yang memekakkan telinga. Sementara, musik rock dari kamar sebelah meraung-raung, melesakkan suaranya secara paksa ke kamarku. Aku mengelus dagu yang tidak ditumbuhi jenggot seperti kebanyakan lelaki lainnya. Kemudian, mencoba merenung sejenak. Menuliskan satu kata, hanya satu kata saja: Harmoni.
Entah kenapa aku menyukai satu kata itu.

***

Aku menghirup udara segar, tanda kemenanganku terhadap malam. Kemudian, kupuja matahari dan embun sejuk pagi ini, karena mampu memberikan apa yang dibutuhkan oleh kehidupan. Rasanya baru kemarin aku mencicip hawa dunia pada tarikan napas dan tangis pertamaku, yang diiringi tawa bahagia dua orang yang tak kukenal—belakang kukenal mereka sebagai orang tua. Orang yang melahirkanku ke dunia. Orang yang membuat aku jatuh ke dalam beban tugas mahaberat—di mana tugas-tugas itu ditumpukkan langsung saja di mukaku. Keikhlasan untuk menjalaninya adalah kemampuan yang kubutuhkan untuk kuciptakan.
Bagiku, apa yang terjadi pada dunia adalah kenyataan bahwa aku menjadi bagiannya.
Sebuah pesan singkat dari rekan sekerja masuk ke dalam ponselku: aku resign. Aku dapat kerja yang lebih menantang dan menyenangkan.

Hmmmh. Aku menggumam. Memejamkan mata lantas menghirup udara. Jiwaku mendadak alpa dari keseriusan yang kujalani. Rasanya sangat nikmat dan ringan. Kemudian, membuatku melayang dan aku merasakan kebebasan. Perspektif baru kudapatkan. Karena, di atas bumilah kita bisa mendapatkan perspektif yang tidak biasa.

Ayo sudahlah, pergi saja dengan kita menuju kerajaan surga. Begitu pesan singkat yang masuk lagi ke dalam ponselku.

***

Braak...!!!! meja kerjaku digebrak seseorang. Ternyata bosku yang teramat galak dengan muka yang amat sangar. Aku terbangun sambil mengerjap-ngerjapkan mataku. Kemudian, tersenyum, “maaf pak, saya ketiduran.”

Ia pergi tanpa sepatah kata pun. Kemudian, aku menyesali. Oh, semua ini hanya mimpi. Teman-teman kerjaku pergi, resign. Tapi, aku masih berada di tempat terkutuk ini. Menyebalkan, hanya saja aku yakin bahwa ini cara alam membuat harmoni. Satu kata yang kusukai, kini.
Continue Reading...

KESURUPAN

04 August 2010

Hari ini merupakan hari ketiga ospek siswa baru dilaksanakan. Karena saking lelahnya, mendengarkan celoteh kakak-kakak senior, yang entah penting entah tidak itu, Eko duduk di pojok ruang sambil terkantuk-kantuk. Pikirannya melayang-layang cepat-cepat, dari masa depannya, ospek sekolahnya yang masih dua hari lagi, dan segala macamnya.
Continue Reading...

HANTU KEPALA BUTUNG

29 July 2010

“Maaf, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita lagi...” demikian kalimat terakhir yang diucapkan Kaila yang masih diingat Syahril, ketika wanita itu memutuskan jalinan kasih mereka berdua.

Syahril tak tahu mengapa semua ini bisa terjadi. Padahal ia sangat mencintai Kaila, wanita yang sudah dipacarinya sejak masa muda. Tapi, apa mau dikata, uang telah mengalahkan segalanya. Parmin, lelaki yang merebutnya itu, lebih kaya dibanding dirinya. Meskipun kalau membandingkan secara fisik, ia lebih ganteng daripada Parmin, yang mukanya aduh tak berbentuk. Ingin rasanya ia berteriak, namun tak sanggup.
Continue Reading...

MISTERI KAMAR NOMOR 13

Sudah sejak lama, Azriel dan Maya, merencanakan Yogyakarta sebagai tempat tujuan berbulan madu. Yah, maklum keduanya memang punya kenangan sendiri dengan kota itu. Budayanya, orangnya, semuanya membuat mereka terkenang. Karena itu, setelah keduanya menikah sengaja tujuannya ke Yogya sebagai rangka tempat tujuan mereka berbulan madu.
Continue Reading...

Kau Lupa Minum Pil Tidur

01 May 2010

Karena terlalu lelah bekerja, Noel akhirnya jatuh sakit, sedikit lebih parah daripada biasanya. Kepala Noel pusing-pusing hingga akhirnya sering sekali ngelindur. Dan suka terbangun tiap dua jam sekali.

Pacarnya yang kebetulan acap betul dan perhatian dengannya sampai kasihan melihatnya. Dokter menyarankan padanya untuk meminum pil tidur supaya tidurnya lebih pulas.
Continue Reading...

B/A

17 March 2010

Biarkan saya bercerita tentang sebuah daerah nan subur nun jauh di sana. Kita sebut saja daerah itu B.

Kota B. Adalah megapolitan yang maha indah. Tepat di kerajaan bernama Bumi. Banyak sekali daya tarik kota ini. Sebagian penduduknya merupakan bagian dari hasrat yang terpendam sewaktu berada di kota--sebut saja kota A. Namun, patut untuk dicatat bahwa kota B, adalah kota yang terdiri dari
tembok-tembok batu yang menjulang tinggi sekali, jalan-jalan raya yang sudah diaspal sampai ke kampungnya, dan pendapatan per kapita yang tinggi--melebihi ongkos yang bisa dibayangkan oleh manusia. Namun, patut untuk dicatat bahwa di balik gemerlang cahaya yang ada di kota B, ada pula sisi gelap yang tak ingin didengar oleh sebagian penduduknya. Meskipun mencapai taraf kemajuan yang sangat berarti melebihi kota-kota lainnya, kota A menyimpan gang-gang sempit nan gelap, anak-anak yang bermain di gang-gang, sungai yang meluap tiap tahunnya, asap-asap yang mengudara setiap harinya, debu, cacian, makian, dan penderitaan yang entah tak pernah ingin didengar. Tak ada belas kasih di kota yang menamakan dirinya B.

Itu pengetahuanku tentang kota B. Meskipun pernah beredar selama beberapa tahun lamanya aku di sana. Tapi, kepindahanku dulu bukan tanpa alasan. Mungkin, ada sejuta alasan rasional yang diciptakan dan diputar oleh Sang Ilahi terhadapku. Dan sekarang aku tinggal di kota A, tentu saja penglihatanku akan kota B menjadi bias tak tentu.

Tapi, sebelum kulanjutkan, ada baiknya kalau kuceritakan kota A.

Kota A, bukanlah kota impian. Sebagian penduduknya terjerat rasa malas yang teramat sangat. Menukar kehidupan sukses mereka dengan segenggam mimpi untuk berleha-leha saja. Karena itu, di kota A terlalu banyak seniman, orang susah--jika dihitung dari sejumput emas yang bisa kita tuai dari perasan keringat kita--, orang santai--yang memandang hidup dari sudut 'untuk apa terburu-buru sementara jatah hidup berhasil adalah seperti ini, seperti keinginan mereka: sederhana--, sementara yang tidak bisa menerima kehidupan di kota ini pergi entah ke kota B--kota sejuta mimpi. Tapi, beberapa orang yang tetap bertahan di kota ini, aku yang melihatnya, cukup sukses juga. Setidaknya mereka telah membeli mimpi mereka dengan kenyataan kebahagiaan yang telah mereka jumput dari sumur kehidupan mereka sendiri. Rumah-rumah yang nyaman, meskipun terbuat dari rumput jerami.

Kota A. Mungkin sebuah kota yang mungkin dianggap sebagian penduduk kota B, begitu kampungan. Ya... ya... mungkin itu benar. Tapi, kau kan belum pernah tinggal di kota ini, sementara aku sudah pernah. Jadi pandanganmu terhadap kota ini pun menjadi bias dan rancu.

B/A sama-sama bias, sama-sama rancu dalam memandang. Tetap harus ada yang mengalah.

Ini sepenggal cerita yang ingin kuceritakan. Tapi bukan untuk mengiming-imingi. Yang ingin kukatakan, aku masih berani mempertaruhkan sepenggal hidupku untuk sekadar mencicip madu itu. Tapi, jika permintaan dari pemberi naungan memintaku untuk tetap berada di jalur itu, apakah harus kupaksakan rel kereta lain?

Continue Reading...