Kompor Pengering dan Antena Tenaga Surya

18 September 2010

Waton tekun, mesti ketemu tujuane. Ora usah neko-neko!
(Asal tekun, pasti berhasil. Tidak usah berbuat yang aneh-aneh!)

Demikian Minto berpesan. Pesan itu tak asal-asalan diucapkannya. Lelaki yang bekerja menjadi guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Prambon I, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur ini sudah mendapat pengakuan dari berbagai kalangan perguruan tinggi. Termasuk penghargaan dari Direktorat Jenderasl Listrik dan Pengembangan Energi Departemen Pertambahan dan Energi. Dia sudah berkreasi dengan membuat alat dwi fungsi. Jadi kompor ok. Jadi antena parabola pun bisa.

Alat ini dibuat dalam dua tahapan, pertama ia membuat kompor pengering bertenaga matahari kemudian meneruskannya dengan menjadikannya berfungsi sebagai antena parabola. Awal tahun 1988, Minto yang tinggal di Desa Mruwak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun membuat kompor pengering hasil pertanian bertenaga surya.

Keinginan ini dipicu oleh kenyataan yang diketahuinya bahwa masyarakat p[edesaan yang hidup di kaki Gunung Wilis (Madiun). Sehari-harinya mereka menggantungkan hidupnya mencari kayu-kayu bakar untuk bahan memasak. Padahal hutan jati di wilayah tersebut semakin gundul, karena itu masyarakat harus berjalan kaki sejauh 3,5 hingga 8 kilometer. Tiga tahun sesudahnya, tahun 1991, keberhasilannya tersebut memicu semangatnya untuk berkreasi lagi. Kompor pengeringnya dikembangkan lagi –bisa dimanfaatkan—sebagai antenna parabola.

Kompor pengering milik Minto tersebut bisa berfungsi banyak, bisa mengeringkan hasil pertanian, perikanan (ikan asin dan sebagainya), krupuk, lempeng, emping. Prinsip kerjanya mengubah sinar matahari menjadi panas, yang didasarkan pada pantulan cahaya matahari oleh beberapa keping cermin datar. Keping-keping ini ditata pada kerangka reflector yang bentuknya menyerupai parabola. Bila reflector diarahkan tegak lurus searah datangnya sinar matahari dan semua pantulan akan menuju ke satu titik. Kumpulan sinar pantul ini akan menimbulkan panas amat tinggi. Udara panas tersebut dialirkan lewat rak-rak pengering. Hasil ujicoba alat ini diperoleh suhu panas pad mulut kolektor 57 derajat Celsius, pada rak pertama 51 derajat Celsius dan rak delapan 46 derajat Celsius.

Sementara prinsip kerja antena parabolanya adalah sebagai berikut: kompor pengering tersebut ditambahkan Low Noise Block (LNB), feed horn, receiver, kabel dan pesawat televise. Prinsipnya, reflector yang tegak lurus dengan arah datangnya gelombang elektromagnetik dari satelit akan memantulkan kembali semua gelombang itu menuju ke focus. Kumpulan gelombang tersebut ditangkap LNB yang berlaku sebagai penguat sinyal. Dari LNB ini diteruskan lagi ke receiver lewat kabel untuk dipilih gelombang mana yang diinginkan. Dari reicever dilanjutkan ke pesawat televisi.

Namun, meski ia sudah diakui dan menerima penghargaan sebagai seorang penemu, Minto tetap tak meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang guru. Dia tak ingin berpikir neko-neko karena pekerjaannya yang utama adalah guru. Ya, inilah yang bisa kita petik dari Minto, seorang guru sekaligus penemu kompor pengering hasil pertanian dan antena parabola.

:: Lilih Prilian Ari Pranowo, 30 Tokoh Penemu Indonesia, Yogyakarta: Narasi, 2009 ::

Continue Reading...

Klip Bantalan Kereta Api Dua Gigi

George Stephenson adalah bapak kereta api dunia yang berhasil menciptakan mesin uap baru bernama Locomotion pada 1821. Sementara Stevens adalah penemu bantalan pada rel kereta api pada 1831—sepuluh tahun sesudahnya. Dua nama orang Eropa tersebut memang sudah terkenal ke seantero jagat manusia. Nama mereka masih dikenang sebagai penemu di bidang transportasi, khususnya dunia perkereta-apian.

Tapi jika menyebut nama Budi Noviantoro, orang tentu segera mengernyitkan dahinya, bertanya-tanya. Padahal dia merupakan seorang penemu asal Indonesia di bidang perekeretapian, yakni klip bantalan kereta api dengan dua gigi. Budi Noviantoro lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 November 1960. Di lajur pendidikan ia mengantongi dua gelar S1; sarjana teknik sipil di Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan sarjana ekonomi di Universitas Islam Nusantara Bandung.

Novi, demikian ia akrab disapa, berhasil menemukan penambat rel (fastener) yang dikasih nama KA-Clip—dipatenkan atas nama PT KA dan diproduksi PT Pindad. Penambat rel ini lebih sesuai dengan karakteristik kereta api di Indonesia. Selama ini, ia melihat rel-rel kereta api Indonesia membutuhkan penambat khusus. Ambillah contoh untuk rel ukuran R33, penambat relnya tidak dapat memakai penambat bermerek Pandrol atau DE Clip karen longgar. Ditambah Pandrol atau DE Clip musti diimpor, minimal dirakit di tanah air dengan lisensi dan membayar royalti kepada pemilik paten.

Jika memakai KA-Clip yang sudah diuji bertahun-tahun di lapangan sebelum diakui dan mendapat paten, PT KA tidak perlu repot mengimpor, yang berarti sama halnya dengan menghemat bea impor. Klip rel kereta api temuan Novi hebatnya bisa digunakan di rel berukuran berapa pun—baik R33, R42 maupun R54.

Dan meski ia tak mematenkan temuanya—sebab sudah dipatenkan PJKA, ia tak merasa sedih. Alasannya sedari awal ia memang menyerahkan temuannya langsung ke PJKA untuk dimanfaatkan. Di samping itu pula, ia sepertinya tahu diri, sebab ia merasa tak bekerja sendiri. Ada PT Pindad yang memfasilitasinya mengolah penelitian, pengembangan, lantas memproduksi. Tapi apapun itu, namanya patut kita catatkan pada sejarah penemu Indonesia.

:: Lilih Prilian Ari Pranowo, 30 Tokoh Penemu Indonesia, Yogyakarta: Narasi, 2009 ::
Continue Reading...

Beton Polimer Ramah Lingkungan

Beton dikenal sebagai material bangunan paling populer yang tersusun dari komposisi utama batuan, air dan semen. Dikenal luas dan populer, karena bahan pembuatnya relatif mudah didapat secara lokal, harganya relatif murah, dan teknologi pembuatannya relatif mudah. Akan tetapi, belakangan ini beton yang kita kenal acap mendapatkan kritik, terlebih dari aktivis lingkungan hidup. Oleh karena itu, banyak para pakar mulai mencari solusi sebagai alternatif bahan-bahan campuran beton. Salah satunya adalah Djuanda Suraatmadja.

Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Ia adalah anak kedua dari 12 saudara. Gelar sarjana tekniknya didapatkan di Fakultas Teknik Sipil ITB (1960). Pada 1971 dan 1982 ia mengikuti pendidikan di The University of New South Wales, Australia, dan University California, Amerika Serikat, setelah sebelumnya di Purdue University selama dua tahun. Kariernya diawali sejak tahun 1960 sebagai asisten ahli. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (1977-1981) dan Kepala Program S2 STJR-ITB (1982-1992).

Ide awal pemikiran bahan polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja berawal dari ide mencari beton yang memiliki sifat lebih baik dari beton semen. Ketika membuka-buka literatur yang dipunyainya, diketahui bahwa polimer memiliki sifat seperti semen. Polimer adalah suatu zat kimia yang terdiri dari molekul-molekul yang besar, dengan karbon dan hidrogen sebagai molekul utamanya. Bahan ini berasal dari limbah plastik yang didaur ulang, kemudian dicampur dengan bahan kimia lainnya. Penggunaan bahan tersebut bertujuan memanfaatkan limbah plastik, di samping mencari alternatif pengganti semen.

Pada 1975, ia melakukan penelitian mengenai bahan polimer pengganti semen ini. Berkat ketekunan dan kegigihan, penelitian yang dilakukan dengan berbagai ujicoba di Laboratorium Struktur dan Bahan serta laboratorium lainnya di Institur Teknologi Bandung dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) akhirnya membuahkan hasil. Hasil penemuan tersebut sekaligus menarik perhatian ilmuwan dan para industriawan mengingat beberapa keistimewaan dan sekaligus kelebihan beton polimer dibanding beton semen.

Beton polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja memiliki sifat kedap air, tidak terpengaruh sinar ultra violet, tahan terhadap larutan agresif seperti bahan kimia serta kelebihan lainnya. Yang lebih istimewa lagi, beton polimer bisa mengeras di dalam air sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki bangunan-bangunan di dalam air. Satu-satunya kelemahan yang hingga kini belum teratasi adalah harga beton polimer masih belum bisa lebih rendah dibanding beton semen, kecuali untuk daerah Irian Jaya, di mana harga semen sangat mahal. Karena itu, beton polimer selama ini lebih banyak digunakan untuk rehabilitasi bangunan yang rusak.

Pada 2000, atas hasil karyanya ini Prof Ir H Djuanda Suraatmadja menerima penghargaan Anugerah Kalyanakretya pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional V yang dicanangkan Presiden Abdurrahman Wahid di Bandung. Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Karya penelitiannya yang umum telah diseminarkan dalam bentuk Standar Nasional yang bisa berguna untuk masyarakat luas. Yaitu dalam bentuk Peraturan Dinas No. 10 tentang Jalan Rel Indonesia, SNI Uji Tarik Langsung Material Beton tahun 1997, dan SNI Tata Cara Pemakaian Beton Polimer untuk Perbaikan dan Penguatan Struktur Beton tahun 1998.

:: Lilih Prilian Ari Pranowo, 30 Tokoh Penemu Indonesia, Yogyakarta: Narasi, 2010 ::
Continue Reading...

Ternyata di Ada Indonesia Penemu!

30 Tokoh Penemu Indonesia

Penulis: Lilih Prilian Ari Pranowo

Penerbit: Narasi, 2009

Siapa yang tak kenal Thomas Alpha Edison, Galileo Galilei, James Watt? Mereka adalah penemu-penemu terkenal dunia, yang menemukan teknologi-teknologi dalam kemajuan peradaban manusia. Ternyata Indonesia juga memiliki orang-orang cerdas yang memberikan sumbangsih berupa temuan-temuan teknologi, walaupun hanya berupa temuan kecil. Penemu-penemu tersebut belum banyak diketahui. Buku ini memberikan gambaran tentang penemu-penemu Indonesia, seperti Alex Masengi dengan temuan kapal ikannya yang tidak mudah goyah saat diterjang gelombang besar dan Arief Mulyana dengan temuan mikrobial sebagai pemacu produktivitas kualitas udang dan ikan.

:: korantempo ::

Continue Reading...

Harmoni

09 August 2010

Aku terdiam ketika menatap layar monitor. Semuanya terasa hampa, kaku, kelu. Jari jemariku tak bisa lincah selincah omongan otak yang ada di dalam kepala. Gagap dalam kata. Rasanya ingin mengetuk kepala dengan palu, biar pecah, biar berurai semua kata.

***

Kulihat bintang di langit, bersinar. Langit hitam kelam. Angin sepoi bertiup semilir, meniupkan rasa dingin ke dalam sumsum tulangku. Kehidupan terus berjalan, tak pernah berhenti mengalir, menggayutkan pikiranku—di mana ia pergi mengembara ke mana suka, cepat-cepat, sekilas-sekilas, seperti potongan-potongan frame dalam film.

Dari jendela rumahku yang berada di tepi jalan, kuperhatikan mobil-mobil lalu lalang, motor-motor ngebut dengan gas-gas yang memekakkan telinga. Sementara, musik rock dari kamar sebelah meraung-raung, melesakkan suaranya secara paksa ke kamarku. Aku mengelus dagu yang tidak ditumbuhi jenggot seperti kebanyakan lelaki lainnya. Kemudian, mencoba merenung sejenak. Menuliskan satu kata, hanya satu kata saja: Harmoni.
Entah kenapa aku menyukai satu kata itu.

***

Aku menghirup udara segar, tanda kemenanganku terhadap malam. Kemudian, kupuja matahari dan embun sejuk pagi ini, karena mampu memberikan apa yang dibutuhkan oleh kehidupan. Rasanya baru kemarin aku mencicip hawa dunia pada tarikan napas dan tangis pertamaku, yang diiringi tawa bahagia dua orang yang tak kukenal—belakang kukenal mereka sebagai orang tua. Orang yang melahirkanku ke dunia. Orang yang membuat aku jatuh ke dalam beban tugas mahaberat—di mana tugas-tugas itu ditumpukkan langsung saja di mukaku. Keikhlasan untuk menjalaninya adalah kemampuan yang kubutuhkan untuk kuciptakan.
Bagiku, apa yang terjadi pada dunia adalah kenyataan bahwa aku menjadi bagiannya.
Sebuah pesan singkat dari rekan sekerja masuk ke dalam ponselku: aku resign. Aku dapat kerja yang lebih menantang dan menyenangkan.

Hmmmh. Aku menggumam. Memejamkan mata lantas menghirup udara. Jiwaku mendadak alpa dari keseriusan yang kujalani. Rasanya sangat nikmat dan ringan. Kemudian, membuatku melayang dan aku merasakan kebebasan. Perspektif baru kudapatkan. Karena, di atas bumilah kita bisa mendapatkan perspektif yang tidak biasa.

Ayo sudahlah, pergi saja dengan kita menuju kerajaan surga. Begitu pesan singkat yang masuk lagi ke dalam ponselku.

***

Braak...!!!! meja kerjaku digebrak seseorang. Ternyata bosku yang teramat galak dengan muka yang amat sangar. Aku terbangun sambil mengerjap-ngerjapkan mataku. Kemudian, tersenyum, “maaf pak, saya ketiduran.”

Ia pergi tanpa sepatah kata pun. Kemudian, aku menyesali. Oh, semua ini hanya mimpi. Teman-teman kerjaku pergi, resign. Tapi, aku masih berada di tempat terkutuk ini. Menyebalkan, hanya saja aku yakin bahwa ini cara alam membuat harmoni. Satu kata yang kusukai, kini.
Continue Reading...

KESURUPAN

04 August 2010

Hari ini merupakan hari ketiga ospek siswa baru dilaksanakan. Karena saking lelahnya, mendengarkan celoteh kakak-kakak senior, yang entah penting entah tidak itu, Eko duduk di pojok ruang sambil terkantuk-kantuk. Pikirannya melayang-layang cepat-cepat, dari masa depannya, ospek sekolahnya yang masih dua hari lagi, dan segala macamnya.
Continue Reading...

HANTU KEPALA BUTUNG

29 July 2010

“Maaf, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita lagi...” demikian kalimat terakhir yang diucapkan Kaila yang masih diingat Syahril, ketika wanita itu memutuskan jalinan kasih mereka berdua.

Syahril tak tahu mengapa semua ini bisa terjadi. Padahal ia sangat mencintai Kaila, wanita yang sudah dipacarinya sejak masa muda. Tapi, apa mau dikata, uang telah mengalahkan segalanya. Parmin, lelaki yang merebutnya itu, lebih kaya dibanding dirinya. Meskipun kalau membandingkan secara fisik, ia lebih ganteng daripada Parmin, yang mukanya aduh tak berbentuk. Ingin rasanya ia berteriak, namun tak sanggup.
Continue Reading...