Masuk Kerja Pertama

03 February 2009

Selepas sebulan penuh bergulat dengan gelisah, keringat, dan apak menapaki tangga lowongan kerja di suratkabar, akhirnya aku diterima kerja di penerbitan lagi. Hmm, bidang yang setahun belakangan ini kugeluti dan kunikmati.

Hari ini aku masuk pertama kalinya. Huh, menyenangkan? Iya juga. Cos, ternyata orang-orang yang tergabung di dalamnya lebih mudah akrab dan gampang menerima orang lain. Ups. Segitu dululah posting saya hari ini. Bye. (Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Adakah Aturan dalam Menulis?

25 January 2009

Dalam sebuah postingan milik cokikawasprimonta disebutkan 20 aturan menulis dari Erica Jong. Lebih baik saya sebutkan semua-muanya secara keseluruhan supaya lebih real. 20 aturan tersebut antara lain: Punya Keyakinan – Bukan Sinisme, Berani Bermimpi, Lepaskan Pikiranmu, Menulis Untuk Kesenangan, Cari Pembaca Membalik Halaman, Lupakan Politik, Lupakan Intelektualitas, Lupakan Ego, Jadi Seorang Pemula, Terima Perubahan, Jangan Mengira Pikiranmu Butuh Perubahan, Jangan Harapkan Kepuasan dari Pernyataan Puas (orangtua, politisi, sekolah, teman, dll), Gunakan segalanya, Ingat bahwa menulis itu adalah sikap kepahlawanan, Lupakan kritik, Ungkapkan kebenaran, Tetap Membumi, Menulis untuk anak-anak, Ingat untuk tetap liar, Tidak ada aturan.

Dari 20 aturan itu, yang paling menarik mata saya adalah aturan Tidak Ada Aturan. Kenapa? Bukankah Erica Jong telah menetapkan 20 aturan menulis, tetapi 20 aturan itu malah dibantah sendiri pada poin 20. Saya jadi menyimpulkan bahwa menulis tidak perlu memiliki aturan. Tetapi, menurut saya, sebelum mencapai pada tahap tidak memiliki aturan seorang penulis harus mengetahui prinsip-prinsip dasar, iatu bisa membaca dan menulis. Menurut kamu?
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Hari Depan, dan Kebingungan Hari Ini

22 January 2009

SEORANG sahabat sedang bergembira. Dia sedang kedatangan seseorang yang paling dinantikannya sejak setahun dia kuliah di Jogja. Siapa lagi kalau tak pacarnya. Yeap, ini hari pacarnya dia datang. Dia sumringah betul. Bangun saja dibelain pagi-pagi. Dan kebiasaan buruknya, yang suka tak mandi berhari-hari pun mendadak lenyap.

Teman-teman tertawa-tawa melihat tingkahnya yang lucu. Padahal biasanya, tak ada yang memperhatikan tingkahnya. Tapi, karena ada wanitanya saja, teman-teman menggarapnya. Busyet. Mengapa sampai terjadi perubahan sikap antara teman saya yang biasanya dan teman saya sewaktu ada pacarnya sekarang. Saking mengiang-ngiang di benak, saya tulis saja waktu saya ke warnet.

Teman saya yang beda prodi, tapi masih satu jurusan sama saya juga begitu. Sebelum punya pacar dia malah hendak meniatkan diri untuk mati muda. Sekarang pasca punya pacar? Niat itu berontak dan dia tak ingin mati muda lagi. Begitu besarkah kekuatan cinta? Atau sebegitu hebatkah para wanita? Hingga Adam tak berdaya di hadapannya. Lalu siapa yang tiba-tiba menangis paling keras sewaktu ditinggal minggat? Entahlah.

Halah... posting ini semacam melonggarkan kekakuan kepalaku. Bosan karena tak ada kerjaan meski banyak. Membunuh waktu luang sajalah. Trims atas perhatiannya.
Continue Reading...

Pilih Mana?

21 January 2009

SEORANG lelaki kebingungan. Di tangan kanannya tergenggam selembar uang seratus ribuan berwarna merah. Ia tengah menimang-nimang hendak diapakan duit itu. "Seumur-umur belum pernah aku memegang uang sebanyak ini. Pool mentok lima puluh ribuan. Itu pun sekali saja," katanya membatin.

Hati kecilnya ingin membelanjakan habis uang itu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. "Ah, kuhabiskan saja uang ini."

Sementara hati kecil lainnya mengatakan sebaliknya. "Jangan! Kau takkan pernah tahu kapan akan mendapatkan uang sebegini besar lagi."

Makanya ia bimbang. Toh, dengan membelanjakan semua-mua uangnya dalam satu waktu, ia takkan memiliki uang lagi di masa depan. "Ah, uang kan bisa dicari," begitu ia teringat kata-kata temannya.

Tolong buat teman-teman, bantuin dia dong, sebab si lelaki ini sedang kebingungan sangat.
Continue Reading...

Manusia Kamar Tetap Cinta Cawat dan BH

17 January 2009

MESKI saya lebih suka menyendiri di kamar yang dingin nan sepi, namun sebagai makhluk sosial, nampaknya saya tak bisa melepaskan diri saya dari kehidupan sosial. Apalagi, bagi saya yang masih demikian muda begini, dunia sekitar yang berwarna-warni terlalu indah untuk dibekap dalam kamar yang hanya dipenuhi warna-warna monochorme. Apalagi saya juga masih boleh bermain-main mata sama 1000 gadis manapun atau sedikit nakal memegang-megangi "susu" gadis muda yang menjulang meninju langit di bar di kota kami. Hal-hal semacam ini demikian sayang untuk dilewatkan.

Bolehlah kita sebagai lelaki menjauh sebentar, tapi "antena" kita yang satu itu, apakah sabar menanti? Ah, saya tak jamin pasti. Toh, saya lelaki, jadi tahu apa yang ada di benak lelaki. Hahaha... Cawat dan BH saja pikirannya.

Tak peduli dari kegelapan atau cahaya manapun datangnya. Selama ia manusia berjenis kelamin lelaki, pastilah begitu. Terkecuali ia impoten. Saya kenal lelaki, dia pernah menjadi kakak tingkat saya waktu kuliah. Sejak kuliah dia sudah aktif dalam dunia kepenulisan dan baca-membaca. Namanya, terus-terang, tak berani saya sebut-sebut. Terlalu lancang. Dia terlalu agung untuk didekati. Pada akhirnya, saya pernah menjadi rekan sekerjanya, mesti posisi saya dan dia tidak sama. Karena proses penyeretan (KKN)-nya saya menjadi anak buah bosnya, sangat jauh. Gampangnya begini, dia direkrut langsung oleh bos. Sementara saya diajak teman saya yang direkrut oleh rekannya kakak tingkat saya yang namanya tak berani saya sebut-sebut baru kemudian bos.

Kantor kami waktu itu ada di Jakarta Pusat. Carilah sendiri kalau kau sempat mampir-mampir di seputaran monas. Jika kau beruntung, mau bertanya-tanya pada orang sekitar atau pohon yang bergoyang, kau akan ditunjukkan di mana letak kantorku itu. Akan kusarankan kepada kau jangan mencarinya, sebab meski dibilang kantor, kehidupan di dalamnya tidak sehat. Aku sendiri yang mengalaminya. Bangun-Ngantor-Tidur-Nonton Tipi-Tidur-Bangun-dst, itu jadi upacara rutin. Di sana kau bakal serasa mati! Tak pernah tahu kehidupan luar.

Hal yang harus kuakui dari teman yang namanya tak berani kusebut-sebut ini, dia seorang yang tangguh. Penulis esei yang baik sekaligus pendebat handal. Dulu aku tak pernah tahu bagaimana dia hidup. Setelah menjadi rekan kantornya (dalam hubungan yang aneh) itu aku baru tahu bagaimana kehidupannya. Seperti tadi sudah kubilang (upacara rutinnya) dia hidup seperti itu. Seperti kelelawar yang hidup di malam hari, tidur sesiang mungkin, tubuh kurusnya dibiarkannya tak pernah merasakan sejuk air mandi. Alhasil, kakak tingkat saya yang tidak boleh saya sebut-sebut namanya ini jadi manusia bau, baik badannya maupun bajunya. Bagaimana tidak? Dia takkan pernah mencuci baju sebelum seminggu (atau lebih) dipakainya dalam keadaan tak pernah lepas dari badannya. Kaget? Aku sudah terbiasa dengan itu, meski tetap menutup rapat-rapat hidungku, ketika duduk di dekatnya.

Entah gara-gara insomnianya atau kesukaannya tidak mandi itu yang membuahkan sarang penyakit di dalam tubuhnya, aku tak tahu. Yang jelas begitu. Dia juga jarang keluar. Sekalinya keluar, itupun tengah malam dan ke pelabuhan pula. Suatu hari, sebelum pulang ke daerah asalnya Cirebon, aku pernah diajaknya ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Kaget aku ketika dia berbicara kepadaku, padahal sebelumnya tak pernah berbicara apapun kepadaku, selain hal-hal yang penting saja. Tapi dengan tegas kutolak ajakannya. Siapa yang mau bersanding dengan orang bau? Tak ada kan? Walaupun berangkatnya naik taksi dan dibayarin dia.

Meski suka menyendiri dan tak pernah menjalin hubungan yang akrab dengan orang alias membangun dinding tinggi untuk dirinya sendiri, tak sekalipun dia pernah mengganggu-ganggu aku. Dan itu yang membuat aku sedikit kagum dengan kemampuannya. Yeah dibalik kekurangan masih tersimpan benih kelebihan kan? Manfaatkan itu untuk kau sendiri.

Lalu bagaimana dia, kakak tingkat saya yang namanya tak bisa kusebutkan itu, melepaskan luapan cairan di tubuhnya? Usut diusut, kuketahui tempatnya membuang hajat, ada di Penjaringan, Jakarta Utara. Sial, di tempat ini pula aku pernah diajak ngamar seorang pelacur tua yang nafasnya sudah terburu dikejar kematian (Ups, ketahuan aku pernah dolan ke tempat ini... xixixi). yk, 160109

(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Di Persimpangan, Siapkan Bekal, Jalan Terus

14 January 2009

Jika sekarang Palestina-Israel sedang sibuk meramaikan tahun baru 2009 dengan perang, maka izinkan saya meramaikannya dengan postingan. Bukan tentang peperangan itu memang. Hal yang ingin saya sampaikan dalam postingan ini cuma tentang saya, saya, saya dan saya lagi. Sedikit agak narsis memang. Tak apalah.

Soalnya akhir-akhir ini keinginan saya untuk terus eksis di dunia tulis makin menggebu. Seorang kawan yang sudah hidup berbahagia di pulau seberang mengsms saya. Dia mengatakan kalau saya bisa hidup dari tulisan, seperti yang pernah dilakoni suaminya sekarang selama setahun tinggal di Jogja dulu. Sms dia segera kujawab dengan sms pula. Saya mengerti, ini sedang mengupayakan. Saran dia, saya disuruhnya menulis cerpen. Padahal pengalaman menulis cerpen saya buruk. Saya memang menulis cerpen, meski belum cukup bagus untuk menembus media. Itu sudah kulakukan sejak 2002 lalu.

Ada satu cerita menarik. Ceritanya, akhir tahun 2004-an, saya pernah mengirim cerpen berjudul Senja yang Sudah Mati. Saya pikir cerpen itu tidak dimuat dan gara-gara pikiran negatif saya itu, saya memang tak pernah lagi memeriksanya. Hingga dua tahun kemudian, diakhir 2007, kutemukan cerpen itu ternyata dimuat. Wah hati senang karena (kebetulan) tak punya uang. Meskipun tak pernah kudapatkan honornya yang cuma 50 ribu itu. Yang bikin saya bertanya-tanya adalah kenapa pihak redaksinya itu tak pernah telepon saya? Karena sudah berlalu, saya tak lagi mau mengurusi. Malas saja rasanya.

Kembali ke soal yang paling atas tadi. Sebetulnya saya juga sudah menjadi pengisi di rubrik Edukasinema majalah Jogjaeducation (klik di sini untuk tulisan sudah dimuat). Di samping menyambi-nyambi jadi reporter untuk artikel Almanak Pengetahuan. Sayangnya perkembangan yang demikian lamban begini menyulitkan saya untuk hidup lebih "sehat". Yeap apa yang paling dibutuhkan penulis? Buku kan... Sementara honor dari kedua tempat itu tidak mencukupi untuk beli buku. Hahaha...

Namun saya cukup bahagia dengan kehidupan saya yang masih kurang "sehat" ini. Pikir saya yang penting saya jalan. Sirkulasi bisa berputar tetap. Apa besok saya bisa hidup lebih bagus ketimbang ini, saya nggak tahu. Toh, bukan saya menetapkan jalan. Saya hanya bisa menjalankannya.

Thanks buat orang-orang yang membantu saya dalam proses ini. Maap kalian tak bisa kusebut satu persatu. (Wah, rasanya seperti mendapat Academy Award saja).

(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...