Surat Kematian Seorang Penulis

13 February 2009

Nogotirto-Yogyakarta, 13 Februari 2009

Sudah sejak beberapa hari terakhir ini hujan selalu mengguyur bumi Jogja di waktu-waktu pagi. Tidak macam hari-hari biasanya—waktu hujan sudah terpola: pagi terang, siang atau sore hujan. Mungkin, ini sesuai dengan ramalan BMG, yang memperkirakan bahwa hujan akan mencapai titik tertingginya di dua bulan awal tahun ini—Januari-Februari. Meski aku sesungguhnya betul-betul kedinginan jika malam tiba, aku tetap berharap hujan turun setiap tahunnya. Hanya saja, jangan keseringan dan waktu-waktu pagi.

Hari ini saja, ketika aku berangkat di pagi hari, hujan sudah mengguyur kota ini dengan penuh semangat. Dan tentunya, sewaktu aku berangkat ke kantor, aku kuyup. Padahal, aku sudah diwanti-wanti bapakku supaya mengenakan mantol (jas hujan), karena awan di sebelah barat terlihat gelap—diperkirakan olehnya akan hujan. Namun, karena kebodohan tingkat tinggiku dan kemalasanku terhadap sesuatu yang ribet, aku mengacuhkannya dan berangkat tanpa mengenakan mantol itu—yang lalu kulipat dengan sangat tidak rapi. Aku bilang pada bapak, “Sepertinya hari tidak hujan.”

“Hujan gerimis,” kata ayahku.

“Yeah, nanti semisal hujan. Akan kukenakan di tengah jalan.” Dalam hati aku berkata, ‘Sungguh akan terlihat konyol apabila aku mengenakannya namun hari tak hujan.’

Sial bagiku. Ternyata, awalnya hujan memang hanya rintik-rintik saja, semakin ke barat—ke arah kantorku—rinai hujan semakin deras. Tapi hingga aku sampai ke kantor, aku tetap tak mengenakan mantolku.
***

Sebuah pertanyaan menggumul dalam benakku lagi. Untuk apa aku menulis? Atau jika menarik pertanyaan lebih luas lagi, untuk siapakah aku menulis?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan ini sebetulnya sudah kutemukan dalam sebuah buku yang kubeli kemarin pas pameran buku di Gedung Wanitatama. Pendapat-pendapat itu terhimpun dalam pidato para sastrawan dunia ketika mendapatkan hadiah mereka (Nobel), membikinku mengerti bahwa ada dua kepentingan bagi kita untuk menulis. Pertama, keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari tulisannya, dalam hal ini adalah uang. Kedua, keinginan untuk mendapatkan kepuasan dari tulisannya, dalam hal ini kepentingan pribadi yang bermain—tanpa harus peduli siapa yang akan membaca tulisannya. Hal yang terakhir tersebut sama dengan ketika kita menulis catatan-catatan harian kita sendiri.

Di antara kedua pendapat itu, aku tak memilih salah satunya. Aku berada di tengah-tengahnya. Aku ingin menulis secara mandiri, di samping aku tetap mendapatkan penghargaan berupa materi dari tulisan-tulisanku. Terus terang saja, idealis tak membuat kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lihat saja, Marx, yang hidup dalam kondisi papa sampai tiba matinya, ketika memperjuangkan idealisnya demi melawan para kapitalis dengan ide-ide revolusionernya tentang sosialisme dan komunisme. Urgh... idealisme yang rumit.

Beberapa ideku untuk menjual tema buku tersandung dengan sebuah pertanyaanku: apakah buku itu akan laku dengan tema yang seperti itu?

Pernyataan sekaligus pertanyaan tersebut membuatku secara moral lumpuh dalam menulis. Sehingga muncul keengganan untuk mencari sebuah tema dengan tema-tema spektakuler. Sebab, sayangnya, aku hanya sedikit tahu tentang kegilaan manusia dalam membelanjakan uangnya. Seperti Isaac Newton yang harus berkemas dari genjotan pasar saat mengetahui ia lebih memilih untuk mencari hukum gravitas daripada kegilaan konsumerisme manusia. Apalagi dalam masalah tulisan, sungguh-sungguh belum terkonsep otakku ini akan hal-hal semacam itu.

Seingatku Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan (menurutku ini seruan kepada para penulis--lebih khusus lagi penulis pemula), “Tulislah mengenai apapun. Tak usah pedulikan apakah tulisan itu akan diterbitkan penerbit atau tidak. Tulis saja, siapa tahu kelak akan berguna.”

Memang, aku sudah mengembangkan dalam proses-proses penulisan macam yang dibilang Pram. Walau konsep itu masih terbatas dalam catatan-catatanku saja. Namun mulai aku masuk ke kantor ini (3 Februari 2009), setelah komputerku yang keparat itu mati, aku jadi mandul karena aku tidak menulis setiap hari seperti yang kuingin lakukan dulu. Namun, mulai hari ini aku akan mengembalikan kebiasaanku yang sedikit memudar itu. Dan tiap hari menulis. Tapi di komputer kantor ini saja dulu.

Bagiku, menulis (apapun) adalah mengenai rasa manusia mengungkapkan pandangan-pandangannya lewat tulisan. Untuk mendapatkan itu, kita harus mendapatkan independensi tanpa tedensi apa-apa, sebab keinginan muluk yang dilibatkan dari tulisan hanya akan menjadi sebuah tendensi bodoh yang secara mental membuat kita tumpul akan keinginan-keinginan kita sendiri. Jika kita sebagai penulis menghilangkan semangat menulis, maka saat itulah kita sebagai penulis telah mati.

Bagaimana menurut kamu?


(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Kapal Ikan Bersirip

SEORANG sastrawan bisa menemukan inspirasi di manapun mereka berada. Waktu berjalan-jalan di taman bebungaan, ia terinspirasi oleh bunga-bunga sekitar. Ketika berada sepi memancing di kali, ia memikirkan ide yang banyak. Bahkan, ketika sedang berada di kakus, bisa mendadak mendapat inspirasi. Tapi tak hanya sastrawan yang bisa terinspirasi. Semua orang pun bisa.

Contohnya adalah Alex Kawilarang Warouw Masengi, seorang Dekan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratunlangi (Unsrat), Manado. Gara-gara terinspirasi ikan terbang, ia menciptakan teknologi kapal ikan bersirip (sudah dipatenkan di Jepang). Teknologi yang memungkinkan kapal ikan tidak mudah goyah saat diterjang gelombang besar dan stabilitas kapal bisa tercapai. Stabilitas kapal ialah kemampuan kapal untuk balik dalam posisinya yang semula seusai mengalami guncangan. Dan merupakan rangkaian kombinasi antara ukuran yang cocok dan pembagian berat muatan, yang memungkinkan kapal mengikuti ayunan angin dan gelombang, serta selalu dapat kembali tegak dan seimbang.

Ceritanya, sewaktu ia menciptakan teknologi ini, ia sedang mencermati ikan terbang antoni (torani)—mulai dari bentuk tubuh yang montok, sirip, kepala, serta pergelangan ekornya. Dia heran melihat ikan tersebut mampu melayang-layang di atas permukaan air laut. Tubuhnya terangkat lewat pergerakan sirip yang relatif panjang dan dorongan pergerakan tubuhnya sendiri. Ikan ini bisa terbang tinggi bagaikan pesawat udara yang melayang-layang rendah di atas permukaan laut.

"Bentuk tubuh dan sifat-sifat khas ikan antoni inilah yang saya terapkan menjadi desain badan kapal ikan, berikut pemasangan sirip pada bagian lambung kapal. Hasilnya, tingkat kestabilan kapal ikan relatif menjadi lebih tinggi ketimbang jenis kapal ikan lain," tukas pakar teknik perkapalan perikanan lulusan The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang, tahun 1993 ini.

Dari inspirasi inilah, Alex—demikian ia akrab disapa—melakukan sejumlah pengkajian dan uji coba. Hasilnya? Stabilitas kapal ikan bersirip, rata-rata melebihi kapal ikan biasa. Hasil ini bisa dibilang cukup menggembirakan. Sebab Alex sudah mengkaji risetnya ini lebih dari satu dasawarsa lamanya, yaitu enam belas tahun. Pengujian dilakuan di Laut Cina Timur, Teluk Ohmura Nagasaki, Perairan Jepang Timur, Teluk Manado, dan perairan di sekeliling Kota Bitung. Sementara, uji laboratorium telah dilakukannya, di beberapa laboratorium ternama, macam: Laboratorium Kapal Ikan di Fakultas Perikanan Hokkaido University, Japan Fisheries Engineering Laboratory, Faculty of Ship Building Soga University, Nagasaki.

Hasil pengujian stabilitas terhadap kapal ikan tipe sabani dari Okinawa menggunakan sirip dalam kondisi statis naik 17 persen. Adapun kala kapal berada dalam kondisi dinamis atau sedang bergerak, tingkat stabilitasnya malah semakin naik, yaitu 22 persen. Dengan melakukan metode yang sama, telah diujicobakan pula beberapa kapal ikan tipe pamo—biasa dipakai nelayan-nelayan di Sulawesi Utara—baik dalam ukuran nyata maupun dalam skala model. Dan hasilnya diperoleh stabilitas kapal pamo dalam kondisi statis meningkat 19 persen. Sedangkan dalam keadaan dinamis meningkat 28 persen. Dashyat.

Atas semua-mua pembuktian tersebut, temuan teknologi kapal ikan bersirip yang didesai berdasar bentuk tubuh ikan antoni, kini sudah dipatenkan atas nama Alex Masengi di Jepang.

Dan, secara rutin, Alex diminta menjadi pembicara dan dosen tamu pada pelbagai kampus di Jepang dan Perancis. Pun sebuah perusahaan galangan kapal di Jepang saat ini, sedang bersiap-siap memproduksi secara massal kapal-kapal ikan bersirip yang teknologinya ditemukan Alex tersebut.

Alex tak memiliki garis keturunan seorang pelaut ataupun nelayan. Bahkan, ia tak besar di lingkungan pesisir. Dia lahir dan besar dalam lingkungan petani di Desa Kinilou, Tomohon, tempat kelahirannya. Dia akrab dengan pertanian palawija, hortikultura, serta budidaya tambak air tawar. Hal ini mengingatkan kita pada sosok Marcopolo yang tak memiliki darah keturunan pelaut, tetapi tetap menjadi pengarung samudra ulung.

Kini, meski ahli kelautan ini mendapatkan rejekinya dari laut, namun Alex yang tetap mencintai alam pegunungan. Karena itu, ia menetap di kaki Gunung (api) Lokon, Kota Tomohon—tepatnya di Desa Kinilou. Rumahnya yang sederhana dikelilingi tambak dan telaga lengkap dengan budidaya ikan mas dan mujair. Pada bagian depan rumahnya terlihat beberapa rumpun pohon bambu yang turut menambah semarak lingkungan rumahnya. Bahkan, rumahnya kerap dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan dosen-dosen fakultas perikanan dan ilmu kelautan.

Alex bersekolah di Fakultas Perikanan Unsrat, setelah sempat bekerja di sebuah perusahaan ikan, dan lulus tahun 1984. Selulusnya dari sana, ia mengikuti program master di Faculty of Fisheries Nagasaki University pada 1990. Dan meraih gelar doktor di The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang, tahun 1993.

Selain tetap aktif di dunia pendidikan, pun Alex dikenal luas di Sulawesi Utara sebab kegiatannya di pelbagai organisasi pemuda. Saat ini ia tercatat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemuda GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa)—salah sebuah gereja terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Ia juga menjadi anggota tim akademisi muda Unsrat yang secara aktif menjelaskan posisi, visi, dan misi Unsrat ke depan.

ALEX sering menyampaikan makalah ilmiahnya di berbagai kampus ternama di Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Dan pernah menjadi konsultan teknik pada Reedbed Technology, Liverpool, Inggris. Di Jepang namanya tercatat sebagai anggota konsultan pembuatan kapal Nagasaki Dream, konsultan pembuatan kapal layar Michinoku-Indonesia.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Masuk Kerja Pertama

03 February 2009

Selepas sebulan penuh bergulat dengan gelisah, keringat, dan apak menapaki tangga lowongan kerja di suratkabar, akhirnya aku diterima kerja di penerbitan lagi. Hmm, bidang yang setahun belakangan ini kugeluti dan kunikmati.

Hari ini aku masuk pertama kalinya. Huh, menyenangkan? Iya juga. Cos, ternyata orang-orang yang tergabung di dalamnya lebih mudah akrab dan gampang menerima orang lain. Ups. Segitu dululah posting saya hari ini. Bye. (Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Adakah Aturan dalam Menulis?

25 January 2009

Dalam sebuah postingan milik cokikawasprimonta disebutkan 20 aturan menulis dari Erica Jong. Lebih baik saya sebutkan semua-muanya secara keseluruhan supaya lebih real. 20 aturan tersebut antara lain: Punya Keyakinan – Bukan Sinisme, Berani Bermimpi, Lepaskan Pikiranmu, Menulis Untuk Kesenangan, Cari Pembaca Membalik Halaman, Lupakan Politik, Lupakan Intelektualitas, Lupakan Ego, Jadi Seorang Pemula, Terima Perubahan, Jangan Mengira Pikiranmu Butuh Perubahan, Jangan Harapkan Kepuasan dari Pernyataan Puas (orangtua, politisi, sekolah, teman, dll), Gunakan segalanya, Ingat bahwa menulis itu adalah sikap kepahlawanan, Lupakan kritik, Ungkapkan kebenaran, Tetap Membumi, Menulis untuk anak-anak, Ingat untuk tetap liar, Tidak ada aturan.

Dari 20 aturan itu, yang paling menarik mata saya adalah aturan Tidak Ada Aturan. Kenapa? Bukankah Erica Jong telah menetapkan 20 aturan menulis, tetapi 20 aturan itu malah dibantah sendiri pada poin 20. Saya jadi menyimpulkan bahwa menulis tidak perlu memiliki aturan. Tetapi, menurut saya, sebelum mencapai pada tahap tidak memiliki aturan seorang penulis harus mengetahui prinsip-prinsip dasar, iatu bisa membaca dan menulis. Menurut kamu?
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Hari Depan, dan Kebingungan Hari Ini

22 January 2009

SEORANG sahabat sedang bergembira. Dia sedang kedatangan seseorang yang paling dinantikannya sejak setahun dia kuliah di Jogja. Siapa lagi kalau tak pacarnya. Yeap, ini hari pacarnya dia datang. Dia sumringah betul. Bangun saja dibelain pagi-pagi. Dan kebiasaan buruknya, yang suka tak mandi berhari-hari pun mendadak lenyap.

Teman-teman tertawa-tawa melihat tingkahnya yang lucu. Padahal biasanya, tak ada yang memperhatikan tingkahnya. Tapi, karena ada wanitanya saja, teman-teman menggarapnya. Busyet. Mengapa sampai terjadi perubahan sikap antara teman saya yang biasanya dan teman saya sewaktu ada pacarnya sekarang. Saking mengiang-ngiang di benak, saya tulis saja waktu saya ke warnet.

Teman saya yang beda prodi, tapi masih satu jurusan sama saya juga begitu. Sebelum punya pacar dia malah hendak meniatkan diri untuk mati muda. Sekarang pasca punya pacar? Niat itu berontak dan dia tak ingin mati muda lagi. Begitu besarkah kekuatan cinta? Atau sebegitu hebatkah para wanita? Hingga Adam tak berdaya di hadapannya. Lalu siapa yang tiba-tiba menangis paling keras sewaktu ditinggal minggat? Entahlah.

Halah... posting ini semacam melonggarkan kekakuan kepalaku. Bosan karena tak ada kerjaan meski banyak. Membunuh waktu luang sajalah. Trims atas perhatiannya.
Continue Reading...

Pilih Mana?

21 January 2009

SEORANG lelaki kebingungan. Di tangan kanannya tergenggam selembar uang seratus ribuan berwarna merah. Ia tengah menimang-nimang hendak diapakan duit itu. "Seumur-umur belum pernah aku memegang uang sebanyak ini. Pool mentok lima puluh ribuan. Itu pun sekali saja," katanya membatin.

Hati kecilnya ingin membelanjakan habis uang itu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. "Ah, kuhabiskan saja uang ini."

Sementara hati kecil lainnya mengatakan sebaliknya. "Jangan! Kau takkan pernah tahu kapan akan mendapatkan uang sebegini besar lagi."

Makanya ia bimbang. Toh, dengan membelanjakan semua-mua uangnya dalam satu waktu, ia takkan memiliki uang lagi di masa depan. "Ah, uang kan bisa dicari," begitu ia teringat kata-kata temannya.

Tolong buat teman-teman, bantuin dia dong, sebab si lelaki ini sedang kebingungan sangat.
Continue Reading...