Beton Polimer Ramah Lingkungan

01 April 2009

Beton dikenal sebagai material bangunan paling populer yang tersusun dari komposisi utama batuan, air dan semen. Dikenal luas dan populer, karena bahan pembuatnya relatif mudah didapat secara lokal, harganya relatif murah, dan teknologi pembuatannya relatif mudah. Akan tetapi, belakangan ini beton yang kita kenal acap mendapatkan kritik, terlebih dari aktivis lingkungan hidup. Oleh karena itu, banyak para pakar mulai mencari solusi sebagai alternatif bahan-bahan campuran beton. Salah satunya adalah Djuanda Suraatmadja.

Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Ia adalah anak kedua dari 12 saudara. Gelar sarjana tekniknya didapatkan di Fakultas Teknik Sipil ITB (1960). Pada 1971 dan 1982 ia mengikuti pendidikan di The University of New South Wales, Australia, dan University California, Amerika Serikat, setelah sebelumnya di Purdue University selama dua tahun. Kariernya diawali sejak tahun 1960 sebagai asisten ahli. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (1977-1981) dan Kepala Program S2 STJR-ITB (1982-1992).

Ide awal pemikiran bahan polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja berawal dari ide mencari beton yang memiliki sifat lebih baik dari beton semen. Ketika membuka-buka literatur yang dipunyainya, diketahui bahwa polimer memiliki sifat seperti semen. Polimer adalah suatu zat kimia yang terdiri dari molekul-molekul yang besar, dengan karbon dan hidrogen sebagai molekul utamanya. Bahan ini berasal dari limbah plastik yang didaur ulang, kemudian dicampur dengan bahan kimia lainnya. Penggunaan bahan tersebut bertujuan memanfaatkan limbah plastik, di samping mencari alternatif pengganti semen.

Pada 1975, ia melakukan penelitian mengenai bahan polimer pengganti semen ini. Berkat ketekunan dan kegigihan, penelitian yang dilakukan dengan berbagai ujicoba di Laboratorium Struktur dan Bahan serta laboratorium lainnya di Institur Teknologi Bandung dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) akhirnya membuahkan hasil. Hasil penemuan tersebut sekaligus menarik perhatian ilmuwan dan para industriawan mengingat beberapa keistimewaan dan sekaligus kelebihan beton polimer dibanding beton semen.

Beton polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja memiliki sifat kedap air, tidak terpengaruh sinar ultra violet, tahan terhadap larutan agresif seperti bahan kimia serta kelebihan lainnya. Yang lebih istimewa lagi, beton polimer bisa mengeras di dalam air sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki bangunan-bangunan di dalam air. Satu-satunya kelemahan yang hingga kini belum teratasi adalah harga beton polimer masih belum bisa lebih rendah dibanding beton semen, kecuali untuk daerah Irian Jaya, di mana harga semen sangat mahal. Karena itu, beton polimer selama ini lebih banyak digunakan untuk rehabilitasi bangunan yang rusak.

Pada 2000, atas hasil karyanya ini Prof Ir H Djuanda Suraatmadja menerima penghargaan Anugerah Kalyanakretya pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional V yang dicanangkan Presiden Abdurrahman Wahid di Bandung. Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Karya penelitiannya yang umum telah diseminarkan dalam bentuk Standar Nasional yang bisa berguna untuk masyarakat luas. Yaitu dalam bentuk Peraturan Dinas No. 10 tentang Jalan Rel Indonesia, SNI Uji Tarik Langsung Material Beton tahun 1997, dan SNI Tata Cara Pemakaian Beton Polimer untuk Perbaikan dan Penguatan Struktur Beton tahun 1998.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Buku, Buat Apa?

18 March 2009

Bagi para pecinta buku dan dunia tulis-menulis, pernahkah kalian ditanya seperti ini: "Aku masih bingung, buku itu sebetulnya buat apa sih?"

Itu ditanya sama temanku, yah kenalanlah--karena tak pernah benar-benar mengenalnya, waktu kuliah dulu. Aku mengernyitkan dahiku, mikir. Masak sih lelaki tinggi yang berdiri di depanku itu tak mengerti. Dia seorang mahasiswa, sama seperti diriku, harusnya mengerti gunanya buku itu buat apa. Yang mana dalam hati langsung kujawab, tentu saja untuk dibaca dan menambah tingkatan ilmu kita bodoh! Hingga kini cerita itu masih kuingat selalu. Dan tentunya, membikin aku penasaran juga. Apa alasan kawanku bertanya seperti itu? Ditinjau dari sisi akademis seharusnya dia tahu, bahkan fakultasnya bukan ilmu pasti (baca: MIPA) atau ilmu ukur (baca: Teknik), tetapi fakultas sosial. Apa dia tak pernah didorong-dorong dosennya untuk terus membaca ya? Pikiranku terus berkecamuk. Aneh saja.

***

Tiga tahun kemudian, aku menuliskan judul yang hampir mirip dengan pertanyaan kawanku. Ini semua bermula dari kemuakanku terhadap yang namanya tulisan. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku tak bisa menikmati apa yang namanya tulisan atau buku. Bukan apa-apa. Tuntutan kerja di bidang penerbitan membuatku bingung memilah. Bagi seorang akademi atau pecinta buku sekalipun, buku adalah jendela dunia. Bagi penerbitan, buku adalah sumber uang. Dashyat. Perbedaan keduanya membuat jurang pemisah yang sangat dalam.

Belum berselang seminggu aku turut dalam pameran. Di sana kutemukan banyak sekali buku-buku bertebaran. Tetapi di sisi lain aku juga menemukan fakta bahwa persaingan sangat keras di sana. Aroma "bunuh-bunuhan" menguar di udara, ketika aku memasuki pintu hall c di JEC. Dan bukannya keinginan untuk mengetahui rahasia dunia lagi, saat aku berada di dalamnya. Apalagi sekarang ini aku mengetahui bagaimana tulisan direduksi sedemikian rupa untuk memenangkan persaingan antar penerbit. Pertanyaan pertamanya: "Hari ini dapat berapa?"

Kenyataan seperti ini lantas membuatku kembali mengingat kawanku yang telah kuceritakan di atas. Sekarang giliran aku yang bertanya: "Buku, buat apa?"
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Klip Bantalan Kereta Api Dua Gigi

05 March 2009

George Stephenson adalah bapak kereta api dunia yang berhasil menciptakan mesin uap baru bernama Locomotion pada 1821. Sementara Stevens adalah penemu bantalan pada rel kereta api pada 1831—sepuluh tahun sesudahnya. Dua nama orang Eropa tersebut memang sudah terkenal ke seantero jagat manusia. Nama mereka masih dikenang sebagai penemu di bidang transportasi, khususnya dunia perkereta-apian.

Tapi jika menyebut nama Budi Noviantoro, orang tentu segera mengernyitkan dahinya, bertanya-tanya. Padahal dia merupakan seorang penemu asal Indonesia di bidang perekeretapian, yakni klip bantalan kereta api dengan dua gigi. Budi Noviantoro lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 November 1960. Di lajur pendidikan ia mengantongi dua gelar S1; sarjana teknik sipil di Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan sarjana ekonomi di Universitas Islam Nusantara Bandung.

Novi, demikian ia akrab disapa, berhasil menemukan penambat rel (fastener) yang dikasih nama KA-Clip—dipatenkan atas nama PT KA dan diproduksi PT Pindad. Penambat rel ini lebih sesuai dengan karakteristik kereta api di Indonesia. Selama ini, ia melihat rel-rel kereta api Indonesia membutuhkan penambat khusus. Ambillah contoh untuk rel ukuran R33, penambat relnya tidak dapat memakai penambat bermerek Pandrol atau DE Clip karen longgar. Ditambah Pandrol atau DE Clip musti diimpor, minimal dirakit di tanah air dengan lisensi dan membayar royalti kepada pemilik paten.

Jika memakai KA-Clip yang sudah diuji bertahun-tahun di lapangan sebelum diakui dan mendapat paten, PT KA tidak perlu repot mengimpor, yang berarti sama halnya dengan menghemat bea impor. Klip rel kereta api temuan Novi hebatnya bisa digunakan di rel berukuran berapa pun—baik R33, R42 maupun R54.

Dan meski ia tak mematenkan temuanya—sebab sudah dipatenkan PJKA, ia tak merasa sedih. Alasannya sedari awal ia memang menyerahkan temuannya langsung ke PJKA untuk dimanfaatkan. Di samping itu pula, ia sepertinya tahu diri, sebab ia merasa tak bekerja sendiri. Ada PT Pindad yang memfasilitasinya mengolah penelitian, pengembangan, lantas memproduksi. Tapi apapun itu, namanya patut kita catatkan pada sejarah penemu Indonesia.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Reaktor Biogas Buatan Andrias

Semisal harga BBM kembali melambung, tak perlulah merasa cemas. Pun tak perlu repot turut berdemo di pinggir jalan menuntut turun bersama para mahasiswa. Sebab sudah ada alternatif pengganti demi bisa menyiasati permasalahan tersebut. Bikinnya mudah, biayanya terjangkau. Dan bahannya bisa diperbaharui pula. Namanya reaktor biogas.

Apa itu reaktor biogas? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia reaktor diartikan sebagai sarana atau alat pembangkit tenaga. Sementara biogas adalah gas yang terbuat dari kotoran ternak. Jadi reaktor biogas adalah alat pembangkit gas yang dibuat dari kotoran ternak. Penemunya punya nama lengkap Andrias Wiji Setio Pamudji. Seorang lelaki yang berasal dari Desa Ngrendeng, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Tahukah Anda bahwa temuan ini bermula dari rasa penasaran pria tersebut untuk membuktikan teori-teori yang pernah didengarnya di bangku sekolahan dengan cara melakukan percobaan. Memang sudah sedari kecil, Andrias menyukai dunia riset-meriset. Dia pernah membuat listrik dan perahu motor mainan dengan tenaga penggerak kincir angin. Kincir angin ini dibuatnya dari pemutar kaset dalam tape. Pun ia juga hobi bercocok tanam dan beternak. Dan dalam melakukan hal ini ia selalu tekun, sebab ketekunan merupakan kuncinya dan sudah menjadi prinsip Andrias, yang diajarkan ibunya.

Ceritanya tentang reaktor biogas temuannya bermula kala ia masih kuliah di tingkat III di Jurusan Teknik Kimia Departemen Teknik Industri Institur Teknologi Bandung sekira tahun 2000-an. Waktu itu ia meriset pembikinan reaktor biogas yang sederhana. Tapi dari yang sederhana inilah muncul sesuatu yang hebat. Andrias sudah mengetahui bahwa kotoran ternak bisa dijadikan gas. Sebab tahu, maka keinginantahuannya menjadi tambah menggebu.

Untuk beroleh kotoran ternak, ia pergi ke sebuah peternakan. Sepulangnya dari sana ia membawa kotoran ternak sapi yang sudah dicampuri air dan dimasukkan ke dalam jeriken berukuran lima meter. Waktu itu ia langsung meletakkannya di dalam kos-kosannya, tapi tidak dibuka melainkan ditutup. Tanpa dicampur apa-apa lagi, terjadi fermentasi alami, yang kemudian kotoran ternak tersebut berubah menjadi gas.

Sebulan sesudahnya, tutup jerigen dibuka dan lubang jeriken segera diberi plastik. Kotoran sapi yang telah terfermentasi segera mengeluarkan gas, yang masuk ke dalam plastik. Pasca itu, Andrias menyoblos plastik tersebut dengan benda tajam dan keluarlah gas. Walhasil, ketika disulut korek api langsung terbakar. Demi menyempurnakan karyanya, ia pun mengutang ke sana-sini, ke sejumlah kawan-kawannya. Berkali-kali riset kemudian dilakukan guna mendapatkan bentuk reaktor dan penampung gas yang murah, kuat dan berkapasitas cukup apabila digunakan untuk keperluan rumah tangga.

Dan jerih payahnya terbayar tunai, sewaktu ia membuat reaktor dari plastik dengan ketebalan 250 mikron serta menciptakan kompor untuk jenis gas metana. Kenapa yang dipilih sebagai penampungnya itu plastik dan bukan lainnya? Karena gas yang dihasilkan belum mampu dikemas dalam tabung. Gas kotoran sapi adalah jenis metana (CH4). Sementara gas yang dikemas dalam tabung merupakan gas yang bisa dicairkan, yang berasal dari butana (C4H10) dan pentana (C5H12).

Apabila gas bisa dicairkan, maka jumlah volume yang bisa ditampung jadi lebih banyak. Sayangnya, metana belum bisa demikian. Semenjak ditekuni (tahun 2000-an), temuan Andrias baru dipasarkannya tiga tahun kemudian, yaitu pada 9 April 2005. Padahal dua tahun sejak ditekuni, tahun 2002, karyanya pernah memenangkan lomba kreativitas mahasiswa yang diadakan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Bagaimana tertarik untuk mencobanya?
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Singkong Raksasa

Bagi masyarakat Indonesia, singkong, atau yang punya nama lain ketela pohon, sudah tak asing lagi. Pelbagai macam makanan bisa dibikin dari bahan dasar ini. Misal getuk, tape singkong, combro, misro, dan lain sebagainya.

Namun singkong yang ditemukan dan dikembangkan oleh Abdul Jamil Ridho dan Niti Soedigdo memang lain daripada yang lain. Sebab singkong temuannya lebih besar dan lebih panjang dari singkong normal. Percaya tak percaya, syahdan, penemuan singkong unik ini sedikit berbumbu klenik—seperti menemukan benda-benda bertuah yang kerap dijadikan ajimat (keris, cincin, akik dan sebagainya).

Tahun 1996-an, Abdul Jamil Ridho—pengelola Pondok Pesantren Darul Hidayah di Kota Tulang Bawang, tengah melakukan perenungan dan dzikir panjang. Dia melakukannya di tengah hutan Panarangan Jaya, Lampung Utara. Kala sedang khusyuk-khusyuknya berdzikir, Ridho secara mendadak mendapatkan “penglihatan” ke sebatang tanaman. Selanjutnya ia mendekati. Sekilas tanaman tersebut sama dengan tanaman singkong miliknya. Meski, apabila dicermati lebih dekat dan seksama, ada sedikit perbedaan. Rasa penasaranlah yang membuatnya mencabut tanaman tersebut. Dan ternyata akarnya juga mirip seperti akar singkong, hanya saja diameternya lebih kecil. Dan panjangnya mencapai satu meter lebih per batang jalar dalam rangkaian umbi.

Pengembang sekaligus perekayasa singkong “ajaib” ini dipasrahi kepada Niti Soedigdo—orang kepercayaan Ridho. Caranya tanaman tersebut dikawinkan dengan singkong karet untuk beroleh pembesaran pada diameter akarnya. Singkong karet adalah singkong yang tak bisa dimakan sebab singkong ini mengandung racun yang berbahaya bagi manusia.

Hasil persilangan pertama dan kedua, singkong ini belum mencapai bentuk maksimal yang dikehendaki. Barulah ketika persilangan dilakukan yang ketiga kalinya, bentuk maksimal didapatkan. Pengembangan demi pengembangan pun dilakukan.

Varietas singkong raksasa ini menurut kedua orang tersebut memiliki keunggulan. Ongkos produksinya tidak memakan biaya banyak alias lebih irit. Bayangkan, apabila singkong biasa memakan ongkos produksi mencapai 4 juta rupiah per hektar, maka singkong raksasa ini cuma memakan ongkos produksi 1 juta rupiah saja untuk satu hektarnya. Hasil yang didapat? Dengan waktu tanam berkisar antara 8 hingga 11 bulan, singkong raksasa bisa mencapai 150 ton per hektar, sementara singkong biasa hanya mencapai 20 ton per hektar. Jelas cukup menggiurkan dari sisi ekonomis. Bibitnya sendiri dijual dengan harga 150 rupiah per batangnya dengan panjang antara 15-20 sentimeter. Dan bibit ini dijual di Gabungan Koperasi Pertanian Serba Guna Lampung.
Penemuan ini barangkali bisa membuka mata kita, bahwa di Indonesia banyak beragam jenis makanan yang bisa dikonsumsi masyarakatnya. Sehingga masyarakat Indonesia tak melulu bergantung pada beras dan bisa bebas dari bahaya kelaparan.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Kompor Pengering dan Antena Parabola Tenaga Surya

01 March 2009

Waton tekun, mesti ketemu tujuane. Ora usah neko-neko!
(Asal tekun, pasti berhasil. Tidak usah berbuat yang aneh-aneh!)

Demikian Minto berpesan. Pesan itu tak asal-asalan diucapkannya. Lelaki yang bekerja menjadi guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Prambon I, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur ini sudah mendapat pengakuan dari berbagai kalangan perguruan tinggi. Termasuk penghargaan dari Direktorat Jenderasl Listrik dan Pengembangan Energi Departemen Pertambahan dan Energi. Dia sudah berkreasi dengan membuat alat dwi fungsi. Jadi kompor ok. Jadi antena parabola pun bisa.

Alat ini dibuat dalam dua tahapan, pertama ia membuat kompor pengering bertenaga matahari kemudian meneruskannya dengan menjadikannya berfungsi sebagai antena parabola. Awal tahun 1988, Minto yang tinggal di Desa Mruwak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun membuat kompor pengering hasil pertanian bertenaga surya.

Keinginan ini dipicu oleh kenyataan yang diketahuinya bahwa masyarakat p[edesaan yang hidup di kaki Gunung Wilis (Madiun). Sehari-harinya mereka menggantungkan hidupnya mencari kayu-kayu bakar untuk bahan memasak. Padahal hutan jati di wilayah tersebut semakin gundul, karena itu masyarakat harus berjalan kaki sejauh 3,5 hingga 8 kilometer. Tiga tahun sesudahnya, tahun 1991, keberhasilannya tersebut memicu semangatnya untuk berkreasi lagi. Kompor pengeringnya dikembangkan lagi –bisa dimanfaatkan—sebagai antenna parabola.

Kompor pengering milik Minto tersebut bisa berfungsi banyak, bisa mengeringkan hasil pertanian, perikanan (ikan asin dan sebagainya), krupuk, lempeng, emping. Prinsip kerjanya mengubah sinar matahari menjadi panas, yang didasarkan pada pantulan cahaya matahari oleh beberapa keping cermin datar. Keping-keping ini ditata pada kerangka reflector yang bentuknya menyerupai parabola. Bila reflector diarahkan tegak lurus searah datangnya sinar matahari dan semua pantulan akan menuju ke satu titik. Kumpulan sinar pantul ini akan menimbulkan panas amat tinggi. Udara panas tersebut dialirkan lewat rak-rak pengering. Hasil ujicoba alat ini diperoleh suhu panas pad mulut kolektor 57 derajat Celsius, pada rak pertama 51 derajat Celsius dan rak delapan 46 derajat Celsius.

Sementara prinsip kerja antena parabolanya adalah sebagai berikut: kompor pengering tersebut ditambahkan Low Noise Block (LNB), feed horn, receiver, kabel dan pesawat televise. Prinsipnya, reflector yang tegak lurus dengan arah datangnya gelombang elektromagnetik dari satelit akan memantulkan kembali semua gelombang itu menuju ke focus. Kumpulan gelombang tersebut ditangkap LNB yang berlaku sebagai penguat sinyal. Dari LNB ini diteruskan lagi ke receiver lewat kabel untuk dipilih gelombang mana yang diinginkan. Dari reicever dilanjutkan ke pesawat televisi.

Namun, meski ia sudah diakui dan menerima penghargaan sebagai seorang penemu, Minto tetap tak meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang guru. Dia tak ingin berpikir neko-neko karena pekerjaannya yang utama adalah guru. Ya, inilah yang bisa kita petik dari Minto, seorang guru sekaligus penemu kompor pengering hasil pertanian dan antena parabola.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...