Stroke

07 December 2010

Pak Zainal tersenyum-senyum sendiri ketika melihat para tamu undangan resepsi pernikahan anaknya tampak senang. Yep, apalagi yang diharapkan oleh seorang penghajat, selain melihat tamunya senang? Resepsi itu sendiri dibuat besar-besaran, mewah. Memang itulah yang direncanakan Pak Zainal sekeluarga. Dilihatnya sang anak kelihatan bahagia bersanding dengan sang pengantin wanita. Keduanya berbalut busana khas Yogyakarta, karena memang dari sanalah keduanya berasal.

Yep… ini akan menjadi hari terbaik baginya dan di masa depannya nanti.

* * *

Beberapa tetangga datang ke rumah Pak Zainal. Para warga sekitar mendapat kabar kalau Pak Zainal terkena stroke dalam sebulan ini. Memang sejak anaknya menikah, urat syaraf Pak Zainal menegang dan tak bisa kembali mengendur. Desas-desus yang berkembang di dalam masyarakat, Pak Zainal stroke karena terlampau banyak utang. Di samping, hartanya sudah ludes semuanya.
Continue Reading...

Dipecat

06 December 2010

Pak Idham tergopoh-gopoh masuk ke dalam kelas. Terlambat lagi ia hari ini untuk mengajar. Dilihatnya murid-murid riuh tak memerhatikan dirinya masuk ke dalam kelas. Pak Idham memang guru senior di sini. Pengalamannya mengajar sebagai guru honorer sudah dua puluh tahun. Selama itu pula ia menunggu untuk diangkat jadi PNS.

Pengalamannya sebagai guru kawakanlah yang membuatnya berhasil menenangkan para murid yang sedang riuh itu. Kemudian, sebagai guru yang baik, ia memulai pengajarannya secara runtut yang telah dihafalnya selama dua puluh tahun ini.

* * *

Selesai mengajar Pak Idham dipanggil Bu Vera—kepala sekolah SMP Suka-Maju. Bu Vera terkenal keras, khususnya pada para guru honorer yang mangkir. Barangkali ia memang menginginkan tak ada lagi guru honorer di sekolahnya supaya tak menghabiskan bujet ABKS (Anggaran Belanja Keperluan Sekolah). “Telat lagi ya…” tutur Bu Vera.

Pak Idham hanya mengangguk pelan, kemudian tertunduk.

“Sudah saya peringatkan pada Pak Idham supaya tidak telat. Tapi… apa alasan bapak telat lagi hari ini?!”

“Maaf, Bu,” jawab Pak Idham, suaranya terdengar tercekat. “Saya harus mengantarkan makanan kecil ke warung-warung yang saya titipi...”

“Itu kan bukan tugas Bapak! Tugas Bapak adalah mengajar di sini, bukan yang lainnya! Mengerti?!” Bu Vera berusaha mengatur ritme suaranya yang terdengar meninggi. Dan tidak enak di telinga Pak Idham.

“Baik, Bu. Maaf… Lain hari tidak akan terjadi lagi.”

“Tidak ada lain hari.”

“Maksud, Bu Vera?!”

“Mulai hari ini Pak Idham dipecat!”

Bulir-bulir air keluar dari dua mata Pak Idham yang berkaca-kaca. Kerja dua puluh tahun pupus sudah. “Huff…” Pak Idham menghela napasnya, tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ia pulang menjinjing tas kerja, kemeja biru muda sudah terlihat lusuh beriringan dengan raut mukanya yang kusut. (lil)
Continue Reading...

HO HO HO

Hari sudah menjelang malam saat seorang bocah lelaki kecil masih terpekur sendirian di dalam kamarnya. Ini malam natal, seru banyak orang, termasuk kawan-kawan sebayanya. Ia sendiri tak tahu apa itu malam natal. Orang-orang bilang malam yang kudus, di mana seorang sinterklas akan datang yang mengabulkan doa dan keinginan anak-anak.

Ia tak pernah mengenal sinterklas si pembawa mainan. Yang dikenalnya adalah Mang Ujang, yang saban pagi sampai siang, saat sekolahnya tutup, menjajakan mainan-mainan yang terbuat dari plastik kepadanya dan kawan-kawannya satu sekolah. Yang mukanya belumlah tua, tak bisa dibilang muda. Ya... ya... ya... seperti itulah Mang Ujang.

Bocah itu kembali menekuri pikirannya yang masih menggayut. Barangkali sinterklas itu wajahnya mirip sama Mang Ujang si penjaja mainan. 'Toh, kedua-duanya memang membawa mainan untuk anak-anak kan?' batin si bocah. 'Kalau begitu semisal nanti sinterklas datang ke rumah, aku harus membayar mainannya dong?'

Lantas kaki-kakinya yang masih mungil itu melangkah ke celengan babinya yang terbuat dari genting. Dikocoknya celengan babi itu beberapa kali. Memeriksa apakah ada uang di dalam sana. Ternyata ia mendengar beberapa rincing bunyi duit logam. Sesaat kemudian bocah itu membanting celengannya. Brakk... berhamburanlah duit-duit logam yang telah dikumpulkannya dengan susah payah. Dihitungnya satu-per-satu duit logam miliknya. Hanya ada tiga ribu tiga ratus rupiah saja. Hmmh, apakah harga mainan yang dipintanya lebih mahal? Atau lebih murah?

Desis di bibirnya lirih terdengar, 'Sinterklas yang baik, tolong kabulkan. Aku hanya ingin mainan yang bentuknya serupa dengan ayah dan ibu. Itu saja. Apakah duit yang kupunya ini kurang? Atau cukup untuk membelinya?'

Jam menunjukkan pukul dua belas kurang sebelas menit. Bocah itu sudah berada di alam mimpinya. Menikmati kebersamaannya bersama ayah dan ibunya di alam mimpi. (lil)
Continue Reading...

Beton Polimer yang Ramah Lingkungan

24 October 2010

Beton dalam pengertian umum adalah campuran bahan bangunan berupa pasir dan kerikil atau koral kemudian diikat semen bercampur air. Tetapi, tanpa menggunakan semen Prof Ir H Djuanda Suraatmadja melakukan penelitiannya sampai akhirnya terciptalah bahan bangunan baru yang disebut beton polimer. Hasilnya? "Ternyata cukup bagus dan sampai sekarang tidak pernah ada keluhan," kata Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Rektor Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung itu mengungkapkan berbagai uji coba lapangan sekaligus implementasi hasil temuannya.

Ide dasar penelitian beton polimer pada awalnya berdasarkan pemikiran ingin mencari beton yang dalam hal-hal tertentu memiliki sifat lebih baik dari beton semen. Ternyata dari literatur diketahui, polimer memiliki sifat seperti semen.

Polimer adalah suatu zat kimia yang terdiri dari molekul-molekul yang besar dengan karbon dan hidrogen sebagai molekul utamanya. "Bahan polimer berasal dari limbah plastik yang didaur ulang, kemudian dicampur dengan bahan kimia lainnya," kata penerima Piagam Penghargaan Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup (1983) itu. Penggunaan bahan tersebut sekaligus bertujuan memanfaatkan limbah plastik, di samping mencari alternatif pengganti semen. "Ketika itu harga semen masih melonjak-lonjak," katanya dengan tutur kata halus.

Berkat ketekunan dan kegigihannya, penelitiannya yang dilakukan sejak tahun 1975 dengan berbagai uji coba di Laboratorium Struktur dan Bahan serta laboratorium lainnya di ITB dan LIPI akhirnya membuahkan hasil. Hasil penemuan tersebut sekaligus menarik perhatian ilmuwan dan para industriawan mengingat beberapa keistimewaan dan sekaligus kelebihan beton polimer dibanding beton semen.

Tahun 2000, Prof Ir H Djuanda Suraatmadja menerima penghargaan Anugerah Kalyanakretya pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional V yang dicanangkan Presiden Abdurrahman Wahid di Bandung.

BETON polimer memiliki sifat kedap air, tidak terpengaruh sinar ultra violet, tahan terhadap larutan agresif seperti bahan kimia serta kelebihan lainnya. Yang lebih istimewa lagi, beton polimer bisa mengeras di dalam air sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki bangunan-bangunan di dalam air.

Satu-satunya kelemahan yang hingga kini belum teratasi adalah harga beton polimer masih belum bisa lebih rendah dibanding beton semen, kecuali untuk daerah Irian Jaya, di mana harga semen sangat mahal. Karena itu, beton polimer selama ini lebih banyak digunakan untuk rehabilitasi bangunan yang rusak.

Perbaikan kubah clinker storage PT Semen Padang yang retak antara 0,01 sampai 5 mm akibat tertimpa crane dilakukan dengan menginjeksi bahan polimer JDB-01 Grout. Bahan serupa diberikan untuk perbaikan rotary kiln PT Tonasa IV yang retak pada pondasinya. Sementara perbaikan prilling tower PT Multi Nitrotama Kimia di lingkungan pabrik natrium nitrat di Dawuan, Cikampek, yang rusak akibat agresi bahan kimia tersebut, dilakukan dengan bahan polimer JDB-05 Coat. "Sampai sekarang masih tetap baik dan tidak ada keluhan," kata penerima Piagam Penghargaan Teladan Menteri PU (1992) dan Tanda Kehormatan "Satyalencana Karya Satya XXX tahun" itu.

JDB-01 Grout dan JDB-05 Coat merupakan dua dari enam jenis bahan polimer hasil penelitiannya yang sudah dipatenkan dengan judul Beton Polimer untuk Perbaikan Struktur Beton dengan nomor paten P-981069. Empat jenis bahan polimer lainnya yang sudah dipatenkan adalah JDB-02 Seal, JDB-03 Bond, JDB-04 Prepack dan JDB-06 Shot. JDB merupakan singkatan dari penemunya, Djuanda dibantu dua mahasiswa yang menjadi rekannya dalam penelitian, Dicky dan Budi. Masing-masing jenis polimer tersebut memiliki sifat dan kegunaan berbeda. JDB-01 Grout, misalnya, merupakan bahan untuk pekerjaan grouting (pelapisan untuk menutupi celah). Sedangkan JDB-02 Seal merupakan bahan pelapis/penutup retakan pada pekerjaan grouting.

Untuk merekatkan dua permukaan digunakan polimer JDB-3 Bond yang memiliki daya adesi tinggi. Sedangkan untuk beton prepack digunakan JDB-04 Prepack. Sedangkan JDB-05 Coat digunakan untuk pelapis dinding, lantai dan permukaan struktur bangunan lainnya dari gesekan atau agresi. Polimer JDB-06 Shot merupakan bahan untuk pekerjaan shotcrete.

Keenam jenis polimer tersebut, selama ini masih diproduksi secara terbatas dan hanya berdasarkan pesanan. Walaupun ia mengakui tidak memiliki modal, tetapi ia belum bersedia menjual hak patennya. Dalam kesibukannya sebagai Rektor Itenas dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Siliwangi (Unsil) di Tasikmalaya, ia masih menyisihkan waktunya untuk melakukan penelitian. "Saya masih ingin mengembangkan lagi," katanya mengemukakan alasan.

Lahir dari keluarga guru di Bandung, 3 Januari 1936, setamat dari Fakultas Teknik Sipil ITB (1960) Djuanda menjadi pegawai Pekerjaan Umum Jabar. Setelah enam bulan, ia kembali ke kampusnya karena kecewa. "Gambar-gambar yang saya buat tidak pernah direalisir," ujarnya.

Anak kedua dari 12 bersaudara itu akhirnya memutuskan mengikuti jejak orangtuanya. Ayahnya, Otong Suraatmadja, adalah mantan Direktur SMA I Bandung, dan ibunya, Ny Kamidah Atmadidjaja, pernah menjadi guru Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) di Sumedang. Kariernya di ITB diawali sejak tahun 1960 sebagai asisten ahli. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (1977-1981) dan Kepala Program S2 STJR-ITB (1982-1992). Ayah tiga anak dari perkawinannya dengan Ny Hj Anny Sumarni M Ranusadjati itu banyak melakukan penelitian, di samping tidak kurang dari 24 karya tulis dengan delapan di antaranya disampaikan di luar negeri serta 16 karya teknologi yang sebagian besar merupakan konstruksi beton. Tahun 1971 dan tahun 1982 ia mengikuti pendidikan di The University of New South Wales, Australia, dan University California, Amerika Serikat, setelah sebelumnya di Purdue University selama dua tahun.

Selama itu ia juga banyak melakukan penelitian. Karya-karya penelitiannya yang umumnya telah diseminasikan dalam bentuk Standar Nasional yang dapat berguna bagi masyarakat luas. Yaitu dalam bentuk Peraturan Dinas Nomor 10 tentang Jalan Rel Indonesia, SNI Uji Tarik Langsung Material Beton pada tahun 1997, dan SNI Tata Cara Pemakaian Beton Polimer untuk Perbaikan dan Penguatan Struktur Beton pada tahun 1998.
Karya lainnya yang sekaligus merupakan penemuannya yang terbaru adalah pemanfaatan cooper tailling yang merupakan limbah PT Freeport di Irian Jaya yang selama ini terbuang percuma, bahkan menjadi masalah lingkungan.

Cooper tailling berbentuk seperti pasir namun kurang baik jika digunakan sebagai bahan konstruksi beton semen. Sebaliknya bahan tersebut cukup baik untuk campuran beton polimer sehingga bisa menciptakan peluang wirausaha baru dalam produksi dan aplikasi beton polimer. Namun, ahli beton itu menyayangkan kerja sama ITB dengan PT Freeport terhambat karena situasi keamanan di wilayah tersebut.[]
Continue Reading...

Albert Einstein, Si Autis yang Jenius

21 October 2010

INI UNTUK MENGINSPIRASI PARA PENEMU DI INDONESIA

“Albert, kamu bodoh sekali. Kamu tak bakalan jadi orang nanti.”

Einstein mendapat ide membangun teori relativitas tahun 1905. Pikirannya gusar menerjemahkan ide itu. Ide ini berasalah dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak. Cahaya merambat dalam lautan ether dan bumi bergerak dalam ether yang sama. Oleh karena itu gerakan ether haruslah dapat diamati dari bumi.

Namun, Einstein tidak pernah menemukan satu bukti pengamatan aliran ether tersebut di dalam literatur fisika. Ia sangat terdorong untuk membuktikan aliran ether relatif terhadap bumi, dengan kata lain gerakan bumi di dalam ether. Pada saat itu, ia sama sekali tidak meragukan eksistensi ether serta gerakkan ether tersebut.

Sebenarnya, ia mengharapkan kemungkinan pengamatan pada perbedaan antara kecepatan cahaya yang bergerak searah dengan gerakan bumi dan cahaya yang bergerak berlawanan (dengan bantuan pantulan cermin). Ide tersebut dapat direalisasi dengan menggunakan sepasang termokopel untuk mengukur perbedaan panas atau energi mereka. Ide ini mirip dengan eksperimen interferensi Albert Michelson, namun saat itu Einstein tidak begitu familiar dengan eksperimen Michelson. Ia berkenalan dengan hasil-nihil (null-result) eksperimen Michelson saat ia masih mahasiswa dan sejak saat itu ia sangat terobsesi dengan idenya.

Secara intuisi Einstein merasakan bahwa jika kita menerima hasil-nihil tersebut maka ia akan mengantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa pandangan kita tentang bumi yang bergerak di dalam ether adalah salah. Ini adalah langkah pertama yang menarik Einstein ke arah teori relativitas khusus. Sejak saat itu, Einstein mulai yakin bahwa jika bumi bergerak mengelilingi matahari maka gerakannya tidak pernah dapat dideteksi dengan eksperimen yang menggunakan cahaya.”

Tahun 1895, Einstein membaca makalah Hendrik Lorentz yang mengklaim bahwa ia dapat memecahkan problem elektrodinamika seutuhnya melalui pendekatan pertama, yaitu suatu pendekatan di mana pangkat dua atau lebih dari rasio antara kecepatan benda dan kecepatan cahaya diabaikan. Setelah itu, Einstein mencoba mengembangkan argumen Lorentz pada hasil eksperimen Armand Fizeau dengan mengasumsikan bahwa persamaan gerak elektron, sebagaimana telah dibuktikan Lorentz, berlaku dalam sistem koordinat baik yang mengacu pada benda bergerak maupun pada vakuum. Ia yakin dengan keabsahan elektrodinamika yang disusun oleh Maxwell dan Lorentz dania sangat yakin bahwa mereka dengan tepat menjelaskan fenomena alam yang sebenarnya. Lebih-lebih pada fakta bahwa persamaan yang sama berlaku dalam sistem koordinat bergerak serta sistem vakuum, jelas memperlihatkan sifat invarian (tidak berubah) cahaya. Walau demikian, kesimpulan ini bertentangan dengan hukum komposisi kecepatan yang dianut saat itu. Mengapa kedua hukum dasar ini bertentangan satu sama lain? Masalah besar ini membuat Einstein berpikir keras. Ia harus menghabiskan setahun penuh dengan sia-sia dalam mengeksplorasi kesempatan memodifikasi teori Lorentz.

“Masalah ini terlihat terlalu berat untuk saya!”

Suatu hari, sebuah percakapan dengan teman Einstein di Bern membantu Einstein memecahkan masalah besar ini. Einstein mengunjunginya pada hari yang cerah, dan bertanya padanya, “Saat ini, saya sedang dihadapkan pada masalah besar yang saya kira tidak pernah dapat diselesaikan. Sekarang saya ingin membagi masalah ini dengan Anda.”

Saya menghabiskan berbagai diskusi dengannya. Tiba-tiba saya mendapatkan ide yang sangat penting. Esoknya Einstein mengatakan kepadanya, “Terimakasih banyak. Saya telah memecahkan seluruh masalah saya.”

Dan… Einstein menemukan teori relativitasnya yang terkenal itu…
SI BODOH YANG GEMAR FISIKA DAN MATEMATIKA
Lahir di Ulm di Württemberg, Jerman, Einstein masih memiliki garis keturunan Yahudi ini menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt. Bapaknya, Hermann Einstein, adalah pedagang ranjang bulu yang kemudian beralih profesi di bidang elektrokimia, dan ibunya, Pauline.
Siapa sangka, orang paling jenius di muka bumi abad ke-19 dan ke-20 ini adalah orang bodoh. Setidaknya begitulah anggapan banyak orang tentangnya saat ia masih kecil.

Bayangkan saja, Albert cuma kuat sekolah tiga bulan sejak dimasukkan ke sekolah Katolik. Ia dikeluarkan. Gurunya menganggap Albert bodoh dan lambat, sehingga tidak layak diperjuangkan di sekolah. Bahkan, sang guru mengatakan hal yang sangat menyakitkan. “Albert, kamu bodoh sekali. Kamu tak bakalan jadi orang nanti.” Di sekolah, ia hanya tertarik pada fisika dan matematika dan tidak menyukai hapalan dan kerap membuat onar menantang tata tertib.

Kebodohan Albert memang beralasan. Ia sudah mengidap penyakit dsylexia (suatu penyakit yang mengakibatkan seseorang kesulitan untuk belajar) serta autisme (suatu penyakit yang membuat kelakuan seseorang aktif dan sulit dikontrol).

Namun, di saat yang bersamaan sifat-sifat luar biasanya sudah tampak. Ketika usianya lima tahun, ayahnya menunjukkan kompas kantung. Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut. Dia menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat paling menggugah dalam hidupnya.

DI LUARLAH PENDIDIKAN SESUNGGUHNYA
Keluar dari sekolah bukanlah akhir dari segalanya bagi Einstein. Ia lantas berdagang koran di gerbong-gerbong kereta api sambil membaca tiap-tiap artikel yang menarik untuk dirinya. Sampai-sampai ia mendapat perlakuan kasar dari petugas gerbong kereta api.

Namun, ia kembali bersekolah dan mengeyam bangku kuliah di di Swiss Institute of Technology di Zurich. Di sini, ia dikenal sebagai mahasiswa cerdas yang pemalas. Cap itu berlaku sampai ia lulus kuliah. Selulusnya kuliah Einstein ditolaki semua universitas yang ada di Swiss karena sifatnya ini. Akhirnya, ia bekerja di kantor paten.

Di sini, ia Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengetahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana “menjelaskan dirinya secara benar”. Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka.

Albert Einstein, salah satu tokoh paling jenius yang ada di muka bumi abad ke-19 dan abad ke-20. Dengan teori relativitasnya, ia mengubah dunia fisika untuk selamanya.[]
Continue Reading...

Thomas Alfa Edison, Penemu dengan Rekor Temuan Terbanyak

INI UNTUK MENGINSPIRASI PARA PENEMU DI INDONESIA

“Anak saya, Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia!”

“Tommy, anak ibu, sangat bodoh. Kami meminta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.”
Demikian sepenggal tulisan yang tertera di secarik surat. Surat itu buatan seorang guru yang mengajar Tommy. Samber geledek Nancy Matthews Elliott membaca surat tanpa tedeng aling-aling itu yang dibawa anaknya. Hatinya mencelos. Namun, sejurus kemudian hatinya terkepal, terus mengeraskan. Ia pun bergumam, sambil meremas surat itu, “anak saya, Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia!”


Kata-kata itu bukan kata-kata biasa, melainkan doa mujarab yang diucapkan seorang ibu untuk anaknya. Tiga dasawarsa kemudian, tepatnya 1879, ketika usianya beranjak 32 tahun dunia tak lagi mengalami kegelapan di waktu malam. Karena, orang yang dianggap bodoh saat cilik itu telah menciptakan bohlam lampu pijar. Namanya bocah cilik itu adalah Thomas Alva Edison.


SI TULI YANG ANEH

Lahir di Milan, Ohio, Amerika Serikat, 11 Februari 1847, Thomas Alva Edison merupakan salah seorang yang menderita gangguan pendengaran. Pendengarannya nyaris tuli. Dalam buku diarinya, Edison menulis, “Saya tidak pernah mendengar nyanyian sejak usia 12 tahun.” Tidak jelas apa yang menjadi penyebabnya, mungkin akibat pukulan yang dilakukan oleh masinis keretaapi, karena di usia yang sama ia berjualan koran di gerbong-gerbong kereta api. Tapi, beberapa pendapat menyatakan ia sudah menderita gangguan pendengaran sejak kecil.

Anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Samuel Ogden dengan Nancy Elliot ini berbeda dari anak-anak kebanyakan. Tak ada keanehan yang terjadi pada proses kehamilan dan kelahirannya. Namun, seiring pertumbuhannya, Tommy – panggilan Thomas Alva Edison – semakin terlihat perbedaannya. Apakah Anda pernah membayangkan anak Anda mengerami telur ayam? Tentu saja, Anda akan mengira itu perbuatan aneh dan tolol. Aneh, karena kita tidak biasa melihatnya atau karena kita tidak bisa mengikuti cara berpikirnya? Tapi, begitulah kelakuan Tommy. Antara aneh dan tolol. Ketololan ini tambah parah saat usianya tujuh tahun. Ketika itu, Tommy sudah masuk sekolah. Namun, tiga bulan kemudian sang guru angkat tangan menghadapi kelakuan Tommy yang aneh dan tolol itu. Ia mengembalikan Tommy ke tangan Nancy bersama secarik surat.

Tommy beruntung, Nancy, ibunya orang yang bijak. Bukan orang yang malah ikut-ikutan mencap anaknya tolol dari sudut pandang orang lain. Nancy yang juga berprofesi sebagai seorang guru berteked keras untuk mengajar Tommy membaca, menulis, dan berhitung. Dan akhirnya, Tommy kecil bisa juga menyerap apa yang diajarkan ibunya.

Seperti kebiasaan orang yang baru bisa sesuatu yang girang bukan alang kepalang. Tommy pun jadi amat gemar membaca. Dibacainya berjenis-jenis buku, berjilid-jilid ensiklopedi. Tanpa bosan ia juga membaca buku sejarah tentang Inggris dan Romawi, Kamus IPA karangan Ure, dan Principia karangan Newton, dan buku Ilmu Kimia karangan Richard G. Parker. Ini yang menjadikan Thomas bukan anak biasa.


PEDAGANG KORAN SEKALIGUS EKSPERIMENT

Tahun 1859, saat usianya beranjak 12 tahun, Thomas mulai memahami keadaan orang tuanya yang miskin. Seperti keadaan anak di zamannya, Thomas mulai membantu orang tuanya mencari duit. Ia jualan koran di gerbong-gerbong kereta api. Yang berbeda dari orang kebanyakan, di dalam kereta – dalam kondisi yang serba terbatas – Thomas melakukan eksperimen-eksperimen kecilnya. Ini yang tidak dikeluhkan Thomas Alva Edison, keterbatasan sarana dan prasarana yang mendukung dirinya untuk berkembang.

Suatu ketika, Thomas melakukan kesalahan dalam eksperimen kecilnya. Cairan kimia tumpah mengakibat gerbong hampir terbakar. Kondektur amat marah dan menamparnya. Berangkat dari kebiasaannya bereksperimen kecil-kecilan, Thomas makin gandrung dengan dunia eksperimen. Pikiran dan imajinasinya tentang dunia yang lebih baik pun berkembang.


MENERANGI GELAP MALAM DENGAN INDAH

Satu per satu eksperimen-eksperimen yang dilakukan Thomas Alva Edison berhasil diwujudkan menjadi penemuan-penemuan yang membantu umat manusia sampai sekarang. Sebutlah misalnya, telegraf (1870) yang mampu menetak pesan-pesan di atas kertas yang panjang, gramofon (1877) proyektor (1879). Uang yang berhasil diperolehnya dari penemuan telegraf digunakan untuk mendirikan perusahaan sendiri. Tahun 1874, bengkel ilmiah yang besar dan pertama didirikan oleh Thomas di Menlo Park, New Jersey. Selanjutnya, di sana ia mewujudkan penemuan-penemuan yang lain yang tak kalah pentingnya.

Penemuannya di bidang kemiliteran juga tak kalah canggihnya. Ia banyak membantu bidang pertahanan pemerintahan Amerika Serikat. Beberapa penelitiannya antara lain: mendeteksi pesawat terbang, menghancurkan periskop dengan senjata mesin, mendeteksi kapal selam, menghentikan torpedo dengan jaring, menaikkan kekuatan torpedo, kapal kamuflase, dan masih banyak lagi.

Tahun 1882, ia memasang lampu-lampu listrik di jalan-jalan dan rumah-rumah sejauh satu kilometer di kota New York. Ini merupakan kali pertamanya di dunia lampu listrik dipakai di jalan-jalan. Dan sejarah mencatatnya sebagai peristiwa paling mengagumkan di muka bumi. Pada usianya yang ke-84 tahun, Thomas Alva Edison menutup mata untuk selamanya. Rekor penemuannya sebanyak 1.093 yang dipatenkan atas namanya belum terkalahkan. Tommy yang bodoh kini dikenang orang sebagai tokoh pencipta paling produktif pada masanya. Terbukti, kebodohan bukanlah halangan seseorang untuk menjadi lebih baik. (Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...