Dua novel Pak Munif kuedit ulang. Lipstik dan Kupu-kupu Malam. Cerita yang ditawarkan hampir serupa. Soal wanita, harta, dan seks. Cukup dewasa ceritaya. Namun, ada pola yang sepertinya mirip dalam dua novel ini.
Continue Reading...
Garuda dan Timnas Indonesia
14 December 2010
Jujur saja, aku bukan pecinta sepak bola. Melihat atau memainkan si bola bundar bukan hobiku, bahkan sama sekali tak menarik minatku. Kalaupun dunia sedang sepak bola riuh diceritakan kawan-kawan, aku hanya bisa terdiam (kasihan deh loe). Cuma sekadar nonton news di tivi bahwa ada, semacam, tindakan reaksioner dari seorang Indonesia. Yang intinya mempermasalahkan soal garuda yang dipakai di kaos timnas Indonesia.
Yah… yah… aku tahu mungkin menurut UU, hal itu tidak boleh dilakukan kan. Sebelumnya juga ada tuh produsen kaos asal luar negeri Army-army apa gitu, yang memakai gambar garuda yang sudah dimodifikasi.
Sedikit miris sekaligus sedih. Yap, aku ingin sekadar berpendapat saja bahwa garuda yang dipakai di kaos timnas Indonesia itu merupakan hal tanda bahwa kita sedang berada di gelora nasionalisme keIndonesiaan yang kuat. Di mana, dalam hal ini nasionalisme itu tertuangkan dalam gelora dunia olahraga, khususnya sepak bola. Sok tahuku lho… yang namanya gambar garuda memang sudah ada sejak dulu, sebelum ada piala AFF. Waktu kaos timnasnya masih warna merah gitu. Ah, memang orang Indonesia ini kurang kerjaan. Sukanya begitu. Ada yang maju dikit, diganjal dengan cara yang aneh.
Di AS lebih ekstrem lagi, bendera AS oleh artis-artis sono (yang pernah aku lihat itu Madonna) malah mengenakan bendera AS sebagai kolor (catat ya celana dalam). Mungkin urakan, tapi itu barangkali cara mereka mengungkapkan bahwa mereka cinta betul dengan negaranya. Lha ini kok sudah diletakkan di areal dada, dan resmi pula dari timnas, masih saja dipermasalahkan. Huff…. Capek deh…
Continue Reading...
Yah… yah… aku tahu mungkin menurut UU, hal itu tidak boleh dilakukan kan. Sebelumnya juga ada tuh produsen kaos asal luar negeri Army-army apa gitu, yang memakai gambar garuda yang sudah dimodifikasi.
Sedikit miris sekaligus sedih. Yap, aku ingin sekadar berpendapat saja bahwa garuda yang dipakai di kaos timnas Indonesia itu merupakan hal tanda bahwa kita sedang berada di gelora nasionalisme keIndonesiaan yang kuat. Di mana, dalam hal ini nasionalisme itu tertuangkan dalam gelora dunia olahraga, khususnya sepak bola. Sok tahuku lho… yang namanya gambar garuda memang sudah ada sejak dulu, sebelum ada piala AFF. Waktu kaos timnasnya masih warna merah gitu. Ah, memang orang Indonesia ini kurang kerjaan. Sukanya begitu. Ada yang maju dikit, diganjal dengan cara yang aneh.
Di AS lebih ekstrem lagi, bendera AS oleh artis-artis sono (yang pernah aku lihat itu Madonna) malah mengenakan bendera AS sebagai kolor (catat ya celana dalam). Mungkin urakan, tapi itu barangkali cara mereka mengungkapkan bahwa mereka cinta betul dengan negaranya. Lha ini kok sudah diletakkan di areal dada, dan resmi pula dari timnas, masih saja dipermasalahkan. Huff…. Capek deh…
Tiang Penyangga Sosrobahu
Satu lagi penemu Indonesia yang sudah terkenal namanya di dunia. Dan karyanya sudah banyak menghiasi jalan-jalan layang di luar negeri sono. Siapa dia? Inilah artikelnya...
Di kalangan orang-orang teknik sipil atau arsitek, teknik sosrobahu sudah barang tentu akrab di telinga. Teknik Sosrobahu merupakan teknik konstruksi yang digunakan terutama untuk memutar bahu lengan beton jalan layang. Dengan teknik ini, lengan jalan layang diletakkan sejajar dengan jalan di bawahnya, selanjutnya diputar 90 derajat sehingga pembangunannya tidak mengganggu arus lalu lintas di jalanan di bawahnya.
Teknik ini banyak diterapkan di jalan layang, baik di Indonesia maupun di luar negeri, seperti Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura. Penemunya adalah orang Indonesia, yakni Ir. Tjokorda Raka Sukawati.
Sekira 1980-an akhir koran-koran nasional ramai mengabarkan pembangunan jalan tol dari Cawang ke Tanjung Priok, yang memiliki panjang total kurang lebih 16,5 Km. Pembangunan jalan ini tak berlangsung mulus. Kendala utamanya ada pada teknik konstruksi konvensional yang digunakan. Jika dipakai secara paksa teknik tersebut akan menambah macet arus lalu-lintas yang sibuk dan memiliki banyak persimpangan.
Bayangkan saja, tiang horisontalnya saja yang hendak dibangun bisa mencapai ukuran 22 meter, nyaris sama lebarnya dengan jalan by pass itu sendiri. Tentunya hal ini bertentangan dengan tujuan dibuatkannya jalan tol yang memang diset untuk mengatasi kemacetan. Alternatif lain yang diusulkan adalah memakai metode gantung, macam yang dilakukan di Singapura. Sayangnya apabila teknik ini yang dipakai, faktor biaya yang jauh lebih mahal yang menjadi kendalanya.
Adalah Ir. Tjokorda Raka Sukawati yang berhasil memecahkan persoalan ini dengan menciptakan tiang pancang yang diberinya nama Sosrobahu. Ir. Tjokorda lahir di Ubud, Bali. Gelar insinyurnya didapatkan dari sekolah di Departemen Sipil di Institut Teknologi Bandung (ITB). Karirnya dimulai saat ia masuk di perusahaan PT Hutama Karya hingga ia menjabat menjadi direktur perusahaan tersebut.
Kisah penemuan ini bermula di garasi mobil. Suatu hari Tjokorda hendak membetulkan mobil mercedes buatan tahun 1974-nya yang rusak. Ia memompa dongkrak hidrolik untuk mengangkat roda depan. Tetapi karena keadaan garasinya yang agak miring dan pembantunya hanya mengganjal satu ban belakang mobil tanpa menarik rem tangan, ditambah ceceran tumpahan oli. Begitu mobil itu tersentuh, badan mobil berputar dengan sumbu batang dongkrak. Kejadian itu memantik bohlam ide di dalam kepalanya. Hari itu ia urung memperbaiki mobilnya.
Satu hal yang ia catat, dalam ilmu fisika dengan meniadakan gaya geseknya, benda seberat apa pun akan mudah digeser. Ia juga ingat bahwa pompa hidrolik bisa dipakai untuk mengangkat benda berat dan bila bertumpu pada permukaan yang licin, benda tersebut mudah digeser. Bayangan Tjokorda adalah menggeser lengan beton seberat 480 ton itu.
Kemudian Tjokorda membuat percobaan dengan membuat silinder bergaris tengah 20 cm yang dibuat sebagai dongkrak hidrolik dan ditindih beban beton seberat 80 ton. Hasilnya bisa diangkat dan dapat berputar sedikit tetapi tidak bisa turun ketika dilepas. Ternyata dongkrak tersebut miring posisinya. Tjokorda kemudian menyempurnakannya. Posisinya ditentukan persis di titik berat lengan beton di atasnya.
Untuk membuat rancangan yang pas, dasar utama Hukum Pascal yang menyatakan: "Bila zat cair pada ruang tertutup diberikan tekanan, maka tekanan akan diteruskan segala arah". Zat cair yang digunakan adalah minyak oli (minyak pelumas). Bila tekanan P dimasukkan dalam ruang seluas A, maka akan menimbulkan gaya (F) sebesar P dikalikan A. Rumus itu digabungkan dengan beberapa parameter dan memberikan nama Rumus Sukawati, sesuai namanya. Rumus ini orisinil idenya karena sampai saat itu belum ada buku yang membahasnya sebab memang tidak ada kebutuhannya.
Dari situ, selanjutnya ia memadukan hukum gesekan untuk memutar beban dengan hukum pascal untuk mengangkat beban. Lantas ia minta dibikinkan modelnya oleh seseorang dan… berhasil! Dilakukanlah pengujian dengan beban berbobot 85 ton hingga 180 ton. Berhasil lagi! Dia pun berhasil membuat alat putar silinder yang mengguncang dunia teknologi konstruksi.
Penemuannya ini langsung diterapkan pada proyek jalan layang yang sedang ditanganinya. Jadinya tiang penyangga jalan yang sudah kering dan dibangun sejajar ruas jalan lantas diputar 90 derajat melintang jalan. Caranya sepasang piringan baja berdiameter 80 sentimeter, dipasang di bawah tiang penyangga, usai tiang tersebut kering, di dalamnya dipompakan automatic transmission fluid (ATF) atau oli pelumas sebanyak 78,05 kg/cm2. Dengan teknik ini tiang penyangga yang bobot kepalanya mencapai 480 ton dengan mudah bisa diputar.
Dan jalan layang tol Cawang-Tanjung Priok itu sebagai flyover pertama di dunia yang memakai teknik “pemutaran kepala tiang penyangga jalan terbang”. Meski presiden (Soeharto) dan petinggi pemerintahan negeri ini waktu itu sudah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, pada pemasangan ke-85 awal November 1989. Tetapi, Direktur Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek baru mengeluarkan patennya pada 1995. Tiga tahun lebih lama dibanding Jepang yang memberinya pada 1992. Dua negara lain yang juga memberi paten adalah Malaysia dan Filipina.
Sekarang teknologi Sosrobahu sudah diekspor ke Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura. Salah satu jalan layang terpanjang di Metro Manila, yakni ruas Vilamore-Bicutan, memakai teknik yang merupakan buah karya teknik ciptaan Tjokorda. Di Filipina teknologi Sosrobahu diterapkan untuk 298 tiang jalan. Sedangkan di Kuala Lumpur sebanyak 135. Ketika teknologi Sosrobahu diterapkan di Filipina, Presiden Filipina Fidel Ramos berujar, "Inilah temuan Indonesia, sekaligus buah ciptaan putra ASEAN".
Dan menurut rencananya teknik ini akan dikembangkan versi 2-nya. Jika versi pertama memakai jangkar baja yang disusupkan ke beton, maka versi 2-nya hanya memasang kupingan yang berlubang di tengah. Lebih sederhana dan bahkan hanya memerlukan waktu kurang lebih 45 menit dibandingkan dengan yang pertama membutuhkan waktu dua hari. Dalam hitungan eksak, konstruksi Sosrobahu mampu bertahan sampai 100 tahun (1 abad).[]
Continue Reading...
Di kalangan orang-orang teknik sipil atau arsitek, teknik sosrobahu sudah barang tentu akrab di telinga. Teknik Sosrobahu merupakan teknik konstruksi yang digunakan terutama untuk memutar bahu lengan beton jalan layang. Dengan teknik ini, lengan jalan layang diletakkan sejajar dengan jalan di bawahnya, selanjutnya diputar 90 derajat sehingga pembangunannya tidak mengganggu arus lalu lintas di jalanan di bawahnya.
Teknik ini banyak diterapkan di jalan layang, baik di Indonesia maupun di luar negeri, seperti Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura. Penemunya adalah orang Indonesia, yakni Ir. Tjokorda Raka Sukawati.
Sekira 1980-an akhir koran-koran nasional ramai mengabarkan pembangunan jalan tol dari Cawang ke Tanjung Priok, yang memiliki panjang total kurang lebih 16,5 Km. Pembangunan jalan ini tak berlangsung mulus. Kendala utamanya ada pada teknik konstruksi konvensional yang digunakan. Jika dipakai secara paksa teknik tersebut akan menambah macet arus lalu-lintas yang sibuk dan memiliki banyak persimpangan.
Bayangkan saja, tiang horisontalnya saja yang hendak dibangun bisa mencapai ukuran 22 meter, nyaris sama lebarnya dengan jalan by pass itu sendiri. Tentunya hal ini bertentangan dengan tujuan dibuatkannya jalan tol yang memang diset untuk mengatasi kemacetan. Alternatif lain yang diusulkan adalah memakai metode gantung, macam yang dilakukan di Singapura. Sayangnya apabila teknik ini yang dipakai, faktor biaya yang jauh lebih mahal yang menjadi kendalanya.
Adalah Ir. Tjokorda Raka Sukawati yang berhasil memecahkan persoalan ini dengan menciptakan tiang pancang yang diberinya nama Sosrobahu. Ir. Tjokorda lahir di Ubud, Bali. Gelar insinyurnya didapatkan dari sekolah di Departemen Sipil di Institut Teknologi Bandung (ITB). Karirnya dimulai saat ia masuk di perusahaan PT Hutama Karya hingga ia menjabat menjadi direktur perusahaan tersebut.
Kisah penemuan ini bermula di garasi mobil. Suatu hari Tjokorda hendak membetulkan mobil mercedes buatan tahun 1974-nya yang rusak. Ia memompa dongkrak hidrolik untuk mengangkat roda depan. Tetapi karena keadaan garasinya yang agak miring dan pembantunya hanya mengganjal satu ban belakang mobil tanpa menarik rem tangan, ditambah ceceran tumpahan oli. Begitu mobil itu tersentuh, badan mobil berputar dengan sumbu batang dongkrak. Kejadian itu memantik bohlam ide di dalam kepalanya. Hari itu ia urung memperbaiki mobilnya.
Satu hal yang ia catat, dalam ilmu fisika dengan meniadakan gaya geseknya, benda seberat apa pun akan mudah digeser. Ia juga ingat bahwa pompa hidrolik bisa dipakai untuk mengangkat benda berat dan bila bertumpu pada permukaan yang licin, benda tersebut mudah digeser. Bayangan Tjokorda adalah menggeser lengan beton seberat 480 ton itu.
Kemudian Tjokorda membuat percobaan dengan membuat silinder bergaris tengah 20 cm yang dibuat sebagai dongkrak hidrolik dan ditindih beban beton seberat 80 ton. Hasilnya bisa diangkat dan dapat berputar sedikit tetapi tidak bisa turun ketika dilepas. Ternyata dongkrak tersebut miring posisinya. Tjokorda kemudian menyempurnakannya. Posisinya ditentukan persis di titik berat lengan beton di atasnya.
Untuk membuat rancangan yang pas, dasar utama Hukum Pascal yang menyatakan: "Bila zat cair pada ruang tertutup diberikan tekanan, maka tekanan akan diteruskan segala arah". Zat cair yang digunakan adalah minyak oli (minyak pelumas). Bila tekanan P dimasukkan dalam ruang seluas A, maka akan menimbulkan gaya (F) sebesar P dikalikan A. Rumus itu digabungkan dengan beberapa parameter dan memberikan nama Rumus Sukawati, sesuai namanya. Rumus ini orisinil idenya karena sampai saat itu belum ada buku yang membahasnya sebab memang tidak ada kebutuhannya.
Dari situ, selanjutnya ia memadukan hukum gesekan untuk memutar beban dengan hukum pascal untuk mengangkat beban. Lantas ia minta dibikinkan modelnya oleh seseorang dan… berhasil! Dilakukanlah pengujian dengan beban berbobot 85 ton hingga 180 ton. Berhasil lagi! Dia pun berhasil membuat alat putar silinder yang mengguncang dunia teknologi konstruksi.
Penemuannya ini langsung diterapkan pada proyek jalan layang yang sedang ditanganinya. Jadinya tiang penyangga jalan yang sudah kering dan dibangun sejajar ruas jalan lantas diputar 90 derajat melintang jalan. Caranya sepasang piringan baja berdiameter 80 sentimeter, dipasang di bawah tiang penyangga, usai tiang tersebut kering, di dalamnya dipompakan automatic transmission fluid (ATF) atau oli pelumas sebanyak 78,05 kg/cm2. Dengan teknik ini tiang penyangga yang bobot kepalanya mencapai 480 ton dengan mudah bisa diputar.
Dan jalan layang tol Cawang-Tanjung Priok itu sebagai flyover pertama di dunia yang memakai teknik “pemutaran kepala tiang penyangga jalan terbang”. Meski presiden (Soeharto) dan petinggi pemerintahan negeri ini waktu itu sudah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, pada pemasangan ke-85 awal November 1989. Tetapi, Direktur Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek baru mengeluarkan patennya pada 1995. Tiga tahun lebih lama dibanding Jepang yang memberinya pada 1992. Dua negara lain yang juga memberi paten adalah Malaysia dan Filipina.
Sekarang teknologi Sosrobahu sudah diekspor ke Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura. Salah satu jalan layang terpanjang di Metro Manila, yakni ruas Vilamore-Bicutan, memakai teknik yang merupakan buah karya teknik ciptaan Tjokorda. Di Filipina teknologi Sosrobahu diterapkan untuk 298 tiang jalan. Sedangkan di Kuala Lumpur sebanyak 135. Ketika teknologi Sosrobahu diterapkan di Filipina, Presiden Filipina Fidel Ramos berujar, "Inilah temuan Indonesia, sekaligus buah ciptaan putra ASEAN".
Dan menurut rencananya teknik ini akan dikembangkan versi 2-nya. Jika versi pertama memakai jangkar baja yang disusupkan ke beton, maka versi 2-nya hanya memasang kupingan yang berlubang di tengah. Lebih sederhana dan bahkan hanya memerlukan waktu kurang lebih 45 menit dibandingkan dengan yang pertama membutuhkan waktu dua hari. Dalam hitungan eksak, konstruksi Sosrobahu mampu bertahan sampai 100 tahun (1 abad).[]
Maju
“Swear… itu sangat sulit dilakukan, Bro!” seorang lelaki, kawanku, berbisik di telinga kiriku. “Apa kau siap menanggung risiko itu? Aku pun melakukannya dengan terbata-bata kemarin. Mampus dah…”
Beragam pikiran dan imajinasi segera melintas di awang-awang otakku. Tergambar betapa sulitnya hal yang akan kulakukan. Bagaimana kalau ini, bagaimana kalau itu? Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? Tak selesai…
“Gimana, Mas? Mau ndak mbantuin aku seminar skripsi?” wanita berparas ayu dengan jilbab biru muda tampak memohon memelas.
Aku melihat kawanku, meminta pendapatnya. Ia hanya mengedikkan bahu, yang berarti oh-aku-bebas-dari-tanggung-jawab. Aku mendengus….
“Jujur saja, Ve, abang belum pernah melakukannya. Apa tak ada orang lain yang bisa membantu kau?” tanyaku akhirnya.
Veti menggeleng lemas. “Semuanya mengatakan hal yang sama: mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Paling orang yang masih bisa kutemui ya kamu, Mas.”
Aku mengangguk-angguk. Temanku membisikkan sesuatu. “Beuh, belum tahu saja kau rasanya dihajar kata-kata sama si Haikal. Wah… tak bisa bantu aku kalau kau diserang. Aku lebih baik mundur sajalah.”
Ck, bahaya juga sih untuk keselamatanku. Tapi, bagaimana ini? Aku melirik Veti. Manis juga gadis ini, kalau sedang tergesa dan bersusah hati. Aku mengambil keputusan…
“Baiklah. Jam berapa aku harus hadir di acara seminar skripsimu?!”
“Yess…” Veti senang. “Besok Mas, jam 9 pagi di kelas ini ya… Makasih before…”
Yap, aku melakukan lagi. Hal gila yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Tapi, sebodo ah, emangnya gue pikiran.
* * *
Dan keesokan harinya, semua berjalan dengan sempurna tak ada tanda-tanda kesulitan yang berarti, yang berarti aku berhasil. Dan rasanya biasa saja… seperti menjalani hidup kita sehari-hari. Hahahaha…
Continue Reading...
Beragam pikiran dan imajinasi segera melintas di awang-awang otakku. Tergambar betapa sulitnya hal yang akan kulakukan. Bagaimana kalau ini, bagaimana kalau itu? Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? Tak selesai…
“Gimana, Mas? Mau ndak mbantuin aku seminar skripsi?” wanita berparas ayu dengan jilbab biru muda tampak memohon memelas.
Aku melihat kawanku, meminta pendapatnya. Ia hanya mengedikkan bahu, yang berarti oh-aku-bebas-dari-tanggung-jawab. Aku mendengus….
“Jujur saja, Ve, abang belum pernah melakukannya. Apa tak ada orang lain yang bisa membantu kau?” tanyaku akhirnya.
Veti menggeleng lemas. “Semuanya mengatakan hal yang sama: mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Paling orang yang masih bisa kutemui ya kamu, Mas.”
Aku mengangguk-angguk. Temanku membisikkan sesuatu. “Beuh, belum tahu saja kau rasanya dihajar kata-kata sama si Haikal. Wah… tak bisa bantu aku kalau kau diserang. Aku lebih baik mundur sajalah.”
Ck, bahaya juga sih untuk keselamatanku. Tapi, bagaimana ini? Aku melirik Veti. Manis juga gadis ini, kalau sedang tergesa dan bersusah hati. Aku mengambil keputusan…
“Baiklah. Jam berapa aku harus hadir di acara seminar skripsimu?!”
“Yess…” Veti senang. “Besok Mas, jam 9 pagi di kelas ini ya… Makasih before…”
Yap, aku melakukan lagi. Hal gila yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Tapi, sebodo ah, emangnya gue pikiran.
* * *
Dan keesokan harinya, semua berjalan dengan sempurna tak ada tanda-tanda kesulitan yang berarti, yang berarti aku berhasil. Dan rasanya biasa saja… seperti menjalani hidup kita sehari-hari. Hahahaha…
Menyerang dan Bertahan
13 December 2010
Judul yang kupakai mungkin tidak tepat untuk menggambarkan apa yang ingin kujelaskan.
Dalam kamus bahasa Indonesia, ‘serangan’ memiliki kata dasar ‘serang’ yaitu mendatangi untuk melawan (melukai, memerangi, dst). Bisa juga disebut menyerbu. Ketika mendapat imbuhan ‘me’, maka ‘s’ dalam kata dasar ‘serang’ melebur menjadi ‘menyerang’.
Sementara, kata ‘tahan’ merupakan kata adjectiva (sifat) yang berarti ‘tetap pada keadaan (kedudukannya dsb) meskipun mengalami berbagai-bagai hal’; ‘kuat atau sanggup menderita (menanggung) sesuatu’; ‘dapat menyabarkan (menguasai) diri’. Ketika kata ‘tahan’ ini ditambahi imbuhan ‘ber’, maka menjadi ‘bertahan’. Dan kata ‘bertahan menjadi kata verb, yang memiliki arti ‘tetap pada tempatnya (kedudukannya dsb); tidak beranjak (mundur dsb)’.
Dari kedua kata, menyerang dan bertahan, aku tidak begitu setuju istilah bertahan mewakili pikiranku. Namun, aku kesulitan menemukan kata lain dari ‘bertahan’ ini. Jadi, tetap kupakai.
Strategi?! Itulah yang ingin kubicarakan. Dalam hal ini strategi tentang keuangan Anda…
Ibarat kata sebuah permainan catur, Anda harus mengatur bidak-bidak yang Anda miliki dalam satu kesatuan kekuatan yang tak bisa ditembus lawan dan tak bisa ditahan lawan. Artinya Anda harus memiliki dua rangkaian. Pertama, serangan. Kedua, pertahanan. Dua gerakan ini bisa dikombinasikan, tergantung level tingkatan permainan Anda. Jika Anda masih pemula, barangkali untuk mengaturnya sulit, karena Anda belum berpengalaman dan kurang pengetahuan (Anda bisa membaca terus dan mengupdate kemampuan Anda terus-menerus). Jika Anda berada dalam tahap professional, mungkin hal yang bisa Anda lakukan adalah jalan saja. Toh, Anda sudah mengetahui puluhan bahkan ratusan strategi yang bisa Anda kembangkan nanti setelah Anda jalan.
Yang ingin aku utarakan adalah jika Anda seorang middle-player. Hal yang diharuskan adalah mengamati permainan si professional terus-menerus. Bedah, kemudian cari celah, tutup, dan kemudian serang! Intinya Anda menyerang dalam posisi memperkuat barisan bidak catur Anda. Aku pernah dengar istilah dalam permainan sepak bola yaitu “pertahanan yang baik adalah serangan!”
Yap, harus diakui di sini bahwa mengatur keuangan pribadi berkait dengan strategi dalam dunia percaturan. Aku menyebutnya strategi ‘menyerang’ dan ‘bertahan’. Akan tetapi, aku pikir hal ini dicukupkan sampai di sini dulu. Soal bagaimana caranya menerapkan strategi ‘menyerang’ dan ‘bertahan’ ini akan dibahas lain waktu.
Demikian catatan aku sekarang ini…
Continue Reading...
Dalam kamus bahasa Indonesia, ‘serangan’ memiliki kata dasar ‘serang’ yaitu mendatangi untuk melawan (melukai, memerangi, dst). Bisa juga disebut menyerbu. Ketika mendapat imbuhan ‘me’, maka ‘s’ dalam kata dasar ‘serang’ melebur menjadi ‘menyerang’.
Sementara, kata ‘tahan’ merupakan kata adjectiva (sifat) yang berarti ‘tetap pada keadaan (kedudukannya dsb) meskipun mengalami berbagai-bagai hal’; ‘kuat atau sanggup menderita (menanggung) sesuatu’; ‘dapat menyabarkan (menguasai) diri’. Ketika kata ‘tahan’ ini ditambahi imbuhan ‘ber’, maka menjadi ‘bertahan’. Dan kata ‘bertahan menjadi kata verb, yang memiliki arti ‘tetap pada tempatnya (kedudukannya dsb); tidak beranjak (mundur dsb)’.
Dari kedua kata, menyerang dan bertahan, aku tidak begitu setuju istilah bertahan mewakili pikiranku. Namun, aku kesulitan menemukan kata lain dari ‘bertahan’ ini. Jadi, tetap kupakai.
Strategi?! Itulah yang ingin kubicarakan. Dalam hal ini strategi tentang keuangan Anda…
Ibarat kata sebuah permainan catur, Anda harus mengatur bidak-bidak yang Anda miliki dalam satu kesatuan kekuatan yang tak bisa ditembus lawan dan tak bisa ditahan lawan. Artinya Anda harus memiliki dua rangkaian. Pertama, serangan. Kedua, pertahanan. Dua gerakan ini bisa dikombinasikan, tergantung level tingkatan permainan Anda. Jika Anda masih pemula, barangkali untuk mengaturnya sulit, karena Anda belum berpengalaman dan kurang pengetahuan (Anda bisa membaca terus dan mengupdate kemampuan Anda terus-menerus). Jika Anda berada dalam tahap professional, mungkin hal yang bisa Anda lakukan adalah jalan saja. Toh, Anda sudah mengetahui puluhan bahkan ratusan strategi yang bisa Anda kembangkan nanti setelah Anda jalan.
Yang ingin aku utarakan adalah jika Anda seorang middle-player. Hal yang diharuskan adalah mengamati permainan si professional terus-menerus. Bedah, kemudian cari celah, tutup, dan kemudian serang! Intinya Anda menyerang dalam posisi memperkuat barisan bidak catur Anda. Aku pernah dengar istilah dalam permainan sepak bola yaitu “pertahanan yang baik adalah serangan!”
Yap, harus diakui di sini bahwa mengatur keuangan pribadi berkait dengan strategi dalam dunia percaturan. Aku menyebutnya strategi ‘menyerang’ dan ‘bertahan’. Akan tetapi, aku pikir hal ini dicukupkan sampai di sini dulu. Soal bagaimana caranya menerapkan strategi ‘menyerang’ dan ‘bertahan’ ini akan dibahas lain waktu.
Demikian catatan aku sekarang ini…
hitam putih
12 December 2010
aku bertanya, kau mendengarkan
karenanya, aku melakukannya
sabda yang kau ceritakan lewat para nabimu sayup terdengar
bukannya tak ingin dengarkan
gejolak hasrat muda menantang untuk melanggar
hitam-putih
abu-abu...
Continue Reading...
karenanya, aku melakukannya
sabda yang kau ceritakan lewat para nabimu sayup terdengar
bukannya tak ingin dengarkan
gejolak hasrat muda menantang untuk melanggar
hitam-putih
abu-abu...
Subscribe to:
Posts (Atom)
