Mempertahankan Bendera

02 March 2008

Bersama Djandji kemerdekaan kita,
Si Merah Poetih megah Melambai,
Lambang perdjoeangan kesatria bangsa,
Mentjipta kemerdekaan Indonesia permai.

'Arif kami poetera tanah aor,
Arti lambaian si Merah Poetih,
Meminta semangat panas mendidih,
Timboenan toelang, darah mengalir.

Dari pada bendera kebangsaan wathan,
Dipidjak moesoeh, rebah kembali, Kami rela mendjadi koerban,
Darah perwira mentjeloep boemi.

Biarlah kami pemoeda kini,
Ta' melihat wadjah 'ndonesia merdeka,
Asalkan tiang bendera bangsa,
Tertantjap diatas majat kami.


S. Ranggasela

Perak-Melajoe 12-2604
Continue Reading...

Temenan Sama Preman

25 February 2008

Jika ingat kejadian ini rasa-rasanya seluruh maluku akan menguat. Bagaimana tidak? kejadian ini terjadi lebih kurang sekira tahun 1997-an. Yup, tepat di saat krisis. Tepat pula di saat aku baru menyukai musik rock, khususnya alat bernama gitar itu. Tapi ini bukan soal kegemaranku pada gitar. Ini kasus waktu aku di kompas aka dipalakin sama tiga orang preman di pondok gede.

Hari itu, gw dan Yudis, karib waktu kecil dulu, pergi ke pondok gede. Beli dua hal: Gw beli adaptor seharga 20 ribu dan Yudis beli keset, eh kaset Metallica Unforgiven 2. Sebagai anak2 SMP yang sedang beranjak dewasa, kita make dandanan ya semirip anak2 pada masanyalah, kaosan dan celana pendek 3/4 sedengkul. Secara kita riang gembira naek CH (angkot warna merah). Tak butuh waktu lama kita untuk mendapatkan barang yang dimau.
Yudis, telah mendapatkan apa yang dicarinya. Tinggal gw nyari adaptor di pasar baru pondok gede. Ok, ini juga tak membutuhkan waktu lama. Hop, kita bersiap-siap untuk pulang.
Nah, berawal dari sini nightmare kita berdua dimulai. waktu keluar dari pasar itu, kita udah dikuntit tiga makluk. Mereka menasbihkan diri mereka preman. Kita berdua kagak sadar dengan apa yang terjadi. Mungkin pingsan waktu itu...hehehe (nggak canda ding). Hup, tangan gw tertangkap sama satu makluk itu. Waw, gw gemeter setengah mampus deh. Tapi Yudis selamat, ia berhasil melarikan diri. Eh, tunggu dulu, jangan seneng dulu, kawan si makluk ini yang berasal dari suku Ambon, ngikutin Yudis. Ia ditangkep juga. Hihihi...
Katanya Yudis, cari nangkepnya sederhana, "Eh, temen lo ketangkep ma temen gw tuh!" celetuk si makluk garang itu. Akhirnya demi kawannya, yaitu gw, dia merunutkan jalan2 nya sama si Ambon.
Kita ditanya-tanya di situ. Kalo mereka polisi, semantap menginterograsilah modelnya. "Kalian anak mana?" tanya mereka. Karena ingin boong dan dikirain mantrabs. Maka, kita jawab, "kita anak kampung di sekitar sono." omong gw mbela diri, sekiranya untuk menggertak mereka aja. Eh, tapi mereka langsung nyamber jawaban. "Kalian kenal siapa aja di sana?" tegas mereka. Kita berdua diem. Lalu si Yudis punya inisiatip njawab ngawur, kalo gw bukan di situ ding, gw rumahnya di sekitar situ. "
"Yah, udah lo kenal siapa aja? Gw kenal si anu," tanya mereka. Gw diem aja. Merasa nggak kenal siapa2 dan emang gw boong (Waa, diasaar gobloksa ni orang). Ya udah kita digiring di sana.
Diputer2 di Pasar Baru, Pondok Gede itu. Mereka berhenti di salah satu ruko yang kosong. Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi langsung ngangkat rolling door. Srekk, bunyinya. Sumpe gw ma Yudis udah gemeteran setengah mampus. Kita udah mikir, pasti digebukin di sini. Huhuhu. Gimana ya rasanya digebukin? Sakitkah, pikir gw. Tentu! Dasar modol luh. Eh, ternyata si jangkung ini, bukannya mau gebukin kita, tapi mau ngencing. Waks? Mata kita membelo, antara gw sama Yudis saling pandang. Tapi tetep gak bisa senyum apalagi ketawa.
Selepas dari sini, mereka menggiring kita lagi ke bibir sawah. Kita berdiri di deket apa ya istilahnya?...got irigasi. Di situ kita digojlok abis2an. Si Ambon yang merasa dirinya pimpinan angkat bicara. Sambil hadap2an sama gw dia bilang gini: "sini!" merampas seluruh belanjaan kita. Kaset plus adaptor. Yah...hopless banget waktu itu. "Lo tadi boongin gw kan?" tanyanya mantrabs, "sebagai perdamaiannya kalian mau?" Gw mengangguk. Ya...ya...ya.
"Sekarang lo harus minum air dari tempat kita ini sampai sana. Tapi jangan sampe ngalir lagi kesini!!!"
Glek. keringat dingin mengalir dari wajah kepanasan kita.
Mengangguk perlahan. "Sebagai perdamaiannya,lu sanggup gak?!"
Kita geleng2. Dan menyatakan ketidaksanggupan. Eh, tak dinyana, setelah mengatakan itu, dia malah melunak. Tersenyum penuh keanehan. Kita jadi bingung rupanya sama kelakuan mereka.
"Nih kita pulangin?" Masih dengan tampang tak percaya. "Sebenernya kita cuma mau iseng2 kenalan aja sama kalian."
Hah? Bengong. "Nih kita balikin semuanya". Hah, kenalan kek gini? Masih dengan tampang tak percaya. Secara sampai kini pun kenangan itu adalah sesuatu yang tak terlupakan. Kenangan kegoblok gw dan Yudis. Tapi Yudis ada dimana ya sekarang?
Continue Reading...

Backer Packer To Bogor

28 January 2008

Back packer, barangkali itulah kalimat yang bisa kusematkan pada diri gue saat melancong ke kota kembang hari minggu, 27 Januari 2008. Hmmm, sehari sebelumnya, aku bersepakat bersama Petrik (seorang kawan gila dari selarong hehehe...nggak ding) mau jalan jalan ke Bogor, kota kembang, main ke kebun raya. Pikir gue saat itu cuma satu, gue akan nostalgia di tempat itu. Yups, tempat itu memiliki kenangan tersendiri di hati gue. Walau tak sedemikian dalemnya. Waktu SMP, kelas 1, kita-kita seangkatan study tour ke kebun raya. Yuk, karena disuruh guru-gurunya ya gue siy mau-mau aje. Belum pernah kesana juga siy.

Ok untuk kalian marilah kita mengenang tempat itu bersama gue dan seseorang itu. Hmmmph, kejadiannya siy udah sekitar 12 tahunan gitu deh. Dan emang udah agak-agak lupa, dan sayangnya gue gak punya sebuah foto pun untuk mengenangnya. Waktu smp dulu, pas kelas 1, gue sempat naksir, seorang cewek, namanya Riana Yun Setiarini. Orangnya pendek, bentuk badannya lumayanlah untuk anak smp, terus wajahnya manis, gaya bicaranya khas. Hehehe, sebagai anak kelas 1 yang baru mengenal kata: jatuh cintrong, tentulah hal ini cuma gue pendem aje. Tapi saat dia lewat, wuih kerasa deh senengnya, apalagi kalo dia bicara ke gue, lebih seneng lagi. Dan ketika kenaikan kelas, seluruh anak-anak kelas 1, pergi study tour ke kebun raya bogor. Wah, seneng bange bo', gue kan belum pernah kesana. Apalagi jalan-jalan ke bogor. Smp gue di seletepe 246 Lubang(nya) Buaya. Akh udah akh...

Yup, ketika jalan2 gitu, gue melihat dia itu bak bidadari yang turun dari khayangan. karena masih merasa sebagai anak SMP, gue tak berniat mendekatinya, lagian gue kurang berani menghadapi wanita (belum sepandir sekarang) hehehe. Yah, udah gitu aja...hahaha...kalian pasti kecewa kan cerita gue begitu aja?

Tapi yang menyebalkan dari jalan2 gue Bogor itu adalah yaitu sebuah hujan yang mengguyur dengan derasnya. Sial. Gue nggak berniat mandi ujan waktu perjalanan. Kagak bakalan enak. Tapi nasi dibuat secara sengaja menjadi bubur. Yo wes tetep aja gue keujanan, apalagi Petrik malah bilang gini: "kalo pengen nggak sakit waktu ujan, caranya kita harus gerak terus! Biar badan kita menghasilkan panas yang cukup."

Batin gue, "gundulmu kuwi." Gue bilang begitu saat gue lagi neduh diantara pepohonan yang gak rindang. Padahal disana kena hujan juga. Tapi karena Petrik memaksa, ya udah kita ujan2an. Dhemit. Ra kalap. Kita kebasahan waktu itu, klebus kuyup. Salah satu yang bikin menyedihkan adalah ketika hujan agak reda kita malah keliling kebun raya yang di bagian luarnya. Edan. Mungkin kalo gue bukan seorang backpaker, kagak bakalan mau dah. Udah gitu, gue sebel banget. Waktu mo lewat eh disana ada kuda, waktu mau lewat kuda itu nengok. Dan kenalah gue kuda iler kuda. Anjrotttt! Sial.

Itulah pengalaman gue menjadi seorang backpaker bersama kawan gila saya: Petrik. Wuakak. Tapi gue seneng cos dapet pengalaman baru.
Continue Reading...

Ekspansi Jepang dan Wilayah Taklukkan di Asia

23 January 2008

Jepang memang negeri yang makmur sekarang. Sebuah negara industri maju yang dalam persaingan global mampu merangkak naik, berusaha mengimbangi eksistensi global Amerika. Namun, fakta sejarah selalu saja masih membayangi negara ini. Catatan sejarah kejahatannya dalam perang dunia II, tak mampu dihapuskan begitu saja, khususnya bagi negara-negara kawasan Asia Tenggara yang pernah dijajah Jepang. Ingatan kolektif manusia--yang hidup pada masa penjajahan Jepang, masih selalu mengingat sejarah ini.

Sisi kelam Jepang yang tak dapat diabaikan. Sebut saja Cina, Indonesia, merupakan salah satu dari beberapa negara yang pernah merasakan pahitnya terkungkung dalam masa penjajahan Jepang. Bukan saja meninggalkan kekerasan politik-ekonomi, rambahan Jepang telah mencapai eksploitasi budak-budak wanita. Jepang pernah mengorganisir perdagangan wanita untuk memuaskan nafsu para tentara yang berada di garis depan. Atau yang lebih dikenal dengan Iugun Ganfu (“pekerja seks komersial”).

Sebelum mengorganisir perdagangan budak wanita di Indonesia, Jepang pernah melakukan hal serupa di Cina. Namun karena kurangnya koordinasi, banyak tentara Jepang yang terkena penyakit kelamin. Ketika Jepang mendirikan kekuatan militer di Indonesia, maka kesalahan masa lalu mereka diperbaiki. Pemerintah pusat yang berada di Jepang memberikan mandat kepada para pemerintah militer setempat untuk mengorganisir massa wanita untuk dijadikan budak seks.

Kisah Nanking
Musim dingin, 9 Desember 1937, secara besar-besaran pasukan Jepang menyerang kota Nanking, Cina. Pada 12 Desember 1937, tentara Cina berhasil dipukul mundur. Mereka memutuskan untuk mundur ke sisi lain di sungai Yang Tse. Pada 13 Desember 1937, pasukan 6 dan 116 divisi pertama angkatan bersenjata Jepang berhasil memasuki kota besar. Di waktu yang sama, Divisi 9 angkatan bersenjata Jepang menjebol pertahanan di Gerbang Guanghua. Sementara itu, Divisi 16 masuk lewat Gerbang Zhongshan dan Gerbang Pasifik. Kemudian sore harinya, armada laut Jepang telah tiba dan menjatuhkan sauh di sisi-sisi Sungai Yangtse. Hari itu juga, Nanking tumbang ke tangan Jepang.

Kejatuhan Nanking hanyalah awal. Enam minggu berikutnya, terjadi pembunuhan besar-besar di Nanking. Tak hanya itu para tentara memperkosa wanita-wanita di sana. Fakta menyebutkan, selama masa pendudukan itu kurang lebih 300.000 tentara Cina dan orang-orang sipil tewas, dan jumlah minimum yang berhasil didokumentasikan: kurang lebih 20.000 wanita diperkosa tentara Jepang. Masa ini Jepang melakukan litani atrocities orang sipil tidak bersalah melawan, pelaksanaan shock psikis seperti memerkosa, merampas dan membakar. Sangat mustahil untuk mendokumentasikan secara terperinci mengenai kejadian tersebut, yang jelas fakta-fakta mengerikan ini tak dapat dibantah.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Kompas, korea, makanan, nyasar

20 January 2008

Yup, sesuai judulnya, posting kalee ini berkisah mengenai makanan. Tepatnya, hari kamis lalu, gue beserta anak anak kronis, eh kronik pergi ke Kompas. Kata mbak Rhoma (mamih kita), Kompas lagi ngadain pameran kebudayaan Korea. Hah, sebenernya gw males ikutan. Apalagi duit gw udah cekak banget. Namun lantaran dibayarin gw jadi semangat lagi. Ok.

Pagi-pagi kita berangkat menuju gedung tinggi, bersama kawan kawan kronikus lainnya. Hmm, suasana pagi yang indah bener. Namun tak seindah perasaan ini (lupakan katakata ini). Kita berangkat udah dijemput sama P2, dari Juanda langsung ke gedung tinggi berlantai 8. Sampe jam 1-an. Mamih kita belum datang. Lalu, keleng (ini nama orang lho) pinjem film di gedung tinggi berlantai 8 itu, judule: Hiroshima. Yo wes ikutan keleng nonton film. Mpe jm 3-an film rampung. Filmnya bagus, tentang pemboman kota Hiroshima Jepang itu lho, tapi dari sudut pandang Amerika. Katanya Keleng, klo menurut sudut pandang Jepang, pada waktu penyerangan Jepang sudah tak memiliki kekuatan militer. Padahal versi Amerika, Jepang masih punya kekuatan militer. Tau deh mana yang bener. Opo yo tak pikir??

Lanjut, kita kemudian turun. Dan berangkatlah kita ke gedung Kompas di Pal Merah Selatan. Kita bertujuh. 4 cowok. 3 cewek. Cowok2 naek taksi. Cewek naik mobil yang gak ada AC-nya itu. Hiihiihii. Kita tinggalkan naek taksinya. Sekarang kita sampai di gedung Kompas dengan muter-muter dilama-lamain sama abang taksinya. Masak dari gedung tinggi berlantai 8 kita suruh bayar 40.000 rupee.

Dan sampai di gedung Kompas, kita kita yang cowok ini masih bingung. Karena mamih dan dua cewek kesasar, lantaran sopire kagak tau jalan Jakarta. Mpe di gedung Kompas pun kita masih celingak-celinguk, cari-cari mana tempat pameran festival kebudayaan Korea. Pertama, kita tanya masuk pak satpam yang baik hati. Dan dibilang suruh masuk aja nanya ma mbak resepsionis yang cantik rupawan (eh rupawan kan cowok ya), jadi kita ganti yang cantik rupawati. Eh mbak resepsionis yang cantik rupawati bilang bahwa kagak ada pameran festival kebudayaan korea. Ada juga di gedung depannya kompas, pembedahan buku kumpulan cerpen-cerpen korea dan di lantai 5 ada rapat. Wah, salah tempat. Nggak ah. Trus kita milih tunggu mamih. Ah, dasar bodoh. Ternyata kita malah disamperin sama pak satpam karena tunggu di luar. Mungkin dikira manusia laknat kalee yee. Hehehe....Tapi pikiran gw salah, pak satpam malah ngasih tau kalo gedungnya bukan disini, tapi di sebelah depan. Yee, udah salah duga...

Dan shit, sampe sana, kita udah ketinggalan acara. Padahal pas kita kita dateng. Para penari amoy amoy itu baru aja selesai. Dasar nasib!!! Tapi menurut gw sih, acaranya bagus banget. Nambah informasi gw untuk bisa nulis cerpen lagi. hehehe. Gw suka sama pak Maman yang bawain acara, konyol banget dia itu. Terus gw juga bisa lihat Hamsad Rangkuti, yang dulu semasa kuliah cerpen2nya cuma bisa gw nikmati lewat buku dan koran Kompas. Ternyata dia cadel, kek gw. Hahaha, nggak nyangka, ternyata dunia lebarnya cuma kek kancut emak gw yang udah melar (cos udah dipake selama 10 taon, mpe karetnya udah mentok melarnya) hehehe.

Nah, selesai acara seluruh peserta dikasih makanan korea. Wuih, gw seneng banget denger makanan korea. Belum tau makan cing. Asik nama makanannya gak tau, tapi kata pak Maman arti indonesianya: sego mbulet-bulet aka nasi campur. Horai. Akhirnya ngerasain nasi campur. Tapi begitu, cie gw makan pake sumpit (gaya) untung udah belajar, gw rasain. Aneh. Gw coba sayur yang lain. Hmmm, aneh juga. Nasinya juga aneh. Telornya, aneh. Kok aneh, semua. Soupnya gw rasain juga aneh. Gila aneh banget. Hanya Petrik aja yang bilang enak. Tunggul bilang soupnya enak. Keleng kagak gw tanyain. Weks.....jadi pengalaman pertama gw makan makanan korea, nggak enak, dasar lidah ndeso...heheheh....biarin!
Continue Reading...

Freddie Mercury, Si “Melambai” Bersuara Emas

09 January 2008

Siapa tak kenal lagu-lagu semacam We Are The Champions, Bicycle, Bohemian Rhapsody, dan banyak hits Queen lainnya yang masih terkenal hingga kini. Ya, dialah Freddie Mercury, sang maestro pencipta lagu-lagu legendaris tersebut sekaligus dedengkot band Queen. Dengan nama asli Farrokh Bulsara, Mercury lahir pada 5 September 1946 di Stone Town, Zanzibar, dari pasangan Bomi dan Jer Bulsara.

Is this the real life
Is this just fantasy
Caught in a landslide
No escape from reality
(Bohemian Rhapsody/Queen/Freddie Mercury)

Pada usia 8 tahun, Freddie dikirim ke India untuk masuk di Sekolah St. Peter’s, sekolah khusus anak lelaki di dekat Bombai. Di negeri Bolywood, Freddie yang mempunyai adik perempuan bernama Kashmira, tinggal bersama nenek dan bibinya. Kala sekolah di India itulah bakat musiknya sudah mulai kentara dan terasah. Bersama teman-teman sejawatnya, Freddie membentuk band sekolah bernama Hectics. Freddie sendiri memainkan piano dalam formasi band ini. Saat usianya 17 tahun, Freddie dan keluarganya hijrah ke Feltham, London. Di Inggris, ia seperti menemukan dunia baru. Freddie jadi kerap bergonta-ganti band, itulah yang memberikan banyak perubahan berarti dalam naluri bermusiknya.

Pada 1969, Freddie mendirikan sebuah band bernama Ibex, yang beberapa saat kemudian berganti nama menjadi Wreckage. Tak bertahan lama, band ini lantas membubarkan formasinya. Setelah Wreckage tutup buku, Freddie bergabung dengan band Milk Sea, kendati juga tak bertahan lama. Awal 1970-an, band ini bubar. Baru pada April 1970, ketika bertemu seorang gitaris bernama Brian May dan Roger Taylor sang penabuh drum, Freddie seolah menemukan soulmate-nya dalam bermusik. Bersama kedua orang itu terbentuklah band bernama Smile, inilah cikal-bakal dari Queen. Belakangan baru terkuak rahasia nama Queen diambil lantaran Freddie adalah seorang gay. “I was certainly aware of the gay connotations, but that was just one facet of it,” ungkapnya.

Musikalitas Freddie terpengaruh dari pelbagai macam musik yang pernah didengarnya waktu kecil. Sebut saja, ia pernah mengidolakan Lata Mangeshkar, seorang penyanyi Bollywood yang amat terkenal waktu itu. Juga John Lennon dari The Beatles, Led Zeppelin, serta Jimi Hendrix,.

Mengenai Jimi Hendrix, ia berpendapat, “Jimi Hendrix is very important. He's my idol. He sort of epitomizes, from his presentation on stage, the whole works of a rock star. There's no way you can compare him. You either have the magic or you don't. There's no way you can work up to it. There's nobody who can take his place.”
Freddie juga sangat mengagumi Liza Minnelli. “One of my early inspirations came from Cabaret. I absolutely adore Liza Minnelli, she's a total wow. The way she delivers her songs-the sheer energy, “ katanya tentang sang biduan.

Salahsatu ciri khas Freddie –ini sangat memengaruhi lagu-lagu Queen– adalah nada-nada yang digunakannya. Dalam menciptakan tembang, Freddie termasuk seorang musisi ciamik, mampu menempatkan unsur-unsur teater dalam lagu-lagu ciptaannya yang kemudian menjadi hits Queen. Simak saja Bohemian Rhapsody, tak ada band rock yang melodinya naik-turun, dari tinggi menuju rendah, dari rendah menuju tinggi secara “brutal” seperti yang dimainkan Queen.

Namun sangat disayangkan, Freddie meninggal dalam usia muda. Pada 24 November 1991, tepat saat umurnya mencapai 45 tahun, Freddie Mercury hembuskan nafas terakhir akibat penyakit AIDS menggerogoti tubuhnya. Padahal, usianya bisa dikatakan masih cukup mumpuni untuk berkarya lebih. Toh begitu, tetap saja Freddie meninggalkan sesuatu yang hebat yang bisa dikenang umat manusia, khususnya para pecinta musisi rock, yang masih memainkan musiknya hingga kini.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...