Wadah Prajurit di Kancah Politik

14 July 2008

Pasca kemerdekaan Indonesia usai dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, kondisi negara yang baru terbentuk ini labil. Indonesia yang baru terbentuk belum diakui kedaulatannya oleh lain-lain negara, terutama oleh sang penjajah, Belanda. Medio 1945-1950 Indonesia harus menghadapi serangkaian peristiwa yang harus dihadapi dengan perjuangan fisik melawan Nederlandsche Indies Civil Administration (NICA) yang membonceng tentara sekutu.

Demi menghadapi NICA itulah maka pemerintah Indonesia membentuk organisasi kelaskaran dengan beragam bentuk, corak dan susunannya. Seperti: Tentara Republik Indonesia (TRI), Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), Angkatan Darat Republik Indonesia (ADRI). Selain organisasi kelaskaran yang dibentuk pemerintah ada pula organisasi kelaskaran yang dibentuk secara mandiri. Salah satunya adalah Barisan Pembrontakan Rakjat Indonesia (BPRI) yang dipimpin oleh Sutomo atau yang lebih akrab dipanggil Bung Tomo. Tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah dicapai.

Setelah kedaulatan negara Indonesia diakui oleh Belanda pada 1949, praktis organisasi-organisasi kelaskaran mulai menyatu dengan organisasi-organisasi kelaskaran milik pemerintah. Apalagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) sendiri sudah terbentuk dan organisasi bersenjata di luarnya otomatis tidak diperbolehkan. Dengan demikian orang-orang yang bernaung di dalam organisasi bersenjata itu mengubah cara dan bentuk perjuangan mereka ke arah politik praktis yang memperjuangkan aspirasi politik mereka. Pemerintah pun telah membuat kebijakan tertanggal 3 November 1945 yang memaklumkan izin tentang pendirian partai politik.

Oleh karena itu BPRI yang merasa cita-citanya belum tercapai segera mengarahkan organisasinya ke bentuk partai politik. Tiga faktor yang membuat BPRI merasa perlu terjun ke arena politik. Faktor-faktor tersebut adalah soal proklamasi 7 Agustus 1945, soal nasib yang hanya jadi bola permainan orang lain dan mempertahankan diri bersama-sama rakyat yang senasib. Berdasarkan tiga faktor itulah, atas prakarsa pucuk pemimpin BPRI yaitu Bung Tomo, Partai Rakjat Indonesia (PRI) didirikan pada 20 Mei 1950 sewaktu berlangsung musyawarah kaum pejuang (Barisan Djaja Kesuma Kalimantan, Pemberontakan Rakjat Banten, dan lain-lain) di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Selama ini rakyat buta terhadap politik, mereka hanya ikut para petinggi negara menyangkut kebijakan-kebijakan politik. Oleh sebab itu partai yang memiliki basis massa kaum pejuang militan ini memandang perlu adanya sinergi antara rakyat yang buta politik dengan kaum intelek, dalam hal ini para pejuang. Hal ini untuk menumbuhkan kesadaran politik pada rakyat dan untuk mempercepat terlaksananya pembangunan negara. Dengan demikian PRI mendasarkan basis perjuangannya pada kekuatan massa rakyat yang memiliki kesadaran tentang politik dan mampu diorganisir secara massal.

Pada Pemilihan Umum (Pemilu) 1955 untuk merebutkan kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), PRI hanya memperoleh suara sebanyak 206.161 atau sebesar 0,55% untuk 2 kursi di DPR. Sedangkan pada Pemilu 1955 untuk memperebutkan kursi anggota konsituante, PRI hanya mendapatkan suara sebesar 134.011 atau sebesar 0,35% untuk 2 kursi sebagai anggota konstituante. (Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Partai Merah di Bumi Indonesia

Darah itu merah jenderal! Demikian ungkapan yang diucapkan salah seorang anggota PKI dalam film G/30/S/PKI. The Bloody Tragedy terakhir yang membentuk citra partai ini menjadi buram hingga kini. Sejarah telah mencatatnya, setidaknya ada tiga peristiwa yang terjadi atas nama partai ini, adalah pemberontakan PKI 1926/1927, pemberontakan PKI 1948 di Madiun, dan terakhir pemberontakan PKI 1965 yang terkenal dengan sebutan G-30/S/PKI. Nampaknya citra The Bloody Tragedy memang sudah lekat meresap pada partai yang berdasarkan paham komunis ini.

Cikal bakal partai ini bermula dari saat kedatangan Sneevliet—seorang anggota SDAP (Partai Sosialis di Belanda) ke bumi Hindia Belanda medio 1913-1914. Di mana ia kemudian mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV), menyusupkannya ke dalam tubuh Sarekat Islam (SI) dan membuatnya pecah menjadi SI putih dan SI merah. Perpecahan ini berbuntut dengan dihelatnya kongres ISDV di Semarang pada Mei 1920, yang mengumumkan penggantian nama partai menjadi Partai Komunis Hindia (PKH). Kongres menetapkan pula Semaun menjadi Ketuanya. Selang empat tahun berikutnya, pada 1924 nama PKH berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

PKI merupakan partai yang berjiwa radikal dan revolusioner. Jiwa keradikalan dan revolusioner partai ini dibuktikan dengan melakukan serangkaian pemberontakan melawan pemerintah kolonial di daerah Jawa Barat dan Sumatera Barat. Di samping sekaligus mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Sayangnya pemberontakan ini berhasil ditumpas pemerintah. Ribuan kadernya dibunuh lainnya dibuang ke Boven Digul. Pada 1927 pemerintah kolonial melarang partai ini bersama ideologinya. Sisa anggota yang selamat hanya bisa bergerak underground hingga kemerdekaan Indonesia berkumandang. Setelah itu PKI muncul kembali pada 1945, setelah dikeluarkannya maklumat mengenai pendirian partai tanggal 3 November 1945. Muso yang naik jadi ketua berhasil menggalang kekuatan massa PKI kembali.

Tiga tahun kemudian, yaitu pada 18 September 1948, terjadi kongkalikong antara Indonesia-Amerika. Indonesia takkan bisa berdaulat jika parlemen masih diisi oleh orang-orang kiri. Maka terjadilah upaya penekanan terhadap orang-orang di partai ini. PKI pun melakukan perlawanan. Upaya ini dianggap sebagai upaya pemberontakan. Banyak anggota PKI ditangkap dan Muso mati tertembus peluru aparat. Sisanya kocar-kacir bersembunyi di berbagai daerah. Selama beberapa saat gerak langkah PKI berhenti, namun setelah keluar pernyataan yang diumumkan oleh Mr. Soesanto Tirtoprodjo selaku Menteri Kehakiman (4 September 1949), para anggota PKI baru berani keluar dari tempat persembunyiannya.

Salah satu orang yang keluar adalah Alimin—seorang tokoh tua, yang kemudian diangkat menjadi ketua PKI pengganti Muso. Ia kemudian yang mengumpulkan anggota-anggotanya yang cerai berai. Menggalang persatuan dan membentuk kader-kader yang berkualitas. Ia merupakan tokoh penting pasca pemberontakan Madiun itu. Di tangannya citra buruk PKI berangsur-angsur dihilangkan. Namun langkahnya diganjal oleh D.N. Aidit dari kelompok muda, yang menganggapnya bekerja terlalu lamban. PKI terkenal revolusioner dan Aidit ingin mempertahankan hal tersebut. Pada 7 Januari 1951 Alimin digusur oleh D.N. Aidit.

Ketika PKI berada di dalam genggamannya, jiwa partai kembali berubah. PKI berjalan dengan demikian revolusioner cepatnya. Pertengahan 1951 PKI memprakarsai sejumlah pemogokan buruh. PKI diganjal kembali oleh pemerintah. Namun hal tersebut bersifat sementara, renggangnya hubungan Masyumi dengan PNI, membuat PKI mendekati PNI untuk memperoleh dukungan pemerintah. Sejak saat itu basis massa PKI berkembang dengan sangat cepat. Jumlah 3.000-5.000 anggota (1950) membengkak menjadi 165.000 dalam waktu empat tahun (1954). Pada 1959 naik lagi menjadi 1,5 juta jiwa. Pada pemilu 1955, PKI berhasil memperoleh 16 persen suara dan masuk dalam daftar empat besar partai besar pada waktu pemilu.

Selama rentang waktu 1955-1964 PKI mendapat banyak kemajuan. Pada 1965 jumlah massa PKI meningkat menjadi 3 juta jiwa. Partai ini kemudian ditahbiskan sebagai partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan Tiongkok. Pada 1962 PKI menggabungkan dirinya sebagai bagian dari pemerintah. Beberapa orangnya sempat menjabat di pemerintahan. Namun usaha ini terjegal, menjelang berakhirnya masa kekuasaan Soekarno, PKI kembali terlibat tragedi berdarah yang dikenal dengan pemberontakan G/30/S/PKI. Setelah jatuhnya kekuasaan Soekarno dan naiknya Soeharto, partai ini dilarang muncul kembali berdasarkan keputusan TAP MPRS/1966. Hingga kini perdebatan mengenai kontroversi partai ini masih berlangsung seru.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Mesake Banget Yah Mereka....

11 March 2008

I hate this monday. Yeah, itu lontaran kata yang mau kuserapahkan pada senin pagi tertanggal 10-03-08 (waa...mirip kroniks yaaa). penyebab kemangkelan ini berawal dari tutupnya lantai empat gedung tinggi (tempat gw nyatronin koran2 tua). padahal sumprit, sehari sebelumnya gw udah menyemangatkan diri. hari senin esok gw harus mendapat lebih dari 25 kronikal. karena apa? gw udah ada garis kematian aka dedlain kronik yeh yeh, sampe dua minggu ke depan. pasca menyelesaikan kronik tahun keempat ini, gw bakalan kembali cabut ke yogya, kerja di patehan mengikuti ritme kerja 12 jam. yang walaupun waks (ekspresi terkejut gw).
oke kembali ke senin kelabu lagi. dengan semangat 45 gw cabut ke gedung tinggi, sebenernya bareng ma rahmat. dia ke BP karena ada sesi pemotretan buku2 bekas di sana. maka, gw kesana sendirian ke gedung tingginya. waktu itu gw juga gak sempet bawa hp, udah gak kepikiran, yang ada di otak gw cuma satu: BH-nya Bu Jamal (lho??)...eh salah...yang ada di otak gw cuma satu: dapat 25 lebih kronik. tak butuh lama waktu untuk sampe ke gedung tinggi itu.
seneng banget pas gw turun dari bis terus melangkahkan kaki2 gw menuju gedung tinggi. tapi semangat gw tiba2 down to earth, dari puncak kaki gunung himalaya ngedrop ke bawah palung lautan (wuih...dilebih2in banget niy :P), waktu lihat petrik (makluk berbentuk bintang laut yang selanjutnya disebut (co)-PET) berjalan gontai keluar dari gedung tinggi. lalu terlibatlah kita dalam satu adegan percakapan singkat.
"lho kenapa, (co)-PET?" tanya gw selagi (co)-PET berjalan ke arah gw.
"Lantai 4 tutup!" tukasnya.
"Lho? Bisa? ada apaan emang?"
"ada pembetulan." tukasnya sambil terus berjalan, "gw keluar dulu, mau ke bank, lo kalo mo ke atas duluan aja."
Yo wes, gw ke atas. tepat seperti kata (co)-PET, lantai 4 ternyata emang ada pembetulan, yang menurut rencana mereka dan tanpa pikir2 panjang dan tanpa pemberitahuan akan diadakan selama seminggu atawa lebih. mbuh ra doung.
mendengar penjelasan itu gw cabut balik. muangkel. juengkel banget. gontai pula gw berjalan keluar. yah seminggu? sementara gw balik ke yogya tanggal 25-an, sementara garis kematian udah dijatah sampe tanggal 20 maret ini. busyet. gak kepikir gimana menyelesaikannya.
hal ini diperparah dengan lamanya P2 yang datang menjemput gw. kurang lebih 45 menit gw disuruh nunggu sama mereka. gila. tambah bt deh gw. mana sebelumnya sarapannya kurang. ngelih banget dab. makanya gw berjanji pada diri gw pasca turun dari P2, gw akan beli coca-cola di Abbas Store depan kantor.
abis beli coca-cola agak lega sekaligus bingung juga, muski gimana ye? tapi sebodo ah, gw pikir nyantai ae. biar uenak gak bikin sakit. pas naek lewat tangga, tiba2 serombongan kawan2 juga lagi pas turun. mereka adalah mbak rhoma (ibu rumah tangga), gus muh (pengasuh pondok pesantren), dedi+arip (anak-anak panti asuhan). wah, kebetulan, secara ketemu mereka, info gw mengenai tutupnya lantai 4 gedung tinggi pasti sangat berharga. waktu berpapasan gw coba komunikasikan hal itu.
"kalian pada mau ke gedung tinggi ya? lantai berapa?" tanya gw.
mereka semua pada diem.
"lantai 4 gedung tinggi tutup lho."
mereka tetep diem. dan berjalan tanpa banyak percakapan. lho ono opo tho? pikirku. tapi gw tetep cool aja. yang penting info berharga udah gw sampaikan...biar mereka coba sendiri sana...hahaha.

belakangan gw baru tauk, kalo mereka semua itu lagi pada muangkel banget sama gw. lho? gara2nya buku yang kita pinjem di BP, atas nama gw belum diletakin jadi satu, padahal mau dibalikin. so mereka semua kebingungan waktu pagi2 nyariin buku itu. mereka nelpon2 gw, tapi karena gw gak bawa hp, gak ada yang angkat.. mereka telpon (co)-PET, sms Ridwan+Yusril (anak sma), tetep aja gak menemukan gw...hahaha, ternyata dibalik kesulitan gw ada kesulitan orang lain yang lebih besar ya...mesake banget ya mereka. dan lantaran hal ini gw didaprat, arif (anak panti asuhan) dan mbak rhoma (ibu rumah tangga)....hahaha.
Continue Reading...

Perang Dunia II: Jepang Kalah

07 March 2008

Perombakan yang terjadi pada era restorasi Meiji, membuahkan hasil teramat penting dalam sejarah Jepang. Pasca restorasi, Jepang seolah memiliki suatu kekuatan nihil melewati batas kekuatan Asia. Muncul invasi ke kawasan benua Asia yang jargonnya membentuk Asia Timur Raya. Satu cita-cita Jepang membentuk kawasan persemakmuran bersama terhadap negeri-negeri Asia yang ditindas sekutu melalui fasisnya. Pada akhirnya invasi ini memuncul konflik, yang kemudian lebih sering terdengar oleh telinga kita yang lazim disebut perang Pasifik.

Hal ini telah dipicu dari banyak pengaruh, khususnya pengaruh western (Amerika Serikat) terhadap Jepang sekitar tahun 1850-1890. Tahun 1890, para pemimpin Meiji berhasil mengubah kekuasaan untuk merundingkan kembali perjanjian yang berbeda dengan Barat, mengembalikan persamaan penuh secara diplomatik ke Jepang. Hak ekstrateritorial berakhir di tahun 1899, dan perjanjian tahun 1910. Para pemimpin Meiji yang mencari penopang-penopang (struktur) dari dunia internasional, kemudian mereka mensinkronkan dengan membangun suatu kerajaan kolonial. Alasan mereka menggabungkan dua bentuk pemerintahan ini: Pertama, di dalam iklim yang kompetitif dari kekaisaran global, mereka ingin meningkatkan keamanan nasional Jepang dengan membangun suatu wilayah koloni bertahan. Sebagai tambahan saja, “dibudayakan” negara-negara, seperti dan Inggris Perancis, memiliki kerajaan kolonial, sehingga pengadaan jajahan.
Bidang pendidikan dan teknologi berubah pada masa tersebut, yang merupakan bidang-bidang penting dalam tahap perkembangan Jepang selanjutnya. Pemerintah era restorasi Meiji banyak mengirimkan orang-orang Jepang untuk belajar kepada dunia Barat. Setelah mereka berhasil mendapatkan keilmuan yang diinginkan, mereka kemudian kembali ke Jepang dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang didapatkan sewaktu merantau di Barat.

Invansi Jepang terhadap dunia terjadi sekitar abad ke-19. setelah sebelumnya berhasil mengalahkan Russia di tahun 1905, Jepang lantas membuat gebrakan baru untuk membuat suatu dunia baru di Asia, yaitu Kawasan Persemakmuran bersama Asia Timur. Hal ini dimaksudkan demi satu rangkaian peperangan yang memperluas kendalinya atas tanah daratan Asia. Dengan permulaan Perang dunia II di tahun 1939, Jepang mempunyai suatu cukup besar kerajaan di Asia Timur. Pada 7 Desember 1941, Jepang membuat suatu militer utama mendorong ke dalam Bagian tenggara Asia dan Pasifik, yang secara serempak meluncurkan suatu serangan melawan terhadap Amerika Serikat. Kerajaan Jepang mencapai klimaks tertingginya di tahun 1942. Setelah itu, Sekutu kekuatan militer mulai untuk mendorong Jepang Punggung ke arah pulau rumah mereka. Jepang hilang semua dari wilayah koloninya setelah kekalahannya dalam Perang dunia II. Akhirnya, merasakan penuh kekayaan negara dan kekuatan mereka sendiri, banyak Jepang merasa bahwa mereka mempunyai suatu misi modernisasi tersebar antar tetangga Asia mereka.

Akhir Juli 1945, Jepang menolak Potsdam Deklarasi, suatu permintaan dipadukan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat atau muka mengucapkan pembinasaan, Amerika Serikat memutuskan untuk menggunakan senjata atomis barunya. Pada 6 Agustus, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom yang pertama atas Jepang di kota besar Hiroshima. Dua hari yang kemudiannya, perserikatan Soviet mengumumkan peperangan kepada Jepang, dan pada 9 Agustus, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom II pada kota besar Nagasaki, yang berhadapan dengan situasi sia-sia seperti itu, Kepemimpinan Jepang Kepemimpinan akhirnya disetujui menyerah pada 14-15 Agustus terhadap Jepang. Jepang Kaisar Hirohito, berbicara atas nama pertama kali di radio, menyiarkan kabar kepada bangsanya.

Setelah pengeboman yang terjadi di tahun 1945 di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang bertekuk lutut di tangan sekutu dan berakhirlah perang dunia II. Amerika Serikat, salah satu lawan Jepang dalam perang Pasifik, menduduki Jepang dari segi kemiliteran dan ekonomi dengan mengendalikan pelbagai kebijakan dari 1945 ke 1952. Pada mulanya, otoritas jabatan pendudukan memeluk demokratisasi ekonomi sebagai prioritas pertama mereka. Mereka memperkenalkan land reform dan mengijinkan para pekerja untuk membentuk serikat pekerja. Mereka juga menghancurkan zaibatsu, dimana 40 persen dari semua hak kekayaan perusahaan Jepang. Di tahun 1950, bagaimanapun, zaibatsu sedang memperbaiki diri. Kelompok perusahaan afiliasi ini kini disebut Keiretsu, dan bank berdiri di belakang mereka.

Secara de facto Jepang menyerah kepada sekutu tanggal 2 September 1945, Musuh Jerman di dalam Perang Dunia I menempatkan negeri ini di bawah kendali angkatan perang Amerika Serikat. Dunia internasional bersekutu membentuk suatu Dewan untuk Jepang, duduk di Tokyo, diciptakan untuk membantu Orang Amerika, mengetuai pemutusan dari kolonial Jepang Kerajaan dan pembubaran dari semua Jepang angkatan laut dan Militer. Di 1946, kesatuan 11 negara pengadilan dikumpulkan di Tokyo untuk mencoba sejumlah Jepang para pemimpin masa perang, mencakup Tojo, karena kejahatan peperangan. Pendudukan dikarenakan kebijaka Amerika sangat ingin menguasai lebih dari suatu demilitarisasi Jepang. Itu diarahkan pada membinasakan yang sosial, politis, dan kondisi-kondisi ekonomi yang telah buat Jepang suatu bangsa agresor, dan Jepang menjelmakan diri ke dalam suatu bangsa demokratis tenang yang tidak pernah akan lagi mengancam damai dunia atau tetangganya. Di bawah Amerika Serikat, Douglas Macarthur, pemimpin yang tertinggi untuk kuasa-kuasa yang dipadukan, Jepang diperlakukan kepada paling menyapu program perubahan mereka telah mengalami sejak restorasi Meiji.
Demokratisasi politis memusat pada suatu konstitusi ditinjau kembali, diumumkan secara resmi tahun 1947. Konstitusi yang baru melepaskan kaisar dari kuasa-kuasa mahabesar mewariskan kepadanya konstitusi Meiji, pembuatan dia sebagai ganti lambang dari Jepang pembatasan dan Bangsa pejabat nya berfungsi ke sebagian besar peraturan adat tugas-tugas. Menempatkan Nasional Diet, yang tadinya Diet kerajaan, di pusat dari proses politik. Konstitusi memperlengkapi suatu British-Style sistem parlementer, dengan suatu lemari yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Orang yang mempunyai hak pilih diperluas untuk meliputi semua orang dewasa, mencakup wanita-wanita. Konstitusi juga menjamin sipil dasar dan hak politis, mencakup sejumlah hak bukan tercakup di konstitusi Amerika Serika, seperti hak tenaga kerja untuk menawar secara bersama. Hanyalah artikel yang paling radikal konstitusi yang baru adalah Artikel 9, di bawah Jepang yang mana meninggalkan peperangan dan penggunaan kekuatan untuk mengatasi perselisihan internasional, dan dijanjikan tidak untuk memelihara daratan, laut, atau angkatan udara untuk akhir itu. Walaupun ini “konstitusi damai” mula-mula membuat garis besar di dalam Bahasa Inggris oleh pejabat jabatan;pendudukan Amerika, diperdebatkan dan disahkan oleh Jepang Diet.

Untuk membangun suatu dasar pedesaan untuk demokrasi, pejabat jabatan;pendudukan mempromosikan suatu land reform program yang mengijinkan petani penyewa untuk membeli daratan yang mereka bertani. Di dalam kota besar, jabatan;pendudukan mendukung pertumbuhan dari suatu serikat buruh pergerakan aktip. Pada akhir 1946 sekitar 40 persen angkatan kerja industri Jepang dibentuk kelompok. Untuk memperlemah kuasa sumber usaha besar, jpendudukan mengadopsi suatu program dari dekonsentrasi ekonomi, menghancurkan yang besar menimbun zaibatsu dikenal sebagai. Otoritas pendudukan juga membersihkan masyarakat bisnis para pemimpin dipikirkan itu semua untuk mempunyai dibantu dengan kepercayaan kuat organisasi tentara masa perang.

Pada keseluruhannya, Jepang menyambut perubahan ini. Orang Amerika mendukung suatu atmospir dari diskusi dan debat publik cuma-cuma pada hampir segala macam isu, dari politik ke perkawinan ke hak-hak wanita. Setelah tahun tentang pemeriksaan masa perang dan kendali dipikirkan, kebanyakan orang Jepang menghargai kebebasan baru mereka. Pada mulanya Orang Amerika juga mendukung kemunculan suatu hal penting dan sayap kiri aktip, mencakup suatu Jepang sah tentang undang-undang pihak komunis, di dalam harapan bahwa itu akan main peran suatu oposisi demokratis kuat.

Meskipun demikian, pesta konservatif, dengan agenda yang diarahkan pada pembangunan lagi ekonomi Jepang dan memperkuat posisi internasionalnya, mendominasi politik domestik di dalam Jepang sehabis perang. Setelah pemilihan sehabis perang yang pertama, tahun 1946, politikus konservatif Yoshida Shigeru menjadi perdana menteri. Bersifat memecah belah di dalam yang konservatif tergolong memberi suatu kemenangan pemilihan kepada orang sosialis Jepang di tahun 1947, tetapi di tahun 1948 Yoshida kembali ke menggerakkan, melanjutkan untuk bertindak sebagai perdana menteri sampai 1954.

Pendudukan sekutu terhadap Jepang mengandung inti: hegemoni Amerika Serikat dalam perang dengan Korea. Jepang dijadikan Amerika untuk meredam kekuatan komunis Korea pasca perang dunia II berakhir, yang dianggap sebagai rival terbesar kekuatan Amerika saat itu. Korea Utara, yang tercantum dalam daftar negara-negara sponsor terorisme, diduga telah menimbun cukup plutonium untuk membuat satu atau dua bom atom serta ribuan ton senjata kimia dan biokimia. AS mempertahankan 37.000 pasukan di Korea Selatan untuk menakuti Korea Utara. Pasukan itu juga dinilai sebagai pembenaran dari Perang Korea 1950-1953, yang berakhir tanpa sesuatu perjanjian perdamaian. Pada masa sekarang ini, kedua Korea itu dipisahkan oleh salah satu perbatasan bersama, yang paling kuat dipersenjatai di atas muka bumi ini.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Mempertahankan Bendera

02 March 2008

Bersama Djandji kemerdekaan kita,
Si Merah Poetih megah Melambai,
Lambang perdjoeangan kesatria bangsa,
Mentjipta kemerdekaan Indonesia permai.

'Arif kami poetera tanah aor,
Arti lambaian si Merah Poetih,
Meminta semangat panas mendidih,
Timboenan toelang, darah mengalir.

Dari pada bendera kebangsaan wathan,
Dipidjak moesoeh, rebah kembali, Kami rela mendjadi koerban,
Darah perwira mentjeloep boemi.

Biarlah kami pemoeda kini,
Ta' melihat wadjah 'ndonesia merdeka,
Asalkan tiang bendera bangsa,
Tertantjap diatas majat kami.


S. Ranggasela

Perak-Melajoe 12-2604
Continue Reading...

Temenan Sama Preman

25 February 2008

Jika ingat kejadian ini rasa-rasanya seluruh maluku akan menguat. Bagaimana tidak? kejadian ini terjadi lebih kurang sekira tahun 1997-an. Yup, tepat di saat krisis. Tepat pula di saat aku baru menyukai musik rock, khususnya alat bernama gitar itu. Tapi ini bukan soal kegemaranku pada gitar. Ini kasus waktu aku di kompas aka dipalakin sama tiga orang preman di pondok gede.

Hari itu, gw dan Yudis, karib waktu kecil dulu, pergi ke pondok gede. Beli dua hal: Gw beli adaptor seharga 20 ribu dan Yudis beli keset, eh kaset Metallica Unforgiven 2. Sebagai anak2 SMP yang sedang beranjak dewasa, kita make dandanan ya semirip anak2 pada masanyalah, kaosan dan celana pendek 3/4 sedengkul. Secara kita riang gembira naek CH (angkot warna merah). Tak butuh waktu lama kita untuk mendapatkan barang yang dimau.
Yudis, telah mendapatkan apa yang dicarinya. Tinggal gw nyari adaptor di pasar baru pondok gede. Ok, ini juga tak membutuhkan waktu lama. Hop, kita bersiap-siap untuk pulang.
Nah, berawal dari sini nightmare kita berdua dimulai. waktu keluar dari pasar itu, kita udah dikuntit tiga makluk. Mereka menasbihkan diri mereka preman. Kita berdua kagak sadar dengan apa yang terjadi. Mungkin pingsan waktu itu...hehehe (nggak canda ding). Hup, tangan gw tertangkap sama satu makluk itu. Waw, gw gemeter setengah mampus deh. Tapi Yudis selamat, ia berhasil melarikan diri. Eh, tunggu dulu, jangan seneng dulu, kawan si makluk ini yang berasal dari suku Ambon, ngikutin Yudis. Ia ditangkep juga. Hihihi...
Katanya Yudis, cari nangkepnya sederhana, "Eh, temen lo ketangkep ma temen gw tuh!" celetuk si makluk garang itu. Akhirnya demi kawannya, yaitu gw, dia merunutkan jalan2 nya sama si Ambon.
Kita ditanya-tanya di situ. Kalo mereka polisi, semantap menginterograsilah modelnya. "Kalian anak mana?" tanya mereka. Karena ingin boong dan dikirain mantrabs. Maka, kita jawab, "kita anak kampung di sekitar sono." omong gw mbela diri, sekiranya untuk menggertak mereka aja. Eh, tapi mereka langsung nyamber jawaban. "Kalian kenal siapa aja di sana?" tegas mereka. Kita berdua diem. Lalu si Yudis punya inisiatip njawab ngawur, kalo gw bukan di situ ding, gw rumahnya di sekitar situ. "
"Yah, udah lo kenal siapa aja? Gw kenal si anu," tanya mereka. Gw diem aja. Merasa nggak kenal siapa2 dan emang gw boong (Waa, diasaar gobloksa ni orang). Ya udah kita digiring di sana.
Diputer2 di Pasar Baru, Pondok Gede itu. Mereka berhenti di salah satu ruko yang kosong. Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi langsung ngangkat rolling door. Srekk, bunyinya. Sumpe gw ma Yudis udah gemeteran setengah mampus. Kita udah mikir, pasti digebukin di sini. Huhuhu. Gimana ya rasanya digebukin? Sakitkah, pikir gw. Tentu! Dasar modol luh. Eh, ternyata si jangkung ini, bukannya mau gebukin kita, tapi mau ngencing. Waks? Mata kita membelo, antara gw sama Yudis saling pandang. Tapi tetep gak bisa senyum apalagi ketawa.
Selepas dari sini, mereka menggiring kita lagi ke bibir sawah. Kita berdiri di deket apa ya istilahnya?...got irigasi. Di situ kita digojlok abis2an. Si Ambon yang merasa dirinya pimpinan angkat bicara. Sambil hadap2an sama gw dia bilang gini: "sini!" merampas seluruh belanjaan kita. Kaset plus adaptor. Yah...hopless banget waktu itu. "Lo tadi boongin gw kan?" tanyanya mantrabs, "sebagai perdamaiannya kalian mau?" Gw mengangguk. Ya...ya...ya.
"Sekarang lo harus minum air dari tempat kita ini sampai sana. Tapi jangan sampe ngalir lagi kesini!!!"
Glek. keringat dingin mengalir dari wajah kepanasan kita.
Mengangguk perlahan. "Sebagai perdamaiannya,lu sanggup gak?!"
Kita geleng2. Dan menyatakan ketidaksanggupan. Eh, tak dinyana, setelah mengatakan itu, dia malah melunak. Tersenyum penuh keanehan. Kita jadi bingung rupanya sama kelakuan mereka.
"Nih kita pulangin?" Masih dengan tampang tak percaya. "Sebenernya kita cuma mau iseng2 kenalan aja sama kalian."
Hah? Bengong. "Nih kita balikin semuanya". Hah, kenalan kek gini? Masih dengan tampang tak percaya. Secara sampai kini pun kenangan itu adalah sesuatu yang tak terlupakan. Kenangan kegoblok gw dan Yudis. Tapi Yudis ada dimana ya sekarang?
Continue Reading...