Borobudur-Libur-Tidur

09 May 2009

Tiada menyangka bahwa kesibukanku mengurus FB, telah menguras sejumlah energiku untuk menulis di blog. Gila! Padahal isi daripada FB-ku cuma pesan-pesan dari kawan-kawan aneh. Ya, isinya cuma olok-olokan, khususnya dilemparkan kepadaku. Lebih-lebih si De Miel itu. Tapi tak apalah, membuat senang orang lain, tentu suatu kebahagiaan sendiri. Kan itu cuma olok-olokan... hehehe...

Hari ini libur. Niatnya semula ingin bertandang ke Borobudur. Melihat prosesi upacara Waisak yang konon banyak diikuti oleh para biksu seluruh dunia. Sayangnya nggak jadi... hiks... hiks... Lagian semisal aku ke sana, aku nggak punya kamera. Lantas ingin mengabadikan apa? Payah...

Sebetulnya keinginanku untuk datang ke sana ada niat lain. Semisal aku betulan jadi ke sana, aku sudah tahu kalau jalan menuju Borobudur ditutup, paling tidak ramai hingga penuh sesak. Nah, karena itu, aku hendak transit di salah dua rumah kawan. Dan di salah satu rumah kawanku itu, ada tersembunyi seorang bidadari cantik nan rupawati. Wah, pokoke bagus betul deh orangnya. Melihat dia tentu bakal terkesima. Tapi, sayangnya semua itu tidak jadi... Dan aku sekarang berada di rumah Yan, entah untuk melakukan kegiatan apaan. Selain membuat kostum buat Cosplay (ah, istilah apa lagi itu?)...

Ya sudah, aku cuma hendak mengatakan itu. Liburan, tak jadi ke Borobudur, tidur pun terganggu.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Masukan neh

20 April 2009

Seseorang, entah siapa, mengirim email padaku:

Kenapa ya, aku tak pernah bisa melihat karakter yang kuat dari seorang Lilih..
Semuanya tampak terlalu kabur...
terlalu lemah...

ada baiknya jujur pada diri sendiri...dan jangan mencoba mengikuti gaya orang
lain.. sip?


Salam,

-DK-


Subject yang ditulisnya bertajuk: Masukan neh.

Jujur aku kaget dengan kiriman email ini. Beragam pikiran berkecamuk, bertanya-tanya: siapa gerangan pengirim email itu. Tak ada nama, kecuali inisial saja. Pikir punya pikir, aku tak memiliki teman berinisial dua huruf itu. Cuma satu seseorang yang kuketahui memiliki inisial itu, yakni dosen aku: Dina Dwi Kurniarini. Tapi ngapain dia kirim aku email seperti itu? Lagipula, toh dia tak tahu emailku. Kawan semasa kuliah dulu juga tak ada yang berinisial itu. Aku betul-betul tak tahu siapa pengirim itu.

Lewat postingan ini, aku mengajak orang itu untuk jujur secara terbuka mengatakan siapa dia. Atau Anda takut mengatakan diri Anda di depan seluruh dunia? Aku sudah membalas email itu supaya dia mengaku, meski aku tak mempedulikan serangannya. Mungkin itu tanda cinta darinya ya? Hihihi... Tentunya saja akan sangat menarik, jika dia seorang perempuan, semisal sebaliknya, heaks, bukannya takut aku sungguh jijik.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Hitam+Putih=Abu-abu

14 April 2009

Ini hari aku pulang larut sekali, karena harus mengerjakan tugas dari adik bungsuku--yeah adikku memang cuma satu. Biasanya, kawan-kawan sudah pulang semuanya, ketika aku sendirian berada di kamar kerja, terkecuali tiga bandit yang memang jadi penunggu kantor: jenggun, jembil, sama miss rat. Tapi hingga beberapa hari ke depan, aku takkan bisa melihat tingkah polah jenggun sebab ia sedang mudik ke kampung halamannya. Soalnya keponakannya menikah. Eh, omong-omong soal jenggun, ternyata ia sudah punya cucu lho. Padahal ia baru berumur 23 tahun. Usut punya usut, ia anak ragil dari 15 bersaudara, di mana 2 atau 3 di antaranya meninggal, jadi tinggal 12 saja.

Lupakan soal jenggun tadi, aku tidak hendak menceritakan ia ini, pun aku juga takkan ingin menceritakan apa-apa sih sebetulnya. Hanya saja, tadi sore ketika aku hendak bermalam-malam ria, aku sempat mengobrol-ngobrol sama kawan-kawan desainer, namanya Ndestyan. Ia punya sejoli namanya Heng--mirip istilah komputer tho? Hehehe... Entah mengapa hari ini, dua bocah itu belum pulang, walau waktu sudah menunjukkan maghrib. Biasanya mereka sudah pulang kalau jam kantor sudah usai. Ah, tapi tak apa untuk kawan mengobrol.

Awalnya aku bertanya padanya, apakah ia mempunyai manga One Piece--salah satu manga Jepang yang kusuka. Ia menjawab punya. Bahkan, ia mengatakan bahwa ia lebih menyukai manga One Piece ketimbang Naruto, sementara aku menyukai kedua-duanya. Itu awalnya, namun obrolan itu semakin seru. Maklum aku tahu ia pecinta Jepang, dan ia pun punya pacar yang mendukung hobinya itu. Pasalnya, pacarnya besar di Jepang. Sementara aku hanya sedikit tahu mengenai Jepang dan kisah sukses manga. Kalau obrolan sudah ditarik ke tema itu, aku memang yakin bahwa orang yang agak pendiam itu akhirnya akan terpancing juga untuk angkat bicara. Hipotesaku terbukti betul. Kami berdua terlibat obrolan sedikit seru.

Aku takkan mengisahkan secara mendetail apa yang kami diskusi karena terlalu makan space dan memakan waktu pula untuk penulisannya dan tentunya akan membosankan. Inti dari pembicaraan kami adalah tentang mengapa tradisi kartun di Indonesia kerap kali diidentikkan dengan kanak-kanak. Maksudku, apa-apa yang berbau kartun bisa dijamin dilekatkan sama jiwanya anak-anak. Dan itu betulan terjadi di sini. Padahal di Jepang sendiri, kartun tidak diidentikkan dengan kanak-kanak, tetap ada pembagian genre usia. Yah, kita bisalah mengatakan bahwa Doraemon, Chibi Marukochan diperuntukkan untuk konsumsi anak-anak, tetapi jika kita membicarakan Final Fantasy? Kamen Raider? Death Note? Belum tentu kan?

Ndes bilang padaku, mengapa tradisi di Indonesia tidak seperti di Jepang. Jawabnya adalah karena di Indonesia budaya kita sering kali berpikir negatif dulu ketimbang positifnya. Hem, ada menggaruk-garuk janggutku. Betul juga apa yang dikatakan Ndes. Coba deh ambil contoh, pernahkah kita melihat seseorang melakukan yang dianggap bukan menjadi kebiasaan kebanyakan orang maka orang itu dianggap salah. Ketinggalan zaman, meski yang terjadi bukan seperti itu.

Beberapa orang di sini, untuk tidak mengatakan lebih dari separuh, kerap berpikir biasa, bukan luar biasa. Padahal untuk bisa maju kita perlu banyak-banyak berpikir positif, kata para motivator nasional itu. Pernah, dulu tetanggaku menyarankan padaku bahwa lebih baik aku kursus kapal pesiar saja, biar nanti bisa kerja di kapal pesiar dan menghasilkan banyak uang. Lumayan sebulan bisa mendapatkan delapan hingga sepuluh juta--tergantung prestasi. Sempat juga tergiur karena hasil yang didapat cepat. Tidak membuang-buang tenaga. Tetapi, ketika diri ini tersadar, panggilan jiwa tidak mengarahkan ke sana. Keinginan untuk mencari uang haruslah diimbangi dengan minat dan bakat, jangan hanya diarahkan ke arah-arah yang material. Hanya saja tak perlulah membantah tetanggaku yang sudah menyarankanku. Cukup berkata iya, dan ia akan berhenti bicara.

Kembali lagi ke Ndes kawanku yang agak ke-Jepang-jepang-an itu tadi. Ia bilang kita kerap negatif menilai sesuatu padahal kita tidak tahu bahwa sesuatu yang kita cap negatif itu tentu berguna bagi orang lain dan merupakan tambang emasnya. Masing-masing dari kita memang memiliki tambang emas sendiri-sendiri kan? Dan tidak akan pernah tertukar. Itu yang dijanjikan Tuhan. Nah, jika tetanggaku itu sempat berpikir negatif padaku soal nasib kelak yang akan terjadi padaku, pada keluargaku, biarkan saja. Tapi aku tidak harus ikut-ikutan mengecap berpikir negatif tentang pekerjaanku, tentang apa yang kusukai, tentang apa yang kuminati. Seperti aku tidak boleh mengecap buruk soal Ndesty dan Heng soal kecintaannya sama Jepang-jepang-an. Toh itu hak mereka. Mungkin juga panggilan jiwanya.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)

Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang, yang jiwaku sedang beralih ke sana: walau kau bersikap buruk padaku. Mudah-mudahan aku tidak berpikir negatif tentangmu. Karena aku menyadari bahwa kita semua memiliki alasan masing-masing dan menginginkan segala sesuatunya lebih baik.
Continue Reading...

Kamu

Aku sedang membaca ketika kawanku kos, Dwi namanya, masuk dengan tiba-tiba ke dalam kamarku. Membuat mataku segera berpaling ke arahnya. Ia yang kutatap tersenyum seraya melemparkan sapa.

“Halo, lagi apa?” tanyanya.

“Biasalah. Cuma baca sekalian merilekskan pikiranku,” jawabku, “tumben. Nggak keluar sama cowokmu?”

Ia menggeleng. “Nggak. Sepi aja di kamar sendirian, tanpa kawan. Maklum liburan panjang, pada pulang semua.”

Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya. Betul apa yang dikatakannya. Hampir semua anak kos di sini sedang mudik menyambut libur yang panjang, empat hari. Lumayan untuk melepas rindu, melepas beban yang hadir di kota yang menurutku kian sumpek dan panas saja ini. “O, gitu ya. Kupikir ada apa?” Aku kembali merebahkan diriku di kasur dan menyuntuki kata per kata bukuku.

Dan Dwi kawanku itu segera ke arah meja, mengambil laptop yang teronggok saja di atasnya. “Kunyalakan ya…” katanya.

“Ok.”

Untuk beberapa lama waktu berjalan, tak ada percakapan di antara kami. Semua dalam keheningannya masing-masing, menikmati kegiatan yang tengah disuntuki. Yang terdengar hanyalah derik suara kehidupan hewan malam dan suara dari laptopku yang sedang memutar lagu, entah apa judulnya—aku sudah tidak mengupdeti lagu-lagu pop masa kini. Dan… dalam kondisi yang demikian, tiba-tiba saja Dwi kawanku itu nyeletuk.

“V.”

“Hmm…”

“Kamu dapat salam.”

“Dari siapa?’

“Dari mantan kakak kelasku!”

Deg. Jantungku berdegub cepat. Aku berhenti membaca. Lalu kutatap Dwi kawanku itu. “Ah, becanda kamu…” Dan, tanpa sadar, senyumku mengembang. Kubayangkan kamu. Kamu yang pernah ke kos ini beberapa tempo lalu untuk menemui Dwi dan memencet bel namun tidak kudengar. Kamu yang pernah menjadi cerita lima tahun silam.

“Nggak. Ini betulan. Suer.” Dua jari tangan kanannya—manis dan telunjuk—diacungkan, membentuk huruf V, yang memiliki maksud aku tidak bohong lho.

“Ya, makasih salamnya.” Senyumku masih belum menghilang dari bibirku. Dwi memandangiku dengan mimik aneh, membuatku terbingung dengan tingkahnya itu. Selanjutnya ia mengangkat bahunya, seperti mengisyaratkan bahwa “hello, aku menunggu jawab dari kamu lho.” Yang mana juga kubalas dengan gerakan yang tak kalah membingungkannya dengan mengangkat bahu dan menggeleng-gelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa “apa maksudmu? Aku nggak ngerti!”

“Gitu aja?” Akhirnya maksudnya terlontar juga dari mulutnya, persis seperti kukira.

“Gitu gimana?”

“Nggak ada balasan?”

“Nggak!” Kuakhiri pembicaraan. Dan keadaan kembali tenang seperti awal, terkecuali hatiku yang masih dag-dig-dug. Entah mengapa. Benakku kembali merekatkan kembali ingatan lima tahun lalu. Dan aku tidak menyukai itu dan dalam hati aku mengutuk pecahan-pecahan ingatan itu. Mengapa kamu datang? Di saat ini. Bukankah kamu sudah cukup berumur untuk memiliki seorang istri? Aku mengeraskan hatiku. Peduli apa aku dengannya. Kubacai lagi bukuku. Menekuni kata demi kata untuk melupakannya.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Dia

12 April 2009

Malam itu aku melihatnya. Ia sedang menonton televisi di ruang agak sebelah dalam. Sendirian. Aku tekan bel, untuk memanggil kawan yang sudah janjian bertemu dengannya. Katanya ia ingin meminta pertolonganku mengedit peta untuk lampiran skripsinya. Tiga kali kutekan bel itu. Tapi ia yang sedang sendirian menonton televisi tak bergeming dan tetap hening. Barangkali tak mendengar, pikirku. Hingga ada seorang perempuan keluar dan bertanya, "cari siapa ya?"

Dan ia pun menengok ke arah pintu depan. Ya ampun itu dia! "Aku cari Dwi."

Sebentar kemudian terdengarlah suara panggilan. "DWIIIIIII....!!!" Kawanku itu pun menyahut dan keluar dari persembunyiannya. Kamarnya. "Apa?" Tanyanya.

"Ada yang cari tuh..."

"Oiya..."

Aku tunggu di luar. Di bawah rerindangan pepohonan, yang malam itu agak gelap, sebab di bagian luar kos-kosan perempuan itu lampu kurang terang menerangi. Agak lama memang. Biasalah. Kawanku yang adik kelasku itu memakai baju yang sedikit pantas untuk menemui seorang tamu--meski bukan tamu yang spesial.

Setelah ia keluar dan menampakkan senyum, aku bertanya. "Mana peta yang ingin kau edit?"

"Ini, mas, pak Argus, minta dibikinkan skalanya." Dan ia menyerahkan selembar kertas bergambar peta yang agak lusuh karena dilipat-lipat olehnya.

"O, gampang. Oke deh." Lantas kami mengobrolkan hal-hal di luar itu, seperti kegiatan kami selama ini, maklum jarang bertemu. Dan aktivitasnya selama menjalani tahap membuat skripsi dengan pembimbingnya pak Argus, yang telah kujalani dua-tiga tahun lampau.

Setelah obrolan agak mereda dan mencair seiring berjalannya waktu, aku bertanya padanya: "Eh, itu yang duduk di depan tipi sendirian, namanya V ya?"

Kawanku yang seorang perempuan itu mengangguk-angguk. "Iya, mas. Lho kok tahu? Kenal?"

Gantian aku yang manggut-manggut. "Iya, kenal. Yang anak Sosiologi itu kan? Seangkatan sama kamu kan?"

"Iya. Kenapa mas?"

"Nggak. Nggak apa-apa kok."

Lantas obrolan pun mencair entah bergulir ke mana. Sementara pikiranku masih tetap terpaku pada ia yang duduk di depan televisi sendirian. Aku jadi teringat sebuah buku yang ditulis oleh Mushashi Miyamoto bertajuk "Kitab Lima Cincin": Bahwa pikiran tidak boleh ditempatkan pada sesuatu, sebab pikiran itu berjalan dan hidup itu bergerak. Jika pikiran ditempatkan pada sesuatu, maka kau akan tertebas pedang. Tapi, segera kusingkirkan ingatan teoretis itu. Malas. Ini bukan saatnya berbicara teoretis. Ini hal yang nyata. Sangat nyata.

Lantas ia yang duduk di depan televisi, beranjak dari duduknya, mematikan televisi yang ditontonnya dan berlalu dari situ ke lantai dua. Dan menghilang dari pandanganku. Aku agak celingukan mencarinya, yang mana kemudian dilihat oleh kawanku itu. "Ada apa mas?" ia pun bertanya.

"Nggak ada apa-apa kok."

"Mau tak salamin?"

Aku diam. Tapi dalam benakku ini tawaran menarik. Hem, tapi ingatanku melayang pada tahun 2004. Ah, kutepis lagi. Tapi pertemuan ini adalah buktinya. Aku telah mencarinya beberapa saat untuk meminta maaf dulu. Dan tak pernah kutemukan bekar jejaknya hingga saat ini.

Aku pamitan pulang sama kawanku. Dan berjanji kembali pada hari Rabu minggu ini untuk menyerahkan apa yang ditugaskannya padaku. Tapi kembali ketika aku beranjak, benakku mengatakan ini tawaran menarik dan belum pernah terjadi. Maka, aku beralih pikiran. "Hem..."

"Apa mas?"

"Salamin sama dia yah..."

Ia pun tersenyum. "O... Baiklah. Salamnya apa nih?"

"Ah, bisa aja kamu ini," tukasku. Aku berlalu dari kawanku.

Dalam perjalanan pulang, aku membayangkannya kembali. Membayangkan kenangan yang sudah berlalu lima tahun lebih. Apakah waktu itu berkesan baginya? Entahlah. Aku tak ingin menerkanya.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Beton Polimer Ramah Lingkungan

01 April 2009

Beton dikenal sebagai material bangunan paling populer yang tersusun dari komposisi utama batuan, air dan semen. Dikenal luas dan populer, karena bahan pembuatnya relatif mudah didapat secara lokal, harganya relatif murah, dan teknologi pembuatannya relatif mudah. Akan tetapi, belakangan ini beton yang kita kenal acap mendapatkan kritik, terlebih dari aktivis lingkungan hidup. Oleh karena itu, banyak para pakar mulai mencari solusi sebagai alternatif bahan-bahan campuran beton. Salah satunya adalah Djuanda Suraatmadja.

Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Ia adalah anak kedua dari 12 saudara. Gelar sarjana tekniknya didapatkan di Fakultas Teknik Sipil ITB (1960). Pada 1971 dan 1982 ia mengikuti pendidikan di The University of New South Wales, Australia, dan University California, Amerika Serikat, setelah sebelumnya di Purdue University selama dua tahun. Kariernya diawali sejak tahun 1960 sebagai asisten ahli. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (1977-1981) dan Kepala Program S2 STJR-ITB (1982-1992).

Ide awal pemikiran bahan polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja berawal dari ide mencari beton yang memiliki sifat lebih baik dari beton semen. Ketika membuka-buka literatur yang dipunyainya, diketahui bahwa polimer memiliki sifat seperti semen. Polimer adalah suatu zat kimia yang terdiri dari molekul-molekul yang besar, dengan karbon dan hidrogen sebagai molekul utamanya. Bahan ini berasal dari limbah plastik yang didaur ulang, kemudian dicampur dengan bahan kimia lainnya. Penggunaan bahan tersebut bertujuan memanfaatkan limbah plastik, di samping mencari alternatif pengganti semen.

Pada 1975, ia melakukan penelitian mengenai bahan polimer pengganti semen ini. Berkat ketekunan dan kegigihan, penelitian yang dilakukan dengan berbagai ujicoba di Laboratorium Struktur dan Bahan serta laboratorium lainnya di Institur Teknologi Bandung dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) akhirnya membuahkan hasil. Hasil penemuan tersebut sekaligus menarik perhatian ilmuwan dan para industriawan mengingat beberapa keistimewaan dan sekaligus kelebihan beton polimer dibanding beton semen.

Beton polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja memiliki sifat kedap air, tidak terpengaruh sinar ultra violet, tahan terhadap larutan agresif seperti bahan kimia serta kelebihan lainnya. Yang lebih istimewa lagi, beton polimer bisa mengeras di dalam air sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki bangunan-bangunan di dalam air. Satu-satunya kelemahan yang hingga kini belum teratasi adalah harga beton polimer masih belum bisa lebih rendah dibanding beton semen, kecuali untuk daerah Irian Jaya, di mana harga semen sangat mahal. Karena itu, beton polimer selama ini lebih banyak digunakan untuk rehabilitasi bangunan yang rusak.

Pada 2000, atas hasil karyanya ini Prof Ir H Djuanda Suraatmadja menerima penghargaan Anugerah Kalyanakretya pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional V yang dicanangkan Presiden Abdurrahman Wahid di Bandung. Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Karya penelitiannya yang umum telah diseminarkan dalam bentuk Standar Nasional yang bisa berguna untuk masyarakat luas. Yaitu dalam bentuk Peraturan Dinas No. 10 tentang Jalan Rel Indonesia, SNI Uji Tarik Langsung Material Beton tahun 1997, dan SNI Tata Cara Pemakaian Beton Polimer untuk Perbaikan dan Penguatan Struktur Beton tahun 1998.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...