Malam kian larut saat ini, dan dingin udara terasa sangat menusuk kulit. Inilah tanda-tanda bahwa musim kemarau telah datang. Kuhisap sebatang rokok dan kukepulkan asapnya ke udara. Nikmat. Aku menggerakkan jari-jemariku di atas tuts komputer. Tak bisa tidur malam ini. Terjaga. Ada sesuatu yang kupikirkan, membuat gelisah hati dan jiwaku. Ada apa?
Menjaga Pengunjung Agar Betah di Blog Anda
04 June 2011
Ada beberapa cara yang telah saya pelajari perihal menahan pengunjung agar betah lama-lama di blog Anda. Cara ini gampang-gampang sulit untuk diterapkan, namun jika berhasil efeknya lumayan besar juga. Mau tahu?
Add Your Tags, Blow Your Blogs
Saya punya salah satu cara untuk meningkatkan traffic pengunjung di blog atau website. Cara ini mungkin sudah sangat lama atau jadul, dan mungkin saja pada perkembangan canggih sekarang semakin banyak cara yang digunakan untuk meningkatkan fraffic pengunjung.
What am I a Lucky Man?
03 June 2011
Di tengah jalan waktu mau berangkat tadi, saya ketemu sama teman SMA saya. Wiwid namanya. Cowok. Muda. Kuat. Kekar pula. Walaupun wajahnya sudah berubah menjadi lebih berumur, saya masih mengenalinya.
"Wid," panggil saya.
"Lih." ia mengenali saya.
Reviews Buku: Cerdik Mengelola Gaji
27 February 2011
40 : 30 : 20 : 10
Sepertinya itu inti buku ini yang berhasil kuserap. 40% untuk kebutuhan hidup sehari-hari. 30% untuk tabungan. 20% untuk untuk bayar utang. 10% untuk berbagi dengan sesama.
Eits.. eits... ini ngomong apa sih?
Sesuai dengan judul buku yang direviews, artikel kali ini mengulas soal gaji. Lebih tepatnya -- sesuai judul bukunya: TIPS CERDIK MENGELOLA GAJI.
Tanpa pernah kita sadari, mungkin tidak kita pedulikan ke mana duit gaji dibelanjakan. Yang terpenting dapat gaji, dapat uang, setelah dinikmati saat ini juga. Padahal kita tidak hanya hidup di hari ini. Karena itu, buku ini mencoba mengulas sedetail-detailnya bagaimana mengelola gaji yang baik dan benar menurut pandangan ekonomis saat ini, dan hari depan.
40 : 30 : 20 : 10
Tak banyak yang bisa kudapat dari buku ini. Selain, pembahasannya yang tak begitu praktis -- terlalu banyak uraian yang panjang dan tak menarik minatku. Ada tiga hal yang bisa kupetik dari buku ini.
Pertama, pembagian gaji itu 40 : 30 : 20 : 10.
Kedua, pengeluaran harus ada prioritas.
Ketiga, kita harus punya rencana / tujuan -- jangka pendek dan jangka panjang.
Sisanya, hanyalah gagasan si penulis untuk membuku ini semakin tebal saja.
Aku merekomendasikan buku ini untuk kalian baca.
Continue Reading...
Sepertinya itu inti buku ini yang berhasil kuserap. 40% untuk kebutuhan hidup sehari-hari. 30% untuk tabungan. 20% untuk untuk bayar utang. 10% untuk berbagi dengan sesama.
Eits.. eits... ini ngomong apa sih?
Sesuai dengan judul buku yang direviews, artikel kali ini mengulas soal gaji. Lebih tepatnya -- sesuai judul bukunya: TIPS CERDIK MENGELOLA GAJI.
Tanpa pernah kita sadari, mungkin tidak kita pedulikan ke mana duit gaji dibelanjakan. Yang terpenting dapat gaji, dapat uang, setelah dinikmati saat ini juga. Padahal kita tidak hanya hidup di hari ini. Karena itu, buku ini mencoba mengulas sedetail-detailnya bagaimana mengelola gaji yang baik dan benar menurut pandangan ekonomis saat ini, dan hari depan.
40 : 30 : 20 : 10
Tak banyak yang bisa kudapat dari buku ini. Selain, pembahasannya yang tak begitu praktis -- terlalu banyak uraian yang panjang dan tak menarik minatku. Ada tiga hal yang bisa kupetik dari buku ini.
Pertama, pembagian gaji itu 40 : 30 : 20 : 10.
Kedua, pengeluaran harus ada prioritas.
Ketiga, kita harus punya rencana / tujuan -- jangka pendek dan jangka panjang.
Sisanya, hanyalah gagasan si penulis untuk membuku ini semakin tebal saja.
Aku merekomendasikan buku ini untuk kalian baca.
Reviews Buku: Paranoid (The Story of A Madman)
26 February 2011
Oke, satu kalimat tanya: "Perlukah aku menghabiskan buku yang tidak terlalu tebal ini?"
Agaknya hal ini terlalu vulgar pendapat yang akan kukatakan untuk buku ini. Bagaimana tidak? Buku ini sama sekali tak menarik minatku untuk terus melanjutkan membaca. Aku heran, mengapa buku seperti ini menjadi best seller? Internasional lagi. Dibanding karya satunya lagi yang berjudul Perfume, tampaknya Patrick Suskins harus merelakan buku ini dicaci-maki, khususnya olehku. Kisah Perfume jauh lebih menarik ketimbang buku ini. Meskipun, aku juga tak begitu menyukai alur Perfume.
Untuk buku satu ini, hal yang harus kuceritakan adalah, sungguh, aku langsung melompat ke bab terakhir untuk mendapatkan isi keseluruhannya -- yang tak jelas ini -- entah ke mana cerita ini mau berjalan. Tapi, ketika bab pertama -- bagian terpenting dari sebuah novel -- sudah tidak cukup kuat memikat pembaca, tamat riwayatnya. Dan apakah novel ini bagus / best seller di Indonesia? Rasa-rasanya tidak. Sejak mengamati dunia perbukuan, tak sekalipun aku pernah melihatnya.
So?
So, aku terpaksa menutup buku ini diparuh jalan -- tak sampai malah, untuk kemudian membuka buku lain yang lebih menarik minatku.
Continue Reading...
Agaknya hal ini terlalu vulgar pendapat yang akan kukatakan untuk buku ini. Bagaimana tidak? Buku ini sama sekali tak menarik minatku untuk terus melanjutkan membaca. Aku heran, mengapa buku seperti ini menjadi best seller? Internasional lagi. Dibanding karya satunya lagi yang berjudul Perfume, tampaknya Patrick Suskins harus merelakan buku ini dicaci-maki, khususnya olehku. Kisah Perfume jauh lebih menarik ketimbang buku ini. Meskipun, aku juga tak begitu menyukai alur Perfume.
Untuk buku satu ini, hal yang harus kuceritakan adalah, sungguh, aku langsung melompat ke bab terakhir untuk mendapatkan isi keseluruhannya -- yang tak jelas ini -- entah ke mana cerita ini mau berjalan. Tapi, ketika bab pertama -- bagian terpenting dari sebuah novel -- sudah tidak cukup kuat memikat pembaca, tamat riwayatnya. Dan apakah novel ini bagus / best seller di Indonesia? Rasa-rasanya tidak. Sejak mengamati dunia perbukuan, tak sekalipun aku pernah melihatnya.
So?
So, aku terpaksa menutup buku ini diparuh jalan -- tak sampai malah, untuk kemudian membuka buku lain yang lebih menarik minatku.
Subscribe to:
Posts (Atom)



