Hitam+Putih=Abu-abu

14 April 2009

Ini hari aku pulang larut sekali, karena harus mengerjakan tugas dari adik bungsuku--yeah adikku memang cuma satu. Biasanya, kawan-kawan sudah pulang semuanya, ketika aku sendirian berada di kamar kerja, terkecuali tiga bandit yang memang jadi penunggu kantor: jenggun, jembil, sama miss rat. Tapi hingga beberapa hari ke depan, aku takkan bisa melihat tingkah polah jenggun sebab ia sedang mudik ke kampung halamannya. Soalnya keponakannya menikah. Eh, omong-omong soal jenggun, ternyata ia sudah punya cucu lho. Padahal ia baru berumur 23 tahun. Usut punya usut, ia anak ragil dari 15 bersaudara, di mana 2 atau 3 di antaranya meninggal, jadi tinggal 12 saja.

Lupakan soal jenggun tadi, aku tidak hendak menceritakan ia ini, pun aku juga takkan ingin menceritakan apa-apa sih sebetulnya. Hanya saja, tadi sore ketika aku hendak bermalam-malam ria, aku sempat mengobrol-ngobrol sama kawan-kawan desainer, namanya Ndestyan. Ia punya sejoli namanya Heng--mirip istilah komputer tho? Hehehe... Entah mengapa hari ini, dua bocah itu belum pulang, walau waktu sudah menunjukkan maghrib. Biasanya mereka sudah pulang kalau jam kantor sudah usai. Ah, tapi tak apa untuk kawan mengobrol.

Awalnya aku bertanya padanya, apakah ia mempunyai manga One Piece--salah satu manga Jepang yang kusuka. Ia menjawab punya. Bahkan, ia mengatakan bahwa ia lebih menyukai manga One Piece ketimbang Naruto, sementara aku menyukai kedua-duanya. Itu awalnya, namun obrolan itu semakin seru. Maklum aku tahu ia pecinta Jepang, dan ia pun punya pacar yang mendukung hobinya itu. Pasalnya, pacarnya besar di Jepang. Sementara aku hanya sedikit tahu mengenai Jepang dan kisah sukses manga. Kalau obrolan sudah ditarik ke tema itu, aku memang yakin bahwa orang yang agak pendiam itu akhirnya akan terpancing juga untuk angkat bicara. Hipotesaku terbukti betul. Kami berdua terlibat obrolan sedikit seru.

Aku takkan mengisahkan secara mendetail apa yang kami diskusi karena terlalu makan space dan memakan waktu pula untuk penulisannya dan tentunya akan membosankan. Inti dari pembicaraan kami adalah tentang mengapa tradisi kartun di Indonesia kerap kali diidentikkan dengan kanak-kanak. Maksudku, apa-apa yang berbau kartun bisa dijamin dilekatkan sama jiwanya anak-anak. Dan itu betulan terjadi di sini. Padahal di Jepang sendiri, kartun tidak diidentikkan dengan kanak-kanak, tetap ada pembagian genre usia. Yah, kita bisalah mengatakan bahwa Doraemon, Chibi Marukochan diperuntukkan untuk konsumsi anak-anak, tetapi jika kita membicarakan Final Fantasy? Kamen Raider? Death Note? Belum tentu kan?

Ndes bilang padaku, mengapa tradisi di Indonesia tidak seperti di Jepang. Jawabnya adalah karena di Indonesia budaya kita sering kali berpikir negatif dulu ketimbang positifnya. Hem, ada menggaruk-garuk janggutku. Betul juga apa yang dikatakan Ndes. Coba deh ambil contoh, pernahkah kita melihat seseorang melakukan yang dianggap bukan menjadi kebiasaan kebanyakan orang maka orang itu dianggap salah. Ketinggalan zaman, meski yang terjadi bukan seperti itu.

Beberapa orang di sini, untuk tidak mengatakan lebih dari separuh, kerap berpikir biasa, bukan luar biasa. Padahal untuk bisa maju kita perlu banyak-banyak berpikir positif, kata para motivator nasional itu. Pernah, dulu tetanggaku menyarankan padaku bahwa lebih baik aku kursus kapal pesiar saja, biar nanti bisa kerja di kapal pesiar dan menghasilkan banyak uang. Lumayan sebulan bisa mendapatkan delapan hingga sepuluh juta--tergantung prestasi. Sempat juga tergiur karena hasil yang didapat cepat. Tidak membuang-buang tenaga. Tetapi, ketika diri ini tersadar, panggilan jiwa tidak mengarahkan ke sana. Keinginan untuk mencari uang haruslah diimbangi dengan minat dan bakat, jangan hanya diarahkan ke arah-arah yang material. Hanya saja tak perlulah membantah tetanggaku yang sudah menyarankanku. Cukup berkata iya, dan ia akan berhenti bicara.

Kembali lagi ke Ndes kawanku yang agak ke-Jepang-jepang-an itu tadi. Ia bilang kita kerap negatif menilai sesuatu padahal kita tidak tahu bahwa sesuatu yang kita cap negatif itu tentu berguna bagi orang lain dan merupakan tambang emasnya. Masing-masing dari kita memang memiliki tambang emas sendiri-sendiri kan? Dan tidak akan pernah tertukar. Itu yang dijanjikan Tuhan. Nah, jika tetanggaku itu sempat berpikir negatif padaku soal nasib kelak yang akan terjadi padaku, pada keluargaku, biarkan saja. Tapi aku tidak harus ikut-ikutan mengecap berpikir negatif tentang pekerjaanku, tentang apa yang kusukai, tentang apa yang kuminati. Seperti aku tidak boleh mengecap buruk soal Ndesty dan Heng soal kecintaannya sama Jepang-jepang-an. Toh itu hak mereka. Mungkin juga panggilan jiwanya.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)

Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang, yang jiwaku sedang beralih ke sana: walau kau bersikap buruk padaku. Mudah-mudahan aku tidak berpikir negatif tentangmu. Karena aku menyadari bahwa kita semua memiliki alasan masing-masing dan menginginkan segala sesuatunya lebih baik.
Continue Reading...

Kamu

Aku sedang membaca ketika kawanku kos, Dwi namanya, masuk dengan tiba-tiba ke dalam kamarku. Membuat mataku segera berpaling ke arahnya. Ia yang kutatap tersenyum seraya melemparkan sapa.

“Halo, lagi apa?” tanyanya.

“Biasalah. Cuma baca sekalian merilekskan pikiranku,” jawabku, “tumben. Nggak keluar sama cowokmu?”

Ia menggeleng. “Nggak. Sepi aja di kamar sendirian, tanpa kawan. Maklum liburan panjang, pada pulang semua.”

Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya. Betul apa yang dikatakannya. Hampir semua anak kos di sini sedang mudik menyambut libur yang panjang, empat hari. Lumayan untuk melepas rindu, melepas beban yang hadir di kota yang menurutku kian sumpek dan panas saja ini. “O, gitu ya. Kupikir ada apa?” Aku kembali merebahkan diriku di kasur dan menyuntuki kata per kata bukuku.

Dan Dwi kawanku itu segera ke arah meja, mengambil laptop yang teronggok saja di atasnya. “Kunyalakan ya…” katanya.

“Ok.”

Untuk beberapa lama waktu berjalan, tak ada percakapan di antara kami. Semua dalam keheningannya masing-masing, menikmati kegiatan yang tengah disuntuki. Yang terdengar hanyalah derik suara kehidupan hewan malam dan suara dari laptopku yang sedang memutar lagu, entah apa judulnya—aku sudah tidak mengupdeti lagu-lagu pop masa kini. Dan… dalam kondisi yang demikian, tiba-tiba saja Dwi kawanku itu nyeletuk.

“V.”

“Hmm…”

“Kamu dapat salam.”

“Dari siapa?’

“Dari mantan kakak kelasku!”

Deg. Jantungku berdegub cepat. Aku berhenti membaca. Lalu kutatap Dwi kawanku itu. “Ah, becanda kamu…” Dan, tanpa sadar, senyumku mengembang. Kubayangkan kamu. Kamu yang pernah ke kos ini beberapa tempo lalu untuk menemui Dwi dan memencet bel namun tidak kudengar. Kamu yang pernah menjadi cerita lima tahun silam.

“Nggak. Ini betulan. Suer.” Dua jari tangan kanannya—manis dan telunjuk—diacungkan, membentuk huruf V, yang memiliki maksud aku tidak bohong lho.

“Ya, makasih salamnya.” Senyumku masih belum menghilang dari bibirku. Dwi memandangiku dengan mimik aneh, membuatku terbingung dengan tingkahnya itu. Selanjutnya ia mengangkat bahunya, seperti mengisyaratkan bahwa “hello, aku menunggu jawab dari kamu lho.” Yang mana juga kubalas dengan gerakan yang tak kalah membingungkannya dengan mengangkat bahu dan menggeleng-gelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa “apa maksudmu? Aku nggak ngerti!”

“Gitu aja?” Akhirnya maksudnya terlontar juga dari mulutnya, persis seperti kukira.

“Gitu gimana?”

“Nggak ada balasan?”

“Nggak!” Kuakhiri pembicaraan. Dan keadaan kembali tenang seperti awal, terkecuali hatiku yang masih dag-dig-dug. Entah mengapa. Benakku kembali merekatkan kembali ingatan lima tahun lalu. Dan aku tidak menyukai itu dan dalam hati aku mengutuk pecahan-pecahan ingatan itu. Mengapa kamu datang? Di saat ini. Bukankah kamu sudah cukup berumur untuk memiliki seorang istri? Aku mengeraskan hatiku. Peduli apa aku dengannya. Kubacai lagi bukuku. Menekuni kata demi kata untuk melupakannya.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Dia

12 April 2009

Malam itu aku melihatnya. Ia sedang menonton televisi di ruang agak sebelah dalam. Sendirian. Aku tekan bel, untuk memanggil kawan yang sudah janjian bertemu dengannya. Katanya ia ingin meminta pertolonganku mengedit peta untuk lampiran skripsinya. Tiga kali kutekan bel itu. Tapi ia yang sedang sendirian menonton televisi tak bergeming dan tetap hening. Barangkali tak mendengar, pikirku. Hingga ada seorang perempuan keluar dan bertanya, "cari siapa ya?"

Dan ia pun menengok ke arah pintu depan. Ya ampun itu dia! "Aku cari Dwi."

Sebentar kemudian terdengarlah suara panggilan. "DWIIIIIII....!!!" Kawanku itu pun menyahut dan keluar dari persembunyiannya. Kamarnya. "Apa?" Tanyanya.

"Ada yang cari tuh..."

"Oiya..."

Aku tunggu di luar. Di bawah rerindangan pepohonan, yang malam itu agak gelap, sebab di bagian luar kos-kosan perempuan itu lampu kurang terang menerangi. Agak lama memang. Biasalah. Kawanku yang adik kelasku itu memakai baju yang sedikit pantas untuk menemui seorang tamu--meski bukan tamu yang spesial.

Setelah ia keluar dan menampakkan senyum, aku bertanya. "Mana peta yang ingin kau edit?"

"Ini, mas, pak Argus, minta dibikinkan skalanya." Dan ia menyerahkan selembar kertas bergambar peta yang agak lusuh karena dilipat-lipat olehnya.

"O, gampang. Oke deh." Lantas kami mengobrolkan hal-hal di luar itu, seperti kegiatan kami selama ini, maklum jarang bertemu. Dan aktivitasnya selama menjalani tahap membuat skripsi dengan pembimbingnya pak Argus, yang telah kujalani dua-tiga tahun lampau.

Setelah obrolan agak mereda dan mencair seiring berjalannya waktu, aku bertanya padanya: "Eh, itu yang duduk di depan tipi sendirian, namanya V ya?"

Kawanku yang seorang perempuan itu mengangguk-angguk. "Iya, mas. Lho kok tahu? Kenal?"

Gantian aku yang manggut-manggut. "Iya, kenal. Yang anak Sosiologi itu kan? Seangkatan sama kamu kan?"

"Iya. Kenapa mas?"

"Nggak. Nggak apa-apa kok."

Lantas obrolan pun mencair entah bergulir ke mana. Sementara pikiranku masih tetap terpaku pada ia yang duduk di depan televisi sendirian. Aku jadi teringat sebuah buku yang ditulis oleh Mushashi Miyamoto bertajuk "Kitab Lima Cincin": Bahwa pikiran tidak boleh ditempatkan pada sesuatu, sebab pikiran itu berjalan dan hidup itu bergerak. Jika pikiran ditempatkan pada sesuatu, maka kau akan tertebas pedang. Tapi, segera kusingkirkan ingatan teoretis itu. Malas. Ini bukan saatnya berbicara teoretis. Ini hal yang nyata. Sangat nyata.

Lantas ia yang duduk di depan televisi, beranjak dari duduknya, mematikan televisi yang ditontonnya dan berlalu dari situ ke lantai dua. Dan menghilang dari pandanganku. Aku agak celingukan mencarinya, yang mana kemudian dilihat oleh kawanku itu. "Ada apa mas?" ia pun bertanya.

"Nggak ada apa-apa kok."

"Mau tak salamin?"

Aku diam. Tapi dalam benakku ini tawaran menarik. Hem, tapi ingatanku melayang pada tahun 2004. Ah, kutepis lagi. Tapi pertemuan ini adalah buktinya. Aku telah mencarinya beberapa saat untuk meminta maaf dulu. Dan tak pernah kutemukan bekar jejaknya hingga saat ini.

Aku pamitan pulang sama kawanku. Dan berjanji kembali pada hari Rabu minggu ini untuk menyerahkan apa yang ditugaskannya padaku. Tapi kembali ketika aku beranjak, benakku mengatakan ini tawaran menarik dan belum pernah terjadi. Maka, aku beralih pikiran. "Hem..."

"Apa mas?"

"Salamin sama dia yah..."

Ia pun tersenyum. "O... Baiklah. Salamnya apa nih?"

"Ah, bisa aja kamu ini," tukasku. Aku berlalu dari kawanku.

Dalam perjalanan pulang, aku membayangkannya kembali. Membayangkan kenangan yang sudah berlalu lima tahun lebih. Apakah waktu itu berkesan baginya? Entahlah. Aku tak ingin menerkanya.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Beton Polimer Ramah Lingkungan

01 April 2009

Beton dikenal sebagai material bangunan paling populer yang tersusun dari komposisi utama batuan, air dan semen. Dikenal luas dan populer, karena bahan pembuatnya relatif mudah didapat secara lokal, harganya relatif murah, dan teknologi pembuatannya relatif mudah. Akan tetapi, belakangan ini beton yang kita kenal acap mendapatkan kritik, terlebih dari aktivis lingkungan hidup. Oleh karena itu, banyak para pakar mulai mencari solusi sebagai alternatif bahan-bahan campuran beton. Salah satunya adalah Djuanda Suraatmadja.

Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Ia adalah anak kedua dari 12 saudara. Gelar sarjana tekniknya didapatkan di Fakultas Teknik Sipil ITB (1960). Pada 1971 dan 1982 ia mengikuti pendidikan di The University of New South Wales, Australia, dan University California, Amerika Serikat, setelah sebelumnya di Purdue University selama dua tahun. Kariernya diawali sejak tahun 1960 sebagai asisten ahli. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (1977-1981) dan Kepala Program S2 STJR-ITB (1982-1992).

Ide awal pemikiran bahan polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja berawal dari ide mencari beton yang memiliki sifat lebih baik dari beton semen. Ketika membuka-buka literatur yang dipunyainya, diketahui bahwa polimer memiliki sifat seperti semen. Polimer adalah suatu zat kimia yang terdiri dari molekul-molekul yang besar, dengan karbon dan hidrogen sebagai molekul utamanya. Bahan ini berasal dari limbah plastik yang didaur ulang, kemudian dicampur dengan bahan kimia lainnya. Penggunaan bahan tersebut bertujuan memanfaatkan limbah plastik, di samping mencari alternatif pengganti semen.

Pada 1975, ia melakukan penelitian mengenai bahan polimer pengganti semen ini. Berkat ketekunan dan kegigihan, penelitian yang dilakukan dengan berbagai ujicoba di Laboratorium Struktur dan Bahan serta laboratorium lainnya di Institur Teknologi Bandung dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) akhirnya membuahkan hasil. Hasil penemuan tersebut sekaligus menarik perhatian ilmuwan dan para industriawan mengingat beberapa keistimewaan dan sekaligus kelebihan beton polimer dibanding beton semen.

Beton polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja memiliki sifat kedap air, tidak terpengaruh sinar ultra violet, tahan terhadap larutan agresif seperti bahan kimia serta kelebihan lainnya. Yang lebih istimewa lagi, beton polimer bisa mengeras di dalam air sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki bangunan-bangunan di dalam air. Satu-satunya kelemahan yang hingga kini belum teratasi adalah harga beton polimer masih belum bisa lebih rendah dibanding beton semen, kecuali untuk daerah Irian Jaya, di mana harga semen sangat mahal. Karena itu, beton polimer selama ini lebih banyak digunakan untuk rehabilitasi bangunan yang rusak.

Pada 2000, atas hasil karyanya ini Prof Ir H Djuanda Suraatmadja menerima penghargaan Anugerah Kalyanakretya pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional V yang dicanangkan Presiden Abdurrahman Wahid di Bandung. Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Karya penelitiannya yang umum telah diseminarkan dalam bentuk Standar Nasional yang bisa berguna untuk masyarakat luas. Yaitu dalam bentuk Peraturan Dinas No. 10 tentang Jalan Rel Indonesia, SNI Uji Tarik Langsung Material Beton tahun 1997, dan SNI Tata Cara Pemakaian Beton Polimer untuk Perbaikan dan Penguatan Struktur Beton tahun 1998.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Buku, Buat Apa?

18 March 2009

Bagi para pecinta buku dan dunia tulis-menulis, pernahkah kalian ditanya seperti ini: "Aku masih bingung, buku itu sebetulnya buat apa sih?"

Itu ditanya sama temanku, yah kenalanlah--karena tak pernah benar-benar mengenalnya, waktu kuliah dulu. Aku mengernyitkan dahiku, mikir. Masak sih lelaki tinggi yang berdiri di depanku itu tak mengerti. Dia seorang mahasiswa, sama seperti diriku, harusnya mengerti gunanya buku itu buat apa. Yang mana dalam hati langsung kujawab, tentu saja untuk dibaca dan menambah tingkatan ilmu kita bodoh! Hingga kini cerita itu masih kuingat selalu. Dan tentunya, membikin aku penasaran juga. Apa alasan kawanku bertanya seperti itu? Ditinjau dari sisi akademis seharusnya dia tahu, bahkan fakultasnya bukan ilmu pasti (baca: MIPA) atau ilmu ukur (baca: Teknik), tetapi fakultas sosial. Apa dia tak pernah didorong-dorong dosennya untuk terus membaca ya? Pikiranku terus berkecamuk. Aneh saja.

***

Tiga tahun kemudian, aku menuliskan judul yang hampir mirip dengan pertanyaan kawanku. Ini semua bermula dari kemuakanku terhadap yang namanya tulisan. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku tak bisa menikmati apa yang namanya tulisan atau buku. Bukan apa-apa. Tuntutan kerja di bidang penerbitan membuatku bingung memilah. Bagi seorang akademi atau pecinta buku sekalipun, buku adalah jendela dunia. Bagi penerbitan, buku adalah sumber uang. Dashyat. Perbedaan keduanya membuat jurang pemisah yang sangat dalam.

Belum berselang seminggu aku turut dalam pameran. Di sana kutemukan banyak sekali buku-buku bertebaran. Tetapi di sisi lain aku juga menemukan fakta bahwa persaingan sangat keras di sana. Aroma "bunuh-bunuhan" menguar di udara, ketika aku memasuki pintu hall c di JEC. Dan bukannya keinginan untuk mengetahui rahasia dunia lagi, saat aku berada di dalamnya. Apalagi sekarang ini aku mengetahui bagaimana tulisan direduksi sedemikian rupa untuk memenangkan persaingan antar penerbit. Pertanyaan pertamanya: "Hari ini dapat berapa?"

Kenyataan seperti ini lantas membuatku kembali mengingat kawanku yang telah kuceritakan di atas. Sekarang giliran aku yang bertanya: "Buku, buat apa?"
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Klip Bantalan Kereta Api Dua Gigi

05 March 2009

George Stephenson adalah bapak kereta api dunia yang berhasil menciptakan mesin uap baru bernama Locomotion pada 1821. Sementara Stevens adalah penemu bantalan pada rel kereta api pada 1831—sepuluh tahun sesudahnya. Dua nama orang Eropa tersebut memang sudah terkenal ke seantero jagat manusia. Nama mereka masih dikenang sebagai penemu di bidang transportasi, khususnya dunia perkereta-apian.

Tapi jika menyebut nama Budi Noviantoro, orang tentu segera mengernyitkan dahinya, bertanya-tanya. Padahal dia merupakan seorang penemu asal Indonesia di bidang perekeretapian, yakni klip bantalan kereta api dengan dua gigi. Budi Noviantoro lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 November 1960. Di lajur pendidikan ia mengantongi dua gelar S1; sarjana teknik sipil di Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan sarjana ekonomi di Universitas Islam Nusantara Bandung.

Novi, demikian ia akrab disapa, berhasil menemukan penambat rel (fastener) yang dikasih nama KA-Clip—dipatenkan atas nama PT KA dan diproduksi PT Pindad. Penambat rel ini lebih sesuai dengan karakteristik kereta api di Indonesia. Selama ini, ia melihat rel-rel kereta api Indonesia membutuhkan penambat khusus. Ambillah contoh untuk rel ukuran R33, penambat relnya tidak dapat memakai penambat bermerek Pandrol atau DE Clip karen longgar. Ditambah Pandrol atau DE Clip musti diimpor, minimal dirakit di tanah air dengan lisensi dan membayar royalti kepada pemilik paten.

Jika memakai KA-Clip yang sudah diuji bertahun-tahun di lapangan sebelum diakui dan mendapat paten, PT KA tidak perlu repot mengimpor, yang berarti sama halnya dengan menghemat bea impor. Klip rel kereta api temuan Novi hebatnya bisa digunakan di rel berukuran berapa pun—baik R33, R42 maupun R54.

Dan meski ia tak mematenkan temuanya—sebab sudah dipatenkan PJKA, ia tak merasa sedih. Alasannya sedari awal ia memang menyerahkan temuannya langsung ke PJKA untuk dimanfaatkan. Di samping itu pula, ia sepertinya tahu diri, sebab ia merasa tak bekerja sendiri. Ada PT Pindad yang memfasilitasinya mengolah penelitian, pengembangan, lantas memproduksi. Tapi apapun itu, namanya patut kita catatkan pada sejarah penemu Indonesia.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Reaktor Biogas Buatan Andrias

Semisal harga BBM kembali melambung, tak perlulah merasa cemas. Pun tak perlu repot turut berdemo di pinggir jalan menuntut turun bersama para mahasiswa. Sebab sudah ada alternatif pengganti demi bisa menyiasati permasalahan tersebut. Bikinnya mudah, biayanya terjangkau. Dan bahannya bisa diperbaharui pula. Namanya reaktor biogas.

Apa itu reaktor biogas? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia reaktor diartikan sebagai sarana atau alat pembangkit tenaga. Sementara biogas adalah gas yang terbuat dari kotoran ternak. Jadi reaktor biogas adalah alat pembangkit gas yang dibuat dari kotoran ternak. Penemunya punya nama lengkap Andrias Wiji Setio Pamudji. Seorang lelaki yang berasal dari Desa Ngrendeng, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Tahukah Anda bahwa temuan ini bermula dari rasa penasaran pria tersebut untuk membuktikan teori-teori yang pernah didengarnya di bangku sekolahan dengan cara melakukan percobaan. Memang sudah sedari kecil, Andrias menyukai dunia riset-meriset. Dia pernah membuat listrik dan perahu motor mainan dengan tenaga penggerak kincir angin. Kincir angin ini dibuatnya dari pemutar kaset dalam tape. Pun ia juga hobi bercocok tanam dan beternak. Dan dalam melakukan hal ini ia selalu tekun, sebab ketekunan merupakan kuncinya dan sudah menjadi prinsip Andrias, yang diajarkan ibunya.

Ceritanya tentang reaktor biogas temuannya bermula kala ia masih kuliah di tingkat III di Jurusan Teknik Kimia Departemen Teknik Industri Institur Teknologi Bandung sekira tahun 2000-an. Waktu itu ia meriset pembikinan reaktor biogas yang sederhana. Tapi dari yang sederhana inilah muncul sesuatu yang hebat. Andrias sudah mengetahui bahwa kotoran ternak bisa dijadikan gas. Sebab tahu, maka keinginantahuannya menjadi tambah menggebu.

Untuk beroleh kotoran ternak, ia pergi ke sebuah peternakan. Sepulangnya dari sana ia membawa kotoran ternak sapi yang sudah dicampuri air dan dimasukkan ke dalam jeriken berukuran lima meter. Waktu itu ia langsung meletakkannya di dalam kos-kosannya, tapi tidak dibuka melainkan ditutup. Tanpa dicampur apa-apa lagi, terjadi fermentasi alami, yang kemudian kotoran ternak tersebut berubah menjadi gas.

Sebulan sesudahnya, tutup jerigen dibuka dan lubang jeriken segera diberi plastik. Kotoran sapi yang telah terfermentasi segera mengeluarkan gas, yang masuk ke dalam plastik. Pasca itu, Andrias menyoblos plastik tersebut dengan benda tajam dan keluarlah gas. Walhasil, ketika disulut korek api langsung terbakar. Demi menyempurnakan karyanya, ia pun mengutang ke sana-sini, ke sejumlah kawan-kawannya. Berkali-kali riset kemudian dilakukan guna mendapatkan bentuk reaktor dan penampung gas yang murah, kuat dan berkapasitas cukup apabila digunakan untuk keperluan rumah tangga.

Dan jerih payahnya terbayar tunai, sewaktu ia membuat reaktor dari plastik dengan ketebalan 250 mikron serta menciptakan kompor untuk jenis gas metana. Kenapa yang dipilih sebagai penampungnya itu plastik dan bukan lainnya? Karena gas yang dihasilkan belum mampu dikemas dalam tabung. Gas kotoran sapi adalah jenis metana (CH4). Sementara gas yang dikemas dalam tabung merupakan gas yang bisa dicairkan, yang berasal dari butana (C4H10) dan pentana (C5H12).

Apabila gas bisa dicairkan, maka jumlah volume yang bisa ditampung jadi lebih banyak. Sayangnya, metana belum bisa demikian. Semenjak ditekuni (tahun 2000-an), temuan Andrias baru dipasarkannya tiga tahun kemudian, yaitu pada 9 April 2005. Padahal dua tahun sejak ditekuni, tahun 2002, karyanya pernah memenangkan lomba kreativitas mahasiswa yang diadakan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Bagaimana tertarik untuk mencobanya?
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...