Freddie Mercury, Si “Melambai” Bersuara Emas

09 January 2008

Siapa tak kenal lagu-lagu semacam We Are The Champions, Bicycle, Bohemian Rhapsody, dan banyak hits Queen lainnya yang masih terkenal hingga kini. Ya, dialah Freddie Mercury, sang maestro pencipta lagu-lagu legendaris tersebut sekaligus dedengkot band Queen. Dengan nama asli Farrokh Bulsara, Mercury lahir pada 5 September 1946 di Stone Town, Zanzibar, dari pasangan Bomi dan Jer Bulsara.

Is this the real life
Is this just fantasy
Caught in a landslide
No escape from reality
(Bohemian Rhapsody/Queen/Freddie Mercury)

Pada usia 8 tahun, Freddie dikirim ke India untuk masuk di Sekolah St. Peter’s, sekolah khusus anak lelaki di dekat Bombai. Di negeri Bolywood, Freddie yang mempunyai adik perempuan bernama Kashmira, tinggal bersama nenek dan bibinya. Kala sekolah di India itulah bakat musiknya sudah mulai kentara dan terasah. Bersama teman-teman sejawatnya, Freddie membentuk band sekolah bernama Hectics. Freddie sendiri memainkan piano dalam formasi band ini. Saat usianya 17 tahun, Freddie dan keluarganya hijrah ke Feltham, London. Di Inggris, ia seperti menemukan dunia baru. Freddie jadi kerap bergonta-ganti band, itulah yang memberikan banyak perubahan berarti dalam naluri bermusiknya.

Pada 1969, Freddie mendirikan sebuah band bernama Ibex, yang beberapa saat kemudian berganti nama menjadi Wreckage. Tak bertahan lama, band ini lantas membubarkan formasinya. Setelah Wreckage tutup buku, Freddie bergabung dengan band Milk Sea, kendati juga tak bertahan lama. Awal 1970-an, band ini bubar. Baru pada April 1970, ketika bertemu seorang gitaris bernama Brian May dan Roger Taylor sang penabuh drum, Freddie seolah menemukan soulmate-nya dalam bermusik. Bersama kedua orang itu terbentuklah band bernama Smile, inilah cikal-bakal dari Queen. Belakangan baru terkuak rahasia nama Queen diambil lantaran Freddie adalah seorang gay. “I was certainly aware of the gay connotations, but that was just one facet of it,” ungkapnya.

Musikalitas Freddie terpengaruh dari pelbagai macam musik yang pernah didengarnya waktu kecil. Sebut saja, ia pernah mengidolakan Lata Mangeshkar, seorang penyanyi Bollywood yang amat terkenal waktu itu. Juga John Lennon dari The Beatles, Led Zeppelin, serta Jimi Hendrix,.

Mengenai Jimi Hendrix, ia berpendapat, “Jimi Hendrix is very important. He's my idol. He sort of epitomizes, from his presentation on stage, the whole works of a rock star. There's no way you can compare him. You either have the magic or you don't. There's no way you can work up to it. There's nobody who can take his place.”
Freddie juga sangat mengagumi Liza Minnelli. “One of my early inspirations came from Cabaret. I absolutely adore Liza Minnelli, she's a total wow. The way she delivers her songs-the sheer energy, “ katanya tentang sang biduan.

Salahsatu ciri khas Freddie –ini sangat memengaruhi lagu-lagu Queen– adalah nada-nada yang digunakannya. Dalam menciptakan tembang, Freddie termasuk seorang musisi ciamik, mampu menempatkan unsur-unsur teater dalam lagu-lagu ciptaannya yang kemudian menjadi hits Queen. Simak saja Bohemian Rhapsody, tak ada band rock yang melodinya naik-turun, dari tinggi menuju rendah, dari rendah menuju tinggi secara “brutal” seperti yang dimainkan Queen.

Namun sangat disayangkan, Freddie meninggal dalam usia muda. Pada 24 November 1991, tepat saat umurnya mencapai 45 tahun, Freddie Mercury hembuskan nafas terakhir akibat penyakit AIDS menggerogoti tubuhnya. Padahal, usianya bisa dikatakan masih cukup mumpuni untuk berkarya lebih. Toh begitu, tetap saja Freddie meninggalkan sesuatu yang hebat yang bisa dikenang umat manusia, khususnya para pecinta musisi rock, yang masih memainkan musiknya hingga kini.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Kudeta Gagal Westerling

06 January 2008

Pada 31 Agustus 1919, Westerling dilahirkan di Istambul, Turki. Laki-laki yang memiliki kemampuan poliglot (banyak bahasa) ini memiliki nama asli Raymond Paul Pierre Westerling. Dilahirkan dari seorang ayah bernama Paul Westerling, dan ibu bernama Sophia Moutzou. Sebagai anak terakhir dari dua bersaudara, kakak perempuannya bernama Palmyra, ia merupakan seorang yang memunyai darah pemberontak dan jiwa petualang besar. Sejak kecil menyukai hal-hal cerita-cerita petualangan, macam cerita bajak laut, koboi, pun roman sejarah. Saat umurnya menginjak tujuh tahun, pernah ia bermain-main dengan revolver milik ayahnya.

Pada awalnya, ia bersekolah di Sekolah berbahasa Inggris. Selepasnya dari sana melanjutkan ke Sekolah Jesuit Santo Michael, dimana ia mampu menguasai bahasa Latin di sekolah ini. Pilihan yang dijatuhkan atas dirinya, pasca kelulusan, adalah sekolah asrama Santo Joseph. Pendidikan yang diterimanya tak lantas membuatnya menjadi anak pendiam. Umur 22 tahun, sekitar 1941, tanpa memberitakan keluarganya, ia mendaftarkan diri sebagai tentara Belanda lewat konsulat Belanda di Turki. Pendaftaran itu memberinya tiket ke Kairo, Mesir, bergabung dengan sepasukan tentara gurun.

Sepulangnya dari Mesir, ia mencoba membicarakan cita-citanya menjadi tentara dengan keluarganya, terutama pada ayahnya. Ayahnya tak memberi ijin, sebab Paul tak menginginkan Westerling jadi tentara. “My son, you are not made for the army,” tukas Paul keras. Toh demikian tetap saja, Westerling bersikeras masuk dinas ketentaraan. (Petrik Matanasi, Westerling: Kudeta yang Gagal, Media Pressindo, Yogyakarta, 2007)

(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Kakikukeko

01 January 2008

Mengerikan! Itulah gambaran yang mau gw ungkapkan dalam menggambarkan fenomena alam yang terjadi pada 31 Desember 2007, akhir taon lalu. Hujan lebat disertai angin mawut (untuk tak bilang angin ribut) terjadi. Untungnya tak ada petir. Lha garagara belakang rumah banyak pohonan bambu, gentenggenteng rumah gw sempet bergesergeser beberapa hari sebelumnya. Lantaran beberapa waktu sebelumnya hujan terusmenerus mengguyur Jogjakarte tercinte...hehehe. Tapi sekarang udah dibenerin kok. Tapi malam sebelumnya asbes belakang rumah ketimpa bambu yang roboh, dan besoknya ya tanggal 31 itu, asbesnya rompal kena seretseret bambu yang tertiup angin.

Inti cerita di atas emang nggak ada hubungan sama cerita gw berikutnya...^_^. Cerita tentang diri gw yang masih sableng ini, ternyata membuat gw pusing sendiri. Gimana enggak? Lha wong secara tibatiba aja gw sering mangkel (baca: kesel, jengkel sama jumpalitan mirip lumbalumba ^_^) sama beberapa orang rumah yang membuat baubau mengganggu di idung gw. Pokoknya kemanamana tuh bau selalu mengikuti, gw geletakan nonton tv, gw geletakan tidur, mbaca buku, de-el-el-lah. Baubauan yang tercium kek bau kaki. Heackhs! Hiii..jijay masay...ngeri gua. Apalagi kalo gw abis dari kamar mandi.

"Siapa?" Tuduh gw, "yang bikin baubau begini!" Padahal---terus terang---di sekeliling gw pas lagi nggak ada orang, selain gw ndiri. Lalu gw perhatikan lebih seksama lagi. Bau itu tercium sangat santer menggelitik idung. Kemudian gw mengendusendus asal bau yang sangat santer itu. Terus terus terus...sampe ke arah kaki gw ndiri. Lho makin santer. Lalu gw angkat kaki gw tinggitinggi dan gw cium di antara jarijemarinya. Heackhs......BAU!!!! Shit, ternyata bau itu ialah bau kaki gw ndiri. Dasar bego...hehehe

Padahal sebelumnya kaki gw nggak bau. Entah gw rasa ada sesuatu sebabnya. Belakangan gw baru sadar, ternyata bau itu menular dari sepatu gw yang tak pernah dicuci semenjak beli kali pertamanya di awalawal taon 2007 kemaren dan kaos kaki yang tak pernah ganti en dicuci selama tiga bulan...hehehehe. Pasti kalian semua kaget. Gw ndiri aja kaget. Setelah menugaskan salah seorang petugas kebersihan rumah (baca: adekku) untuk membersihkan sepatu, diketahui bahwa pasca pencucian-penjemuran kering bau itu tetap melekat. Duh biyung! Piye, gw ke Jakarta, masak pake sepatu busuk? Oh, don't wori guys (untuk kawankawan yang ada di Jakarta) semua sudah aman terkendali. Lancar, baubauan udah ilang. Gw dengan segenap tenaga, telah mencuci ulang-penjemuran sepatu gw. Hasilnya? Baubauan ilang. Hiphip hore.
Continue Reading...

Tanpa Kata

25 December 2007

Akhirnya jadi jua gw memberikan sesuatu padanya. Suatu kado yang dibingkis berwarna coklat *ehem, gw bikin sendiri kotaknya*. Sepertinya diterima dengan baik, tapi yah nggak tau juga kalo diamdiam dia memberikannya pada orang lain. Yah, siapa tau...

* *

Hehehe...ide memberikan kado untuknya, udah ada sejak gw masih awalawal ada di Jakarta. Saat itu, Reni masih ada di sana lom balik Jogja. Dia yang ngasih ide untuk mengatakan tanpa kata. Wah bahasanya radoung blas, radarada about ya? Yaiyalah...hehehehe.

"Udah dia tau kan kamu ada di Jakarta?"

"Yes, sip," Jawab gw semangat.

"Ya udah bilang aja begini-begitu-begini-begitu tentang apa yang ada di dalam benak dan kalbumu," katanya lagi.

"Tapi gimana bilangnya ya?" tanya saya yang bodoh ini.

"Bilang kan nggak harus pake kata-kata. Kamu beliin apa kek supaya dia tau gitu."

"Oh, gituh yah?" gw bloon.

* *

Semenjak itulah, gw mulai tanya-tanya kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah. Untuk itu gw harus bertanya sama seorang wanita, apa idealnya kado untuk wanita. Makhluk pertama yang gw tanya ialah Tiesa Mahendra (nek jenenge ra salah lho) waktu di bis.

"Tis, ngasih apa enaknya kalo buat ce?" Tanya gw.

"Ya banyak macem-macemlah, bisa bla bla bla dan bla..."

"Apaan tuh?" gw mikir nggak ngerti dengan perkataannya.

"Ya bisa jilbab, cd..."

"Tunggu-tunggu, bukan cd kancut kan?"

"Bukanlah, cd-nya kamu copiin dari lagulagu yang menggambarkan perasaanmu gituh.."

"Oo..bulet...hehehe"

"Halah ngapain juga repot, Lih, mending kamu kasih duit ke dia, suruh beli sendiri."

"Enak aja, emang dia, Devi, kasih duit terus jalan sendiri..."

"Hahahaha...." kita berdua ketawa bareng di bis.

* *

Dan dasar kutuk (anak ayam *Jawa), dia terus bilang-bilang sama Devi tentang rencana rahasia gw ini. Aaaahh, demit, jadilah gw bulan-bulanan mereka bertiga (Tiesa, Devi, dan Winda-rto). Mpe gw tersipu-sipu. Dan mereka terbahak-bahak melihat polah gw. Gw pengen beliinnya sebelom pulang dari Jakarta, tapi gara-gara sakit, dan yang dititipin (perlu panjang lebar menceritakannya, jadi nggak usah diceritain), gw nggak jadi beliin di Tanah Abang. Huuhuhuuu...sedih. Namun, akhirnya Putri menawarkan diri untuk menemaniku beli sesampainya di Jogja. So akhirnya beli di Jogja.

Dan dengan segala kependekan otak yang cerdas ini, gw membelikan dia, titik-titik (rahasia doung :D). Minggu kemaren gw ke rumahnya, dan gw seneng banget ketemu ma dia...hehehe. Entah dia. Tapi sepertinya juga demikian. Yah, tanpa kata, semua merasakannya....
Continue Reading...

Jogjakarte

20 December 2007

Ough, sepertinya emang uenak nian berada di kota sendiri, Jogjakarte. Rasanya dingin, ujan mulu, batuk gw makin menjadijadi. Yeah, guys gw sekarang berada di markas bokap...hehehe. Udah sejak selasa pagi lalu gw sampe di Jogja, hmmh...kirakira jam 8 jam 9-lah, gw nggak tau persis tepatnya. Selama disini kegiatan utama gw ialah MOLOR! Udah dua hari ini gw molor panjang, habis kalo di Jakarta, kagak pernah nyaman untuk bobo nian. Dan sampe tiga hari ini, tak ada kejadian istimewa, nan ajib! Tadi pagi cuman bakar satai aje.
Yeach rasanya yahud bo. asoi geboi punya.

Pulang kemaren naek kereta K3 (baca yee: ekounoumi) juga nggak ada kejadian ajaib apaapa. Hanya pas di seputaran Kebumen, sekitar jam 7an pagi, ada bancibanci ngamen. Halaah, keberadaan makhluk satu ini selalu menarik. Garagaranya gw ogah ngasih mereka recehan. Lagian receh gw uga berada di tas yang letaknya ada di rak bagian atas. Hah, gw paling males kalo ngambilngambil gituan.

Yah, udah gw nggak berniat ngasih deh. Putri yang berada di sebelah gw, sebenernya udah bilangin. "Mereka maunya yang ngasih cowok lho..."

Tapi gw tetep keukeuh, ogah! titit, eh titik. Nah, si banci makin lama makin mendekat dan gw semakin bergidik--sumpe bancinya ayu guys.....

Beradalah gw diantara para banci. Entah nyanyi apa. "blubs...blubs...(suara yang masuk ke telinga gw)..blubs...ewerewer...eheek....ewerewer..."

Anjrit, gw budek banget denger mereka nyanyi. Tapi kendangan mereka bagus. Bunyinya dupakdupak mukanye...hehehehe. Tibalah saat yang mendebarkan, salah seorang rombongan banci menadahkan tangan meminta ongkos lelah (alias sumbangan serelanya). Nah pas gw dimintain gw gelenggeleng kan kepala, ogah, tapi mereka agak maksa, gw pake tangan mengibasngibaskan (tanda tak mau dimintai), sekaligus ngusir kalee. Padahal rombongan gw, yang terdiri dari 4 orang cewekcewek, telah pasrah melepaskan dua-seratus perak milik mereka.
Dan barangkali mereka jengkel. Mereka segera mengambil tindakan yang narsis, mereka pegangpegang jenggotku. Kemudian disambut gelak tawa dari keempat cewekcewek yang menemani gw. Tidak hanya itu, karena suara tawa mereka, beberapa penumpang turut melongokkan kepalanya mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Muka gw sedikit malu. Dan rombongan banci? Melenggang kangkung pergi ke gerbong berikutnya. Ah, sial.

Di kereta emang cuman itu aja kejadian buruk gw. Seperti nightmare. Semalaman gw juga nggak bisa tidur, garagara gw duduk di dekat temapat orang bersliweran. Mafhumlah, aktivitas di kereta K3 emang 24 jam. Gak kirakira bikin kepala jadi puyeng. Udah gitu, di bawah kanan gw, ibuibu tidur, maunya nyelak terus, ndeselndesel. dia tidur, gw pusing. Ah, sebel deh naek k3. sebel banget.

Continue Reading...

Ngisengin Bakul

11 December 2007

Hahaha...benarbenar konyol. Gw dapet kroniek lucu hari ini. Karena kronik ini gw pake di posting ini, maka tak ku pajang di sidebar blog ini. Kroniek itu terjadi pada 16 September 1911, kejadiannya: "1/2 7, seorang anak muda bangsa Tionghoa di Pabean sedang berada di luaran. Ketika lewat pedagang Soto, si orang Tionghoa itu langsung panggil (mau pesen), "Soto! Soto! Soto!". Di sana juga kebetulan lewat dua orang polisi Belanda, marah denger itu teriakan. Sebab, kedua polisi Belanda (yang congek itu) denger si orang Tionghoa ngomong, "Tjoko! Tjoko! Tjoko!" (kalimat yang terdengar si polisi congek). Karena melihat si polisi marah, maka si orang Tionghoa tunggang langgang.

Cerita itu emang aneh. Apalagi pas gw baca itu kronik, ingatan gw melayang ke waktuwaktu gw SD. Cos miripmirip kisah gw. Pada suatu hari, gw barengan anakanaknya tetangga (Fajar, Yuri, Hakim sama Yudis) pernah ngerjain bakul Somay yang naek sepeda. Kitakita ada di dalamnya rumah si Fajar, karena dari depan gak bakal keliatan ada orang. Maka dengan seenaknya, kita panggil itu abang somay, "Bang geli bang!"

Nah, denger itu panggilan si abang lalu berhenti, caricari orang siapa yang mau beli. Dia celingakcelinguk bingung, sementara kita pada ketawa cekikikan. Hahaha...(diassar tukang usil). Bukan hanya tukang somay yang kena garapan kita, tapi juga tukangtukang pedagang keliling juga dikerjai sama kita. Itu kalau barengbareng, pernah juga gw secara tak sengaja ngerjain bakul roti.

Waktu itu, adalah hari pertama lebaran, saatnya sholat. Sekitar jam 6 pagi, kita (keluarga) udah tengah bersiapsiap. Dan gw duduk bengong menanti yang lain di teras depan. Nah, kebetulan ada tukang roti lewat, dengan segenap tenaga yang dimilikinya (karena masih fresh), dia tereaktereak menjajakan dagangannya. "Roti...roti". Dasar mulut usil, gw dengan agak kenceng gw ngikutin iramanya itu abang. Trus, gw ngeloyor masuk.
Pas mau berangkat, bokap bingung, "lho, siapa yang pesen roti?"
kita semua (ibu dan abang aja, adek gw masih kencrut) gelenggeleng kepala saja.
"Nah, itu siapa yang ditungguin sama tukang roti?"
"Ough, gw lalu bilang, tadi gw ngikutin si tukang roti...gw nggak mesen kok." Jawab gw.

Lalu si tukang roti disuruh pergi...hihihi...kasian yah si tukang roti. Emang gw mah mulut besar. Sampe sekarang juga kadang mulut itu suka ngomong yang nggaknggak...liat dalam kurung katakatanya (!@^#$~&*^%). Hehehehe...
Continue Reading...

SuSyenye Punye Nama Sama

10 December 2007

Tiga bersodara di keluarga gw (Abang, Gw dan Adek Gw) punya nama depan yang sama, yaitu Lilih. Entah, kenapa dinamain sama kek gitu, tapi yang jelas nama kita selalu menjadi pertanyaan beberapa kawan yang udah deket (maksudnya tahu nama kita bertiga sama). Hah, kebenturbentur pertanyaan kek gitu, gw langsung jawab asal, "nama Lilih diambil dari bahasa Sansekerta, yang artinye SADAR". Padahal gw ndiri kagak pernah sadarsadar. Dasar. Gw juga nggak tahu arti nama gw sendiri, malas mikirnya, repot banget. Nama Lilih ini, khusus dipanggil oleh kawankawan sekolah, untuk anakanak lingkungan ndiri a.k.a tetangga, kita dipanggil nama masingmasing dari panggilan seharihari.

Karena nama yang sama ini juga pernah membawa gw pada cerita lucu di penghujung gw SMP. Karena adek gw cewek ndiri (paling jauh pautan umurnya 7 tahunan), jadi yang sering bingung karena nama cuman gw berdua (baca: abang+gw). Waktu itu gw udah bubaran SMP, dan abang gw bubaran SMA. Selepas SMP, emang udah berniat cabut ke Jogja. Nah, kelas gw waktu itu akan mengadakan perpisahan kelas. Tapi lantaran gw mo cabut, gw berencana kagak ikutan. Ngapain? Acaranya juga pas gw udah cabut.

Pada suatu sore, seorang cewek telpon ke rumah. Pada waktu itu yang angkat bokap gw. Gw ada dideket situ. Okeh kita buat percakapan mereka.
Bokap (B): Halo siape disitu?
Cewek Sebrang Telpon (CST): Iyah, sayah...
B: Iyah Siapa?
CST: Saya, Fita. Bisa bicara sama Lilih?
B: Lilih yang mana yah? Yang SMA apa yang SMP?
CST: Ough, yang SMA...

Okeh, maka dipanggillah abang gw. Trus gw nggak inget dia ngomong apa, yang jelas dia hanya manggutmanggut aja. Iyaiya, gituh. Gw, tenangtenang aja. Intinya, CST itu mo minta duit perpisahan.

Besoknya, pas gw masuk kelas, si bendahara kelas gw udah menagih duit perpisahan. Begini percakapannya...
si Bendahara: Lih, mana uang perpisahan?
Gw: Uang perpisahan apaan?
si Bendahara: Uang perpisahan kelas? Lo belum bayar lho, dan kemaren lo udah bilang mo bayar sekarang! Ayo Mana?!
Gw: (dengan tampang cengok, diem aja) Kapan gw janjiin lo gitu, kita kan baru bertemu sekarang?
si Bendara: (tetep ngeyel) di telpon, aduh gimana sih ini anak?
Gw: Apa iya?
si Bendahara: Iyah...
Gw: Ya udah deh besok

Balik ke rumah, gw langsung bilang abang gw.
Gw: Gw, kok ditanyain sama bendahara gw soal duit perpisahan ya?
Abang Gw (AG): Lho, kemaren gw juga ditelpon sama cewek, ngakunya namanya Fita. Dia minta duit perpisahan sama gw. Pas sekarang dibawain dia malah diem aja.
Gw: Dia bendahara kelas gw tauk~~~!
AG: Lho bendahara kelas gw juga namanya Fita.
Gw: (???)

Mpe sekarang gw emang nggak pernah bayar itu duit perpisahan. Tapi kejadian itu masih teringangngiang dibenak gw. Ternyata bukan hanya nama kita yang sama, bendahara kelas kita (abang+gw) juga samasama bernama Fita. Aduh, capek deh....
Continue Reading...