Kedison Si Keledai Jenius

13 August 2008

Nama Penulis : Le Contesse de Segure
Judul Buku : Si Jenius Kedison
Penerbit : Manyar
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2005

Selama ini keledai identik dengan sifat-sifat yang dungu dan tolol saja. Ramainya film-film kartun yang memberi sifat buruk kepada makhluk ini memang membentuk opini orang-orang mengenai keledai. Tentu saja hal itu berhasil dengan sukses. Akibatnya, manusia di seluruh dunia telah memberikan cap negatif terhadap hewan yang bersuara lucu ini. Lucu? Yah, karena di dalam buku ini akan kamu temui suara keledai tidak menyeramkan seperti banyak diceritakan, melainkan terdengar seperti berbunyi, “hei heh, hei heh...” Begitulah.

Si penulis yang memiliki nama Le Contesse de Segure, memang membuat semacam pledoi Kedison sang keledai. Pinuturnya yang menokohkan Kedison dengan kata ganti “aku” seolah-olah membela kepentingan para keledai dengan pesan, “tidak semua keledai di dunia itu bodoh, tauk! Aku adalah salah satunya.” Pasca kamu membaca buku berjudul “Si Jenius Kedison” ini, diharapkan anggapan yang jelek-jelek tentang keledai, akan bisa berbalik seratus delapan puluh derajat. Yah, minimal sembilan puluh derajatlah atau tak berubah sedikitpun. Pokoknya terserah kamu yang membacanya saja.

Berikut adalah petikan dari beberapa pengalaman hidup Kedison:
Adalah Kedison, nama keledai yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Kedison, anggapan sang Kedison sendiri, merupakan keledai pintar dan cerdas. Tidak seperti keledai-keledai lainnya yang dungu. Ia berani mengungkapkan pendapatnya untuk memrotes para majikan yang bersikap semena-mena kepadanya. Pendapatnya ini diutarakan dengan pelbagai macam cara, yang jelas dengan cara seekor keledai.

Cerita bermula, ketika Kedison dipelihara oleh seorang petani yang suka menjahatinya. Kemudian karena terus-menerus dijahati oleh majikannya dengan menyuruhnya mengangkut barang-barang jualan yang berat setiap hari pasar. Maka, ia membangkang dan melakukan protes kepada majikannya. Ia pun mogok jalan. Tapi alhasil ia malah mendapat cambukan yang sangat keras. Otomatis dengan sangat terpaksa, ia pun berjalan sampai ke pasar.

Akan tetapi, sesampainya di pasar itulah, Kedison memulai aksinya. Saat mereka, si petani dan Kedison, semua sampai di pasar, si petani mengikat Kedison setelah barang-barang yang diangkutnya diturunkan. Si petani meninggalkan Kedison sebentar untuk berbincang-bincang kepada para pembelinya. Tepat pada saat itulah, Kedison merasa lapar, ia pun memakan barang-barang, yang terdiri dari kubis-kubis dan sayuran-sayuran, yang telah diturunkan ke tanah. Ketika si petani kembali, betapa terkejutnya dia mendapati kubis-kubisnya telah habis dimakan Kedison. Kedison pun dimarahi habis-habisan. Tapi itulah Kedison, pemberontakan semacam itu yang dilakukannya. Demikian sepenggal cerita mengenai kejeniusan Kedison. Sebenarnya masih banyak pengalaman-pengalaman Kedison dalam menjalani hidupnya. Nah, untuk tauk lebih, baca saja buku ini. Hehehe... Kamsia (thanks a lot).
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Panjat Pinang

04 August 2008

meski minggu kemaren nggak ikutan lomba panjat pinang di kampungku. aku ingin betul cerita-cerita dan membagi kepada dunia dan pada kalian semua. ini semua tentang kesenangan menulisku dan kebahagiaan saat melihatnya. seru sekali dengan kemeriahan dan keceriaan itu semua.

sekitar jam 4, sebangunnya aku dari tidur, wah aku langsung mandi. karena tentunya orang yang baru bangun tidur memiliki liur berlebih dan wajah yang tentu saja butek. nah selesai mandi dan bat-bet, aku segera keluar, di luar orang-orang sudah riuh meneriaki orang-orang yang memanjat. wah, sholatku jadi nggak konsen, gara2 pengen buru2 nonton. selesai solat aku langsung liat deh. tim I udah selesai. kini tim II lagi, pas mereka lagi naek eh kepeleset lagi gara2 olinya masih banyak. beruntung tim IV yang olinya udah kering, mereka beruntung bisa mendapatkan beberapa hadiah lebih banyak. sedangkan dua tim lain (I dan II) nggak dapet sama sekali. dan tim III cuma dapet sekali hadiah. eh gitu aja postinganku kali ini, besok kapan2 sambung lagi.
Continue Reading...

Bangkai

Aku tak tahu kapan tepatnya terjadi ribut-ribut di ujung jalanan itu. “Bangkai kucing! Bangkai kucing!” begitu teriak mereka, iya mereka—orang-orang itu—para tetanggaku. ‘Bangkai kucing?! Hanya bangkai kucing?! Kenapa heboh sekali?!’ tanyaku bergumam, ‘penting?’ Aku tak tahu atau mungkin lebih tepatnya aku tak peduli. Toh, hanya bangkai kucing saja, kan? Bukannya bangkai manusia. Atau memang sudah lebih berharga bangkai kucing daripada bangkai manusia?

“Mbak, nggak mau liat?” Tanya Obet yang kebetulan lewat di depan rumahku, saat aku ingak-inguk di depan rumah.

Karena sepertinya Obet mau ke sana, aku jadi bertanya saja padanya. Konfirmasi. “Mau kemana kamu Bet?”

“Mau kesana!” Katanya sambil menunjuk arah kerumunan-kerumunan orang itu.

“Kesana?! Mau liat bangkai kucing itu?” Tanyaku lucu.

“Iya, mbak.” Dibarengi dengan anggukannya yang mantraps.

“Bangkai kucing aja kenapa heboh sekali sih?” Tanyaku lagi kemudian.

“Bukan masalah bangkainya mbak, tapi orang yang nabrak kucing itu nangis sejadi-jadinya.”

“Lha ini lagi... terus kenapa?” duh tambah bingung aku. Namun kebingunganku sekaligus memantik rasa penasaranku.

“Ah, udahlah mbak! Kalau mau tahu lebih, ke sana saja! Aku mau ke sana nih, nanti ketinggalan berita lagi,” Obet ngeloyor pergi dengan cepat menghampiri orang-orang yang berkerumun itu.

Setelah Obet pergi dadaku dipenuhi dengan rasa penasaran yang hebat. Mendesak-desak ingin keluar. Keingintahuanku pada apa yang terjadi semakin menguat. Pandanganku masih kutujukan ke arah kerumunan orang-orang itu, sambil sesekali kujawab sapaan orang-orang yang lewat di depan rumahku, yang ingin kesana juga tentunya. Kukepalkan jemari tanganku. Aku harus mengambil keputusan, akan melihatnya atau tetap tinggal di rumah saja. Kuputuskan saja, aku akan melihatnya. Walaupun dalam pikiranku masih tersimpan penilaian bahwa ini suatu kekonyolan dan kesia-siaan belaka. Tak apalah, aku tak boleh ketinggalan informasi sedikitpun dari orang lain. Percuma aku belajar menjadi wartawan kampus, jika aku sampai ketinggalan informasi ini.

**
Sesampainya di sana, aku melihat banyak tetanggaku ikutan berjejer membulat membentuk lingkaran kerumunan. Aku mencoba menanyai mereka satu persatu. Tapi semua jawaban itu mengesalkan, ‘liat saja sendiri, kan udah sampai sini.’ Aku geram betul sama jawaban itu. Tapi segera kutepis, bukankah aku kesini untuk tahu. Bukan untuk geram-menggeram tanpa alasan jelas.

Aku mencoba menerobos kerumunan orang yang sudah memadat. Sesak. Sesak. Nafasku tersengal. Namun tak kuurungkan niatku. Aku harus tahu, ada apa dengan bangkai kucing itu dan orang yang menabraknya. Sampai pada jejeran orang paling depan, aku melihat seorang laki-laki tertunduk dengan lesunya. Matanya lebam akibat mengeluarkan banyak airmata. Di dekatnya, sebuah motor tergeletak begitu saja, seolah tak ada pemiliknya. Mungkin motor itu miliknya.

Mencoba menerka-nerka apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh laki-laki itu. Aku diam saja, mengamati polanya dan segala bentuk gerakan yang dibuatnya. Kosong. Tak kudapatkan sesuatu apapun. Lalu tanpa sengaja, aku mendengar percakapan dua orang yang berdiri agak di belakangku. Aku memang diam saja, tak menengok ke arah mereka, namun sudah kupasang gendang telinga tajam-tajam.

“Aku rasa wajar, jika dia sampai menangis seperti itu. Soalnya dia baru saja menabrak seekor kucing. Kau tahu apa itu artinya? Malapetaka! Sebab sudah pasti si penabrak takkan hidup lebih lama lagi. Lha kucing itu binatang kutukan yang mempunyai sembilan nyawa, mati satu, nyawa yang lain aku akan menuntut balas. Apalagi sampai mati begitu, alamat sial baginya deh,” kata seorang lelaki bersuara berat, tapi bukan tetanggaku. Aku tidak mengenalnya.

“Nggak ada yang bakalan bisa nolongin dia. Habis salahnya sendiri, kucing mau nyebrang kok ditabrak. Padahal kucingnya nggak salah apa-apa. Coba kalau dia membanting setirnya supaya nggak nabrak kucing itu,” kata seorang yang suaranya wanita, “mungkin sekarang, kucing itu masih hidup dan dia nggak bakalan terkena kutukan.”

“Benar,” sahut lelaki yang bersuara berat.

Wah, aku jadi semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Apa hubungannya kucing dengan sebuah kutukan? Menggelikan, zaman begini kok masih bicara tentang kutukan, apalagi hanya gara-gara nabrak kucing. Apa kronologisnya ayo? Orang-orang desa yang aneh, percaya kok sama takhayul. Aku tersenyum geli, memikirkan pikiran orang-orang itu.

“Jangan tertawa kamu!!!” ujar laki-laki yang menangis, orang yang nabrak kucing tersebut, padaku. Aku tersentak dengan teriakannya. Kasar sekali orang ini terhadap wanita. Kemudian aku menatapnya. Dan dia membalas tatapanku dengan tatapan mata elangnya, yang sudah pasti basah dengan airmatanya. Ketakutanku menyeruak, hatiku kecut oleh kemarahannya, kepalaku tertunduk. Aku merasa bersalah. “Jangan tertawa kamu!!!” ulangnya lagi, “kau pikir ini sebuah panggung lelucon?! Saat komedian mulai beraksi hah?!” Aku menggeleng.

“Sudahlah pak istigfar,” seru seorang wanita, yang kuperkirakan adalah istrinya, mengelus-elus punggung lelaki yang menabrak kucing yang sudah jadi bangkai itu. “Sekarang banyak-banyaklah mohon ampun kepada Yang Kuasa, semoga kutukan itu segera dicabut.”

Lelaki itu kini mereda marahnya. Dan wanita yang berada di sebelahnya, memintakan maafnya padaku. Aku mengangguk-angguk. Lalu lelaki itu tertunduk lesu di dekat bangkai kucing itu. Gila … !!! Hal tergila yang pernah kujumpai. Kemudian orang-orang yang berkerumun mulai meninggalkan tempat itu satu persatu. Hingga tinggal beberapa orang saja yang ada. Mulai menyingkirkan motor lelaki itu, darah yang tercecer dari bangkai kucing itu segera di disiram dengan air. Dan bangkai kucing itu dikubur. Lalu semuanya pulang, keadaan kembali senyap. Aku pun pulang berbarengan sama Obet. Dan kutengok lagi ke arah lelaki itu ia masih saja menangis, dan istrinya mencoba menarik-nariknya untuk pulang dan melupakan saja kejadian itu.

**
“Aku masih nggak begitu mengerti apa yang dikerjakan orang itu sampai sebegitunya. Menangis karena menabrak kucing. Menyesal kenapa dia nggak lewat jalan lain atau jalan lainnya lagi. Kalau masalahnya ketakutan karena kutukan, salah sendiri kenapa percaya! Aku nggak percaya. Mati?! Kupikir nggak bakalan mungkin, memangnya siapa yang menentukan kematian? Manusia? Kucing? Kan nggak. Mati itu urusan Tuhan,” aku berceloteh panjang lebar pada Obet yang sore ini mampir ke rumahku. Entah, ada urusan apa. Sepertinya ingin berdiskusi denganku perihal bangkai kucing yang terlindas itu. Aku pun juga sedang ingin berdiskusi.

“Itu namanya kutukan mbak. Barang siapa yang tidak percaya …” belum lagi Obet selesai bicara, tiba-tiba seseorang dengan agak sedikit terengah-engah datang ke tempatku. Belum lagi nafasnya reda, ia berbicara.

“Kalian sudah tahu sudah mendengar beritanya belum?”

“Apa?!” Geleng kami berdua.

“Orang yang nabrak kucing itu sekarang mati. Dia dan sepeda motornya terjungkal di ujung jalan tempat di menabrak kucing itu.”

Lalu Obet segera bersiap. “Ok, Bet kamu duluan aja. Aku matiin air dulu.” Aku lagi masak air. Aku enggak percaya kematian itu dikarenakan kutukan dari si kucing. Obet dan orang tadi sudah berlalu. Aku segera ke dapur mematikan kompor gasku. Tetapi, betapa terkejutnya aku. Ada seekor kucing hitam didekat kompor. Karena buru-buru, aku segera mengusirnya. Tapi kucing itu enggak mau pergi. Dia tetap berdiri disitu, menatapku. Kuambil sapu saja, langsung kugebukkan pada kucing itu supaya enyah dari hadapanku. Tapi, tak ayal kucing itu diam saja kemudian terkena pukulanku dan terjatuh, sebentar aku memeriksa kucing itu, ternyata sudah enggak bernafas lagi. Tapi enggak ada waktu untuk mengurusnya. Kompor kumatikan, langsung saja kedua orang tadi kususul.

**
Setelah selesai semua aku pulang, dan kemudian aku mencium aroma yang lain dari biasanya. Entah apa. Sepertinya menguap memenuhi ruangan di rumahku. Tak kupikirkan. Aku segera kedapur, ingin melanjutkan masak airku. Masih sama seperti tadoi kucium lagi aroma itu. Seperti gas. Dan kugesekkan korek apiku. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi merah. (end)

Yogyakarta, 2004

Juga dimuat di situs kolomkita.com, sebuah situs khusus cerpen.
Continue Reading...

Sampai Mati untuk Indonesia

31 July 2008

“Menuju Nation Building Indonesia Majemuk”

Peranan kaum peranakan Tionghoa di Hindia Belanda, tak bisa dipungkiri, telah membawa warna tersendiri. Warna ini khususnya menyangkut sektor perekonomian. Tetapi, tak bisa dipungkiri pula bahwa sejarah kaum peranakan Tionghoa di Hindia Belanda, lekat dengan warna diskriminasi. Walau derajat kaum Tionghoa ketika masa penjajahan Belanda sedikit lebih tinggi daripada golongan Bumiputera -- termasuk dalam golongan bangsa Timur Jauh bersama India dan Arab --, tetapi nasib selalu menjadi second person di berbagai situasi, kerap ditimpakan pada golongan yang satu ini.

Situasi diskriminasi sedikit lebih terkikis kala Sun Yat Sen mendeklarasikan Negara Republik Tiongkok. Aura nasionalisme ternyata mengimbas pula hingga ke Hindia Belanda. Orang peranakan kini lebih bisa membusungkan dada dengan jiwa nasionalisme yang kini telah resmi mereka punyai. Untuk mewadahi semangat nasionalisme yang mulai berkembang inilah, kaum peranakan Tionghoa di Hindia Belanda membentuk sebuah perkumpulan yang dinamakan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) pada 1900. Tetapi sekira medio 1930-1945, THHK mulai hilang pengaruh dan tak terdengar lagi pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945. Walau telah menghilang, satu hal yang masih tersisa dengan kehadiran THHK adalah warisan sejarah, yaitu Ke-Tionghoa-an Indonesia.

Pasca kemerdekaan, muncul lagi sebuah perkumpulan dari peranakan Tionghoa. Kali ini bernama Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Baperki berdiri pada 13 Maret 1954 yang dipelopori beberapa tokoh peranakan Tionghoa dengan Siauw Giok Tjhan sebagai ketua umumnya. Bertolak dari semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu jua), Baperki mendorong diterimanya golongan Tionghoa yang terwujud dan berkembang di Indonesia ini sebagai bagian yang tak terpisah dari nasion Indonesia. Tujuannya menghadapi diskriminasi rasial di berbagai bidang.

Di dalam Baperki, para tokohnya menganjurkan kalangan Tionghoa Indonesia untuk mengintegrasikan diri ke dalam lapisan kegiatan Indonesia. Pun demikian mereka tak perlu menanggalkan gaya Tionghoanya, baik secara biologis maupun kebudayaan. Bagi orang-orang Tionghoa yang tergabung ke dalam Baperki, persatuan bukan berarti melumerkan jati diri mereka ke dalam pihak mayoritas. Mereka beranggapan bahwa kewarganegaraan Indonesia tak mengenal asal-usul keturunan, agama dan status sosialnya.

Baperki bergerak dalam bidang yang lebih luas daripada THHK, yaitu meliputi bidang ekonomi, sosial, kebudayaan dan pendidikan. Untuk mewujudkannya, di akhir 1950-an didirikan dan dikelola ratusan sekolah di berbagai kota besar. Dilanjutkan dengan mendirikan universitas di Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, Semarang, Malang, Solo dan Medan.

Corak pendidikan yang dikembangkan dalam sekolah yang didirikan Baperki, mengikuti kurikulum nasional yang dicanangkan pemerintah. Bahkan para siswanya didorong aktif berpartisipasi dalam kegiatan politik nasional untuk mempercepat proses Nation Building. Corak ini berbeda dengan kebijakan yang diambil THHK yang menerapkan pendidikan yang berorientasi pada pola pendidikan ala Tiongkok.

Nyala api perjuangan Baperki untuk mencapai Nation Building, turut pula disponsori oleh Presiden Soekarno, yang kerap menyatakan bahwa Baperki adalah salah satu organisasi massa yang patut dijadikan teladan. Pemberian support ini dibuktikan presiden ketika berpidato pada pembukaan Kongres Nasional kedelapan Baperki di Istana Olahraga Gelora Bung Karno pada 14 Maret 1963. Dalam pidatonya, presiden menyatakan bahwa Baperki menjadi sumbangan besar dalam revolusi Indonesia. Tercatat dalam tinta sejarah, bahwa Baperki adalah partai politik Tionghoa yang paling berhasil memobilisasi massa Tionghoa untuk menerima Indonesia sebagai tanah airnya.

Pada pemilu 29 September 1955, Baperki mendapat 0,47 % suara atau sama dengan 1 kursi anggota untuk pemilihan parlemen. Sedangkan untuk memilih dewan konstituante, mendapat 0,42 % suara atau sama dengan 2 kursi.

Kisah Baperki mulai pupus ketika terjadi pergantian pemerintahan pada 1966. Proses panjang memperjuangkan Nation Building secara sistematis dihentikan, digantikan dengan slogan persatuan dan kesatuan bangsa model pemerintah Orde Baru. Bahkan kata Nation Building dilenyapkan dari perbendaharaan kata politik.
Continue Reading...

CAPEDE

weah, berbulan bulan lamanya daku tidak updet ini posting blog, kayaknya berasa nggak enak hati juga meninggalkan blog yang terkapar tak berdaya di jagat maya. yah secara kalau semisalnya lagi browcing cing ketemu blog sendiri jadi nggak enak hati, kesannya mereka manggil manggil, "eh kesini kamu cumi, gua mau tanya sama elo, kenapa blog gua nggak lu isi isi. capek kan gua udah nungguin elo berbulan bulan." hah, sebodo dengan pikiran si blog yang ngabrak gua sakarepe dewe.

tapi yang jelas sekarang gua lagi sibuk. sibuk pool, sampe kadang kadang lupa siapa diri gua sendiri. kamsudnya? ya gini lo, pekerjaan kan sangat menyita waktu dan pikiran. sedangkan gua pulangnya malam, jadi nggak sempet ubek ubek warnet lagi dan telusuri laman laman tiap person. so jadi terbengkalailah. tapi sebenernya yang jadi alasan bukan itu, gua aja yang nggak bisa mengatur jadwal manggung, eh salah jadwal nulis gua. hah, bagaimana mungkin bisa menjadi seorang penulis kalau nulis aja nggak pernah. ibarat kata nih, menulis di dalam pikiran, emang ada yang bisa baca? hanya dukun cabul yang bisa membaca pikiran gua. hahaha...

keterusterangan ini jangan disalah artikan apa apa. aku kan hanya seorang blogger biasa. secara blogger juga manusia. jadi kenonaktifan gua di sini sebenernya bukan karena gua pengen berhenti dari dunia blogging atau berhenti dari dunia tulis menulis atau berhenti jadi penghuni cyber atau apalah terserah dah. gua cuma lagi mau memfokuskan niat awal gua. tapi lantaran banyak gangguan kayaknya jadi teramat sulit dah. secara proses kreatif kalau udah diemblem emblem sama yang namanya duit ah jadi agak sulit pitik. ah, udahlah. ini cuma konfirmasi dari gua aja tentang kemana diri gua selama ini. gua masih ada kok. masih di dunia ini. masih pengen menjelajah dunia maya. pengen bersenang-senang. pengen jalan jalan ke luar negeri. dan pengen merasakan yang namanya menikah (untuk yang satu ini entah kapan akan terealisir). salam tabik. jika kalian menemukan aku di suatu tempat. mungkin aku sedang merenung memikirkan hari hari yang telah berlalu, yang bosan menungguku untuk berlari. sekarang aku capede. mau tidur. xixixi. selamat malam semua. selamat malam bintang.
Continue Reading...

Alimin: the Great Oldman

16 July 2008

Sejarah memang belum memberi lelaki yang lahir pada 1889 ruang besar bagi namanya untuk menjulang seperti Semaun, Darsono, Muso, Aidit. Padahal ia merupakan tokoh lama yang telah bergeliat dalam tahun-tahun awal Partai Komunis Indonesia (PKI) terbentuk. Ia merupakan sosok pejuang rakyat yang aktif dan konsisten sejak masa pergerakan nasional. Ia banyak memberi dukungan kepada generasi muda untuk meneruskan perjuangan. Khususnya masa-masa setelah pemberontakan PKI tahun 1948.

Sebuah pernyataan mengejutkan dikeluarkan oleh Kementerian Kehakiman Mr. Soesanto Tirtoprodjo mengenai nasib PKI setelah pemberontakan PKI 1948 di Madiun. Kepastian itu mengenai pemerintah tidak akan melarang PKI dan tidak akan menangkap tokoh-tokohnya, kecuali yang melanggar hukum. Kebijakan pemerintah tersebut kemudian disambut positif, terbukti diikuti banyaknya tokoh PKI yang muncul dari tempat persembunyiannya. Salah satunya adalah Alimin—tokoh tua PKI, yang muncul di Yogyakarta. Pada waktu itu kekosongan di kursi kepemimpinan partai karena tewasnya Muso membuatnya mampu mengisi jabatan itu. Apalagi ditambah dia memiliki sikap besar seorang pemimpin, praktis membuat namanya menonjol, ia pun dihormati oleh generasi muda komunis Indonesia. Hal ini memberikan Alimin peluang untuk memimpin PKI.

Pada waktu ia menjabat, hal pertama yang dihadapinya di dalam partai adalah hancurnya struktur partai akibat pemberontakan Madiun. Konsekuensi lainnya adalah mengenai citra buruk partai. Begitu berada di bawah kendalinya, langkah awal yang diambil adalah menghimpun kembali para anggota dari awal dan mengkadernya dengan selektif. Di samping itu Alimin juga menyusun kembali Sekretariat Central Comite (CC) dan menandai kemunculan PKI dengan susunan Sekretariat CC tersebut yang disiarkan pada 10 Juni 1950. Susunan tersebut terdiri dari Sukisman (mantan Sekjen Pesindo), Djaetun (mantan Digulis), dan Ngadiman. Akan tetapi secara praktis kegiatan partai belum ada kecuali pekerjaan di parlemen yang dilakukan oleh Tan Ling Djie.

Dalam kondisi partai yang belum memiliki kegiatan inilah, Alimin mulai mengupayakan langkah kongkret guna menghapus citra buruk partai. Demi mengembalikan kekuatan partai, ia menerapkan kebijakan yang lebih ketat dengan memperhitungkan kualitas para anggotanya. Ia membangun partai kecil dengan membangun pondasi yang kuat disertai dukungan kader yang cakap. Alimin membentuk PKI sebagai partai kader.

Menggunakan strategi seperti yang diterapkan Sneeveliet untuk menginfiltrasi SI, Alimin menggunakan metode yang sama. Strategi infiltrasi yang diterapkan Alimin terbukti cukup jitu. Ia memerintahkan kader partainya masuk ke berbagai organisasi kepemudaan, buruh, petani, dan wanita. Namun dalam upayanya membangun kembali kekuatan PKI, justru datang halangan dari kelompok muda. Ada perbedaan visi antara kelompok tua yang diawaki Alimin dengan kelompok muda yang dimotori DN. Aidit. Perbedaan ini semakin menguat dengan munculnya friksi di kedua kubu, yang menjelma menjadi perebutan pengaruh.

Pada 7 Januari 1951 terjadi suksesi DN. Aidit terhadap kepemimpinan tua. Alimin dijungkal. Habis sudah perannya sebagai tokoh utama. Posisinya di politbiro pun digusur dengan alasan Alimin terganggu kesehatannya pada Oktober 1953. Setelah itu PKI menjalankan garis politik dengan cara memobilisasi kekuatan massa dan pengorganisasian.
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...