Sekelumit tentang Rock ‘N Roll

29 October 2008

Sejak Wild More menulis lagu We’re Gonna Rock We’re Gonna Roll dan seorang dj radio di Clevand, Amerika, memutar lagu-lagu dari Elvis Presley dan Chuck Berry. Maka era rock ‘n roll pun dimulai. Jagad manusia pun mulai mengenal dirinya. Anak-anak muda terbius candu goyang berbeat menghentak memikat. Rock ‘n roll bergema di kesunyian dunia, demikian tulis Roxx di dalam lirik lagunya, hampir empat puluh tahun kemudian. Mengekspresikan kegembiraan para anak muda bermain musik rock. Dan kini, rock ‘n roll bebas bergaung di mana-mana.

Rock ‘n roll merupakan paduan dua genre (aliran) musik, yaitu pop dan rhytm & blues (berakar dari blues). Blues muncul pertama kali di New Orleans. Sebagai sarana berkomunikasi para budak, ketika mereka bekerja. Ketika itu, para budak pekerja paksa di kebun kapas orang Perancis (di delta Sungai Mississippi, Amerika), ini tidak diperkenankan berbicara satu sama lain. Mereka hanya diizinkan menyanyi. Kesempatan ini mereka gunakan untuk saling berinteraksi. Sambil mengelilingi tong besar, mereka bernyanyi dan bersenang-senang—diiringi tepuk tangan atau memukul-mukul kayu.

Pada 1861 hingga 1865, di Amerika pecah perang saudara (utara dan selatan). Orang-orang Perancis pemilik tanah perkebunan banyak yang mengungsi, meninggalkan rumah beserta isinya. Setelah perang berakhir, pada 9 April 1865, Kolonel Lee (Amerika Selatan) menandatangani perjanjian karena kalah perang. Yang berisi pernyataan bahwa perbudakan dihapuskan. Budak-budak yang merdeka, kemudian mengambil alat-alat musik milik orang-orang Perancis, yang terkenal gemar bermusik. Mereka asal saja memainkan bunyinya. Menirukan kelihaian tuan mereka yang, sebelumnya, memainkan musik tradisional yang dibawa dari Eropa tiap sore hari.

Dari sinilah cikal bakal blues terbentuk. Orang-orang Perancis pemilik kebun tersebut punya tradisi. Setahun sekali mereka mengadakan pesta Mardi Grass. Pesta yang digelar untuk merayakan hasil panen dengan kemeriahan-kemeriahan berupa musik (marching band). Seperginya orang Perancis dari tanah Amerika, para budak berkulit hitam masih melestarikan tradisi tersebut. Tapi bukan Mardi Grass lagi, melainkan perayaan kebebasan mereka dari penjajahan Perancis. Selama beberapa hari mereka gelar perayaan tersebut di jalan-jalan New Orleans. Musik orang-orang Perancis pun diganti menjadi musik New Orleans, yang kemudian dikenal sebagai blues. Kata blues diambil dari kata blue yang berarti sedih. Atas dasar sejarah itulah bisa dikatakan bahwa blues merupakan manifestasi tangis kesedihan kaum kulit hitam yang mendamba sebuah kebebasan.

Pada perkembangan lebih lanjut, blues memecah menjadi genre musik lain. Macam jazz, rthym & blues, country, swing dan ragtime. Selanjutnya kawin-mengawin musik ragam genre pun terjadilah. Dan musik pop yang mengawinkan diri dengan rthym & blues pada akhirnya membentuk genre musik yang kita kenal sebagai rock n roll.

Pemunculan istilah ini, menurut Paul Hanson, muncul pertama kali pada 1947. Pencetusnya adalah Wild More yang memakai kata sejenis pada lagu We’re Gonna Rock We’re Gonna Roll. Tapi, istilah ini belum popular. Istilah rock ‘n roll baru dipakai secara massif pada 1952. Saat Allan ‘moodog’ Freed, seorang dj sebuah radio di Cleveland, Amerika, mulai mengenalkan istilah tersebut lewat acaranya yang bertajuk Rock ‘N Roll. Acara tersebut memutar lagu-lagu dari Gene Vincent, Chuck Berry, dan Elvis Presley. Kemudian rock ‘n roll mulai mendominasi, sewaktu Bill Haley and His Comet menciptakan lagu berjudul Rock Around The Clock. Sejak saat itu hingga hari ini, anak-anak seluruh dunia gandrung musik rock ‘n roll. (Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Nasionalisme Indonesia di Tengah Globalisasi

27 October 2008

--Memperingati 80 Tahun Sumpah Pemuda--

Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut Hindia Belanda. Juga tidak Hindia saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.

(Mohammad Hatta)

Delapan puluh tahun silam, tepat pada 28 Oktober 1928, para pemuda yang tergabung dalam organisasi berbagai daerah Indonesia berkumpul di Jakarta. Mereka bersepakat kata menyeru satu kesatuan bangsa. Sumpah pemuda istilah yang dipakai untuk menamai kesepakatan itu, dengan tiga butir perjanjian termaktub di dalamnya. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia; Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia. Apa persamaan kata dari ketiga janji yang diucapkan pada kongres pemuda tersebut? Jawabannya adalah Indonesia. Kata ini disepakati oleh para pemuda yang mengaku mewakili bangsanya sebagai identitas kebangsaan. Dengan demikian, mereka pulang sambil membawa rasa bangga. Karena telah berhasil membangun building nation, dengan satu kata: Indonesia. Oleh sebab itu, bangsa yang belum memiliki negara itu merasa menjadi satu. Dari Sabang sampai Merauke. Saat itu mereka telah punya identitas. Penguat erat kebersamaan seluruh rakyat di berbagai belahan negeri Hindia Belanda.

78 TAHUN PERJALANAN MEMBENTUK IDENTITAS
Apabila ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya makna kata Indonesia ini jauh lebih dalam dari penyebutannya untuk kali pertamanya, yang hanya merupakan satu kata di sebuah artikel yang ditulis Logan. Dalam perkembangan lebih lanjut, kata Indonesia mempunyai kesaktian tersendiri. Di mana kata ini mengacu pada keinginan rakyat Bumiputera untuk merdeka. Lepas dari Hindia Belanda.

Bermula pada tujuh puluh delapan tahun sebelum adanya sumpah pemuda, seorang Skotlandia pengelola majalah ilmiah tahunan, James Richardson Logan (1819-1869), mencetuskan sebuah istilah, yang kelak dijadikan identitas khas untuk tanah air ini. Pembuatan identitas ini sendiri muncul karena ia enggan memakai nama Indian Archipelago (istilah yang kerap digunakan untuk menyebut wilayah Indonesia waktu itu), yang dirasa terlalu panjang dan membingungkan. Oleh sebab itu, Logan memutuskan memungut nama Indunesia (istilah yang dibuang George Samuel Windsor Earl, yang mencetuskan istilah Indunesia pertama kalinya) dan mengganti huruf U dengan O agar penyebutannya lebih baik. Tulisan Logan itu bertajuk The Etnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquires into the Continental Relations of the Indo-Pasific Islanders. Dimuat dalam majalah tahunan bernama JIAEA (Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia) dan tercetak dalam halaman 254. Istilah Indonesia pun muncul, meski belum popular.

Kemudian, istilah Indonesia mulai dipopularkan Adolf Bastian (1826-1905), yang memuatnya dalam buku Indonesien order die Inseln des Malayischen Archipels (1884). Buku ini terkenal di kalangan sarjana Belanda, hingga muncul anggapan bahwa istilah ini dibuat oleh Bastian. Padahal Bastian mengambilnya dari tulisan-tulisan Logan. Kekeliruan ini dicatat dalam Encyclopedie van Nederlandsche-Indie tahun 1918. Eduard Douwes Dekker (Multatuli) dan kemudian Ernest François Eugène Douwes Dekker (Dr. Setiabudi) pun menggunakan istilah Insulinde yang berarti Kepulauan Hindia. Tetapi, istilah Insulinde ini kurang mendapat tempat—barangkali karena penyebutannya yang sulit.

Jauh setelah itu, orang-orang Bumiputera yang melek politik, mengambilnya untuk identitas kebangsaan. Bumiputera pertama yang menggunakan nama Indonesia adalah Soewardi Soerjaningrat. Pada 1913, karena tulisannya Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Saya Seorang Belanda), Soewardi dikirim ke Belanda. Setibanya di sana, ia—yang tetap berkecimpung dalam dunia politik—mendirikan sebuah kantor berita yang pertama Indonesia di luar negeri bernama Indonesisch Pers Bureau.

Sekurun 1920-an, kata Indonesia mulai maknanya dipakai untuk keperluan politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Kemudian, atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, pada 1922 organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau dengan lain bahasa berarti Perhimpoenan Indonesia. Nama majalah PI pun turut berganti, dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka.

Sementara, Mohammad Hatta sibuk dengan PI di Belanda, di tanah air pergerakan tetap bergeliat. Tercatat, setidak-tidaknya, ada tiga organisasi tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia. Dr. Soetomo meneguhkan istilah Indonesia dengan mendirikan Indonesische Studie Club pada 1924. Dan Perserikatan Komunis Hindia yang dikukuhkan namanya tahun 1922, berganti nama menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia). Jong Islamieten Bond juga tak ketinggalan kereta. Pada 1925, organisasi ini membentuk bagian kepanduan, bernama Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Pada akhirnya nama Indonesia pun dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada rapat Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini disebut Sumpah Pemuda.

INDONESIA DULU DAN KINI
Menyitir sebuah anekdot: mengapa gerakan separatisme di Indonesia makin marak, bukan saja di Aceh, Maluku, tetapi juga di Papua? Jawaban Arswendo, PDI-P-lah yang harus bertanggung jawab, jelas-jelas Indonesia sudah lama merdeka, mengapa partai itu selalu meneriakkan yel-yel, “Merdekaaa...Merdekaaa!!”

Sekilas anekdot yang dilontarkan Arswendo tersebut memang hanya sebuah guyonan untuk membuat tertawa. Akan tetapi, kita bisa melihat kenyataannya. Setelah 63 tahun Indonesia merdeka, benih-benih keretakan yang ada malah menampakkan diri secara jelas di depan mata. Nampaknya pernyataan SATU, seperti diikrarkan bersama pada kongres sumpah pemuda pun mulai meluntur. Penyebabnya? Banyak faktor. St Sunadi, mengatakan dalam Kompas edisi 27 Oktober 2008, saat ini dimensi nasionalisme menjadi lebih rumit daripada sekedar kesamaan sejarah, suku, bangsa, atau budaya. Dahulu musuh bangsa kita itu sama, yaitu penjajah atau Belanda. Sekarang pasca kemerdekaan, persoalannya jelas terletak pada jaminan keamanan, kesejahteraan dan masa depan. Berbicara mengenai nasionalisme tanpa bicara kesejahteraan adalah omong kosong.

Hal tersebut secara tidak langsung justru didukung oleh pemerintah sendiri. Kebijakan yang dibuat tampaknya kerap bertolak belakang dengan kondisi real di lapangan. Sebut saja, investasi asing yang berlebihan, dan tidak diseimbangkannya kebijakan yang memihak perekonomian rakyat. Selain itu, praktek otonomi daerah juga mencerminkan kemunduran nasionalisme karena dilakukan dengan semangat kesukuan “hanya putera daerah yang boleh jadi pemimpin”.

Bisa jadi ini merupakan tanda belum ada kemajuan apapun bagi nasionalisme di Indonesia. Masih dapat kita jumpai borok-borok masa kolonial bercokol di berbagai bidang di negara ini. Macam tingginya tingkat kriminalitas, korupsi, pungli, kemiskinan, banjir dan lain sebagainya. Lalu apa bedanya Indonesia sekarang dan dulu? Sepertinya sejarah Indonesia mengulangi pola yang masih sama, ketika masih berbentuk Hindia Belanda. Jelas bertentangan dengan cita-cita para founding father negara ini. Nasionalisme Indonesia benar-benar diuji dalam arus global. Hal ini harus segera diatasi secepatnya, agar terbuka jalan ke arah yang lebih baik. Apabila kita sebagai bangsa tidak mau beradaptasi cepat di tengah arus perubahan yang penuh kompetitif, siap-siap saja negara Indonesia mandek dan gulung tikar.


DAFTAR RUJUKAN

I. BUKU
Nalenan, Arnold Mononutu; Potret Seorang Patriot, Jakarta: Gunung Agung, 1981.
Darminto M. Sudarmo, Anatomi Lelucon Indonesia, Jakarta: Kompas, 2004.

II. KORAN
, Tantangan Berat Nasionalisme; Kemiskinan, Korupsi, dan Kepentingan Golongan Ancaman bagi Nasionalisme, Kompas, 27 Oktober 2008.
Rikard Bangun, Butuh Banyak Sumpah Pemuda, Kompas, 27 Oktober 2008.

III. WEBSITE
Irfan Anshory, Asal Usul Indonesia, www.fahroe.wordpress.com, tanggal akses 25 Oktober 2008.
Batara R. Hutagalung, Asal Usul Kata Indonesia, www.batarahutagalung.blogspot.com, tanggal akses 25 Oktober 2008.
Doeljoni, Asal Usul Nama Indonesia, www.doeljoni.blogsome.com, tanggal akses 25 Oktober 2008.

(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

WOLTER SANG PEMIMPIN

Monginsidi ditangkap. Ia memimpin massa pemuda dalam sebuah serangan merebut Makassar yang dikuasai NICA (Nederlands Indies Civil Administration) tanggal 28 Oktober 1945. Padahal umurnya baru setingkat anak SMP waktu itu. SMP Nasional bentukan Dr. Ratulangie dan Lanto Daeng Pasewang. Itulah awal petualangan Wolter memberontak penjajah Belanda.

Seusai dibebaskan tanggal 1 Januari 1946, hati Wolter Monginsidi tetap bergolak. Ia meninggalkan buku dan bangku sekolahan mengikuti arah kehendak hatinya. Benih-benih yang tersemai ditambah cerita-cerita pemberontakan yang pernah dibacanya meyakinkannya untuk (harus!) melakukan perjuangan. Ia telah sampai pada kesimpulan, mempertahankan dan membela kemerdekaan Indonesia merupakan prioritas utama. Apalagi, anak seumuran dia pada waktu itu sudah melek politik.

Tak hanya piawai menggunakan bahasa lain selain bahasa ibunya, Monginsidi ciamik juga berorganisasi. Sekurun 17 Juli 1946, ia membentuk organisasi perjuangan bernama LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakjat Indonesia Sulawesi), sebuah badan yang mengkoordinir barisan-barisan bersenjata di Sulawesi Selatan. Dalam organisasi yang memiliki anggota sekurang-kurangnya 26 organisasi bersenjata ini, Wolter menjadi Sekretaris Jenderalnya, usianya masuk 21 tahun. Daerah operasi mereka ada di sekitar Makassar, Gowa, Djaneponto, Malino, Tjamba dan lain-lain. Sejak saat itu, bersama kawan-kawannya, ia mulai bergentayangan memburu NICA. Ia liat dan sukar ditangkap. Terbukti, NICA musti mengeluarkan pengumuman: “bagi siapa pun yang berhasil menangkap Wolter Monginsidi akan diberi hadiah”. Akan tetapi, Wolter tetaplah Wolter, ia seorang militan yang ulung. Ancaman tersebut tak membuatnya gundah apalagi menyerah kalah. Ia membuktikan pada Belanda bisa berbuat semaunya.

Pun sepintar-pintarnya Wolter, ia seperti tupai melompat yang akhirnya terjatuh. Ketika, pada 3 November 1946, Monginsidi memimpin pertempuran di dekat Barombang, ia mendapat luka parah. Kedatangan Kapten Raymond Westerling—seorang militer Belanda yang terkenal dengan operasi pembersihan melawan para gerilyawan sekitar akhir 1946, membuat keadaan bertambah parah. Para gerilyawan berada dalam posisi tidak menguntungkan. Mereka terus-menerus digiring pada suatu keadaan yang menjepit. Hingga akhirnya, pada 28 Februari 1947, Monginsidi bersama beberapa orang kawannya tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Hogepad, Makassar.

Monginsidi adalah putra Mamalayang, Manado. Dia dilahirkan tanggal 14 Februari 1925. Mencecap pendidikan yang jauh dari jalur militer. Tapi cinta betul pada buku-buku bacaan yang mengisahkan pemberontakan-pemberontakan. Macam pemberontakan rakyat Austria melawan Prancis. Apalagi, banyak para pemuda Indonesia waktu itu sadar dengan keadaan dan situasi yang dialami bangsanya. Dia dikenal sebagai orang yang tenang dalam setiap kondisi.

Usai ditangkap pada 28 Februari 1947, Wolter sempat melarikan diri pada 17 Oktober 1948. Akan tetapi, berhasil ditangkap kembali pada 26 Oktober 1928. Penangkapan ini merupakan penangkapan terakhirnya. Karena ketakutan pihak Belanda terhadap dirinya, ia cepat-cepat diadili di bulan Maret 1949. Kemudian divonis bersalah atas keikutsertaannya dalam organisasi LAPRIS sejak 17 Juli 1946 hingga tertangkap 28 Februari 1947. Hukumannya yang dijatuhkan pun tak tanggung-tanggung: MATI. Menghadapi vonis tersebut, Monginsidi tak gentar. Malah berseru lantang. Menyatakan, ia yang bertanggung jawab atas semua kejadian.

Pada 4 September 1949, saat usianya genap 24 tahun, Wolter dieksekusi di Patjinang, beberapa kilometer dari Makassar. Kematiannya membuat kejut banyak pihak. Setahun kemudian ia diganjar Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra II. Makamnya pun dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar. (Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Kedison Si Keledai Jenius

13 August 2008

Nama Penulis : Le Contesse de Segure
Judul Buku : Si Jenius Kedison
Penerbit : Manyar
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2005

Selama ini keledai identik dengan sifat-sifat yang dungu dan tolol saja. Ramainya film-film kartun yang memberi sifat buruk kepada makhluk ini memang membentuk opini orang-orang mengenai keledai. Tentu saja hal itu berhasil dengan sukses. Akibatnya, manusia di seluruh dunia telah memberikan cap negatif terhadap hewan yang bersuara lucu ini. Lucu? Yah, karena di dalam buku ini akan kamu temui suara keledai tidak menyeramkan seperti banyak diceritakan, melainkan terdengar seperti berbunyi, “hei heh, hei heh...” Begitulah.

Si penulis yang memiliki nama Le Contesse de Segure, memang membuat semacam pledoi Kedison sang keledai. Pinuturnya yang menokohkan Kedison dengan kata ganti “aku” seolah-olah membela kepentingan para keledai dengan pesan, “tidak semua keledai di dunia itu bodoh, tauk! Aku adalah salah satunya.” Pasca kamu membaca buku berjudul “Si Jenius Kedison” ini, diharapkan anggapan yang jelek-jelek tentang keledai, akan bisa berbalik seratus delapan puluh derajat. Yah, minimal sembilan puluh derajatlah atau tak berubah sedikitpun. Pokoknya terserah kamu yang membacanya saja.

Berikut adalah petikan dari beberapa pengalaman hidup Kedison:
Adalah Kedison, nama keledai yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Kedison, anggapan sang Kedison sendiri, merupakan keledai pintar dan cerdas. Tidak seperti keledai-keledai lainnya yang dungu. Ia berani mengungkapkan pendapatnya untuk memrotes para majikan yang bersikap semena-mena kepadanya. Pendapatnya ini diutarakan dengan pelbagai macam cara, yang jelas dengan cara seekor keledai.

Cerita bermula, ketika Kedison dipelihara oleh seorang petani yang suka menjahatinya. Kemudian karena terus-menerus dijahati oleh majikannya dengan menyuruhnya mengangkut barang-barang jualan yang berat setiap hari pasar. Maka, ia membangkang dan melakukan protes kepada majikannya. Ia pun mogok jalan. Tapi alhasil ia malah mendapat cambukan yang sangat keras. Otomatis dengan sangat terpaksa, ia pun berjalan sampai ke pasar.

Akan tetapi, sesampainya di pasar itulah, Kedison memulai aksinya. Saat mereka, si petani dan Kedison, semua sampai di pasar, si petani mengikat Kedison setelah barang-barang yang diangkutnya diturunkan. Si petani meninggalkan Kedison sebentar untuk berbincang-bincang kepada para pembelinya. Tepat pada saat itulah, Kedison merasa lapar, ia pun memakan barang-barang, yang terdiri dari kubis-kubis dan sayuran-sayuran, yang telah diturunkan ke tanah. Ketika si petani kembali, betapa terkejutnya dia mendapati kubis-kubisnya telah habis dimakan Kedison. Kedison pun dimarahi habis-habisan. Tapi itulah Kedison, pemberontakan semacam itu yang dilakukannya. Demikian sepenggal cerita mengenai kejeniusan Kedison. Sebenarnya masih banyak pengalaman-pengalaman Kedison dalam menjalani hidupnya. Nah, untuk tauk lebih, baca saja buku ini. Hehehe... Kamsia (thanks a lot).
(Lilih Prilian Ari Pranowo)
Continue Reading...

Panjat Pinang

04 August 2008

meski minggu kemaren nggak ikutan lomba panjat pinang di kampungku. aku ingin betul cerita-cerita dan membagi kepada dunia dan pada kalian semua. ini semua tentang kesenangan menulisku dan kebahagiaan saat melihatnya. seru sekali dengan kemeriahan dan keceriaan itu semua.

sekitar jam 4, sebangunnya aku dari tidur, wah aku langsung mandi. karena tentunya orang yang baru bangun tidur memiliki liur berlebih dan wajah yang tentu saja butek. nah selesai mandi dan bat-bet, aku segera keluar, di luar orang-orang sudah riuh meneriaki orang-orang yang memanjat. wah, sholatku jadi nggak konsen, gara2 pengen buru2 nonton. selesai solat aku langsung liat deh. tim I udah selesai. kini tim II lagi, pas mereka lagi naek eh kepeleset lagi gara2 olinya masih banyak. beruntung tim IV yang olinya udah kering, mereka beruntung bisa mendapatkan beberapa hadiah lebih banyak. sedangkan dua tim lain (I dan II) nggak dapet sama sekali. dan tim III cuma dapet sekali hadiah. eh gitu aja postinganku kali ini, besok kapan2 sambung lagi.
Continue Reading...

Bangkai

Aku tak tahu kapan tepatnya terjadi ribut-ribut di ujung jalanan itu. “Bangkai kucing! Bangkai kucing!” begitu teriak mereka, iya mereka—orang-orang itu—para tetanggaku. ‘Bangkai kucing?! Hanya bangkai kucing?! Kenapa heboh sekali?!’ tanyaku bergumam, ‘penting?’ Aku tak tahu atau mungkin lebih tepatnya aku tak peduli. Toh, hanya bangkai kucing saja, kan? Bukannya bangkai manusia. Atau memang sudah lebih berharga bangkai kucing daripada bangkai manusia?

“Mbak, nggak mau liat?” Tanya Obet yang kebetulan lewat di depan rumahku, saat aku ingak-inguk di depan rumah.

Karena sepertinya Obet mau ke sana, aku jadi bertanya saja padanya. Konfirmasi. “Mau kemana kamu Bet?”

“Mau kesana!” Katanya sambil menunjuk arah kerumunan-kerumunan orang itu.

“Kesana?! Mau liat bangkai kucing itu?” Tanyaku lucu.

“Iya, mbak.” Dibarengi dengan anggukannya yang mantraps.

“Bangkai kucing aja kenapa heboh sekali sih?” Tanyaku lagi kemudian.

“Bukan masalah bangkainya mbak, tapi orang yang nabrak kucing itu nangis sejadi-jadinya.”

“Lha ini lagi... terus kenapa?” duh tambah bingung aku. Namun kebingunganku sekaligus memantik rasa penasaranku.

“Ah, udahlah mbak! Kalau mau tahu lebih, ke sana saja! Aku mau ke sana nih, nanti ketinggalan berita lagi,” Obet ngeloyor pergi dengan cepat menghampiri orang-orang yang berkerumun itu.

Setelah Obet pergi dadaku dipenuhi dengan rasa penasaran yang hebat. Mendesak-desak ingin keluar. Keingintahuanku pada apa yang terjadi semakin menguat. Pandanganku masih kutujukan ke arah kerumunan orang-orang itu, sambil sesekali kujawab sapaan orang-orang yang lewat di depan rumahku, yang ingin kesana juga tentunya. Kukepalkan jemari tanganku. Aku harus mengambil keputusan, akan melihatnya atau tetap tinggal di rumah saja. Kuputuskan saja, aku akan melihatnya. Walaupun dalam pikiranku masih tersimpan penilaian bahwa ini suatu kekonyolan dan kesia-siaan belaka. Tak apalah, aku tak boleh ketinggalan informasi sedikitpun dari orang lain. Percuma aku belajar menjadi wartawan kampus, jika aku sampai ketinggalan informasi ini.

**
Sesampainya di sana, aku melihat banyak tetanggaku ikutan berjejer membulat membentuk lingkaran kerumunan. Aku mencoba menanyai mereka satu persatu. Tapi semua jawaban itu mengesalkan, ‘liat saja sendiri, kan udah sampai sini.’ Aku geram betul sama jawaban itu. Tapi segera kutepis, bukankah aku kesini untuk tahu. Bukan untuk geram-menggeram tanpa alasan jelas.

Aku mencoba menerobos kerumunan orang yang sudah memadat. Sesak. Sesak. Nafasku tersengal. Namun tak kuurungkan niatku. Aku harus tahu, ada apa dengan bangkai kucing itu dan orang yang menabraknya. Sampai pada jejeran orang paling depan, aku melihat seorang laki-laki tertunduk dengan lesunya. Matanya lebam akibat mengeluarkan banyak airmata. Di dekatnya, sebuah motor tergeletak begitu saja, seolah tak ada pemiliknya. Mungkin motor itu miliknya.

Mencoba menerka-nerka apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh laki-laki itu. Aku diam saja, mengamati polanya dan segala bentuk gerakan yang dibuatnya. Kosong. Tak kudapatkan sesuatu apapun. Lalu tanpa sengaja, aku mendengar percakapan dua orang yang berdiri agak di belakangku. Aku memang diam saja, tak menengok ke arah mereka, namun sudah kupasang gendang telinga tajam-tajam.

“Aku rasa wajar, jika dia sampai menangis seperti itu. Soalnya dia baru saja menabrak seekor kucing. Kau tahu apa itu artinya? Malapetaka! Sebab sudah pasti si penabrak takkan hidup lebih lama lagi. Lha kucing itu binatang kutukan yang mempunyai sembilan nyawa, mati satu, nyawa yang lain aku akan menuntut balas. Apalagi sampai mati begitu, alamat sial baginya deh,” kata seorang lelaki bersuara berat, tapi bukan tetanggaku. Aku tidak mengenalnya.

“Nggak ada yang bakalan bisa nolongin dia. Habis salahnya sendiri, kucing mau nyebrang kok ditabrak. Padahal kucingnya nggak salah apa-apa. Coba kalau dia membanting setirnya supaya nggak nabrak kucing itu,” kata seorang yang suaranya wanita, “mungkin sekarang, kucing itu masih hidup dan dia nggak bakalan terkena kutukan.”

“Benar,” sahut lelaki yang bersuara berat.

Wah, aku jadi semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Apa hubungannya kucing dengan sebuah kutukan? Menggelikan, zaman begini kok masih bicara tentang kutukan, apalagi hanya gara-gara nabrak kucing. Apa kronologisnya ayo? Orang-orang desa yang aneh, percaya kok sama takhayul. Aku tersenyum geli, memikirkan pikiran orang-orang itu.

“Jangan tertawa kamu!!!” ujar laki-laki yang menangis, orang yang nabrak kucing tersebut, padaku. Aku tersentak dengan teriakannya. Kasar sekali orang ini terhadap wanita. Kemudian aku menatapnya. Dan dia membalas tatapanku dengan tatapan mata elangnya, yang sudah pasti basah dengan airmatanya. Ketakutanku menyeruak, hatiku kecut oleh kemarahannya, kepalaku tertunduk. Aku merasa bersalah. “Jangan tertawa kamu!!!” ulangnya lagi, “kau pikir ini sebuah panggung lelucon?! Saat komedian mulai beraksi hah?!” Aku menggeleng.

“Sudahlah pak istigfar,” seru seorang wanita, yang kuperkirakan adalah istrinya, mengelus-elus punggung lelaki yang menabrak kucing yang sudah jadi bangkai itu. “Sekarang banyak-banyaklah mohon ampun kepada Yang Kuasa, semoga kutukan itu segera dicabut.”

Lelaki itu kini mereda marahnya. Dan wanita yang berada di sebelahnya, memintakan maafnya padaku. Aku mengangguk-angguk. Lalu lelaki itu tertunduk lesu di dekat bangkai kucing itu. Gila … !!! Hal tergila yang pernah kujumpai. Kemudian orang-orang yang berkerumun mulai meninggalkan tempat itu satu persatu. Hingga tinggal beberapa orang saja yang ada. Mulai menyingkirkan motor lelaki itu, darah yang tercecer dari bangkai kucing itu segera di disiram dengan air. Dan bangkai kucing itu dikubur. Lalu semuanya pulang, keadaan kembali senyap. Aku pun pulang berbarengan sama Obet. Dan kutengok lagi ke arah lelaki itu ia masih saja menangis, dan istrinya mencoba menarik-nariknya untuk pulang dan melupakan saja kejadian itu.

**
“Aku masih nggak begitu mengerti apa yang dikerjakan orang itu sampai sebegitunya. Menangis karena menabrak kucing. Menyesal kenapa dia nggak lewat jalan lain atau jalan lainnya lagi. Kalau masalahnya ketakutan karena kutukan, salah sendiri kenapa percaya! Aku nggak percaya. Mati?! Kupikir nggak bakalan mungkin, memangnya siapa yang menentukan kematian? Manusia? Kucing? Kan nggak. Mati itu urusan Tuhan,” aku berceloteh panjang lebar pada Obet yang sore ini mampir ke rumahku. Entah, ada urusan apa. Sepertinya ingin berdiskusi denganku perihal bangkai kucing yang terlindas itu. Aku pun juga sedang ingin berdiskusi.

“Itu namanya kutukan mbak. Barang siapa yang tidak percaya …” belum lagi Obet selesai bicara, tiba-tiba seseorang dengan agak sedikit terengah-engah datang ke tempatku. Belum lagi nafasnya reda, ia berbicara.

“Kalian sudah tahu sudah mendengar beritanya belum?”

“Apa?!” Geleng kami berdua.

“Orang yang nabrak kucing itu sekarang mati. Dia dan sepeda motornya terjungkal di ujung jalan tempat di menabrak kucing itu.”

Lalu Obet segera bersiap. “Ok, Bet kamu duluan aja. Aku matiin air dulu.” Aku lagi masak air. Aku enggak percaya kematian itu dikarenakan kutukan dari si kucing. Obet dan orang tadi sudah berlalu. Aku segera ke dapur mematikan kompor gasku. Tetapi, betapa terkejutnya aku. Ada seekor kucing hitam didekat kompor. Karena buru-buru, aku segera mengusirnya. Tapi kucing itu enggak mau pergi. Dia tetap berdiri disitu, menatapku. Kuambil sapu saja, langsung kugebukkan pada kucing itu supaya enyah dari hadapanku. Tapi, tak ayal kucing itu diam saja kemudian terkena pukulanku dan terjatuh, sebentar aku memeriksa kucing itu, ternyata sudah enggak bernafas lagi. Tapi enggak ada waktu untuk mengurusnya. Kompor kumatikan, langsung saja kedua orang tadi kususul.

**
Setelah selesai semua aku pulang, dan kemudian aku mencium aroma yang lain dari biasanya. Entah apa. Sepertinya menguap memenuhi ruangan di rumahku. Tak kupikirkan. Aku segera kedapur, ingin melanjutkan masak airku. Masih sama seperti tadoi kucium lagi aroma itu. Seperti gas. Dan kugesekkan korek apiku. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi merah. (end)

Yogyakarta, 2004

Juga dimuat di situs kolomkita.com, sebuah situs khusus cerpen.
Continue Reading...